Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 142 : Menyerang Pohon Monster (3)


__ADS_3

Giant Knight (1), Giant Knight (2), dan Gorgon terus menyerang Pohon Monster dari dekat. Ketiganya tidak dikategorikan sebagai makhluk hidup, karena itulah mereka tidak diserang, tapi Mana mereka terus diserap. Namun itu tidak masalah, karena mereka menyerang dari jarak dekat.


Pertempuran terlihat sangat membosankan karena Pohon Monster terus mengeluarkan monster, tapi setelah mendarat di tanah, mereka akan langsung dibunuh di tempat. Tapi, ini merupakan keuntungan bagi Natan karena levelnya yang terus meningkat, bahkan sudah berhasil naik ke level 570.


Gruoahhhh!


Raungan keras tiba-tiba terdengar dari dahan pohon, bersamaan dengan suhu yang meningkat pesat.


Natan mendongak dalam posisi 45°. Ia bisa melihat Fire Dragon yang selama ini ia cari-cari untuk menambah pasukan yang telah lama menghilang karena dikorbankan untuk menghancurkan Markas Zombie dan menahan gerakan Kraken untuk menyeberangi Selat Inggris.


Ternyata, bukan hanya naga saja yang muncul, ada suara yang mendengung dan itu berasal dari lebah yang sama, yang menyerang bagian selatan dari Armonia Guild.


Kegembiraan terlihat jelas di wajahnya seperti melihat harta karun. Ia menoleh ke belakang melihat Ayumi yang entah sejak kapan tengah bermain catur bersama Erina. "Ayumi, tolong bunuh lebah-lebah itu. Bagaimanapun, kau bisa menyerangnya dari sini."


Ayumi berdiri saat mengambil Elements Magic Wand. Ia berjalan dengan santainya seperti sedang bermain-main. Kristal yang berada di puncak tongkat sihir itu mengarah ke bawah, karena memang tangan kanannya tidak diangkatnya.


"Ice Arrow." Ayumi mengibaskan tangan saat membawa Elements Magic Wand.


Mana berkumpul di sekitar Ayumi, membentuk panah es dalam jumlah 100 anak panah. Untuk mencapai tingkat seperti ini, ia mengerahkan semua tenaga, latihan yang sangat berat. Bagaimanapun, awal ia menguasai kemampuan ini hanya mampu mengeluarkan satu anak panah, dan terbanyak hanyalah sepuluh anak panah.


Entah sudah berada banyak keringat, darah dan ramuan yang terbuang untuk mencapai tingkat ini. Tapi, Ayumi sangat puas, merasa semua itu sepadan dengan hasilnya, bahkan ia akan terus berusaha sampai bisa menciptakan 1000 anak panah langsung.


Elements Magic Wand mengarah pada semua monster yang terbang, kemudian mengayunkannya ke bawah.


Semua panah es yang berada di sekitar Ayumi mulai bergetar, kemudian melesat sangat cepat, membelah udara dan meninggalkan kristal es di belakangnya seperti salju yang turun.


Level naga dan lebah sendiri hanya 400, berbeda dengan Ayumi yang berlevel 510.


Gruoahhhh!


Naga kembali meraung, dan teriakannya kali ini lebih keras dari awal kemunculan mereka. Tubuh mereka tertusuk anak panah, tubuh mereka yang mendapatkan luka mulai membeku dan itu terus menyebar sampai ke seluruh tubuh.


Tapi, tubuh naga yang telah membeku itu memancarkan cahaya merah dan es yang mengurung mulai mencair secara signifikan. Namun, Ayumi tidak berhenti, lima detik setelah anak panah dilepaskan, Ayumi kembali menyerang dengan ganasnya, entah panah yang terbuat dari es, api maupun petir.


Banyak yang bisa menyerang dari jauh, tapi serangan yang benar-benar efektif hanyalah serangan Natan dan Ayumi.


