
Natan terus melepaskan tembakan yang diarahkan pada mata Kraka, dia tidak peduli dengan serangan tentakel yang menyerang secara liar. Itu semua sudah diserahkan pada Gorgon dan Giant Knight.
"Kita tidak bisa menyerang dengan cara normal. Serang menggunakan serangan jarak jauh dan area."
Ngung, ngung...
Suara mendengung datang dari langit saat tembakan Natan mengenai titik yang sama dan mengurangi darah dalam jumlah besar.
Dari suara yang mendengung, itu muncul cahaya emas seperti aurora, yang kemudian berubah menjadi martil besar dengan bentuk salib yang jatuh. Ukurannya seperti gedung tujuh lantai, itu jatuh menghantam kepala Kraka.
"Bullet Rain! Bullet Explosion!"
Ratusan peluru menembus kedua mata Kraka, yang kemudian bercahaya dengan warna merah seperti api, lalu meledak dengan daya besar yang membuat Kraka meraung marah dan sakit.
Rongga mata Kraka telah membesar, itu bisa memuat bus pariwisata bertingkat dua.
Walaupun monoton, Natan tidak bisa berbuat banyak selain menyerang dengan cara ini. Entah apakah dia akan terus bertarung seperti ini sampai mendapatkan lawan yang cocok, atau seterusnya akan menyerang dengan serangan jarak jauh dan area. Bagaimanapun, monster-monster sekarang tidak lagi memiliki ukuran yang wajar.
Jika tidak ada lawan yang mampu meningkatkan kemampuannya bertarung dalam jarak dekat, dia hanya bisa bertarung bersama melawan Olivia. Bertarung dalam artian benar-benar bertarung, bukan bertarung di kamar yang menghabiskan waktu berjam-jam.
Erina melompat ke tembok agar kakinya menyentuh tanah. Dia menancapkan pedang di tembok. "Sword of Thorns!"
Pedang itu bercahaya, dan seperti kilat, pedang itu mengeluarkan sengatan listrik yang terlihat jelas di tembok tanah. Itu seperti tembok itu sendiri adalah papan tulis, memperlihatkan kilatan cahaya kuning keemasan yang masuk ke dalam tanah.
Tanah bergetar dengan retakan-retakan di permukaannya. Kemudian ada ribuan pedang emas setinggi tiga meter yang mencuat keluar dari tanah, itu membentuk ranjau duri yang bergerak sangat cepat ke arah Kraka.
Semua tentakel yang tertahan di tanah, terkena serangan, mengeluarkan darah hitam yang mampu melelehkan tanah.
Kraka meraung marah ketika merasakan sakit. Itu membuka mulutnya lebar-lebar, memperlihatkan Mana yang berkumpul di dalam mulutnya yang bergerigi.
Mana itu terus memadat membentuk bola besar dengan warna merah kehitaman. Itu memancarkan aura yang tidak bisa dijelaskan, dalam radius beberapa puluh meter, gravitasi terasa terbalik. Tanah-tanah mulai terangkat dan bergetar di udara sebelum hancur, mobil-mobil yang telah rusak juga terangkat belasan meter, kemudian menghantam tanah dan remuk.
Kabut di belakang Kraka yang menutupi lautan terbelah, memperlihatkan daratan luas di seberang lautan yang membeku. Di atas lautan membeku, terlihat monster-monster ikan, udang dan kepiting yang memegang trisula. Itu bersiap untuk menyerang daratan dan membunuh manusia-manusia yang telah mengotori rumah mereka.
"Bijudama?!" Natan berteriak dan tanpa sadar mengatakan hal itu.
Bang!
Kraka menembakkan Mana yang telah dipadatkan, itu menimbulkan ledakan keras dengan gelombang kejut yang menghempaskan Giant Knight dan Gorgon.
Serangan Kraka berada puluhan meter dari permukaan tanah, tapi tekanan yang diberikan itu menghancurkan tanah di bawahnya, menciptakan parit dalam garis lurus. Tanah-tanah di sekitarnya menyebar ketika udara panas terbelah.
__ADS_1
Ayumi sudah memulihkan setengah Mana. Dia melompat turun ke samping Ayumi dengan posisi berlutut saat tongkat sihirnya terhentak di tembok. "Earth Wall!"
Tanah kembali bergetar, satu per satu tembok setinggi puluhan meter naik dari permukaan tanah. Itu membentuk tembok berlapis-lapis yang digunakan untuk menahan serangan Kraka.
"Bone Wall! Bone Prison!"
Natan tidak tinggal diam dan bertindak, penjara tukang melapisi tembok tanah dan lapisan tembok tukang juga datang. Itu tidak lagi setinggi satu meter, tingginya sudah seperti tembok buatan Ayumi dengan diameter lima meter. Akan sangat sulit untuk menghancurkannya dengan kekuatan biasa.
Booom! Booom! Booom!
Mana itu menghantam tembok, membuat ledakan keras dengan kerikil kecil yang menyebar ke segala arah seperti peluru liar.
Erina mengangkat perisai dan mengaktifkan kemampuannya. Dia menciptakan ratusan lapis pelindung cahaya di depannya dan beberapa lapis pelindung berbentuk kubah yang mengelilingi.
Bang!
Serangan Kraka itu terus menghancurkan tembok, sampai pada akhirnya menghantam pelindung buatan Erina dan menghancurkan beberapa lapis.
Gelombang kejut tercipta ketika serangan itu bertemu dengan pelindung. Angin kencang bertiup, menerbangkan Ayumi dan Erina yang berada di bagian depan.
