Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 079 : Pembantaian Besar-besaran


__ADS_3

Kelompok Natan melaju dengan kecepatan stabil karena struktur jalan yang sulit untuk dilewati, dan akhirnya mengharuskan meratakan bangunan atau pepohonan yang menghalangi Mammoth Castle.


Walaupun mereka bergerak cukup lambat dari yang dijadwalkan, mereka tetap mendapatkan Point Exp karena Skeleton Fire Mage yang sudah dikirimkan dan mengamuk di sana. Jika Skeleton Fire Mage diketahui keberadaannya, maka Skeleton bisa bersembunyi di dalam bayangan.


Natan sendiri sedikit heran tentang cara kerja Skeleton, yang merupakan tulang dan bukan bayangan, namun bisa bersembunyi di dalam bayangan.


Natan duduk bersila dengan mata terpejam dan mengatur pernapasannya. Meditasi, ia ingin melancarkan peredaran darah di dalam tubuhnya, serta membuang pikiran-pikiran buruk atau kotor.


Bagaimanapun, dalam beberapa hari ini ia terlalu banyak melakukan hal vulgar, yang mana itu seperti bukan dirinya saja.


Entah mengapa, ada sedikit rasa penyesalan karena sudah melakukan hal itu. Tapi, ia harus menatap lurus ke depan.


Hingga hampir sepuluh menit terlewati, mereka sudah sampai di kamp monster yang cukup luas, dengan nyala api yang cukup besar mulai membakar beberapa bangunan kayu, meruntuhkan bangunan beton dan meledakkan beberapa tembok.


Natan membuka matanya perlahan seraya menghela napas panjang. Ia berdiri dari tempat duduknya dan mengeluarkan dua senjata langsung, tangan kanan membawa pedang dan tangan kiri menggunakan Pistol Mana.


Mammoth Tank mulai berlari sangat cepat seperti banteng dan menabrak tembok beton atau pagar kayu tebal, yang membuatnya hancur berkeping-keping.


"Serang!" Natan melompat dari atas Mammoth Tank, yang diikuti oleh 8 Skeleton Commander, 97 Skeleton Knight dan Skeleton Giant Monster.


Choco, yang merupakan monster Giant Crocodile itu bertambah besar dari sebelumnya saat masih hidup. Ukurannya sendiri adalah 70 × 15 × 20 meter. Monster ini belum pernah dimunculkan dari bayangan, sehingga sangat mengejutkan.


Boom! Boom! Boom!


Langkah Choco menciptakan getaran yang mengerikan seperti gempa, sampai mampu meruntuhkan bangunan-bangunan yang terbuat dari beton kuat nan kokoh.


Kori yang selama ini mengubah ukurannya seperti kucing kecil juga mulai terbang di langit, dengan bentangan sayapnya mencapai tiga puluhan meter panjang.


Natan berlari menerjang monster-monster yang bergerak secara tidak teroganisir dan saling membunuh satu sama lain, karena pemimpin mereka sudah sudah terbunuh sejak awal.


"Jangan sampai terluka." Natan memperingatkan Erina, Calista dan Olivia yang menyerang di baris depan bersamanya.


Untuk Jia Meiya, karena levelnya masih terlalu rendah, hanya menunggu di belakang dan menunggu levelnya naik seraya melatih tubuh fisiknya agar mudah dalam bergerak.


Natan berlari di tengah-tengah seraya terus melepaskan tembakan dari Pistol Mana secara beruntun, dan tentunya tembakkannya selalu mengenai kelemahan monster.


Kemudian ia melompat sangat tinggi di udara dengan tubuh yang berputar-putar dan terus menembakkan peluru dari atas, yang mengarah langsung pada kepala monster.


Ketika Natan mendarat, ia mendarat dalam posisi setengah berlutut mengarah ke belakang atau selatan, membelakangi monster-monster yang berlari ke arahnya. Ia berdiri seraya menarik kaki kanannya ke belakang, berbalik dan mengayunkan pedangnya.

__ADS_1


Slash!


Kekuatan Natan meningkat pesat setelah mendapatkan buff dari Olivia serta pertahanan monster yang berkurang setengahnya karena skill Calista, sehingga sangat mudah untuk membunuh monster hanya dengan sekali tebasan.


Natan mendongak melihat Goblin yang melompat ke arahnya. "Bodoh." Ia mengangkat tangan kirinya dan menembak Goblin.


"Kiyak!" Kori membuka mulutnya lebar mengeluarkan jeritan yang memengaruhi mental monster, kemudian ada napas es yang keluar dari dalam mulutnya, membekukan monster beserta nyala api.


"Groahhh!" Kuro juga melepaskan suara menggelegar dan terus berlari ke tengah-tengah monster.


Ada pedang hitam yang merupakan bayangan, yang keluar dari tubuh Kuro dan menyerang setiap monster-monster di sekitar.


Boom!


Calista juga tidak bisa tinggal diam saat melihat yang lain bertarung. Ia melompat ke tengah-tengah lautan monster dengan tubuhnya yang diselimuti oleh petir dan api yang menyatu.


