
Dirasa aman, akhirnya mereka memutuskan untuk menginap di alam liar tanpa ada bangunan yang melindungi. Ini seperti saat mereka menjelajah dulu, tidur beralaskan bumi, dan berselimutkan langit.
Ayumi memasang pelindung yang menghentikan aliran udara, bukan oksigen. Ini dimaksudkan untuk mengunci aroma di tempat, sehingga tidak tercium dari jarak jauh.
Kemudian, mereka menyalakan api unggun dan mulai memasak.
Tentu, tumis daging dan daging panggang adalah makanan yang wajib. Tidak boleh tertinggal!
Melihat adik-adiknya yang tertawa lepas tanpa beban, membuatnya sangat bahagia. Hatinya hangat, seolah kekosongan yang selama ini dialaminya kembali terisi. Dia kembali melihat langit, menghela napas dan menyesali tindakannya yang terlalu tergesa-gesa. Dia baru bertemu Calista dan Olivia kurang dari dua bulan, tapi sudah sampai sejauh itu, dan akhirnya hubungannya dengan adik-adiknya menjadi renggang.
Menyesal? Sedikit, di mana dia bertekad untuk membangun Armonia Guild untuk menerima semua manusia yang selamat dan membuatnya harmonis, tapi pada akhirnya dia malah hanya menerima anggota wanita, dan selalu melakukan kegiatan yang terbilang salah untuk orang seusianya.
Meminta Ainsley melepaskan sihir pemutar waktu? Tidak mungkin ada sihir semacam itu, bahkan jika itu ada, dia tidak ingin melakukannya.
"Mungkin aku terbawa nafsu sampai akhirnya memutuskan ingin memiliki anak." Natan kembali menghela napas.
...
Ketiganya menyantap hidangan hangat di malam hari sambil menikmati pemandangan langit malam yang dipenuhi bintang. Meski tempat ini hanyalah Dungeon, tapi harus diakui pemandangan di sini lebih baik dari dunia luar.
Ketika sudah selesai makan dan waktunya beristirahat, Ayumi dan Erina tidur di paha Natan, dengan Natan yang terjaga. Natan memilih untuk tetap bangun, menjaga sekitar agar tetap aman dan mengusap kepala adik-adiknya agar mereka tidur nyenyak.
Senyum tulus terukir di bibirnya, dan perasaan yang menenangkan emosinya yang tidak stabil ini. Ada perasaan yang mengatakan bahwa dia harus berpetualang dan meninggalkan istri-istrinya, tapi tidak mungkin dia akan melakukannya dan membuang tanggung jawab begitu saja.
Natan mendongak melihat cakrawala yang luas. "Harus mencari bakat lain untuk Armonia Guild."
Natan menghela napas. Yang berlalu biarlah berlalu, dan jangan pernah menyesali perbuatan yang sudah dilakukannya. Lagi pula, saat itu dia 100% sadar, tidak ada paksaan.
...
Tengah malam, Natan masih terjaga, bahkan dia sangat berhati-hati karena mata-mata kecil yang dikirimnya melalui darat maupun udara, menangkap pergerakan dari sekelompok High Orc.
Dia mengatur napasnya dan mencoba untuk tetap tenang agar tidak membangunkan adik-adiknya. Sesekali dia akan menunduk melihat keduanya, dan itu membuatnya tenang, tapi juga bertekad untuk melindungi mereka.
Maaf, Vely, Calista dan Olivia. Urutan kalian bertiga kembali turun, adik-adikku naik ke urutan kedua.
Natan melihat sekeliling, dan diam-diam mengendalikan skeleton kecil untuk menarik perhatian lawan agar menjauh dari tempat ini. Dia tidak ingin didatangi saat sedang beristirahat, terlebih lagi level tertinggi di sini adalah 625, dan dia masih Level 600. Perbedaan terlalu tinggi, bukan hanya musuh menang dari kualitas, tapi juga kuantitas.
...***...
__ADS_1
—Keesokan Paginya—
Natan menguap dan berkedip beberapa kali. Dia tidak tidur semalaman. Jika dia mengeluarkan semua Skeleton Squad, dia bisa tidur nyenyak, tapi kembali lagi, adik-adiknya ingin dia tidak terlalu bergantung pada skeleton, dan ingin berpetualang seperti dulu.
Ayumi dan Erina bangun, membuka matanya perlahan dan duduk sambil mengusap mata.
""Selamat pagi, Kakak.""
"Selamat pagi." Natan mengusap kepala keduanya. Kemudian saat keduanya masih setengah sadar, dia langsung membawa mereka berdua di kiri dan kanan seperti membawa karung beras.
Tempat ini terlalu berbahaya, dan dia masih belum ingin bertarung di saat masih pagi hari seperti ini.
...
Setengah jam kemudian, Natan berhenti dan menurunkan Ayumi dan Erina.
Keduanya menatap Natan dengan ekspresi cemberut dan sedikit kesal.
Natan tahu apa yang membuat mereka menjadi seperti itu, karena terlihat jelas. Rambut keduanya berantakan, wajah mereka masih sayu, belum membasuh wajah, tapi harus dibawa lari dengan kecepatan tinggi dan melawan angin.