Natan berlutut di samping Ayumi, menggunakan Sako TRG Mana untuk melepaskan tembakan yang diarahkan tepat pada bagian kepala.


Naga dan lebah yang terbunuh di udara langsung terjatuh seperti layang-layang yang putus. Tapi sebelum menyentuh tanah, ada kabut hitam yang datang menyelimuti mereka semua. Ketika mereka diselimuti oleh kabut tebal dan keluar dari kabut, tubuh mereka berubah menjadi tukang dengan api biru di dalam tubuh mereka.


Natan memberi nama mereka dengan asal-asalan. Seperti Ksatria Lebah. Memberinya dengan nama Bee (1), Bee (2), Bee (3), Bee (4)...


"Natan..." Pada saat ini, Ainsley berjongkok di samping Natan, menarik mantelnya.


Natan menurunkan Sako TRG Mana dan menoleh ke kanan. "Kau ingin pergi?"


Ainsley menganggukkan kepalanya, tetapi tidak menjawab. Ia masih ingin tinggal di sini, tapi tidak bisa karena tugasnya yang banyak. Bagaimanapun, ia adalah pembimbing, membimbing manusia di Bumi untuk meningkatkan kekuatan mereka agar bisa bertahan hidup di sini sampai batas waktu tertentu.


Jika semuanya sudah berakhir, mungkin ia akan meminta Penjaga untuk membuatnya tinggal bersama Natan. Awalnya Ainsley mengenal Natan sendiri karena Brianna, yang selalu mengoceh tentang Natan, Natan, Natan dan Natan. Karena itulah ia penasaran dan ingin melihatnya sendiri.


Ainsley berharap, pengorbanan Penjaga tidak sia-sia untuk menciptakan sistem seperti ini yang membantu manusia untuk meningkatkan kekuatan dengan membunuh, dan semoga ada yang mencapai level 999 dalam waktu dekat.

__ADS_1


Monster Ancestors tidak menunggu lawan untuk meningkatkan kekuatan. Dari awal Kehancuran Dunia, Monster Ancestors terus menyerang segel yang menahannya, berharap bisa lepas dengan cepat dan menghancurkan dunia milik Penjaga.


"Baiklah." Natan menganggukkan kepalanya.


Ainsley menghela napas panjang saat berdiri, kemudian berbalik dan menghilang.


~Informasi~


[Nama : Monsta]


[Ras : Pohon Dunia]


[Jenis : Pencipta Monster]


[Level : 650]


[HP : 120.067.040/250.570.775]


[MP : 2.390.673/8.760.302]


Pohon Monster sudah terluka sangat parah, dedaunan hijau terlihat layu, kering dan beberapa sudah berubah menjadi abu bersama dengan dahannya, itu karena serangan bertubi-tubi dari Ayumi yang menjatuhkan meteor.


Booom!


Tiba-tiba tanah terbelah, membuat Giant Castle bergetar karena pijakan di bawahnya bergoyang.


Jika dilihat dari jawab, beberapa puluh meter dari Giant Castle, tanah terbuka membentuk jurang, kemudian ada benda hijau yang menggeliat di dalamnya. Itu adalah akar pohon yang bergerak seperti ular.


Akar itu melesat naik ke langit, mencoba menggapai puncak dari Giant Castle.


Booom! Booom! Booom!


Pasukan yang ditinggalkan di betis dan paha Giant Knight melepaskan serangan bertubi-tubi, yang berdampak pada kesehatan dari Pohon Monster.


Akar pohon itu sepertinya memiliki kesadarannya sendiri dan menyerang balas. Akar pohon itu mengeluarkan akar-akar kecil di sepanjang jalannya, melesat ke arah pasukan yang ditinggalkan di bawah.


Calista berdiri di samping Natan dengan pedang yang menyilang di depan dada. Pedang itu memancarkan cahaya merah yang menyelimuti sampai membentuk kabut; aura kuat menyebar ke segala arah, membuat mereka yang berada di bawah levelnya merasakan penindasan dan mengakibatkan mereka gemetar ketakutan.


