
Kelompoknya berhenti di perbatasan antara Amerika dan Canada saat hari mulai memasuki pertengahan di mana sinar matahari menatap kehidupan di bawahnya. Suhu sangat panas, bahkan ada uap yang keluar dari permukaan tanah, pepohonan terlihat mengering, ada juga yang terbakar karena suhunya.
Bukan Natan yang meminta untuk berhenti dan beristirahat, melainkan Brianna yang menginginkan pengisian ulang. Pengisian ulang kasih sayang Natan, di mana harus memeluk Nagan selama setengah jam.
Natan hanya bisa pasrah tanpa bisa bergerak di dalam pelukan Brianna di bawah tatapan semua orang. Itu memalukan, tapi dia hanya bisa menerimanya.
Natan menduga setidaknya satu sampai dua minggu harus seperti ini agar ibunya melepaskannya, dan tidak lagi memeluknya seperti anak kecil. Pada awalnya, dia menyukai perasaan hangat yang menyenangkan itu, tapi semakin lama, dia merasa itu memalukan.
Brianna mengusap kepala Natan yang bersandar di dadanya. "Bagaimana? Lebih besar milik Ibu atau Olivia?"
Natan mendongak menatap ibunya, hampir setengah wajahnya tenggelam. "Ibu, bagaimana bisa Ibu bertanya hal semacam itu pada putranya sendiri."
Brianna tertawa kecil, lalu menekan kepala Natan di dadanya.
Natan tidak bisa bernapas, dia mengubah tubuhnya menjadi bayangan, tapi dia tidak muncul terlalu jauh, hanya setengah meter di depan ibunya. "Ibu, jangan memeluk terlalu erat, aku kesulitan bernapas."
Brianna tersenyum dan mengangguk. Dia membuka kedua tangannya, lalu memeluk Natan sekali lagi.
...
Setelah setengah jam, Brianna melepaskan Natan, kemudian melanjutkan perjalanan.
Tujuan dari perjalanan mereka ke Alberta, di mana dekat dengan daerah danau, pegunungan, hutan dan rawa-rawa.
Natan tidak menolak ke mana mereka akan pergi, karena dia sendiri tidak tahu di mana monster-monster yang dikatakan oleh ibunya berada. Hanya ibunya yang tahu di mana mereka, karena ibunya sering berkeliling Bumi.
...***...
—Rabu, 10 Desember 2025—
Akhirnya sampai di Alberta setelah sesekali berhenti di berbagai tempat untuk beristirahat maupun berburu monster-monster.
Monster-monster yang dilawan cukup lemah, sehingga tidak terlalu menggugah semangat bertarung. Terutama Natan, dia hanya perlu melepaskan skeleton, dan monster-monster bisa terbunuh dalam hitungan detik.
Melihat Natan yang bosan dan tidak bersemangat, Brianna mendapatkan ide. "Sayang, mau berlatih bersama Ibu? Kita bisa berduel dengan tangan kosong."
"Duel?" Natan mengangkat sebelah alisnya, kemudian menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Tidak, tidak, tidak! Mana mungkin aku memukul ibuku tercinta."
__ADS_1
Brianna tersenyum hangat, mengusap kepala Natan. "Ibu senang mendengarnya, tapi jangan terlalu percaya diri. Dengan kekuatanmu, bahkan jika Ibu menggunakan satu tangan, Ibu yang akan menang."
Natan menatap datar ibunya. Setelah ragu-ragu, dia berdiri dan pergi ke ruang terbuka. "Aku terima tantangan Ibu."
Calista melihat Natan dan Brianna yang berdiri berlawanan. "Mereka berdua sangat dekat, bukan hanya seperti ibu dan anak, tapi seperti teman, adik-kakak, kekasih dan sahabat."
Vely mengangguk kecil dan menghela napas, mengungkapkan ekspresi sedih. "Aku pernah melihatnya melamun di dalam kelas, dan bergumam tentang ayah dan ibunya. Mungkin setelah sedih dalam waktu lama, setelah bertemu dengan ibunya lagi, kegelapan di hatinya menghilang. Sikap dinginnya sudah hilang, sekarang hanya ada Natan yang hangat."
Olivia merenung sejenak. "Tapi menyenangkan memiliki orangtua seperti itu."
Tidak ada yang tidak setuju, mereka yang mendengarnya menganggukkan kepala.
"Sayang, serang Ibu." Brianna menunjuk Natan, lalu menunjuk tanah di bawahnya sebagai provokasi.
Natan menarik napas dalam-dalam, lalu dia bertindak cepat. Dia melesat seperti bayangan, berhenti satu meter di depan ibunya dan mengangkat kakinya, menendang bagian kepala ibunya dengan telapak kakinya.
Brianna mengangkat tangan kanannya, menangkap tendangan Natan. "Sayang, tendanganmu terlalu lemah, serang lebih kuat."
Natan melompat menggunakan kaki kirinya di saat kaki kanannya masih ditangkap. Dia berputar ke kiri di udara, lalu menendang pelipis ibunya dengan tumit kaki kirinya.
Kaki kiri Natan terlempar, tapi dia berhasil mendarat dan langsung melepaskan tendangan dengan tumit kaki kanannya di pelipis yang lain.
Brianna melambaikan tangannya, memukul kaki Natan dengan punggung tangannya. "Masih terlalu lemah, serang lebih kuat."
