
Plak!
Natan menampar wajahnya sendiri untuk menyadarkannya dari keadaan yang hampir menyerah dalam pertempuran. Walaupun dia merasa bahwa bukan tempatnya untuk berada di sini, tapi karena dia sudah di sini, maka keluarkan semua kemampuan meski itu menyakitkan.
Dia berubah menjadi bayangan hitam yang bergerak melebihi kecepatan suara, dan setiap monster yang dilewatinya, monster-monster itu akan langsung terbunuh tanpa tahu apa yang terjadi.
Dia tidak bisa menyerah di sini...
"Aahhh!" Natan berteriak saat dia muncul di depan kepala raksasa bertentakel. "Aku tidak bisa menyerah di sini, anak-anakku masih menunggu ku!"
Natan menusuk mata kepala raksasa dengan pedang di tangan kanannya yang memancarkan kabut hitam.
Raksasa itu meraung mengeluarkan suara keras yang mengerikan, tentakel di lehernya menggeliat, melambai ke segala arah dan menghancurkan apa pun yang dilewatinya.
Bola mata raksasa lain yang tidak terluka, melirik ke arah Natan; mata hitam legamnya berubah dengan fokus merah di bagian tengah seperti darah.
Tubuh Natan berhenti bergerak seolah dia digenggam oleh tangan besar yang mengurung pergerakannya, kemudian darah mulai mengucur dari pori-pori kulit tubuhnya.
Natan menggertakkan giginya di mana mulutnya telah mengeluarkan banyak darah, darah ini adalah luka dari organ dalamnya yang kebanyakan rusak.
Bang! Booom!
Tiba-tiba datang ledakan keras yang berasal dari tempat yang jauh, itu adalah selusin skeleton kecil yang meledak setelah mengambil dampak dari serangan yang diterima Natan.
Natan yang lepas dari tekanan, bergerak ke arah mata lain dan menghancurkannya. Dia mengulurkan tangannya, terlihat pusaran hitam yang muncul di depak telapak tangannya, memunculkan kerangka tulang yang bergegas masuk melalui celah di mata raksasa.
Kerangka tulang yang masuk berukuran kecil, kemudian Natan berpindah tempat dalam sekejap mata; menjauh dari jangkauan serangan. Walaupun dia bisa memindahkan rasa sakit ke skeleton panggilannya, tapi efek awal masih bisa dirasakannya.
Skeleton yang sudah masuk lebih awal, mengeluarkan Giant Knight yang ukurannya lebih besar dari kepala raksasa.
Kepala raksasa mengeluarkan suara raungan marah karena kedua matanya dilukai sangat parah, hingga tiba-tiba raungan itu berhenti, dan detik berikutnya, ukuran kepalanya membesar seolah ada parasit yang hidup di dalamnya.
Dari raungan marah berubah menjadi teriakan kesakitan; kulit-kulit kepala yang terlihat tebal, mulai retak seperti tanah yang mengering, darah merah kehitaman dan terlihat hampir seperti tinta mengalir di antara celah retakan.
"Mati."
Booom!
Kepala raksasa tidak mampu menahan tekanan dari dalam, ditambah Giant Knight meledakkan dirinya dari dalam, menimbulkan kekuatan penghancur yang luar biasa, memusnahkan kepala raksasa seperti semangka yang meledak.
__ADS_1
Natan tidak ingin berlama-lama melihat raksasa yang meledak, dia mengangkat tangannya dan berteriak, "Rise!"
Tubuh raksasa yang berdiri, tiba-tiba kulitnya yang terluka parah karena ledakan mulai berubah, itu membusuk dengan cepat dan hancur menjadi debu yang tertiup angin.
Semua organ dalam dan dagingnya menghilang, namun dalam sekejap pakaian hitam legam dengan api biru muncul menyelimuti semua kerangka tulangnya.
Tengkorak raksasa yang awalnya hancur menjadi debu, tiba-tiba menyatu kembali di satu tempat, dan di area mata, api biru menyala terang seperti bintang.
Natan tersenyum tipis, meski menghabiskan 100 slot untuk menghidupkan mayat raksasa ini, tapi hasilnya sepadan.
Dari awal dia menyerang hingga menarik monster raksasa ke pihaknya secara paksa, hanya menghabiskan kurang dari dua menit, tapi itu membuatnya merasakan kematian di depan mata.
Natan kembali berpindah, kali ini dia muncul di samping Brianna dengan napas terengah-engah.
Brianna menangkap putranya, merangkulnya dan menatapnya dengan kekhawatiran. "Sayang, bagaimana kau bisa bertindak seperti itu?"
Ainsley muncul di depan Natan, dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Natan yang kusam. "Suamiku, apa kau tidak apa-apa?"
Natan terdiam, dia benar-benar tidak habis pikir mengapa Ainsley sangat-sangat ingin menikah dengannya, meski dia sudah memiliki tujuh istri. Dia menoleh, melihat bahwa ibunya tidak bereaksi, seolah sudah menyetujui bahwa Ainsley adalah istrinya.
Dia merenung, kemudian menghela napas. Biarlah, karena sudah memiliki tujuh istri, ambil satu lagi tidak masalah. Lagi pula, Ainsley sudah menyentuh seluruh tubuhnya, dan dia sudah pernah melihat tubuh polos Ainsley.