Calista memukulkan tinjunya pada tanah, membuat lubang besar dengan retakan-retakan membentuk parit dalam. Api serta petir juga menyebar ke segala arah seperti jaring laba-laba, saat ia melepaskan pukulannya.


"Erina juga harus menyerang!" Erina menancapkan pedangnya di tumpukan salju, dengan kedua tangan yang berpegangan pada gagang pedang. "Nature's Rage!"


Getaran hebat seperti gempa bumi kembali terjadi, namun ini bukan karena perbuatan Choco, melainkan Erina.


Jalanan yang tertutup oleh salju itu mulai retak dan berlubang, serta bangunan-bangunan yang masih bertahan juga mulai runtuh. Hingga dari dalam lubang maupun celah retakan mulai ditumbuhi oleh tunas baru, yang tumbuh sangat cepat.


"Datang." Natan melompat cukup tinggi dan mendarat di punggung Mammoth Castle. "Shadow Sword."


Pedang Natan memancarkan bayangan hitam yang berubah seperti cambuk tajam. Ia mengangkat pedangnya secara menyilang di depan dada, kemudian mengayunkannya sekuat tenaga.


Wush!


Cambuk hitam tajam itu menebas monster menjadi dua bagian dalam radius 100 meter dari Natan, dan tentunya tidak akan mengenai rekan-rekannya, karena mereka sudah menjaga jarak.


Calista juga memperlihatkan kemajuan yang cukup memuaskan, teknik pedangnya tidak lagi asal-asalan dan kekuatannya dari setiap gerakannya lebih mantap serta kokoh, ada keyakinan pada setiap serangan.


"Mundur." Natan mengangkat tangan kirinya yang ia kepalkan.


Erina, Calista, Olivia, Kuro dan Kori mundur bersama ke arah Mammoth Castle, yang di sana sudah bersiap-siap Ayumi, Vely serta 70 Skeleton Magic Archer yang akan melepaskan serangan.


"Tembak!" Natan memberikan aba-aba dengan suara lantang.

__ADS_1


Vely dan Skeleton Magic Archer melepaskan tembakan anak panah ke langit malam. Kemudian, terlihat sinar seperti bintang di mana anak panah ditembakkan. Sinar itu merupakan hujan panah berwarna biru muda yang jatuh sangat cepat dan kuat, sampai mampu menghancurkan gedung-gedung.


Boom! Boom! Boom!


Jatuhnya anak panah juga membuat lubang besar di jalan, serta terlihat bebatuan yang mulai mencuat dari dalam tanah karena tekanannya.


"Ayumi."


Ayumi menganggukkan kepalanya seraya mengangkat tongkat sihirnya setinggi mungkin dengan kedua tangan. Tongkat sihirnya mulai bersinar merah oranye seperti warna api yang menyala. "Fire Wave!"


Bang!


Puluhan meter di depan Mammoth Castle tiba-tiba terlihat api yang melonjak puluhan meter ke langit pagi yang gelap, dengan panjang mencapai dua ratusan meter.


Ayumi mengayunkan tongkat sihirnya ke depan, membuat gelombang api itu jatuh, menggulung monster-monster yang masih tersisa serta membakar semua yang berada di depan sana.


Karena nyala api yang sangat besar dan tinggi, ini sampai mampu mengubah warna langit menjadi oranye, serta menguapkan salju-salju dalam radius beberapa ratus meter dari pusat serangan.


Untungnya kelompok garis depan sudah kembali ke dalam Mammoth Castle, sehingga tidak merasakan suhu yang sangat panas.


Natan melihat Mapping untuk mengetahui apakah masih ada monster yang bertahan atau tersisa di dalam kobaran api. Ketika sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan monster, ia meminta Ayumi untuk memadamkan api.


Suhu yang sebelumnya sangat panah berubah dingin, terlihat awan hitam muncul di langit dan ada lingkaran sihir berwarna biru dengan embun es di bawahnya. Dari lingkaran sihir itu mulai turun badai salju yang menghujani lautan api, memadamkannya perlahan dan menurunkan suhunya secara signifikan.


Kenaikan level hari ini sangat memuaskannya, ia sudah mencapai Lv.408 dan berdiri kokoh di Top 1 Player Rank List.


"Kita akan beristirahat sebentar di sini, kemudian pergi saat siang hari." Natan menyimpan semua perlengkapannya.


Semuanya menganggukkan kepala sebagai balasan.


Jia Meiya membuka Inventory Guild, mulai menyiapkan makanan untuk mengisi kembali stamina yang terkuras karena pertarungan barusan.


"Aku akan menyiapkan makanan."


"Terimakasih, Bibi." Natan duduk di sofa panjang untuk meluruskan kakinya.


Jia Meiya tersenyum hangat, senang bisa membantu meski hanya sebatas melakukan pekerjaan sederhana. Walaupun ia masih baru, ia juga sudah menganggap semua orang di sini sebagai putra, putri dan adiknya sendiri.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2