
Natan menunggu dengan sabar dengan napasnya yang tenang tanpa bersuara. Ia mengeluarkan pistol pedang di tangan kanan dan pisau pendek di tangan kiri.
Pupil mata Adrian mengecil saat pandangannya fokus pada apa yang dibawa Natan. "Kau, apakah kau benar-benar menggunakan itu? Mereka ada banyak, bahkan ada yang membawa senjata api ..." Ia berhenti saat melihat Natan yang tiba-tiba menghilang.
Adrian menoleh ke belakang setelah bergeser ke tepi batu besar. Samar-samar bisa melihat bayangan hitam yang bergerak sangat cepat di permukaan salju. "Apakah itu Natan?"
Natan bergerak sangat cepat di permukaan salju tanpa membuat suara ataupun riak angin akibat gesekan antara tubuhnya dengan udara. Dengan STR yang sangat tinggi, harusnya dapat membunuh zombie-zombie hanya dengan sedikit tebasan pedang.
Tapi daripada menghadapi zombie-zombie yang berbaris di depan, Natan lebih memilih untuk membunuh Player dan Zombie Mutan yang berada di belakang.
Natan yang bergerak sangat cepat itu melompat saat hanya tersisa beberapa meter lagi dari zombie-zombie. Ia mengeluarkan bom molotov yang sudah di bakar, kemudian melemparkannya ke dalam barisan zombie yang menyerang.
Booom!
Bom molotov meledak cukup keras dengan api yang membakar zombie dalam sekejap mata. Hal ini sangat mengejutkan Player dan Zombie Mutan yang berada di belakangnya karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan tiba-tiba saja ada ledakan yang sedikit membuat mereka mundur karena tekanan dan aroma busuk. Untuk Zombie Mutan, meski sudah mendapatkan kesadarannya kembali, tapi tetap tidak merasakan adanya aroma busuk.
"Ap- Apa yang terjadi mengapa zombie tiba-tiba meledak?" Salah seorang berteriak dengan panik. Pria berusia tiga puluhan tahun, membawa senjata api yang dirasa diambil dari militer dengan pakaian zirah kulit. Dalam membawa senjata juga tidak tepat, dan pastinya tidak berpengalaman.
Natan yang sudah melemparkan bom molotov langsung menghilang dan bersembunyi di salah satu bayangan Player. Ia muncul perlahan dengan setengah tubuh yang terlihat, kemudian langsung menebasnya menjadi dua bagian.
Zrash!
Darah segar menyembur keluar ke segala arah, mengenai pakaian maupun wajah mereka yang berdiri di kiri dan kanan.
Player yang berada di kiri-kanan menyadari ada yang aneh, apalagi dengan teriakan tersendat di tenggorokan seperti kesakitan. Ketika mereka melihat ke sumber suara, mereka bisa melihat Natan yang berdiri di belakang mereka.
"Sergapa—"
Sebelum sempat berteriak, Natan menebas leher enam Player yang berada di sekitar hanya dengan hitungan detik saja. Dengan kecepatan dan ketangkasannya, ditambah dengan rendahnya level lawan, sangat mudah untuk membunuh mereka.
"Tembak!"
Senjata api tipe Assault Rifle terus ditembakkan dengan liar ke arah Natan.
Natan mundur sejenak bersamaan dengan menebas semua peluru yang melesat ke arahnya. Kecepatan peluru itu sangat lambat di matanya, sehingga sangat mudah baginya untuk menangkis semua peluru atau bahkan memotongnya.
Hanya tersisa tiga manusia yang harus dibunuh sebelum akhirnya berhadapan dengan Zombie Mutan Lv.490. Walaupun Natan menang dalam level, ia tidak pernah lengah, dan sepertinya lawan yang akan dihadapinya memilih diam dengan pandangan merendahkannya.
__ADS_1
Wanita yang membawa pedang bersembunyi di belakang pria yang membawa tameng setelah mengganti senjatanya.
Natan yang sudah mundur belasan meter, menginjak kakinya pada permukaan salju dan berlari dengan kecepatan tinggi. Ketika hanya tersisa beberapa meter, ia sedikit melompat dengan ketinggian setengah meter dan membawa pedang yang tangannya menyilang.
Swoosh!
Natan mengayunkan pedangnya secara menyilang dari kiri atas ke kanan bawah, membelah udara dan menimbulkan suara tebasan angin.
Pedang itu menghantam tameng besi yang cukup tebal sampai menimbulkan dentangan, tapi tameng tidak cukup kuat untuk menahan serangan pedang sampai akhirnya sedikit terpotong.
"Ugh!" Pria besar yang membawa tameng itu merasakan sakit yang menyiksa saat pedang Natan mendarat di pundaknya sampai memotong tulang selangka. "Serang dia!"
Wanita yang bersembunyi langsung bertindak dengan pedang besar yang dibawa menggunakan dua tangan. Ia mengayunkan pedangnya untuk menebas tangan Natan.
Natan mengangkat tangan kirinya dan melemparkan pisau. Kemudian ia melompat mundur untuk menghindari pedang besar.
Jleb!
