
Lantai 18
Banyak daging maupun taring, serta potion yang tergeletak di lantai Dungeon. Itu adalah Item Drop dari serigala berlevel 90 dengan pergerakan yang cukup cepat, namun tidak ada yang mengalahkan Natan dalam segi kecepatan.
Dengan AGI berjumlah 476, tentunya ia bisa bergerak sangat cepat, terlebih lagi dengan Skill Distance Vision dan Night Vision, ia bisa melihat dengan jelas yang melengkapi kecepatan geraknya.
"Kakak! Erina sudah naik sampai level seratus!" Erina berteriak keras sembari melambaikan kedua tangannya.
Natan yang sedang membersihkan bilah pedangnya itu mendongak, dan melihat statistik kekuatan Erina dengan Skill Appraisal.
[Nama : Erina Adriani]
[Ras : Manusia]
[Usia : 14 Tahun]
[Level : 104 (38.505/105.500)]
[Job : Paladin/Alkhemist]
[HP : 58.550 [54.230/58.550] [5100/m]
[MP : 6675 [6675/6675] [316/m]
[STR : 400 (+15+12+16)]
[VIT : 275 (+20+8+11)]
[AGI : 130 (+10+4)]
[INT : 80 (+15+12)]
[DEX : 100 (+20+12)]
[LUCK : 100 (+10+12+2)]
Natan mengalihkan pandangannya pada Ayumi yang sedang mengambil daging di lantai, dan melihat informasi statistik. Jika melihat statistik keduanya yang terfokus pada satu bidang, ia merasa statistik miliknya acak-acakan.
Jika Erina meningkatkan STR dan VIT, maka Ayumi hanya fokus pada INT. Sedangkan Natan, ia hampir meningkatkan semua statistik yang ada, 852 STR, 437 VIT, 476 AGI, 317 INT, 387 DEX dan 241 Luck. Itu semua didapat dari Point Status, Equipment dan Title.
"Ngomong-ngomong, kenapa aku sampai bisa melihat Point Exp yang dibutuhkan? Bukankah biasanya hanya informasi dasar." Natan memfokuskan pandangannya pada layar interface di depannya yang memberikan informasi Ayumi dan Erina. "Apakah karena mereka berdua dengan senang hati memperlihatkan informasinya padaku?"
"Kakak, apakah kita bisa berangkat ke lantai selanjutnya?" tanya Ayumi yang berlari menghampiri Natan.
"Kita akan berangkat nanti, setelah mendapatkan perlengkapan baru Erina. Perlengkapan yang dipakainya masih level empat puluh, sedangkan dia sudah level seratus." Natan mengambil sapu tangan hangat dari penyimpanannya, dan mengusapkannya pada wajah Ayumi yang sedikit kotor.
Ayumi memejamkan matanya dan menggerakkan kepalanya mengikuti usapan Natan. Kemudian membuka matanya kembali setelah wajahnya telah bersih. "Jika saja perlengkapan yang didapat Erina terbuat dari material bagus, Ayu bisa meningkatkannya, supaya tidak terlalu sering membeli perlengkapan."
Natan juga membersihkan wajah Erina dengan sapu tangan yang baru, ini benar-benar seperti orangtua yang merawat dua bayi kecilnya.
"Apakah semua dagingnya sudah diambil?"
Ayumi dan Erina menganggukkan kepala secara bersamaan.
__ADS_1
"Sudah, apalagi sangat mudah karena ada Inventory List pada fitur Guild. Kita juga bisa memberikan izin pada siapapun yang boleh mengaksesnya," jawab Erina yang duduk di sebelah kanan Natan.
Inventory List pada fitur Guild memungkinkan untuk menyimpan harta-benda bersama, dan siapapun bisa mengambilnya. Namun ada juga izin khusus, seperti halnya anggota biasa hanya bisa mengambil harta milik perorangan, dan Guildmaster serta Vice Guildmaster yang dapat mengambil harta apapun dalam penyimpanan.
Natan meletakkan setengah dari persediaan yang dikumpulkannya selama ini ke dalam Inventory Guild, dan memberikan izin pada Ayumi maupun Erina untuk bisa mengambil apapun yang ada di sana. Jika anggota biasa membuka Inventory Guild, yang dilihatnya hanyalah tanda tanya '?', karena tidak mendapatkan izin.
Ayumi membuka layar interface, melihat Inventory Guild. "Bukankah Kakak mengatakan cukup untuk empat bulan, meski kita makan banyak. Tapi jika dihitung, ini hanya dua bulan saja."
