Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 260 : Pertempuran Terakhir (4)


__ADS_3

Dengan tindakan Huanran, Natan dan Ayumi, akhirnya Players lain yang datang dari Bumi mulai bergerak, memamerkan skill masing-masing dan berharap dapat membunuh lebih banyak. Setelah mengetahui bahwa ada hadiah untuk mereka yang dipanggil ke sini, tentunya mereka berharap ada hadiah lain dengan membunuh monster.


Ada banyak kemampuan yang serupa seperti Natan yang mampu memanggil pasukan untuk membunuh: memanggil hewan, roh elemen, atau tumbuhan, tapi tidak ada yang lebih efisien dalam serangan seperti milik Natan.


Xia Feiya juga memanggil roh elemen untuk membantunya mengalahkan monster.


Vely dan Ayumi menggunakan kemampuan jarak jauh mereka untuk melakukan serangan.


Olivia mengangkat kedua tangannya di depan dada dan saling menggenggamnya; tiba-tiba tubuhnya diselimuti oleh cahaya emas penuh kehangatan dan kelembutan; jubah putih emas muncul membalut tubuhnya, dan terlihat ada mahkota yang terbentuk dari cahaya, serta ada “Halo” yang melayang di atas kepalanya.


Sayap putih muncul di belakang punggung Olivia, dan saat terbuka, bulu putih berhamburan, lalu warnanya berubah menjadi keemasan.


Kerajaan Armonia memiliki gereja, dan Olivia adalah Uskup Agung di sana. Gereja ini tidak berdakwah atau apa pun itu, tapi setiap satu bulan sekali masyarakat akan berkumpul dan berlutut di depan gereja, meminta perlindungan dan kesuburan serta kekayaan untuk Istana Armonia.


Gereja ada karena permintaan semua warga yang dipanggil melalui Gulungan Pemanggilan Manusia, dan karena itulah Natan membangunnya, lalu Olivia dipilih oleh semua warga untuk menjadi Uskup Agung.


Gereja menerima donasi dari seluruh kalangan, dan uang hasil donasi ini akan digunakan untuk kebutuhan warga yang kurang mampu. Semua pengeluaran keuangan dicatat, dan diperlihatkan di depan halaman, sehingga semua warga tahu untuk apa uang yang mereka donasikan.


Karena Olivia menjadi Uskup Agung dan banyak yang berdoa maupun berterima kasih untuknya karena memberikan perawatan medis gratis, bahkan warga yang terkena kutukan akan datang, dan dia selalu menolongnya. Karena terus melakukan ini, kekuatannya tiba-tiba meningkat pesat, dan kekuatan ini adalah hasil dari rasa syukur maupun kepercayaan semua orang.


Namun, meski Olivia memiliki kekuatan untuk mengangkat kutukan, dia merasa tidak berguna saat tidak mampu mengangkat kutukan yang menimpa Natan.


Tapi itu adalah masa lalu...


Olivia membuka matanya perlahan, matanya berwarna emas dan memperlihatkan tatapan penuh kasih sayang untuk semua kehidupan. Dia mendongak, mengangkat kedua tangannya. "Blessing of God!"


Langit merah sedikit berubah menjadi kuning keemasan, kemudian terlihat pecahan cahaya emas yang jatuh mengenai seluruh Players Bumi.


Berkah ini meningkatkan semua atribut, dimulai dari kekuatan, kecepatan, pertahanan, vitalitas, bahkan Mana serta pengisian Mana setiap menitnya.


"Ap- Apa ini? Kekuatanku bertambah?"


"Tidak hanya itu, lihat, lukaku sembuh! Mana-ku juga penuh lebih cepat!"


"Ini! Seranganku meningkatkan 300%! Sihir support macam apa ini?!"


Natan yang berada di bagian depan, bertarung bersama dengan Huanran, tiba-tiba berhenti dan menoleh ke belakang saat merasakan tubuhnya yang menguat. Dia melihat Olivia yang sangat cantik di balik cahaya emas yang menyelimuti. "Aku lupa kalau dia Uskup Agung ..."


Ya, setiap hari melihat Olivia yang tidak berpakaian saat mandi bersama, dan memiliki nafsu yang besar, tentunya dia terkadang lupa bahwa Olivia memiliki sisi seperti ini, yang mana sangat dikagumi oleh seluruh warga Kerajaan Armonia.


"Istriku sangat cantik, tapi aku tidak mau dia memakai pakaian ini saat malam hari."

__ADS_1


Huanran datang di belakang Natan, memukul kepalanya dengan lembut. "Bantu Nenek Buyut! Jangan terus memikirkan tentang itu!"


Natan tertunduk, lalu mengusap kepalanya yang sedikit sakit, tapi dia masih memandangi Olivia. "Sebentar, ini momen langka, biarkan aku melihat istriku dalam wujud ini."


Whooooosh!


Olivia melesat seperti cahaya dan muncul di depan Natan secara instan, dia memegang pipi Natan, lalu memberi kecupan hangat di kening. "Sayang, aku memberimu berkah lebih besar dari yang lain."


Natan mengangguk, dia tersenyum hangat, lalu berbalik.


