Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 041 : Turunnya Salju


__ADS_3

Karena ledakan yang terjadi akibat evolusi Skeleton Knight menjadi Skeleton Commander, Ayumi dan Erina terbangun dari tidur nyenyak mereka, kemudian langsung terjaga dan mengambil perlengkapan masing-masing untuk bergabung dalam pertempuran.


Natan yang melihat itu tidak bisa menahan tawanya, namun ia juga merasa bersalah. "Maaf, tidak ada monster. Suara ledakan tadi terjadi karena evolusi dari Skeleton Knight ..." Ia berjalan menghampiri keduanya.


"Tapi, karena kalian sudah bangun, ayo kita bersiap-siap untuk melawan monster. Aku sudah merasakan ada ribuan monster yang datang kemari karena terpancing dengan ledakan yang ada."


Keduanya berdiri dan berjalan sempoyongan karena masih mengantuk, kemudian bersandar di bagian bawah dada Natan.


Natan tersenyum tipis, dan membiarkan keduanya untuk kembali tidur. Ia bisa menghadapi monster yang mengelilingi dengan bantuan Skeleton Commander, Skeleton Knight dan Skeleton Mage.


"Ini masih pukul tiga dini hari, kalian berdua beristirahat saja. Pada pukul tujuh nanti, barulah kalian bangun untuk menyiapkan makanan." Natan menyelimuti tubuh keduanya dengan selimut tebal berwarna merah, yang tidur menggunakan perut Kuro sebagai bantal.


Ayumi dan Erina mengangguk kecil, kemudian kembali tidur dengan wajah polos keduanya.


Natan berjalan keluar dari dalam ruangan yang berada di lantai tiga. Ia melompat naik ke atas atap rumah, dan melihat banyak sekali monster Goblin, Hob-Goblin, Ogre, Zombie, Zombie Soldier.


Tidak ada monster baru, berbeda seperti yang ada di dalam Dungeon. Namun, ia menduga tidak membutuhkan waktu lama untuk memunculkan banyak monster yang berbeda.


Natan membawa semua Skeleton ke atas atap rumah. Kemudian ia memerintahkan 18 Skeleton untuk berpencar ke tujuh arah berbeda, dengan ia sendiri yang menjaga di arah barat.


Natan berjongkok mengarahkan senjatanya pada ratusan monster di arah barat. "Tunggu!"


"Mengapa di sini mulai dingin?"


Natan menengadahkan kepalanya melihat langit malam, dan ia bisa melihat jika ada salju yang mulai turun secara perlahan. "Salju?!"


Sangat tidak masuk akal salju turun di negara beriklim tropis, meski berada di dataran tinggi. Namun, yang dialami Natan ini benar-benar nyata, ia melihat ada salju yang turun dari gelapnya langit malam.


"Apakah ini karena berubahnya dunia? Jika ada salju, maka akan ada monster baru. Kemudian, banyak manusia yang mati karena kedinginan dan kekurangan persediaan makanan."


Natan menghembuskan napas panjang dan menggeleng pelan, membuang pikiran tentang salju yang mulai turun. Ia kembali fokus pada monster-monster yang berlari ke rumah di mana ia berada.


Tembakan yang dihasilkan dari Sako TRG Mana tidak menimbulkan suara sama sekali, dan tidak perlu takut kehabisan amunisi. Tembakannya juga tidak ada jeda, sehingga bisa menembakkan Peluru Mana sesuka hati.


Berbeda di arah timur, terdengar ledakan yang sangat keras dan bersahutan, serta api yang membumbung tinggi meratakan rumah-rumah.


Di arah lain, yang mana arah utara, terlihat ada badai es dan beberapa rumah yang mulai membeku. Begitu pun di selatan, rumah dua lantai hancur dan mulai runtuh karena serangan bertubi-tubi dari Skeleton Commander.


Ketika Natan terus menembakkan Peluru Mana, terdengar suara yang sangat bersemangat yang tidak asing baginya.


"Salju!"


Natan mengerutkan keningnya, dan menundukkan kepala melihat balkon lantai tiga. Ia bisa melihat Ayumi dan Erina yang bersemangat mengangkat kedua tangan dan terlihat ekspresi bahagia di wajah keduanya.

__ADS_1


"Jangan makan, itu kotor!" Natan sedikit berteriak saat melihat Ayumi yang hendak memasukkan kepalan salju ke dalam mulut.


Ayumi menghentikan gerakan tangannya dan sedikit melirik melihat Natan, kemudian ia menurunkan tangan kanannya perlahan, membuang kepalan salju.


"Salju itu kotor dengan debu, dan ada darah di sana. Jika kau benar-benar ingin mencoba salju, cobalah untuk berada di tempat yang sangat tinggi."


Ayumi mendongak memperlihatkan wajah cerah, kemudian mengarahkan kedua tangannya ke depan balkon lantai. "Earth Wall!"


Dinding tanah tercipta dari kedalaman tanah dan terus naik, hingga menghalangi pandangan Natan yang sedang menembak monster.


Natan yang melihat dinding di depannya mulai merasa menyesal karena memberikan saran. Akhirnya, ia menyimpan senjatanya dan membiarkan Skeleton yang membunuh semua monster.


Erina, Vely dan Kuro juga naik ke atas dinding tanah melalui akar pohon yang melingkar, akar yang diciptakan dari sihir Erina.


Natan yang sudah berada di atas dinding tanah itu menghampiri Ayumi, dan mencubit kedua pipinya dari belakang. "Kakakmu sedang berusaha untuk membunuh monster, dan kau malah menghalanginya."


Ayumi hanya diam tidak membalas ucapan Natan dan tertawa kecil, seperti tidak ada beban sama sekali.