Wanita yang membawa pedang itu terdiam saat kedua tangannya turun dengan pedang yang menghantam salju. Matanya terbuka lebar dengan mulut yang sama seperti sangat terkejut, tidak tahu apa yang terjadi bahkan saat kematiannya tiba. Bagaimanapun, tidak sampai lima detik setelah ia bertindak, tiba-tiba merasakan sakit dan kesadarannya menghilang.
Natan baru mendarat di atas permukaan salju ketika ada serangan diam-diam dari belakangnya. Tapi dengan mudahnya ia membungkukkan badannya untuk menghindari serangan, kemudian membalikkan pedangnya dan menusuk ke belakang melalui celah antara pinggang dengan tangan.
"Ugh!"
Natan berbalik ke kiri seraya mengayunkan tangan kirinya, menghantam kepala pemuda dengan punggung tangan.
Pemuda itu menggenakan setelan hitam dan penutup kepala, merupakan Player dengan Jon Ninja. Tapi, di hadapan Natan, persembunyiannya tidak berarti sama sekali.
Pedang Natan masih menusuk dada pemuda itu. Ia memutar pedangnya masih membuat organ dalamnya terpelintir, kemudian ia menariknya, memperlihatkan darah segar yang mengalir deras seperti air yang keluar dari keran air.
Masih belum cukup, Natan bahkan menusuk lehernya sampai tertembus dan terbunuh. Barulah ia kembali menarik pedangnya yang berlumuran darah.
Natan menoleh ke belakang melihat pria yang membawa tameng sedang gemetaran. Ia mengangkat tangan kirinya; ada pistol yang muncul entah dari mana, dan Natan menarik pelatuknya.
Peluru itu melesat dan mengenai kepala pria sampai tertembus. Pria itu sendiri sepertinya sudah pasrah saat menerima kematiannya, dan sebelum kesadarannya mulai menghilang, ia merasa menyesal karena telah bergabung dengan Zombie Castle. Ia merasa nyawanya tidak sepadan hanya untuk bermain dengan beberapa wanita.
"Apakah kau tidak masalah melihat rekan-rekanmu terbunuh? Bukankah kalian semua berada di pihak yang sama?" tanya Natan basa-basi. Ia tahu tidak mungkin mereka akan menolong manusia, meski berada dalam satu pihak, dan tahu bahwa manusia yang bergabung hanya digunakan sebagai kaki tangan.
__ADS_1
Zombie Mutan itu hanya diam. Rambutnya pirang, kulit merah kehitaman, mengenakan setelan biru dengan bercak darah, matanya merah. Ia membuka mulutnya, memperlihatkan gigi-gigi tajam dengan lidah menggeliat seperti ular.
Whooooosh!
Lidah itu melesat ke arah Natan dengan kecepatan tinggi dan terlihat seperti bayangan apabila dilihat dari jauh.
Natan tetap diam saat melihat lidah yang diarahkan ke wajahnya, tapi saat hendak mengenai wajahnya, tiba-tiba ia berjongkok dengan membelakangi Zombie Mutan. Kemudian ia kembali berputar saat berdiri seraya mengayunkan pedangnya, menebas lidah tebal yang panjang dan menjijikkan.
Whooooosh!
Sekarang, berganti Natan yang menyerangnya dari jarak dekat. Ia melompat cukup tinggi di depan Zombie Mutan dan ini sangat merugikannya karena tubuhnya yang terbuka.
Zombie Mutan menarik lidahnya saat mengangkat kedua tangannya. Tangannya berubah bentuk seperti cairan, yang kemudian bergerak membentuk pedang logam yang sangat keras. "Bodoh!" Ia menyilangkan kedua tangannya, menebas Natan yang berada di depannya.
Natan kembali berubah menjadi bayangan dalam sekejap mata dan sudah berada di samping kanan Zombie Mutan dengan kaki kiri terangkat.
Bam!
Natan menendang kepala bagian belakang Zombie Mutan dengan kekuatan yang sudah ditahannya. Ia tidak ingin menghancurkan kepala zombie dan membuat darahnya menyembur, yang kemudian mengotori celananya.
Zombie Mutan itu terguncang saat kepalanya ditendang, tapi detik berikutnya ia jatuh terlentang karena ada yang menendang pergelangan kakinya dari belakang.
Natan berdiri dengan mengarahkan pedangnya di leher Zombie Mutan.
"Tu- Tunggu!" Zombie Mutan sangat panik ketika mengetahui kematiannya berada di depan mata.
Tapi, Natan tidak ingin mendengar penjelasan dari Zombie Mutan dan menebasnya langsung di lehernya, kemudian ia menambahkan beberapa tembakan untuk meyakinkan dirinya bahwa Zombie benar-benar mati.
Natan menengadahkan kepalanya saat menghela napas panjang. Nampak kekecewaan terlihat jelas di wajahnya karena pertarungan berlangsung sangat singkat. "Sepertinya, saat aku pulang nanti, aku akan meminta Olivia menemaniku berlatih. Aku ingin bertarung dengannya seperti dulu."
Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman saat mengetahui ada yang menarik perhatiannya. Zombie Mutan yang dilawannya telah berlevel 490, tentunya Zombie King dan Player Zombie memiliki level yang lebih tinggi. Mengetahui hal ini, membangkitkan semangatnya lagi.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1