Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 036 : Pergi ke Pangkalan Militer


__ADS_3

Natan melihat ribuan monster berbagai ukuran dan kekuatan yang berbeda juga. Sangat mudah untuk mengalahkan semua monster di sini dengan skill area luas milik Ayumi ataupun Erina. Namun, ia lebih memilih untuk menggunakan Skeleton, sekaligus melihat kemampuan mereka.


Natan mengangkat tangan kanannya perlahan dengan bagian telapak di bawah. "Bangkitlah."


Belasan Skeleton Ogre yang bersembunyi di dalam bayangan mulai bangkit kembali, mereka semua membawa senjata besar dengan level 200. Tapi sayangnya mereka tidak memakai perlengkapan lain seperti armor maupun pelindung.


"Kita akan menyerang dari atas bus ini, dan biarkan para Skeleton yang maju." Natan berjongkok mengambil posisi yang nyaman untuk menembak. Ia ingin mengetahui seberapa besar perbedaan kekuatan statistik yang sekarang dan sebelumnya.


[STR : 1275 (+215+120+1466)]


[VIT : 310 (+190+120+186)]


[AGI : 340 (+198+30+102)]


[INT : 300 (+190+210+180)]


[DEX : 270 (+215+150+81)]


[LUCK : 150 (+171+30+45)]


Natan menarik pelatuk, melepaskan tembakan Peluru Mana yang melesat tajam bagaikan cahaya. Peluru itu mengenai Zombie Soldier yang ukurannya seperti di dalam Dungeon Tower. Ketika Peluru Mana mengenai Zombie Soldier, Zombie itu meledak menjadi daging cincang yang menyebar dan darah hitam yang menyembur ke segala arah.


Peluru Mana tidak berhenti dan terus melesat, menembus ratusan Zombie Soldier. Bahkan Zombie biasa yang berada di sekitar juga terkena efeknya, meski tidak langsung membunuh.


Melihat ini, Natan sedikit terkejut. "Ini ..."


"Benar saja, setelah menghadapi monster-monster di dalam Dungeon Tower dan mempertaruhkan nyawa. Melawan monster di luar Dungeon seperti melawan serangga." Natan melanjutkan perkataannya yang tertunda.


"Killer Root!"


Getaran hebat terjadi di jalanan dan mulai terlihat retakan-retakan yang besar. Dari dalam retakan itu mulai tumbuh tunas kecil dan berubah menjadi akar besar, yang menjalar seperti sulur. Sulur akar itu membelah lautan monster yang berkerumun, kemudian dari sulur-sulur itu keluar jarum besar yang terbuat dari kayu.


Semua jarum itu menembus tubuh semua monster yang ada dan membunuhnya dalam sekejap.


Ayumi juga tidak tinggal diam, Dragon Magic Wand ia gantung di belakang punggung, namun masih memberikan efek +30 STR, +30 INT dan +30% STR. Wizard Book's juga melayang di udara di depan dadanya. Ia merentangkan kedua tangannya, menciptakan puluhan panas es dengan panjang satu meter di belakang atasnya.


Dengan level maximal Ice Arrow, seharusnya hanya mampu membuat sepuluh panas es. Namun entah apakah Ayumi yang berbakat, ia bisa melawan hukum yang ada.

__ADS_1


"Ice Arrow!"


Tiga puluh panas es melesat tajam mengarah pada kerumunan monster, yang langsung membunuh mereka semua dan yang terkena sayatannya akan membeku di tempat. Monster yang membeku tidak bisa melepaskannya, dan mati perlahan.


Natan tidak lagi menyerang dan memilih untuk duduk di tepi atap bus dengan kaki menggantung. Ia mengamati bagaimana cara Skeleton Knight bertarung.


Ketika ia mengamati semua monster yang jenisnya sama-sama Ogre, ia menyadari jika Health Point mereka 35% dari total Health Point miliknya sendiri, dan Mana Point sebesar 17,5%. Begitu pun dengan levelnya, 35% dari level 257. Untuk statistik kekuatannya sendiri adalah 17,5%.


Akhirnya, ia bisa menyimpulkan Skeleton akan semakin kuat jika ia kuat. Mana yang dibutuhkan untuk meregenerasi tulang yang hancur adalah setengah Mana yang dibutuhkan saat membangkitkannya, serta setengah Mana untuk mempertahankannya.


Skeleton Knight mengayunkan pedangnya sangat cepat, bahkan memberikan jeda waktu untuk Zombie terbelah dua, meski pedangnya sudah turun.


Karena Skeleton Knight bisa melakukannya, tentu saja Natan dapat melakukannya, mengingat statistiknya hampir enam kali lebih tinggi dari Skeleton.


Natan menoleh ke kanan dan mendongak, melihat Ayumi yang terus melepaskan serangan tanpa henti. "Ayumi, apakah kau bisa membuat gerbong kereta? Jika kita memiliknya, bukankah lebih baik? Kuro bisa menariknya."


Ayumi menggeleng pelan, kemudian menjawab, "Tidak bisa, Ayu tidak bisa membuat sesuatu seperti itu. Bahkan saat di dalam Dungeon Tower, Kakak yang membangun rumah, bukan Ayu."


