
Penjagaan Guild Armonia benar-benar diperketat dengan 300 Knight, 200 Magic Archer, 50 Wizard, 10 Healer, 3 Sage dan 25 Cleric. Untuk sisanya, mereka berjaga di tempat lain maupun bersiap-siap di belakang gerbang.
Cleric, sebelumnya Natan merasa tidak terlalu perlu memanggilnya, karena sudah ada Healer, Saint dan White Mage. Namun setelah dipikir-pikir, Cleric memiliki kemampuan Cure, Safety Zone, Deptroced Zone, Divine Might, Fade, Guardian Saint.
Untuk Safety Zone memiliki kemampuan yang sama seperti Cure Barrier dari Saint, Absolute Defense dari Paladin. Deptroced Zone, yang mampu menurunkan pertahanan lawan, serupa seperti Dominated dari Blademaster, namun memiliki keunggulan karena AoE. Divine Might, seperti Light of Battlefield.
Fade, menghentikan monster untuk menyerang dan Guardian Saint yang memberikan damage terus-menerus seperti salah satu kemampuan White Mage.
Tapi tentunya setiap kemampuan ada kelebihan masing-masing, seperti penggunaan Mana dan berapa lama skill itu bertahan. Terlebih, Cleric memiliki kemampuan yang juga berdampak pada kemampuan lawan, seperti memberikan racun dan menurunkan statistik.
Sudah dua jam semenjak pemberitahuan tentang Permanent Dungeon yang muncul, namun sampai saat ini masih belum ada tanda-tanda 10 Guild yang akan datang menyerang.
Hingga dua jam lainnya kembali terlewati, salah satu Magic Archer mendatangi Natan yang sedang membakar makanan laut bersama NPC. "Ketua, manusia sudah mulai datang, dan sepertinya mereka adalah penyerang. Lalu ..."
Ana terlihat ragu saat menyampaikan berita yang lebih jelas, karena memang tidak tahu harus menjelaskannya seperti apa. "Ketua bisa melihatnya sendiri."
Natan mengambil satu potongan udang tusuk, lalu berjalan menaiki tangga batu menuju lantai tembok untuk melihat apa yang sebenarnya dilihat Ana. Ia menggunakan Distance Vision untuk mampu melihat dalam radius satu kilometer darinya, terlihat ribuan Player yang mulai berjalan naik ke Longquan Mountain.
Bukan ribuan Player yang sulit untuk dijelaskan, melainkan ribuan manusia lain yang berada di barisan terdepan. Manusia-manusia itu terlihat sangat kurus, membawa senjata yang berkarat ataupun tongkat besi yang sudah bengkok. Pakaian yang mereka kenakan juga benar-benar rusak, terlihat juga luka-luka lebam di lengan, wajah ataupun paha.
"Mereka ditangkap dan digunakan untuk bekerja secara paksa? Lalu sekarang menjadi tameng hidup?"
Natan mengeluarkan Sako TRG Mana lalu mengarahkannya pada Player dengan lebih rendah. Lebih baik mengurangi jumlahnya terlebih dahulu ketimbang Player tinggi, karena ia merasa Player dengan level tinggi memiliki kemampuan dan pengalaman untuk merasakan bahaya.
Tapi yang lebih penting, ia ingin bertarung dengan jarak dekat saat melawan Player level tinggi.
Natan masih menunggu untuk melihat niat asli mereka datang kemari, apabila untuk bekerja sama, mungkin ia akan memikirkannya dan tidak menyerang. Namun, ternyata pemikiran positifnya terpatahkan saat itu juga, salah satu Player berteriak lantang dan tiba-tiba ada monster yang datang dari dalam pusaran cahaya hitam.
"Beast Master?" Natan menurunkan Sniper Rifle untuk melihat berapa banyak monster yang dikeluarkan. "Ada lima ratus, mereka meremehkan kekuatan Guild Armonia."
Monster dengan level 250 sampai 295 yang dikerahkan oleh penyerang, ini sama saja dengan menghina kekuatan dari Guild Armonia.
Tanpa berbasa-basi, Natan menarik pelatuk Sniper Rifle.