"Mati!" Calista mengayunkan pedangnya.


Terlihat dua siluet bulan sabit yang menyilang, melesat ke arah akar pohon di depan mereka.


Bang!


Serangan Calista berhasil meninggalkan luka yang cukup dalam. Detik berikutnya, tiba-tiba udara berdengung, dan tanpa membuang waktu, tanda salib berwarna emas jatuh menghantam akar pohon.


"Kkhhh!" Pohon Monster mengeluarkan suara aneh dan bergetar seperti merasakan rasa sakit.


Melihat itu, Natan mengerutkan keningnya. Pohon Monster terlihat biasa-biasa saja setelah mendapatkan serangan membabi buta pada bagian dahan dan batang, tapi anehnya terlihat seperti kesakitan ketika akarnya terluka.


Natan menoleh ke belakang. "Siapa pun yang bisa menyerang dari jauh, bantu serang akar dengan sekuat tenaga!"

__ADS_1


Tanpa bertanya lebih jauh atau membuang waktu, mereka tidak ragu dan bergerak bersama-sama.


Magic Archer, Penyihir berbagai elemen, mereka menyerang ke akar yang sangat tinggi di atas mereka.


Akar pohon itu mengalami perubahan, sebelumnya hijau zamrud, sekarang banyak luka-luka dan bercak terbakar yang cukup besar.


Akar pohon mengayun ke belakang, kemungkinan melesat ke arah Giant Castle seperti cambuk. Terdengar suara siulan saat akar pohon bergerak, itu ditimbulkan karena akar yang bergerak sangat cepat, membelah udara.


Akhirnya, Erina bisa bertindak bersama dengan Olivia. Keduanya memancarkan cahaya emas yang menyelimuti tubuh mereka, itu adalah buff untuk meningkatkan pertahanan dan serangan.


Keduanya melompat sangat tinggi ke arah akar yang mengayun. Akar berdiameter sepuluh meter.


Olivia mengepalkan tangan kanannya di pinggang, dengan tangan kiri mengarah ke atas. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan dan mengayunkan tangannya memukul akar pohon.


Bang!


Pukulannya bertemu dengan akar pohon, membuat akar itu terhempas naik dan bergetar. Tapi Olivia mendapatkan luka yang sama, tangan kanannya patah karena kerasnya akar, dan tubuhnya yang bergetar mati rasa. Namun, dengan tingkat penyembuhannya, ia seperti abadi, asalkan tidak mendapatkan serangan yang langsung membunuhnya.


Erina menusuk pedang di udara; terlihat ada laser emas yang bergerak ke arah tanda silang yang ditinggalkan Calista.


Jleb!


Akar pohon itu tertusuk, membuat Pohon Monster bergetar lebih kuat. Tapi, itu belum berakhir. Erina menggunakan kedua tangannya untuk menggenggam pedangnya, lalu mendorongnya ke atas dengan sekuat tenaga.


Slash!


Cahaya emas seperti laser yang terhubung dengan pedang itu bergerak ke atas, membelah akar pohon menjadi dua bagian.


Pohon Monster bergetar dan mengeluarkan suara aneh yang terdengar menyakitkan. Dan, karena akar pohon mendapatkan serangan bertubi-tubi, akar pohon itu menggeliat seperti ular, kemudian turun ke dalam jurang.


~Informasi~


[Nama : Monsta]


[Ras : Pohon Dunia]


[Jenis : Pencipta Monster]


[Level : 650]


[HP : 65.067.040/250.570.775]


[MP : 1.870.980/8.760.302]


Natan menganggukkan kepalanya saat melihat berapa banyak darah yang tersisa. Ia tersenyum puas, tapi tidak mengendurkan kewaspadaannya sama sekali.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2