
Natan memandang langit malam saat tidur di pangkuan Brianna, tapi matanya tidak bisa lepas dari layar interface di depannya. Adapun alasan mengapa dia tidur di pangkuan ibunya, ibunya tidak membiarkannya pergi!
"Semuanya sudah selesai, dan sampai saat ini masih belum ada yang menyadarinya. Tapi tidak semua tanah di gali, karena ada ruang bawah tanah yang dilapisi dinding."
Brianna mengabaikan itu dan hanya membelai rambut di dahi Natan.
"Brianna, lama tidak bertemu—"
Swoosh!
Brianna mengayunkan pedang yang entah muncul dari kapan ke arah kanan di mana suara berasal.
Ainsley, yang datang dari portal, berhenti melangkah maupun berbicara ketika melihat pedang tajam yang sudah berada di lehernya. Dia menyentuhnya dengan hati-hati, dan menurunkannya perlahan. "Bukankah kau sangat kasar dengan senior yang cantik ini?"
Brianna mendengus dingin dan menyimpan pedangnya lagi. "Untuk apa kau kemari? Jika menggoda Natan lagi, aku akan memukulmu."
Ainsley tertawa kecil saat melihat Brianna yang galak. Dia duduk di sampingnya, lalu mengulurkan tangannya untuk membelai rambut Natan.
Plak!
Brianna menampar punggung tangan Brianna dan menatapnya dengan mata melotot.
Ainsley tidak marah dan malah kembali tertawa. "Tidak ada salahnya, kan? Aku pernah memeluknya."
Brianna marah, tapi segera tenang saat merasakan tangannya ditahan. Dia menunduk, melihat Natan yang menahan tangannya, membawa tangannya ke wajah Natan. Melihat itu, dia tersenyum hangat dan mengusap pipi Natan.
"Ibu, ini sudah malam dan aku sudah makan malam. Aku akan tidur, besok kita harus melihat ke sana dari dekat." Natan mengecup tangan ibunya, lalu berdiri perlahan.
Brianna merenung sejenak, kemudian mengangguk. "Baiklah, tapi jangan terlalu berlebihan."
Berlebihan? Natan terdiam, menatap ibunya dengan tatapan bingung.
Ainsley menatap Natan, kemudian dia membuat suara tamparan dengan kedua tangannya, tapi terdengar intens dan sesekali mengeluarkan suara lengkingan dari mulutnya.
Mendengar itu, Natan langsung mengerti. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, dia berlari memasuki rumah dan ke kamar. Saat tiba, dia melihat hanya ada Calista yang menunggu di sana.
"Mana yang lain?"
Calista tersenyum tipis dan menjawab, "Malam ini, hanya kita berdua."
Natan tertegun sejenak, kemudian mengangguk mengerti. Dia memeluk Calista dan menjatuhkannya ke tempat tidur.
***
—Keesokan Harinya—
Natan bangun pagi-pagi sekali, dia menekan kedua tangannya di tempat tidur, menopang badannya untuk duduk bersandar di sandaran tempat tidur. Dia melihat Calista yang berada di sampingnya. "Mungkin karena dia tidak meminum ramuan, kami menjadi lebih intens. Bagaimanapun, niat sekarang untuk memiliki anak, bukan karena kebutuhan seperti sebelumnya."
__ADS_1
"Aku masih belum masuk usia pernikahan, tapi aku sudah melakukannya ratusan kali, dan sekarang sedang berpikir untuk memberikan cucu."
Natan mengecup kening Calista, lalu dia mengalami pakaiannya untuk turun ke lantai bawah tanah untuk membersihkan tubuhnya.
Karena hampir semuanya adalah wanita dewasa, banyak yang tahu apa yang dilakukan Natan semalaman, terutama dari aroma tubuhnya yang berkeringat.
Semua anggota Armonia Guild adalah wanita, dan bahkan meski dia ingin menambah anggota pria, ibunya pasti tidak akan menyetujuinya.
Hal ini membuatnya tidak berdaya, terutama pada saat ini, banyak yang memandangnya dengan tatapan tajam, bukan karena kebencian atau jijik, melainkan seperti singa yang menemukan domba.
"Bisakah kalian tidak menatapku seperti itu?" Natan melihat sekeliling. Hampir semua orang ada di sini, kecuali Brianna, Ayumi, Erina, Jia Meiya dan Xia Feiya.
Natan sedikit takut, dia langsung berlari ke lantai bawah untuk membersihkan tubuhnya.
Semua orang tertawa kecil melihat Natan yang panik. Kemudian mereka semua pergi ke luar untuk sarapan sebelum menyerang Earth of Eternity.
...
Natan sudah selesai mandi dan langsung bergabung. Tatapan semua orang padanya biasa-biasa saja, tidak seperti sebelumnya seperti melihat mangsa.
Dia mengambil tempat duduk di samping Brianna agar lebih aman dan tidak ada yang memandangnya dengan tatapan seperti tadi.
"Informasi apa yang Ibu dapat?"
"Earth of Eternity adalah guild besar, bukan hanya memiliki banyak Player dengan level tinggi, tapi pertahanan mereka cukup kuat. Dari luar biasa-biasa saja, tapi senjata seperti meriam udara dan senjata berat lainnya disembunyikan di dalam bangunan," jelas Brianna.
Brianna menangkap keresahan Natan, dan bertanya, "Ada apa?"
