
Natan mengangkat tangan kanannya, ini sudah waktunya menggunakan Meriam Energi.
Meriam Energi seperti meriam pada umumnya, kecuali dengan ukuran yang lebih besar. Tingginya dua meter, panjangnya sepuluh meter dengan moncong besar. Bagian belakang meriam tidak ada sumbu mesiu, tapi ada kotak kendali atas Meriam Energi dan ada ruang kecil yang digunakan untuk mengisi daya dengan Inti Sihir.
Pasukan yang tidak memiliki serangan jarak jauh, mulai memuat Inti Sihir ke dalam kendali Meriam Energi, dan terlihat jumlah Mana yang terus meningkat.
500.000 Mana ... 1.500.000 Mana ... 30.000.000 Mana ... 175.000.000 Mana ... 900.000.000 Mana ... 1.800.000.000 Mana.
Semua Meriam Energi bisa bertahan selama satu jam, dan biaya untuk semuanya menghabiskan 1.750.000 Inti Sihir Level 400, 3.000.000 Inti Sihir Level 300, dan 10.000.000 Inti Sihir Level 200.
Meriam Energi yang sudah dipasok sejumlah besar Mana, mulai mengeluarkan suara mendesing dan badan meriam berwarna hitam itu berubah warna menjadi biru dengan aura yang terpancar darinya.
Natan melambaikan tangannya ke depan, memberikan perintah kepada semua pasukan yang mengoperasikan Meriam Energi untuk melepaskan tembakan.
Bang! Bang! Bang!
Dengan dentuman keras, Meriam Energi melepaskan tembakan laser berwarna biru. Tembakan itu melesat seperti kilatan cahaya ke arah zombie terbang.
Booom!
Zombie-zombie terbang di langit terkena tembakan laser, langsung menerima damage sebesar 10.000.000 yang membuat mereka kehilangan banyak darah dan meledak di langit malam, menimbulkan nyala api seperti kembang api.
Big Eye's yang berada di barisan belakang, mengedipkan mata besarnya. Mata kuningnya berubah menjadi merah dan membuat siapa saja yang melihatnya merasa tidak nyaman.
Mana dalam jumlah besar berkumpul di mata zombie Big Eye's, kemudian terlihat laser merah yang melesat ke arah Meriam Energi.
Kedua serangan bertemu di udara, menimbulkan ledakan keras dengan sinar menyilaukan mata, membuat malam yang gelap menjadi terang benderang seperti siang hari. Gelombang kejut menyebar, mengikis tanah sekitar dan menghempaskan apa pun di sekitarnya.
Semua orang di atas tembok mengangkat lengan masing-masing, mengahalau angin yang menerpa wajah mereka.
Natan mencengkeram erat pembatas tembok saat melihat serangan mematikan Big Eye's yang berada di luar dugaannya. "Sekuat itu?!"
Natan menggertakkan giginya, kemudian mengangkat tangannya ke depan. "Bangkit!"
Booom!
Dengan ledakan, Giant Crocodile bangkit dari dalam tanah. Ia mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, kemudian mengeluarkan napas berwarna hijau yang menyebar ke seluruh gelombang zombie.
Napas itu mulai menyelimuti zombie-zombie, mereka yang tidak memiliki ketahanan, langsung dicairkan di bawah serangan. Bloodshot dan Zombie Dog langsung terbunuh, tapi tidak dengan Tyrant, Nemesis, Big Eye's, Axemen.
__ADS_1
Natan bisa melihat apa yang terjadi di dalam kabut hijau. "Hanya tersisa beberapa ribu, tapi yang tersisa adalah yang kuat. Level mereka di atas lima ratus."
"Tunggu! Di mana Lickers?!" Natan terkejut setelah mengetahui bahwa dia tidak melihat Lickers menyerang.
Tiba-tiba, Natan mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru seperti langkah laba-laba. Dia menundukkan kepalanya, melihat Lickers yang merayap di tembok dengan kecepatan penuhnya.
Ayumi memutar tongkat sihir, kemudian mengarahkannya ke bawah. Tongkat itu memancarkan sinar dengan cahaya ungu dan ada kilatan petir di sana. "Electric Shock!"
Petir menyambar dari tongkat sihir, menghantar di tembok batu yang basah pada bagian depannya. Petir itu menyebar, melepaskan sambaran besar yang menyerang ratusan Lickers dengan ganasnya.
Lickers itu sedikit bergetar ketika terkena kejut listrik, membuat mereka kehilangan keseimbangan dan jatuh dari tengah-tengah tembok.
Ayumi kembali mengangkat tongkat sihir yang masih memancarkan cahaya ungu. Guntur menggelegar di langit malam saat awan hitam mulai berkumpul, lalu dia mengayunkan tongkatnya secara vertikal ke bawah. "Thunderstorm!"
Whooooosh! Blarr!
Petir jatuh dari awan hitam dengan kecepatan cahaya, kemudian meledak di tengah-tengah gelombang zombie. Api menyala membakar sekitarnya, dan terlihat ada kilatan petir yang bergabung dengan nyala api, lalu angin mulai berputar membentur tornado.
Angin itu menggulung api dan petir, menciptakannya sebuah bencana alam yang terlihat sangat mengerikan.
Zombie-zombie di dalamnya terbakar dalam api dan badai petir, tapi pertahanan mereka sangat tebal, sehingga darah yang menurun tidak terlalu banyak.