Natan memasukkan bilah pedang ke dalam sarungnya. "Aku menyimpan setengahnya, jika aku meletakkan semuanya di sana, kalian berdua akan menghabiskan camilan dan minuman."
Keduanya terdiam dengan mulut sedikit terbuka, kemudian terkekeh kecil seraya membuka makanan ringan yang baru saja mereka ambil.
Camilan dan minuman kesukaan mereka setidaknya bertahan selama tiga bulan, namun untuk makanan pokok yang sebagian didapat dari monster dan NPC Shop, kami tidak perlu khawatir. Tapi, sangat disayangkan tidak ada beras yang dijual, hanya ada gandum dan roti keras.
"Erina, pengetahuan apa yang kau dapat dari menaikkan level Medical Knowledge?"
"Hum?" Erina menolehkan kepalanya ke kiri dengan mulut yang penuh dengan makanan. Tidak lama kemudian ia menjawabnya setelah menelan makanannya, "Berbagai cara untuk membuat potion, membuat penawar racun, dan racun itu sendiri. Kemudian, pengetahuan tentang pembuatan garam, gula dan bumbu lain dari bahan-bahan yang mudah ditemukan ..."
Erina terdiam sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya, "Seperti daun mint, jahe dan ginseng yang dicampur, diolah dengan metode tertentu, akan mendapatkan rasa asin yang segar."
Natan mengangguk kecil, kemudian kembali membersihkan senjata yang lain.
Satu jam kemudian, setelah Erina mendapatkan perlengkapan baru dan beberapa skill, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan ke lantai selanjutnya.
Ketika mereka sudah sampai di lantai 19, terdapat 50 Zombie yang penampilannya sangat berbeda seperti Zombie pada umumnya, mereka memiliki lidah yang panjang dan tubuh yang besar.
Orc, Goblin, Ogre, Serigala Api, dan sekarang Zombie Soldier?
"Ayumi, Erina, kalian berdua tahu 'kan bagaimana cara menghadapinya? Pastikan jangan sampai kena lidahnya."
Walaupun sudah bertekad untuk tidak terlalu sering menggunakan senjata jarak jauh, dalam keadaan ini Natan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak ingin membersihkan darah Zombie di bilah pedangnya.
Natan bisa membunuh Zombie atau monster dengan sekali tembakan, sampai jarak monster berlevel 130. Namun jika itu Dungeon Boss, lain lagi ceritanya.
Wush! Bang!
Lidah Zombie yang tajam dan bergerigi itu melesat mengarah pada Erina, kemudian dentuman keras terdengar saat menghantam perisai serta Skill Shield of Light.
"Light Stab!"
Cahaya kuning keemasan keluar dari ujung pedang Erina, dan melesat Zombie yang dilawannya Hinga menembus tubuh Zombie itu. Namun sayang, Zombie Soldier itu tidak terbunuh dan beregenerasi kembali, berbeda dari Zombie pada umumnya.
"Kepalanya!" Natan sedikit berteriak, memberitahukan kelemahan Zombie Soldier.
Ayumi mengangkat Magic Wand dan membuka Wizard Book's, yang menambah 20% STR dan INT. "Fire Arrow!"
Belasan lingkaran sihir berwarna merah tercipta di depan Ayumi, kemudian dari lingkaran sihir itu terlihat panah api yang melesat, menembus kepala Zombie Soldier dan membakarnya habis.
Erina menancapkan pedangnya pada lantai dengan kedua tangannya. "Sword of Thorns!"
Terlihat lingkaran sihir berwarna kuning yang sangat besar, berdiameter setidaknya lima puluhan meter. Dari dalam lingkaran itu mulai mencuat pedang berwarna kuning keemasan yang menembus tubuh semua Zombie Soldier secara bergantian, namun tidak melukai mereka yang dianggap sebagai kawan.
Erina megambil kembali pedang yang menancap, dan berlari menebas kepala Zombie Soldier. Skill yang digunakannya hanya mampu bertahan selama 25 detik, mengingat masih level lima.
__ADS_1
Kuro juga tidak tinggal diam, ia berlari sangat cepat seperti bayangan hitam. Setiap ia berlari melewati Zombie Soldier, Zombie yang dilewatinya akan terbelah menjadi daging potong dengan kepala yang meledak.
Melihat Adiknya yang tidak merasa geli atau jijik, membuat Natan merasa sedikit malu. Akhirnya, ia menyimpan senjata jarak jauh dan menggunakan Lightning Spear.
