
Ruangan hitam yang sangat gelap itu mulai berubah saat penerangan di dinding memperlihatkan cahaya biru yang menerangi. Terlihat, monster yang selama ini tidak pernah dilihatnya akhirnya muncul dan menjadi Dungeon Boss lantai 20.
Lizardman!
Manusia kadal berwarna hijau dengan sisik, membawa perisai yang terbuat dari kayu, tombak besi, pisau, pedang bermata dua, dan mengenakan baju pelindung yang terbuat dari kulit. Meski terlihat sederhana, namun equipment yang digunakan termasuk dalam kualitas tinggi, meningkatkan level 100 dan ini merupakan Dungeon Boss.
"Aku akan mengambil Boss, kalian bantu kalahkan bawahannya. Level mereka sepuluh level dibawah Dungeon Boss." Natan berjalan seraya menarik pedang dari sarungnya.
Ayumi dan Erina menganggukkan kepalanya.
"Sekarang!" Natan berlari menuju King Lizardman bersama dengan Erina di kanan, dan Kuro di kirinya. Untuk Ayumi, berada di barisan belakang untuk memberikan penghalang dan bantuan dari belakang.
Natan berlari tanpa menghiraukan Warrior Lizardman, Spear Lizardman, dan lainnya. Ia hanya terfokus pada King Lizardman, dan sisanya ia serahkan pada Ayumi, Erina serta Kuro.
Ayumi yang berada di bagian belakang melepaskan serangan rantai untuk mengikat semua Lizardman, terutama untuk bagian senjata yang mereka bawa.
Erina mengangkat perisainya, menghalau tusukan tombak yang tidak terkena rantai api Ayumi dan mendorong serangan itu ke samping, kemudian ia menusukkan pedangnya pada dada Lizardman. Ia ingin mengenai bagian kepala, namun sayang sekali tingginya tidak terlalu tinggi, bahkan tidak sampai 150 cm.
Erina mendorong pedangnya yang sudah menancap itu, ia menebasnya ke atas, membelah badan atas Lizardman menjadi dua bagian dan menghilangkan nyawanya. Dengan STR 486 Point, sangat mudah baginya untuk membunuh Lizardman yang hanya memiliki jumlah Health sebanyak 28.550 Point.
Kuro yang berada di samping Natan menerjang Lizardman lain, menahannya dengan dua kaki depannya, menahan Lizardman yang jatuh menghantam lantai untuk tidak bisa berdiri lagi. Kemudian ia membuka mulutnya selebar mungkin, dan memakan kepala Lizardman.
Natan melompat tinggi, mengarah pada King Lizardman yang duduk di Singgasana. Ketika ia melompat, King Lizardman mengangkat tombaknya tinggi, mengarah padanya.
Natan yang melompat itu dan jatuh ke arah tombak tetap tenang tidak memperlihatkan tanda-tanda kepanikan.
"Fire Ball!" Ayumi menembakkan bola api belasan meter di atas kepala Natan.
Bola api yang cukup besar itu menerangi seluruh ruangan, dan menciptakan bayang-bayang dari cahaya yang terhalang oleh benda sekitar.
Natan tersenyum saat melihat ada bayangan yang tipis karena King Lizardman yang mengangkat tangan. Ia mengaktifkan kemampuannya untuk masuk ke dalam bayangan, dan muncul kembali dalam hitungan detik.
Ia yang sudah muncul itu memotong lengan King Lizardman, kemudian berputar dan berjongkok untuk menjaga jarak atau mengambil ancang-ancang. Tidak cukup disitu, ia menekan kakinya kuat, berdiri dan menusukkan pedangnya pada kepala King Lizardman dengan kedua tangannya, sampai menembus Singgasana.
Natan mendorong pedangnya ke atas, membunuh King Lizardman. Kemudian ia berbalik seraya mengayunkan pedangnya secara vertikal, dari atas ke bawah, membelah Warrior Lizardman sebelum sempat mengangkat pedang.
Natan menekan kembali kaki kanannya di lantai sebagai pijakan, kemudian melesat bagaikan peluru, dengan tubuh condong ke depan. Jika dilihat dari jauh, Natan seperti tengah tidur telungkup.
Ia meletakkan kaki kirinya ke depan, menghentikan gerakannya yang sangat cepat seraya mengayunkan pedangnya secara vertikal, dari bawah ke atas, membelah Lizardman menjadi dua bagian.
Kemudian Natan berlari dan berpijak pada Kuro, lalu melompat tinggi mengarah pada Erina yang berhadapan dengan tiga Lizardman.