Natan melompat dari Ksatria Lebah, dia melesat ke arah Ayumi dan Erina, kemudian menangkap keduanya di dalam pelukannya. Ketika berhasil menangkap, dia langsung berbalik, memunggungi Kraka.
Bebatuan kecil seperti peluru melesat ke punggungnya, itu tidak membuatnya terluka, tapi rasa sakit yang menusuk pada dirasakan.
"Keugh! Poff!" Natan tersedak saat darah di dalam tubuhnya tersendat di tenggorokannya, kemudian memuntahkan seteguk darah segar.
Ayumi dan Erina yang berada di pelukan Natan, terlihat khawatir dan memeluk lebih erat.
"Healing." Ayumi menyembuhkan Natan saat mencengkeram tangannya. Kemampuannya sudah mencapai level tertinggi, sudah mampu menumbuhkan anggota tubuh, apalagi luka dalam.
Natan mendarat di atas Ksatria Lebah dan melepaskan keduanya, kemudian berbalik melihat Kraka yang mulai menyembuhkan diri.
Whooooosh!
Tiba-tiba ada akar pohon yang terbuat dari tulang, itu muncul dari bawah tanah, melesat ke langit dan meledak di udara membentuk ribuan jarum tulang yang jatuh seperti hujan. Mereka menghujani Kraka yang mencoba melangkah. Tulang-tulang itu menancap di tentakel maupun kepala Kraka, dan samar-samar terlihat ada cairan hitam yang memaksa masuk.
Setelah meningkatnya skill Natan, hampir semua Skeleton Squad memiliki kemampuan pasif. Kemampuan itu adalah memproduksi racun dalam jumlah tertentu, yang mampu merusak sel-sel tubuh manusia maupun monster.
Kraka meraung saat racun memasuki tubuhnya. Ia ingin memulihkan tubuhnya, tapi setelah melepaskan serangan tadi, hampir seluruh kapasitas Mana-nya sudah digunakan.
Kraka memiliki kesadaran dan bisa berpikir seperti manusia. Tidak mengharapkan serangan penuhnya yang tidak pernah digunakannya selama ini, berhasil ditahan. Tidak hanya tidak berhasil melukai lawan, bahkan ia sendiri mengalami kerugian dengan racun yang memasuki tubuh tanpa memiliki Mana untuk memulihkannya.
__ADS_1
Booom...
Suara keras yang dihasilkan dari benda besar jatuh di tanah, membuat asap dan debu naik saat benda itu jatuh. Itu adalah Giant Crocodile, yang sudah mengalami evolusi.
Panjangnya mencapai 100 meter, dapat berdiri dengan tinggi 60 meter. Saat dalam posisi normal, tingginya mencapai 30 meter dengan lebar 25 meter.
Giant Crocodile itu menatap tajam Kraka dengan mata birunya, kemudian memutar tubuhnya seraya mengibaskan ekornya yang terbuat dari tulang-tulang berduri yang tajam seperti pedang.
Kraka yang sibuk dengan dirinya sendiri, tidak menyadari datangnya serangan dan langsung menghantamnya, membuat tubuhnya terlempar beberapa meter.
Giant Knight sudah bangkit, langsung berlari ke arah Kraka yang ukurannya lebih besar darinya. Jika dilihat dari jauh, itu seperti anak kecil yang berlari ke orang dewasa. Giant Knight menahan Kraka agar tidak terlalu jauh, itu memegangi kepalanya yang sudah kehilangan mata.
Karena kepalanya dicengkeram erat dengan kedua tangan, sepuluh tentakelnya bergerak liar, memukul-mukul tanah maupun lautan beku di belakangnya.
Erina kembali melompat turun, dia mendarat dengan posisi berlutut dengan tangan menyentuh tanah. "Killer Root!"
Tanah bergetar dan terbelah, memperlihatkan akar kecil yang membesar dalam sekejap seperti ular dengan duri-duri tajam yang muncul di permukaan. Akar itu melesat ke arah tentakel dan terbelah menjadi puluhan bagian, mengikat semua tentakel dan menusukkan duri-duri pada seluruh penjuru tentakel.
Giant Crocodile berbalik, ia membuka mulutnya dan mengembuskan napas beracun berbentuk asap hijau.
Ketika Kraka diselimuti oleh kabut, tubuhnya mengejang dengan seluruh tentakel yang kaku seperti besi. Raungan-raungan marah dan sakit terus keluar dari mulutnya.
Semua pasukan yang telah bersiap untuk menyerang daratan, terlihat ragu-ragu dan sebagian lainnya mulai mengalir es di bawah kaki untuk kembali memasuki lautan.
Giant Knight lainnya datang, itu membawa sebuah benda kecil seperti bola basket di tangannya. Kemudian melemparkannya ke dalam mulut Kraka.
Setelah benda itu masuk, semua Skeleton Squad menghilang dari pandangan, mereka bergerak seperti bayangan yang memasuki bayangan Natan.
Kraka dapat mengendalikan tubuhnya lagi dan terlihat marah. Ia membuka mulutnya, bersiap untuk melepaskan serangan mematikan. Tapi, aroma terbakar bisa tercium dari dalam mulutnya dan ada asap yang mengepul.
Hingga tak lama, tubuh Kraka terus mengembang seperti balon dengan darah yang merembes keluar dari pori-pori kulit, kemudian ledakan keras yang teredam berasal dari dalam tubuhnya.
Duarr!
Tubuh Kraka meledak, mengubahnya menjadi potongan daging dengan darah yang menyembur ke langit, kemudian jatuh seperti hujan.
Natan, tidak mengubah ekspresi wajahnya setelah Kraka terbunuh. Dia tidak senang maupun sedih.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...