Vely mengeluarkan mangkuk dan sirup gula dari dalam Inventory Guild secara diam-diam, kemudian mengambil salju bersih yang ada di depannya. Ia tidak pernah pergi keluar negeri, karena itulah ia sangat antusias meski mencoba untuk tetap menyembunyikan ketertarikannya.


Natan mendongak saat merasakan adanya bahaya. Meskipun sangat gelap, ia bisa melihatnya dengan jelas. Ada monster setinggi lima meteran, memiliki wajah seperti gorila dengan tarik tajam, dan bulu putih yang menyelimuti sekujur tubuh kecuali wajah dan tangan.


"Yeti?" Natan menaikkan sebelah aslinya, kemudian ia memutar tubuhnya melihat sekitar. Monster-monster lain yang biasanya hanya ada di salju mulai bermunculan. "Rusa Es? Bahkan ada Mammoth?"


Untungnya mereka berjarak dua kilometer dari tempat kami berada, dan belum menyadari keberadaan kami.


Tapi, tetap saja ini sangat berbahaya. Salju turun saat malam hari tanpa adanya pencahayaan, kemudian monster-monster kuat mulai bermunculan.


Natan menunduk melihat wanita dewasa dan dua gadis muda yang duduk menyantap salju dengan sirup gula. "Kalian, monster mulai berdatangan. Jangan sampai kalian mengendurkan kewaspadaan hanya karena salju," ucapnya pelan.


Ketiganya menghentikan tindakan mereka yang sedang menyantap salju, kemudian mengambil perlengkapan masing-masing untuk bersiap-siap melawan monster.


Hal pertama yang dilakukan adalah menciptakan sebuah Magic Barrier, dan menambah pijakan mereka agar lebih tinggi dari sebelumnya.


Mereka tidak perlu khawatir dengan suhu yang dingin, karena dengan level yang saat ini, mereka bisa menahannya.


Vely memegang Magic Wand berwarna emas dengan kristal putih di bagian atasnya. Ia meletakkan tongkat sihirnya di depannya. "Assize! Dia! Glare!"


Mana berwarna biru keluar dari dalam tubuhnya, dan berubah menjadi warna putih transparan yang menyatu dengan udara sekitar. Mana itu menyebar ke segala arah dengan sangat cepat, membentuk cincin putih transparan.


Ketika cincin putih sudah menyebar sampai pada jarak tertentu, Mana itu mulai meledak dan mengurangi Health Point semua monster yang masuk dalam radius 100 meter darinya.


Damage yang dihasilkan dari tiga serangan itu sebesar 40.500 Point, dan ada tambahan sebesar 2700 Point setiap detiknya, yang bertahan selama 30 detik.

__ADS_1


Natan pergi ke arah Yeti yang berada di bagian barat seorang diri. Begitu pun dengan yang lain, mereka berpencar ke tiga arah lainnya, ditemani oleh Skeleton Knight serta Kuro.


Natan tidak terlalu mengkhawatirkan tentang Ayumi dan Erina yang memiliki level tinggi. Karena itulah, Vely ditemani oleh Skeleton Knight dengan jumlah yang lebih banyak dari yang lain. Untuknya sendiri, ia tidak membawa Skeleton Knight bersamanya.


Natan menggunakan Stealth, sudah sangat lama semenjak terakhir kali ia menggunakannya. Itu karena ia tidak lagi sendirian, sehingga sangat jarang menggunakan Stealth. Jika ia menggunakannya, maka rekan satu timnya akan sulit untuk menemukan keberadaannya.


Tidak membutuhkan waktu lama, jarak dua kilometer hanya dalam beberapa kali lompatan sudah membuatnya berada di belakang Yeti.


Natan mengayunkan pedangnya secara vertikal mengarah pada punggung Yeti, membuat luka yang tidak terlalu dalam. Ia sengaja menurunkan kekuatan ayunannya, agar mengetahui seberapa kuat Yeti mampu menahan serangan.


Yeti menjerit kesakitan saat terkena serangan, dan mengayunkan tangannya ke belakang mengarah pada Natan.


"Bone Wall."


Retakan-retakan kecil mulai terlihat di permukaan jalan, kemudian mencuat puluhan tulang setinggi dua meter, yang menahan serangan Yeti.


Natan mengayunkan pedangnya lagi secara menyilang, memotong lengan Yeti yang digunakan untuk menyerangnya.


Yeti kembali berteriak lebih keras dari sebelumnya, dan membuat sekitarnya mulai membeku menjadi es yang dingin.


Natan mengarahkan telapak tangan kirinya pada Yeti. "Bone Prison."


Puluhan tulang lain mulai mencuat dari dalam tanah, mengurung Yeti di tengah-tengahnya. Dari kemunculan tulang itu juga menimbulkan damage yang signifikan.


Natan mengambil Sako TRG dari punggungnya, dan mengarahkannya pada kepala Yeti. "Increase Shot."


Zrash!


Suara renyah yang mengerikan terdengar dari kepala Yeti, dan terlihat kepala Yeti telah meledak dengan darah yang memercik ke segala arah.


Banyak Item Drop yang didapat setelah membunuh Yeti. Ada Yeti Eye's, Yeti Skin, Yeti Fangs, Yeti Meat dan Inti Monster atau Inti Sihir.


Natan yang sudah mengumpulkan Item Drop itu kembali bergerak ke arah selatan dari tempat awal. Ia ingin membantu Vely yang berurusan dengan Mammoth. Untuk Ayumi dan Erina yang berhadapan dengan Rusa Kutub, keduanya sudah selesai membunuhnya, itu didasari oleh Item Drop yang masuk ke dalam Inventory Guild.


...


***


*Bersambung...



__ADS_1


__ADS_2