Natan memegangi gagang pedang dengan kedua tangan, menebas Lizardman dari atas. Ia sangat senang dengan pertempuran ini, karena semua pengalaman berlatih Kendo yang dijalaninya selama hampir sepuluh tahun benar-benar berguna. Namun anehnya, tidak ada skill yang didapat dari pengalamannya berlatih.
Ketika sudah membelah dua tubuh Lizardman yang berada tepat di depan Erina, ia berdiri dan menarik rambut Lizardman lain yang berada di kiri depannya.
__ADS_1
"Kiieek?!" Lizardman itu mengeluarkan suara aneh yang tidak dimengerti.
Natan yang telah menarik rambut Lizardman, dan membuatnya seperti sedang melakukan setengah kayang, akhirnya ia menusukkan pedangnya pada batang leher kadal itu, memutarnya, membelahnya.
Kilauan cahaya terlihat di permukaan lantai saat semua mayat Lizardman menghilang, dan digantikan dengan Item Drop yang berupa Inti Monster, Daging Merah, Scale, Taring.
"Apakah semuanya aman?"
"Aman!" Ayumi dan Erina mengangkat tangannya bersamaan, dengan Kuro yang mengaum.
Natan tersenyum tipis, kemudian bekerjasama untuk mengambil semua Item Drop yang ada, memasukkannya ke dalam Inventory Guild. Inventory Guild sendiri memiliki cara untuk meningkatkan yang berbeda, tidak seperti Inventory List yang menggunakan Point Skill.
Inventory Guild hanya perlu menggunakan 50 Gold untuk membuka satu kotak, dan berlaku kelipatan untuk membuka yang selanjutnya.
"Sekarang, ayo kita berangkat ke lantai selanjutnya. Pastikan semua perlengkapan selalu dalam kondisi baik, dan tetap dalam formasi," ucap Natan yang memimpin jalan, memasuki gerbang yang terbuka di balik Singgasana.
Natan menghalangi matanya dengan lengan kirinya sesaat setelah memasuki gerbang yang terbuka. Apa yang dilihatnya di lantai 21 sangat berbeda dengan 20 lantai sebelumnya, saat ini ia melihat sinar matahari yang menyinari daratan, udara segar dan angin sejuk yang berembus pelan menerpa wajahnya.
"Tunggu!" Natan berbalik, memastikan apakah ini hanya sebuah ilusi.
Yang dilihatnya di belakang adalah Erina dan Ayumi yang tersenyum bahagia karena bisa melihat kembali sinar matahari yang hangat. Tapi ia mengalihkan perhatiannya, ia melihat tebing curam seperti tembok tinggi.
Tembok itu sangat panjang dan memutari tempat di mana mereka berada sekarang. Ia kembali melihat ke depan, dengan menggunakan teropong. "Sepertinya, ini adalah daratan yang dikelilingi oleh gunung batu, daratan berdiameter empat kilometer."
Natan berjalan ke ujung daratan semakin mengecil setiap ia melangkah. Hingga sampai ke ujung, ia bisa melihat dataran rendah yang dipenuhi oleh hutan lebat, sungai besar dan deras, hamparan rumput, termasuk air terjun dalam satu wilayah.
Ketika ia sedang bingung harus melakukan apa, tiba-tiba layar interface muncul di depannya yang memberi tahu misi apa yang harus dilakukannya.
[Dungeon Tower Lantai 21]
[Bunuh Banteng Bertanduk Pedang (0/75)]
[Reward : 1.000.000 Point Exp tambahan, mengecualikan Point Exp yang didapat dari membunuh Banteng Bertanduk Pedang, dan membuka Portal Cahaya untuk pergi ke lantai 22]
"Ayumi, Erina. Ayo bersiap-siap, kita akan turun dan mencari Banteng Bertanduk Pedang."
Ayumi dan Erina berjalan menghampiri Natan, bersama dengan Kuro yang berdiri di belakang.
"Kakak, bukankah ini terlalu mengerikan untuk turun?" tanya Ayumi sedikit tidak yakin.
Natan mengerti mengapa Ayumi sedikit enggan untuk turun, itu bisa dilihat dari bebatuan tajam yang mengarah ke atas, dan pastinya akan mati ditempat saat terkena batu itu.
"Apakah kau memiliki cara lain?"
Ayumi terdiam sejenak seraya menepuk-nepuk dagunya dengan jari telunjuk, kemudian menjawab, "Menggunakan Earth Wall, tapi itu terlalu lama karena harus menunggu Cooldown selama empat puluh dua detik."