Natan mengangguk kecil. Memang benar Ayumi tidak pernah membuat hal selain perlengkapan. Sepertinya, aku hanya bisa membatalkan niatku itu. Lagi pula, lebih nyaman menaiki Kuro.


Natan membuka layar interface, terlihat masih ada 30 Point Skill, yang ia distribusikan semuanya untuk meningkatkan level Skeleton Disease.


Natan menoleh ke kiri dan mendongak, melihat Erina yang melepaskan serangan badai angin dan tembakan sinar cahaya. "Erina, kau berasal dari kota ini, apakah kau tahu di mana Pangkalan Militer terdekat?"


Erina menolehkan kepalanya melihat bangunan sekitar. "Sepertinya, sepuluh kilometer ke arah barat. Erina pernah melewatinya saat ditahan oleh Guild Elang Hitam."


Natan tertegun tak bisa berkata-kata. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya Erina saat berada di Guild Elang Hitam, harus berjalan menempuh jarak yang sangat jauh dengan membawa tas berat.


Ia menggeleng pelan dan mendongak, melihat semua monster sudah habis terbunuh. Entah itu karena sihir, ataupun karena Skeleton Knight.


Natan membuka layar interface, dan tersenyum saat melihat jika Point Exp yang ia dapatkan tidak terbagi lagi dengan para Skeleton.


"Skeleton, ambil semua Item Drop yang ada kecuali Daging Zombie," pinta Natan yang memberikan perintah.


Skeleton mulai berjongkok dan mengambil satu per satu Item Drop, yang kemudian dibawanya di lengan kiri.


"Apakah aku bisa membuat Skeleton dapat menggunakan Inventory Guild?" gumam Natan yang memiringkan kepalanya dengan mata terpejam.

__ADS_1


"Kakak, barang di dalam Inventory Guild terus bertambah."


Natan membuka matanya saat mendengar suara Ayumi. Dengan cepat ia mengecek Inventory Guild dan melihat setiap barang terus bertambah. Lalu saat ia mendongak, ia melihat Skeleton yang memasukkan barang-barang ke dalam Inventory Guild yang muncul di depan mereka.


"Apakah kalian berdua melihat layar interface yang muncul di depan Skeleton?" tanya Natan yang menatap Ayumi dan Erina secara bergantian.


Ayumi dan Erina duduk di samping Natan seraya mengambil camilan dari dalam Inventory Guild. "Tidak ada, Ayu tidak melihat apa pun," jawab Ayumi mewakilkan.


Natan menganggukkan kepalanya. Berarti, akses mereka ke Inventory Guild terhubung denganku, dan mereka hanya bisa membukanya setelah diperintah.


Natan berdiri dan tempatnya duduk, kemudian berjalan menghampiri Kuro yang berada di belakangnya. Ia melompat ke atas punggung Kuro. "Ayo kita berangkat."


Keduanya yang sedang memakan makanan ringan itu juga berdiri, dan kemudian melompat naik ke atas punggung Kuro, dengan Ayumi yang berada di depan.


Kuro melompat dari atas bus, dan pergi menghampiri 14 Skeleton Knight yang mengambil semua Item Drop.


Natan memberi perintah lain setelah semua Inten Drop di jalanan mau pun di halaman apartemen sudah terkumpul. Perintahnya adalah membiarkan empat Skeleton Knight berada di depan, enam di belakang, dan masing-masing dua di samping menjaga Kuro yang berada di tengah-tengah.


Enam Skeleton Knight yang berada di belakang bukan hanya bertugas untuk menjaga apabila ada serangan monster, namun juga untuk mengambil Item Drop yang dijatuhkan setelah bagian depan membunuh monster. Dengan hal ini, Point Exp terus mengalir, dan Item Drop terkumpul tanpa harus bekerja keras.


Natan menunduk melihat Ayumi dan Erina yang makan sedang nyamannya, yang cara makannya terlihat sangat bahagia dan membuatnya nampak enak. "Apakah kalian berdua sudah membersihkan tangan kalian?"


"Sudah!" Keduanya berteriak bersamaan seraya mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.


Natan tersenyum hangat saat melihat keduanya yang seperti ini. Ia lebih senang melihat Adik-adiknya berperilaku sesuai dengan usianya, ketimbang harus terjun ke medan tempur. Namun saat ia menyarankan, keduanya menjawab dengan tegas tetap ingin bergabung dalam pertarungan melawan monster.


"Baiklah, Skeleton. Berlari sekuat tenaga ke arah barat." Natan memukulkan tinjunya ke atas depan memberikan perintah. "Kuro, kau ikuti langkah mereka, sangat terlalu cepat dan jangan terlalu lambat."


Kuro menganggukkan kepalanya dan mengeluarkan suara berat seperti harimau, sangat berbeda sekali saat Kuro masih seukuran kucing normal.


Dengan kecepatan mereka saat ini, setidaknya akan membutuhkan sembilan menit untuk sampai ke tempat tujuan. Namun jika Natan yang berlari, kurang dari satu menit ia sudah bisa tiba di sana.


Kak Vely, aku harap Kakak berada di Pangkalan Militer, dan jika benar-benar berada di sana, semoga Kakak dalam keadaan sehat. Aku sekarang dalam perjalanan untuk ke sana.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2