Wush!
Peluru Mana melesat sangat cepat membelah udara dan tidak menimbulkan suara sama sekali, melewati monster-monster yang mulai menyerang serta melewati manusia yang dijadikan budak. Peluru itu melesat mengarah pada Beast Master dengan jubah hitam yang menyembunyikan penampilannya, yang kemudian menembus kepala Beast Master.
Keheningan terjadi untuk beberapa saat setelah Beast Master terbunuh dan tergeletak di atas rumput dengan darah yang merembes di lubang kepalanya. Hingga tak lama kemudian, semua monster itu mulai kehilangan kendali dan menyerang monster ataupun manusia terdekat.
Salah seorang pemuda, yang mengenakan setelan jas hitam dengan kedua tangan diselipkan di saku celana mulai terlihat panik saat melihat monster yang tidak terkendali. Pemuda itu berasal dari Keluarga Fang, yang cukup berkuasa di Provinsi Sichuan, bahkan sampai saat ini.
Namun kekuasaan mereka hanya bertahan karena bawahan, bukan karena kemampuan, sehingga level mereka tidak terlalu tinggi.
"Serang!" Fang Tian memerintahkan semua orang termasuk 10 Guild lain.
Guild-guild itu ingin bekerja sama dengan Keluarga Fang bukan hanya karena ingin mendapatkan Dungeon Material, tapi juga untuk mendapatkan item langka kepemilikan Keluarga Fang.
__ADS_1
Natan meletakkan Sniper Rifle di atas pembatas jalan tembok. "Bunuh semua monster, lalu untuk manusia yang terlihat seperti budak itu, jangan bunuh mereka."
"Baik, Ketua!"
NPC dengan role jarak jauh mulai melepaskan serangan mereka semua, termasuk Knight yang menjaga X-Bow.
Natan membuka layar interface melihat Guild Rank, terlihat satu per satu anggota dari Guild-guild mulai berkurang karena terbunuh, tapi ia menyadari jika yang dikirim kemari hanya satu dari empat jumlah total anggota tiap Guild.
"Setelah perang di sini, aku akan membalas serangan mereka."
Natan yang bersandar pada pembatas tembok itu menoleh ke belakang seraya meneguk cola. "Dean."
Dean Edmund yang merupakan pria berusia 45 tahun itu datang di samping kanan Natan dengan posisi berlutut. "Saya di sini."
"Kau seharusnya sudah tahu, karena itu, bergeraklah."
Dean Edmund menyilangkan lengan kanannya di depan dada. "Baik, Ketua." Ia menghilang seperti udara sesaat setelah menjawab.
Pergerakannya sangat cepat meski Natan masih bisa melihatnya dengan jelas, tapi dari Player yang menyerang Guild Armonia, level tertinggi mereka hanya sebatas Lv.387. Natan menduga level tinggi mereka masih berada di markas dan tidak dikirimkan, karena ada Player lain dengan Lv.407 di salah satu Guild yang menyerang.
Terlihat satu per satu monster mulai terbelah dua dengan sangat cepat, saking cepatnya, darah yang menyembur terlambat menyembur.
Natan mengamati jalanya peperangan yang bisa dikatakan Guild Armonia adalah pemenangnya, meski belum benar-benar berakhir. "Ayumi."
Wush! Wush!
Ayumi yang berdiri di pembatas tembok itu mengangkat tongkat sihirnya setinggi mungkin. "Earth Wall!"
Getaran hebat terjadi dan dapat dirasakan sampai tembok, meski pusatnya berada di satu kilometer jauhnya dari mereka. Bisa dilihat tanah mulai retak, yang kemudian ada tembok setinggi tiga puluhan meter yang mencuat dari dalam tanah, menghalangi jalan kabur.
Dari 2350 Player, kini hanya tersisa 1300 Player, dan Natan mendapatkan sejumlah besar Point Exp dari NPC yang membunuh Player. Membunuh Player mendapatkan Point Exp yang hampir dua kalinya dari monster, karena itulah ia hampir naik level lagi.
"Knight, harusnya kalian mendengar perintah tadi. Turun, dan bunuh."