__ADS_1
Natan menganggukkan kepalanya, itu memang bisa dilakukan dan terlalu lama. Cooldown skill juga tergantung pada jumlah Mana Point yang digunakan, jika yang digunakan adalah 50 MP, maka hanya perlu menunggu 30 detik. Jika 100 MP, membutuhkan waktu 60 detik, 150 MP membutuhkan 90 detik, 200 MP membutuhkan 120 detik, dan 250 MP membutuhkan 150 detik.
Pengurangan Mana Point saat peningkatan juga tergantung dengan jumlah yang digunakan diawal. Seperti 50 MP diawal saat ditingkatkan akan menjadi 48, 47, 46, 45, 43, 41 dan seterusnya. Jika 100 MP maka menjadi 96, 94, 92, 90, 88, 84, 80 dan seterusnya.
"Tapi, bukankah Ayumi terus berlatih Earth Wall? Bahkan tidak menggunakan operasi sistem Player, dan terkadang bisa mengaktifkannya sendiri. Jadi, bisa dikatakan, kau tidak perlu menunggu Cooldown untuk mengaktifkan skill."
Natan bisa saja membawa Ayumi dan Erina untuk melompat dari tebing, kemudian menggunakan Shadow Step untuk berpindah. Namun, ia mengurungkan niatnya karena terlalu berisiko. Jika ini adalah gedung kota yang tidak terlalu tinggi, ia bisa melakukannya.
Ayumi menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Ayu akan mencobanya lagi." Ia memegang Magic Wand dengan kedua tangannya, dan memposisikan dalam posisi horizontal di depan dada.
Ayumi memejamkan matanya, dan terlihat aura berwarna biru seperti api mulai terpancar dari tubuhnya, yang kemudian tebing di depannya bergetar hebat seperti gempa bumi.
Bang! Bang! Bang!
Dinding tanah mulai tercipta di depan tebing. Dinding itu terbentuk seperti tangga yang mengarah turun, dan terlihat telah tercipta sepuluh anak tangga.
Dengan tinggi tebing yang berkisar dua ratusan meter, tentunya masih membutuhkan 11.101 anak tangga lagi, yang artinya Ayumi harus menggunakan kemampuannya sebanyak 1110 kali, atau membutuhkan waktu tiga jam.
Tentu saja Natan tidak ingin memaksa Ayumi melakukan hal seperti itu yang menguras tenaga dan mental.
Natan mengangkat tangan kirinya menyentuh pundak Ayumi. "Sudah cukup, biarkan aku yang membawa kalian turun." Ia menoleh ke belakang menatap Kuro. "Kuro, masuk ke dalam bayangan, dan tolong lindungi kami jika terjadi hal-hal yang berbahaya."
Kuro mengangguk kecil, kemudian berubah menjadi bayangan hitam yang bergabung dengan bayangan Natan.
"Ayumi, Erina, simpan perlengkapan kalian ke dalam Inventory Guild."
Meski tidak tahu apa yang dilakukan Natan, Ayumi dan Erina tetap melakukannya.
Natan menggendong Ayumi dengan satu tangan dan membiarkannya duduk di lengan kirinya, sedangkan Erina berada di lengan yang lain. "Pegangan yang erat." Ia berjalan ke ujung pagar alam.
"Hah..." Natan menghembuskan napas panjang dan menariknya kembali. Ia melakukannya berulang kali sampai benar-benar siap.
Ketika sudah siap, Natan berlari sangat cepat bersama dengan kedua Adiknya yang ia bawa, dan berpegangan dengan cara melingkarkan lengan di lehernya. Saat sudah berada di ujung dataran tinggi, ia melompat setinggi dan sejauh mungkin, berharap lompatannya dapat melewati batu yang mencuat tajam.
Natan jatuh dengan kecepatan tinggi, mengarah pada tanah runcing yang berada di bagian terluar dari kawasan tanah runcing. Ia memastikan jarak antaranya dengan tanah runcing itu tidak terlalu dekat.
Ia memfokuskan pandangannya pada bayangan pohon yang tidak terlalu jauh dari tanah runcing itu. Namun tetap saja jaraknya dengan tanah runcing sangat dekat. Ketika jaraknya hanya tersisa setengah meter dari tanah runcing, ia mengaktifkan kemampuannya karena sudah masuk dalam pandangannya.
"Shadow Step!"
Bayangan hitam keluar dari tubuhnya, dan mulai menyelimutinya bersama dengan dua orang yang dibawa. Bayangan yang menyelimuti itu menyusut, berubah seperti kain hitam yang terbang tertiup angin dengan cepat, mengarah pada bayangan di bawah pohon.
Sesaat setelah bergabung dengan bayangan pohon, Natan menonaktifkan kemampuannya dan bersandar pada batang pohon dengan napas terengah-engah. "Kita ... hah ... berhasil ..."
...
__ADS_1
***
*Bersambung...