Natan berlari mengarah pada belasan Zombie Soldier di depannya, dan ia menghindari serangan lidah dengan memiringkan kepala ataupun menunduk, serta melompat. Ia yang sudah melompat tinggi itu mendarat di tengah-tengah Zombie Soldier, kemudian memutar tubuhnya seraya mengayunkan tombaknya.
Kilatan petir berwarna biru terlihat saat ia mengayunkan tombaknya. Ini adalah skill bawaan yang akan aktif jika dialirkan Mana, sangat luar biasa.
Belasan tubuh Zombie Soldier meledak saat terkena sambaran petir, namun dengan cepat mereka juga beregenerasi kembali. Sebelum membiarkan mereka benar-benar beregenerasi, Natan menebas kepala Zombie yang tergeletak di tanah.
Hanya dalam sepuluh menit, semua monster yang ada sudah terbunuh tanpa sisa, lebih cepat dari lantai-lantai sebelumnya yang membutuhkan waktu hampir satu jam untuk menyelesaikan satu lantai. Bagaimanapun, saat ini mereka menyerang bersama, tidak seperti sebelumnya yang menahan diri agar Erina dapat membunuh.
Natan melihat layar interface, mengecek informasinya. "Hanya satu level ..."
Point Exp yang seharusnya bisa meningkat dua sampai tiga level, berubah hanya dapat meningkatkan satu levelnya, itu karena Exp yang terbagi menjadi empat bagian.
"Hah..." Natan menghembuskan napas panjang, kemudian membersihkan senjatanya lagi.
Ketika ia sedang membersihkan senjata, Kuro mulai mengambil semua Inti Monster dan menyantap. Pada saat itu juga, ada perubahan lain pada statistiknya, ia mengalami kenaikan level lain.
Natan menoleh ke arah kiri dengan cepat, melihat Kuro yang menyantap Inti Monster. "Apakah Point Exp yang didapat dari Kuro yabg memakan Inti Monster juga terbagi? Memang Exp dari Inti Monster hanya setengah dari monster aslinya, tapi, ini sangat luar biasa!" Ia sangat bahagia saat Inti Monster dapat digunakan dengan cara lain.
"Kuro, makan yang banyak!" Natan mengeluarkan Inti Monster level 85 dan 90 dari Inventory Guild.
Natan tertawa aneh seperti orang gila seraya merentangkan kedua tangannya ke atas.
"Kakak, apakah Kakak jadi gila?" Ayumi menarik mantel Natan, kemudian melihat Kuro yang memakan Inti Monster. "Bukankah Kakak mengatakan Inti Monster itu untuk dijual?"
Natan tersedak saat mendengar pertanyaan pertama Ayumi. "Seharusnya kalian menyadarinya, Inti Monster yang dimakan Kuro dapat menghasilkan Exp untuk kita semua."
Keduanya terkejut, dan kemudian membuka layar sistem masing-masing untuk melihat. Benar saja, Point Exp yang didapat terus bertambah tergantung seberapa banyak Kuro memakan Inti Monster.
Natan mengusap puncak kepala Ayumi dan Erina yang berdiri di depannya. "Haruskah kita membuka ruangan boss?"
"Sebentar!" Ayumi mengangkat tangan kanannya. "Ayu mau memperbaiki perlengkapan Erina supaya bisa bertahan lama."
Ayumi duduk dengan kedua kaki yang terlipat, kemudian ia mulai membersihkan perisai maupun pedang dengan Inti Monster yang telah dicairkan.
Samar-samar, dua perlengkapan itu memancarkan cahaya biru yang cukup terang, dan saat cahaya itu menghilang, perlengkapan yang sebelumnya tergores dan retak bergerigi mulai membaik kembali.
"Oohhhh." Natan takjub saat melihat perlengkapan yang kembali seperti baru.
Sampai saat ini ia hanya membersihkan dengan cara mengelap menggunakan kain biasa, karena memang senjatanya berlevel 200. Dengan level setinggi itu dan level monster yang dihadapi, ia tidak terlalu pusing dalam perawatan.
Setelah selesai, Natan berjalan pada pintu kembar hitam dengan ukiran aneh, yang di depannya ada layar interface berwarna biru yang bertanda jika dapat dimasuki.
Tanpa berlama-lama lagi, mereka berempat membuka pintu itu dan memasukinya.
Bang!
Pintu kembar tertutup dengan kerasnya saat mereka berempat memasuki ruangan.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...