Calista, Liu Xinmei, Jia Meiya dan Erina muncul di samping Natan, mereka menggunakan senjata masing-masing, tapi dari tadi belum menyerang sama sekali.


Natan melihat istri-istrinya yang berdiri di sampingnya dan berkata, "Kalian semua, jangan sampai terluka."


""""Ya!""""


Erina memegang perisai di tangan kiri dan mendorongnya ke depan. "Light Shield Attack!"


Perisai yang dipegangnya bersinar dengan cahaya kuning keemasan, lalu terlihat cahaya yang berkumpul membentuk perisai besar di depannya, kemudian cahaya berbentuk perisai itu bergerak ke depan dengan kecepatan yang sedang, mendorong semua monster serta menghancurkannya di bawah tekanan berat.


Di bawah serangan Erina, jalan tercipta di antara monster, dan terlihat ada monster yang tidak terlalu besar, memiliki tinggi lima meter. Kulit berwarna merah darah, memiliki enam mata di wajahnya dan ada tanduk di tengah-tengah dahi. Ia memakai celana yang koyak berwarna biru lumut, memakai sabuk kulit berwarna cokelat, serta Kaling yang terbuat dari tengkorak.


[Ras : Ogre]


[Jenis : Six Eyes Roger]


[Level : 1.675]


[Title : Dem-God]


[HP : 391.015.450]


[MP : 2.95.570]


Natan melihat status pihak lain yang berhadapan dengannya meski memiliki jarak yang cukup jauh, dan anehnya, tidak ada monster yang menutup jalan di antara mereka, seolah semua monster ini membiarkannya.


Bang!


Orga meledak dengan kekuatan penuh di bawah kakinya, yang membuatnya bergerak sangat cepat seperti bayangan merah.


Orga tiba di depan Natan dengan membawa gada yang ukurannya dua kali manusia dewasa. Ia mengangkat tangan kanannya, mengayunkannya ke arah Natan.

__ADS_1


"Cover." Erina mengaktifkan skillnya yang yang mana dapat mengambil semua kerusakan yang diterima oleh anggota tim.


Jia Meiya memegang kapak yang memiliki panjang yang sama seperti tinggi tubuhnya, dan mata kapaknya berbentuk setengah lingkaran dengan panjang setengah meter. Dia berdiri di depan Natan, mengayunkan senjatanya dengan tangan kiri dengan mudahnya seolah mengayunkan sapu.


Bang!


Kapak Jia Meiya membentur gada yang diayunkan oleh Orga, mengakibatkan dentuman keras beserta gelombang kejut dengan angin kencang yang bertiup, debu dan pasir berhamburan ke segala arah, darah dan daging di sekitar mereka terhempas ke mana-mana.


Dengan bantuan Blessing of God dari Olivia dan Cover dari Erina, Jia Meiya dapat menangkis serangan Orga, bahkan sampai melempar balik.


Calista bergerak cepat setelah Jia Meiya berhasil menghalau serangan, dia menebas kaki Orga dengan pedang di tangan tangan secara menyilang, lalu tangan kirinya mengayunkan pedang secara vertikal dari atas ke bawah, membelah lutut yang tebal.


Orga meraung marah, ia memukul dengan tangan kirinya yang besar ke arah Calista.


Calista mendongak, menatap Orga dengan tatapan tajam dan matanya sedikit berkilau dengan warna merah, serta tubuhnya yang mengeluarkan kabut merah, menembak ke dalam tubuh Orga.


Orga berhenti bergerak untuk sesaat dan pertahanannya turun 50%.


Vely yang berada jauh di barisan belakang, memegang busur yang terarah ke Orga. Dia melepas tali busur, menembakkan anak panas yang terbuat dari Mana.


Anak panah itu melesat sangat cepat, tapi masih dalam kecepatan yang mampu ditangkap oleh Orga, namun di bawah efek serangan Calista, ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya.


Anak panah itu mengenai mata Orga, menusuknya cukup dalam bahkan sampai ada benjolan di belakang kepala.


Orga meraung kesakitan dan sangat marah. Tubuhnya bisa bergerak lagi, ia mengangkat kedua tangannya ingin memukul apa pun di sekitarnya.


Calista tidak membiarkan itu terjadi, dia bergerak ke belakang Orga dan memotong otot belakangnya, membuat Orga jatuh berlutut.


Erina menancapkan pedang di tanah, kemudian tanah di bawah tanahnya bergetar dan retak, memperlihatkan akar berwarna hijau yang menangkap, meningkat Orga sampai tidak bergerak sedikit pun.


Jia Meiya melompat, memegang kapak besar dengan kedua tangannya dan mengayunkannya ke arah kepala Orga.


Erina juga tidak berhenti, dia menundukkan pedang ke dada Orga. Begitu pun dengan Calista yang terus menyerang secara membabi buta.


Natan tetap diam, dia hanya mengamati istri-istrinya membunuh Orga. Tindakan mereka hanya berlangsung dalam hitungan detik, itu dimulai dari Orga yang menyerang sampai akhirnya jatuh dalam genangan darah.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2