Bang!
Gerbang terbuka lebar memperlihatkan ratusan Knight dan Spearman yang menunggang kuda. Tanpa berlama-lama, mereka berlari cukup cepat karena kuda itu dirawat dengan baik oleh orang yang memang memiliki kemampuan, serta makanannya yang juga berkualitas.
Pasukan yang tidak pernah disangka-sangka, sangat mengejutkan semua Player yang menyerang.
"Aktifkan Barrier!"
"Gunakan budak sebagai pelindung!"
"Beri tahu pada Guil—"
Natan menembak satu per satu dari mereka yang mencoba melaporkan tentang apa yang terjadi di sini pada Guild mereka.
__ADS_1
Natan menoleh ke kanan menatap Olivia. "Olivia, bisakah kau mengirimku?"
"Tentu." Olivia menganggukkan kepalanya, lalu menyentuh punggung Natan dengan tangan kirinya. "Body Relocation."
Natan berpindah di barisan paling belakang, mengabaikan semua Player yang mati terbunuh terkena serangan. Ia langsung pergi ke barisan belakang, menuju pemuda yang tidak bergerak sama sekali, namun memberi perintah seperti penguasa.
"Apakah menyenangkan?" Natan memiringkan kepalanya menatap dingin Fang Tian.
Fang Tian mundur beberapa langkah ke belakang sampai mengenai tembok tinggi dan terus mencoba untuk mundur, berharap bisa pergi meninggalkan Guild Armonia. "Bu- Bunuh dia!" teriaknya memerintah.
Dua pria berotot mengenakan setelan jas hitam dan memakai kacamata hitam itu berdiri di depan Fang Tian, menghalangi jalan Natan yang ingin terus maju.
Salah satu pengawal itu mengangkat kaki kanannya, kemudian mengayunkannya mengarah pada kepala Natan.
Natan menyamping dengan kaki kanan maju selangkah, tangan kirinya berada di bawah kaki kanan pria berotot itu, dengan tangan kanan yang berada di atasnya. Ia menahan serangan itu dengan mudahnya setelah menguatkan tubuh dan mendapatkan buff dari Olivia.
Krak!
Terdengar suara retakan kasar, menandakan bahwa lutut pria besar itu telah patah karena di tekan oleh Natan.
Natan menarik kaki kirinya, memutarnya sampai berada di depan dari kaki kanan seraya memukulkan tinju kanannya ke leher pria berotot itu.
Boom!
Gerakan cepat Natan membuat pria itu tidak bisa bereaksi dengan cepat, sehingga menerima serangan begitu saja sampai menghantam dinding tanah di belakang. Retakan juga bisa terlihat di dinding tanah, dengan pria paruh baya yang tertanam di dalamnya. Untuk pengawal yang lain, sudah diatasi oleh Olivia.
Natan berjalan menghampiri Fang Tian, mengangkat kaki kirinya dan menendang pelipis pemuda itu.
Fang Tian kehilangan kesadarannya saat terkena tendangan Natan di pelipis kanannya, terlebih lagi saat tendangan itu membuatnya menghantam tanah dengan kuat.
Tendangan Natan juga meninggalkan jejak di dinding yang cukup dalam, meski tidak sampai menghancurkannya. Masih belum cukup, ia melepaskan pukulannya berkali-kali, mematahkan tulang-tulang pengawal yang tertanam di tembok.
"Terakhir!" Natan mengayunkan pukulannya mengenai dada pengawal untuk terakhir kalinya.
Boom!
Pukulan Natan itu menciptakan retakan pada permukaan dinding, yang kemudian meledak dengan lubang berdiameter lima meter di depannya. Pengawal itu juga terlihat tidak sadarkan diri, dengan darah yang merembes keluar dari pori-pori kulitnya.
Natan menoleh ke kanan menatap Fang Tian yang tergeletak. Ia sedikit berjongkok dan mencengkeram erat rambutnya, lalu membawanya masuk ke dalam Guild Armonia dengan cara menyeretnya.
"Persiapkan pasukan! Kita akan menyerang!"
...
***
*Bersambung...
__ADS_1