Natan mendarat lagi dan sedikit membungkuk. Dia mengangkat tangannya, memukul perut ibunya dengan kekuatan penuhnya.
Angin bertiup kencang di sekitar tangannya seperti bor yang mampu menembus beton. Pukulan ini diharapkan dapat membuat ibunya sedikit terluka, sehingga dia bisa menyombongkan diri.
Brianna masih berdiri di tempatnya tanpa melangkah. Dia mengibaskan tangannya, menangkap tangan Natan dan mengangkatnya, membuat mereka berdua berdekatan. Dia mendongak menatap wajah Natan dari dekat. "Apakah hanya ini kekuatanmu? Jika hanya ini saja, Ibu kecewa."
Natan menggertakkan giginya dan mengubah tubuhnya menjadi bayangan hitam yang tiba di belakang ibunya. Dia mengayunkan kakinya secara vertikal ke bawah, menyerang bagian atas kepalanya.
Brianna mengangkat tangannya, menangkap pergelangan kaki Natan dan melemparkannya cukup keras ke arah pepohonan sampai mematahkan beberapa pohon dalam barisan.
Natan terkubur di dalam puing-puing pohon, dia batuk beberapa kali saat berdiri. Darah mengalir di sudut bibirnya, punggungnya terasa sakit, ada benjolan di belakang kepalanya dan kakinya terkilir.
Dia menarik napas dalam-dalam, kemudian kembali menyerang dengan ganasnya. Dia merasakan sakit, tapi menahannya dengan menggigit bibirnya saat menyerang ibunya.
__ADS_1
Dihadapkan pada serangan bertubi-tubi, Brianna hanya menggunakan satu tangannya untuk menghalau semua pukulan maupun tendangan. Dia tersenyum melihat Natan yang bersemangat, tapi ada sedikit rasa sedih karena kebanyakan serangan itu diarahkan ke arah kepalanya.
Natan tidak berhenti menyerang, dan meski dia terus menyerang di saat ibunya hanya menahan, dia masih tidak mampu menembus pertahanannya.
"Jarang-jarang melihat Natan dalam keadaan seperti ini." Calista melihat serangan cepat Natan sampai menimbulkan tiupan angin di sekeliling, kerikil bergetar dan hancur menjadi debu.
Area duel antara Natan dan Brianna sudah dikelilingi oleh debu yang mengepul sampai belasan meter. Duel itu belum berakhir, itu didasari dari suara yang berasal dari dalam dan angin semakin kencang.
...
Beberapa menit kemudian, suara pukulan tidak lagi terdengar, angin sudah berhenti bertiup dan debu yang menghalangi mulai memudar perlahan. Ketika debu sudah menghilang, terlihat tempat duel sudah dipenuhi retakan dan di mana mereka berdua bertukar pukulan, sudah berlubang dengan radius tiga meter.
Brianna masih berdiri di tempatnya, tidak mengambil langkah apa pun, tidak mendapatkan luka, bahkan tidak ada ledek di pakaiannya. Di sisi lain, Natan tergeletak di tanah, terengah-engah dengan beberapa luka di bagian wajah, tangan dan kaki.
Brianna berjongkok, menusuk-nusuk pipi Natan dengan jarinya. "Sudah lelah? Ini baru sepuluh menit, bagaimana putra Ibu bisa lemah seperti ini. Mulai dari sekarang, Ibu akan melatihmu selama setengah jam setiap hari. Jika tidak bisa menahan sesuai waktunya, Ibu akan menghukum Natan."
Natan tertegun seraya membuka matanya lebar-lebar. "Ibu ..."
Brianna melambaikan tangannya, tidak ingin mendengar alasan atau apa pun itu yang bisa meringankan masa latihan. "Ini semua untuk kebaikanmu. Bukankah Natan ingin menjadi kuat untuk melindungi yang lain? Maka jangan bermalas-malasan!"
Natan terdiam tanpa bisa berkata apa-apa lagi jika menyangkut hal itu. Dia mengangguk kecil, terlihat tenang, tapi hatinya menangis karena harus merasakan serangan sederhana dari ibunya, namun menyakitkan.
"Ibu akan memberi waktu untuk beristirahat, sebentar lagi kita berangkat." Brianna memberi ketukan kecil di dahi Natan, lalu berdiri tanpa membantu Natan berdiri.
Natan yang ditinggalkan, merasa sakit di hatinya. "Ibu! Aku putramu! Bagaimana Ibu bisa membiarkanku terluka seperti ini tanpa membantu?"
Brianna melambaikan tangannya tanpa menoleh dan menghampiri Calista serta yang lain. "Berdiri sendiri, mulai sekarang, Ibu akan bersikap keras sampai Natan bisa memenuhi syarat latihan. Setelah semuanya terpenuhi, Ibu akan kembali seperti sebelumnya, menjadi Ibu yang penyayang."
Mendengar itu, Natan terdiam dan tidak lagi bersemangat untuk berbicara. Entah mengapa, dia merasa menyesal karena menerima tantangan barusan, yang mana bukan hanya membuatnya kalah dengan memalukan di hadapan semua orang, tapi juga membuat dirinya mendapat latihan keras dari ibunya.
"Sebelumnya aku yang melatih orang-orang, sekarang aku yang dilatih."
...
***
*Bersambung...
__ADS_1