"Aku ingin mencoba kemampuan baruku, dan ternyata berhasil, aku bisa memindahkan damage yang diterima ke skeleton. Skill ini tidak hanya berfungsi untukku, tapi rekan satu tim juga bisa menikmati manfaatnya, dan ternyata skill ini benar-benar berguna."
Melihat ibunya hendak berbicara, Natan mendahuluinya: "Ibu, aku baik-baik saja, kalian berdua yang terkuat di sini, kalian pergi, aku bisa melindungi diriku sendiri."
Brianna terdiam sejenak, kemudian dia mengangguk, mengecup kening Natan, kemudian bergegas lebih jauh melewati monster raksasa yang sudah dibunuh Natan.
Ainsley mengedipkan sebelah matanya dan berkata dengan nada menggoda, "Setelah ini selesai, nikahi aku."
Sebelum Natan bisa menjawab, Ainsley bergegas pergi mengikuti Brianna.
Calista akhirnya tiba tidak lama kemudian, membawa dua pedang yang berlumuran darah, napasnya terengah-engah karena kelelahan. "Sepertinya waktu kita bersama akan berkurang lagi."
Natan menoleh dan meminta ratusan skeleton untuk melindunginya, sehingga dia bisa tenang saat melihat Calista. Dia mengulurkan tangannya, mengusap darah yang menempel di pipi Calista. "Apakah iya? Sepertinya dimulai dari ingatanku yang kembali, waktumu bersamaku adalah yang paling banyak."
Calista terdiam, lalu menunduk malu dengan wajah memerah.
Natan tersenyum tipis, dia mencubit pipi Calista dengan lembut. "Kau jaga di bagian belakang, aku akan maju membantu Ibu."
__ADS_1
"Baik ..." Calista mendongak, dia mengusap pipi Natan. "Hati-hati."
"Ya." Natan mengangguk, kemudian tubuhnya berubah menjadi bayangan.
Dia muncul kembali di pundak monster raksasa yang baru saja dibangkitkan olehnya. Dia berada di atas awan, memandang cahaya di langit malam dan ledakan-ledakan di bawahnya.
Bang!
Natan mendengar suara ledakan, dan samar-samar merasakan ada getaran di bawahnya.
Melalui penglihatan yang diambil oleh skeleton di bawah sana, Ainsley berdiri di udara dengan kedua tangan terentang.
Kemudian tanah yang jauh di bawahnya mulai retak seperti gempa, terbelah dengan celah yang sangat besar dan muncul akar-akar pohon seperti ular yang mengamuk.
Akar-akar itu bergerak ke segala arah, terlihat bergerak liar, namun selalu menghindari rekan satu pihak dan hanya menghancurkan monster dari kubu Monster Ancestors.
Akar-akar yang bergerak menghancurkan monster-monster, menyerap darah mereka dan Batu Sihir yang tertanam di dalam tubuh maupun tergeletak di tanah, membuat akar semakin menebal.
"Pohon Kehidupan! Bangkit!" Ainsley mengangkat kedua tangannya yang bergetar, seolah ada beban yang sangat berat yang dibawanya.
Akar-akar pohon itu bergerak ke satu titik, naik turun seperti lumba-lumba di lautan. Kemudian setelah mencapai di tempat yang sama, mereka semua bangkit, naik ke langit membentuk pohon raksasa dengan dedaunan tebal yang tumbuh cepat, dan masing-masing daun berukuran satu meter persegi.
Pohon Kehidupan sudah sepenuhnya bangkit, kemudian dengan bisikan yang tidak jelas dari Ainsley, daun-daun yang rimbun itu mulai bercahaya dengan warna kuning keemasan dan ada sedikit warna hijau cerah yang indah. Kemudian serpihan cahaya seperti kunang-kunang jatuh menghujani semua orang dari kubu Penjaga, cahaya yang mengenai tubuh mereka memasuki tubuh dan menyembuhkan semua luka-luka yang ada.
Natan tercengang ketika melihat pemandangan ini, dan dia takjub akan kemampuan Ainsley yang luar biasa.
"Menyembuhkan secara massal, aku tidak tahu berapa banyak Mana yang digunakannya."
Natan menunduk, kemudian tubuhnya menghilang dari pundak raksasa dan muncul di kepala yang dipegang.
Dia merentangkan kedua tangannya, membangkitkan belasan ribu Skeleton Fire Mage. "Jatuhkan meteor."
Skeleton Mage mengeluarkan skill mereka secara bersamaan, memunculkan bola api dengan ukuran besar seperti meteor yang jatuh. Bola api itu menghujani semua monster, membunuh mereka tanpa membersikan kesempatan untuk menyelamatkan diri.
Ledakan demi ledakan bermunculan, kegelapan malam berubah menjadi merah menyala, suhu naik dengan cepat dan asap hitam muncul di mana-mana.
"Aku tidak tahu kapan Monster Ancestors muncul, untuk saat ini, aku harus menghemat tenaga, aku hanya perlu membiarkan skeleton yang bertindak."
...
__ADS_1
***
*Bersambung...