Natan menggigit bibirnya, dan setelah ragu-ragu, dia bertanya, "Bagaimana dengan Ayah?"
Brianna tertegun sejenak dengan kepala tertunduk. Ekspresinya muram dan terlihat rasa bersalah di matanya. "Ayah, dia berubah menjadi zombie, dan Ibu sudah mengirimnya pergi."
Mendengar itu, Natan menundukkan kepalanya dan merasa terpukul. Dia kehilangan semangat untuk sarapan dan meletakkan sendok di atas piring. Meski dia sudah mempersiapkan diri, tapi masih cukup berat untuk diterima, terutama tentang zombie dan membunuhnya.
Masih dengan kepala tertunduk, Natan bertanya, "Bagaimana dengan Buku Terkutuk?"
Brianna terdiam sejenak sebelum menjawab, "Earth of Eternity memilikinya. Ainsley mengatakan buku itu tentang penggabungan antara DNA monster dengan manusia, dan butuh lebih banyak darah segar untuk memastikan keberhasilannya."
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Natan berdiri seraya menekan kedua tangan di atas meja. Dia berbalik dan berjalan ke arah Earth of Eternity.
Brianna mengangkat tangannya hendak menghentikan Natan, tapi dia mengepalkan tangannya dan menurunkannya.
Yang lain menyadari ada yang salah dan bertanya. Kemudian setelah mengetahui apa yang membuat Natan terlihat seperti itu, semua orang terdiam dan tidak tahu harus berkata apa. Jika mereka tidak pernah melihat adegan semacam itu, pastinya tidak ada yang percaya. Dan karena mereka mengetahui bahwa orang yang sudah mati bisa bangkit lagi, banyak yang khawatir tentang keluarga mereka yang sudah meninggal sebelum kehancuran dunia.
Sementara itu, Natan sudah melewati batu seperti pagar. Dia melangkah dengan langkah berat di hamparan rumput, ini mengekspos keberadaannya dan pasti menarik perhatian penjaga.
Tapi, Natan tidak peduli, dia hanya ingin melepaskan emosinya dengan menghancurkan Earth of Eternity lebih cepat dari yang dijadwalkan.
__ADS_1
...
Natan berhenti di depan tembok dengan jarak 100 meter, menatap belasan orang yang berjaga dengan mata redup tanpa cahaya.
"Aku sudah mengingatkan berulang kali! Maju sekali lagi, kami akan membunuhmu!" Salah seorang berteriak saat mengarahkan panah ke arah Natan.
Natan mengangkat tangan kanannya setinggi mungkin.
Pria yang mengarahkan panahnya tidak bisa lagi menahan emosinya. Dia melepaskan anak panah, itu melesat seperti kilatan cahaya saat membelah udara.
Natan tetap tenang tanpa emosi di wajahnya. Hingga saat anak panah itu hanya tersisa beberapa meter, tiba-tiba dari bawah kakinya mencuat tulang-tulang yang menghalau anak panah. Itu menimbulkan suara benturan logam yang membosankan.
"Corpses Explosion."
Dengan menjentikkan jarinya, tiba-tiba tanah bergetar hebat seperti gempa bumi. Sampai retakan-retakan mulai terlihat di tembok.
Booom!
Ledakan keras terdengar dari dalam tanah, menghancurkan permukaan tanah. Tanah bergetar mengguncang bumi, gelombang kejut menimbulkan semburan angin kencang, mengaduk kerikil dan debu pasir.
Booom! Duarr!
Ledakan lain kembali terdengar di tengah-tengah badai pasir, ledakan ini lebih keras dengan api yang membumbung membentuk jamur raksasa. Udara panas menyebar ke segala arah, menimbulkan luka bakar yang luar biasa.
Dalam serangan ini, Natan mengorbankan 38 Skeleton Knight dan 2 Skeleton Commander. Ini bukan seperti dirinya yang sangat menyayangi pasukannya, tapi mungkin karena emosinya yang tidak stabil, dia hanya ingin membunuh.
Natan mendongak melihat debu yang membumbung di depannya. Kemudian dia menunduk, melihat retakan-retakan yang menyebar sampai ke bawah kakinya.
"Corpses Explosion."
Booom!
"Brengse*! Siapa yang menyerang Earth of Eternity?!"
Terasakan marah datang dari dalam ledakan lautan api, kemudian asap tebal berlubang dan terlihat seorang pria paruh baya yang penampilannya sama seperti Reinhart. Sosok lain datang satu demi satu dari sisi lain, mereka semua dipenuhi luka bakar yang mengerikan, tapi tidak sampai mengancam nyawa.
Tanpa menunggu perintah, mereka langsung mengambil ramuan dan meminumnya. Dalam sekejap, luka-luka yang diderita langsung sembuh dan tubuh mereka dibungkus dengan cahaya hijau muda.
"Armonia Guild, Guildmaster, Spathi." Natan mengucapkannya perlahan-lahan tanpa emosi dan suaranya datar.
Ketika suara Natan jatuh, itu membawa kejutan pada semua orang, yang digantikan dengan kemarahan yang terlihat jelas di wajah semua orang. Terutama Ayah Reinhart, karena bagaimanapun, putranya terbunuh saat mendatangi Skull Guild dan pelaku utama yang dipikirkan olehnya adalah Armonia Guild.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1