Natan terdiam sesaat, kemudian dia menyerah. Dia duduk di batu, menepuk-nepuk pahanya. "Duduk, aku akan menyisir rambut kalian."
Natan mengambil sisir, dia menyisir rambut Ayumi yang berantakan. Ini mengingatkannya pada masa lalu, di mana dia menyuapi Ayumi, menyisir rambutnya setiap pagi dan mengajaknya bermain-main di halaman saat hari libur.
Setelah Ayumi selesai, gantian Erina yang duduk di pangkuan Natan dan meminta rambutnya disisir.
Hidung Natan berkedut-kedut, kemudian dia mendongak menatap Ayumi dan kembali menunduk melihat Erina di pangkuannya. "Kalian berdua memakai shampo yang sama dengan Ibu?"
"Kakak baru menyadarinya?" Ayumi memiringkan kepalanya. "Ini hari kedua semenjak kita mandi bersama Ibu. Tapi aromanya masih bertahan."
Natan mengangguk kecil, dan memang menyadari bahwa shampo ini masih bertahan. Dia menepuk-nepuk kepala Erina, dan mendorong Erina dengan lembut. "Sudah selesai, cepat turun."
Erina melompat turun, kemudian mengeluarkan roti padat untuk sarapan mereka semua.
Natan sudah makan bahkan sebelum keduanya bangun, jadi dia tidak bergabung dan melihat sekeliling. Karena dia berlari cukup cepat tanpa mengetahui ke mana dia pergi tadi, dia belum sempat mencari tahu di mana dia berada sekarang.
"Tempat ini hampir sama semua, merepotkan."
Natan berbalik melihat lereng tinggi dengan kemiringan 45°. Dia mendaki perlahan dengan hati-hati untuk mencapai puncaknya, dan saat dia sudah sampai, dia berdiri di puncak yang hanya memiliki lebar empat meter. Di depannya, ada tebing curam dengan bebatuan runcing yang mencuat dari dinding tebing.
__ADS_1
Kemudian dia mendongak, dia melihat ada sebuah kota kecil yang dikelilingi oleh pagar kayu berwarna merah, dan di dinding pagar terlihat ada tengkorak yang terlihat seperti tengkorak manusia.
Yang dilindungi oleh pagar itu adalah rumah-rumah seperti tenda yang terbuat dari kulit dan batang pohon.
"Manusia? Di Dungeon?" Natan tercengang, kemudian dia menggeleng. Tidak mungkin ada manusia yang hidup di Dungeon, dia hanya bisa berpikiran bahwa High Orc ini datang dari tempat lain, di tempat yang jauh. Kemudian karena ada peristiwa tertentu, mungkin Camp High Orc ini tersimpan di suatu tempat, dan dengan bantuan Ainsley, mereka tiba di Dungeon Tower.
Natan melihat ke menara pengawas, di sana ada tiga High Orc yang berjaga. Ketika dia mengamatinya dengan saksama, tiba-tiba salah satu High Orc berbalik dan melihat ke arahnya.
Segera, Natan menunduk bahkan sampai tiarap agar tidak diketahui keberadaannya. Dia tidak menyangka High Orc akan mampu mendeteksinya dengan jarak sejauh ini.
"Kakak, ada apa?"
"Menunduk."
Ayumi dan Erina tidak bertanya lagi dan langsung tiarap mengikuti Natan. Kemudian keduanya merayap ke samping kiri-kanan Natan, perlahan-lahan melihat apa yang bisa membuat Natan berhati-hati.
Ketika Ayumi dan Erina melihat Camp High Orc, keduanya tercengang dengan mata terbuka lebar, bahkan mereka hampir berteriak karena terkejut, tapi segera mulut mereka ditutup dengan tangan Natan.
Jantung Natan berdegup kencang, dia sudah lama tidak merasa perasaan gugup dan berhati-hati seperti ini. Harus diakui, 750 High Orc Level 601 — 650 membuatnya sedikit takut.
Ayumi dan Erina mengangguk kecil, menjelaskan bahwa mereka tahu harus tetap diam, jangan membuat suara agar tidak menarik perhatian yang bisa mengungkapkan koordinat lokasi mereka.
Natan menarik kembali tangannya, kemudian dia merangkak mundur secara perlahan jangan sampai menimbulkan suara. Meski jaraknya lebih dari satu kilometer, tapi tetap harus berhati-hati.
Ayumi dan Erina menatap Natan.
"Bagaimana, Kakak?" tanya Erina.
Natan menoleh ke belakang melihat tebing, kemudian menghela napas. "Kita hanya bisa membunuh satu per satu. Mungkin, butuh satu minggu di sini."
"Satu minggu?" Ayumi memiringkan kepalanya ke kiri-kanan dengan mata tertutup. "Baiklah, asalkan bersama Kakak, Ayu tidak masalah meski harus tinggal sebulan di sini." Ia membuka matanya.
Erina menganggukkan kepalanya berkali-kali, menegaskan bahwa dia setuju dengan perkataan Ayumi.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1