Lightning Mage dan Fire Mage membantu Ayumi. Mereka mengangkat tongkat sihir yang berbeda dengan warna yang berbeda. Ketika mereka mengayunkannya ke depan, badai muncul dan menggulung zombie.
Natan tidak banyak membantu dalam pertempuran ini, hanya pada penyihir, pemanah dan Meriam Energi. Dia membuka Mapping, melihat zombie yang tersisa. "Bukankah pertahanan mereka terlalu kuat? Sudah satu menit di dalam serangan, tapi belum ada yang terbunuh."
Dia bisa melihat pengurangan darah zombie, dan itu terlihat sangat lambat. Masih ada 400 Tyrant, 326 Nemesis, 127 Axemen, 34 Big Eye's.
"Kuro."
Bayangan Natan bergerak-gerak, membentuk singa bayangan yang muncul di belakangnya.
Dengan melambaikan tangannya, Natan mengeluarkan Inti Sihir yang menggunung di tembok. Dia menatap Kuro dan berkata, "Makan semua Inti Sihir."
Kuro menganggukkan kepalanya, kemudian memakan Inti Sihir. Setiap kali ia mengunyah, itu mengeluarkan suara retakan dan pecahan yang cukup keras.
Seketika itu, Point Exp dalam jumlah besar terus bertambah seiring dengan Inti Sihir yang dikonsumsi.
Natan mengeluarkan lebih banyak Inti Sihir, dan meminta Kori untuk mengonsumsinya juga. "Levelku terus naik, hanya sedikit lagi sampai mencapai level enam ratus."
__ADS_1
Level anggota tim juga meningkat, membuat serangan mereka bertambah. Terutama Ayumi yang sekarang sedang membunuh gelombang zombie.
Skeleton Squad juga mengalami perubahan, tulang-tulang mereka menebal dan aura biru yang keluar bertambah besar.
Natan memerintahkan semua pasukan kerangka tulang, membiarkan mereka memasuki medan api dan petir.
Pertempuran kembali terjadi dalam medan api dan petir, terdengar suara ledakan keras maupun benturan logam. Sesekali ada sinar laser merah yang membelah tirai api, melesat ke arah tembok dan menciptakan dentuman keras saat menghantam penghalang.
Natan melihat Mapping untuk mengamati pertempuran di dalam medan, dia merasakan sakit setiap kali kehilangan pasukan. Setiap kerangka kehilangan darah, mereka akan meledak, dan ledakan itu akan mengenai yang lain, membuat ledakan berantai.
"Aku kehilangan seratus Skeleton Knight!"
Natan hanya bisa berharap setelah pertempuran berakhir, dia bisa mendapatkan untung dari membangkitkan Tyrant, Nemesis dan Axemen.
"Hah..." Ayumi yang berdiri di samping Natan, menghela napas panjang. Tubuhnya terasa lemah, kesulitan untuk berdiri setelah menghabiskan hampir semua Mana yang dimilikinya. Dia menggunakan tongkat sihir untuk membantunya tetap berdiri.
Natan dengan sigap membantu Ayumi berdiri, tapi hampir melepasnya kembali karena merasakan tubuh Ayumi yang memanas. Dia menyentuh dahi Ayumi, dan benar saja, itu sangat panas.
Terengah-engah, Ayumi kesulitan bernapas, tapi dia masih mengambil Mana Potion untuk mengisi kembali Mana yang kosong.
"Sudah cukup!" Natan mengambil Mana Potion dari tangan Ayumi. "Kau beristirahat, biarkan pasukanku yang membunuh mereka."
Ayumi terdiam dengan linglung saat menyadari Mana Potion di tangannya telah menghilang. Dia mendongak menatap Natan dengan mata sayu, kemudian dia menganggukkan kepalanya, lalu bersandar di dada Natan dengan mata terpejam.
Natan merasa sakit melihat adik kecilnya kelelahan karena terlalu berjuang.
Vely dan Olivia menoleh ke belakang saat tiba-tiba melihat tornado api dan petir telah menghilang. Ketika melihat keadaan Ayumi, mereka membatalkan serangan bantuan mereka, dan langsung pergi ke arah Ayumi untuk menyembuhkannya.
Tangan Vely mengeluarkan cahaya putih, dan Olivia mengeluarkan cahaya kuning keemasan. Kedua cahaya itu terbang ke arah Ayumi, menyelimuti tubuhnya, membuat tubuh Ayumi tidak lagi panas dan napasnya kembali normal.
Melihat itu, Natan menghela napas lega. "Jangan memaksakan dirimu lagi." Ia mengusap wajah Ayumi yang basah karena keringat, lalu menoleh ke kanan menatap Erina. "Erina, kau juga, datang dan beristirahat."
Erina yang masih terus mengeluarkan pedang duri, tiba-tiba berhenti dan berjalan menghampiri Natan. Tubuhnya basah karena keringat, tapi dia masih baik-baik saja, tidak sampai seperti Ayumi.
Natan melihat adik-adiknya, lalu memberikan pelukan pada keduanya secara bersamaan. Selain orangtuanya, mereka berdua adalah alasan mengapa dia masih bertahan selama ini, sebelum bertemu dengan Vely dan yang lain.
Jika terjadi apa-apa pada mereka, itu akan menjadi pukulan berat baginya.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...