Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 141 : Menyerang Pohon Monster (2)


__ADS_3

Walaupun sedang dengan monster yang baru saja terlahir, tapi ia hanya memiliki dua Giant Knight dan merasa bahwa itu masih sangat kurang untuk menghadapi musuh, kecuali Pohon Monster itu bisa dibunuh dengan mudah.


Bentuknya seperti karakter Groot pada film barat yang pernah dilihatnya bertahun-tahun lalu.


Natan tidak tahu apakah serangannya sama seperti yang ada di film, tapi ia merasa bahwa serangan monster jauh di depannya akan lebih ganas dengan daya hancur luar biasa.


"Natan ..." Ainsley berbicara di samping Natan.


"Ada apa?"


Ainsley melihat sekitar, kemudian berkata dengan pelan, "Lebih baik kau mencari rekan pria, kau menjadi pusat perhatian jika semua rekan yang kau miliki adalah wanita. Bahkan, kau mungkin akan dipandang rendah, seperti pria kejam yang suka menangkap wanita untuk dimainkan."


Natan terdiam; memikirkan kembali kata-kata Ainsley, dan mengingat setiap orang yang ditemuinya akan memandangnya dengan aneh ketika membawa banyak wanita, bahkan keluarga Alexander pun memandangnya dengan tatapan rumit ketika mengenalkan Calista, Vely dan Olivia sebagai istrinya.


Tapi jika tidak menemukan rekan yang sepemikiran dengannya, mungkin Natan akan bergerak sendiri.


Groot sudah terbentuk sepenuhnya saat Natan sedang berpikir. Tangannya membentuk akar tunggal yang menjulur sampai ke lututnya, itu sangat panjang dan kakinya tenggelam di dalam tanah.


Natan senang berhadapan dengan monster besar seperti saat melawan Worm maupun Fire Dragon. Tapi saat melihat Groot, tidak semangat karena sangat berbahaya apabila berada dalam jangkauan Pohon Monster, ia akan mengering meninggalkan tulang.


Groot mengangkat tangan kanannya; melesatkan tangan tajam seperti pedang yang membelah udara dan menimbulkan suara siulan saat bergerak.


Skeleton Giant Knight mengangkat pedang besar yang dibawanya sampai menyentuh dahan di atasnya dan menimbulkan percikan api. Dahan itu sangat keras seperti logam berharga dengan kualitas tinggi.


Swoosh!


Pedang yang terbuat dari tulang dengan api biru yang menyelimutinya itu turun dengan kecepatan tinggi. Api biru itu bukan benar-benar api, melainkan Mana yang melimpah sampai memanifestasikan bentuk api.


Pedang itu melesat jatuh dengan akar yang terus bergerak, kemudian mata pedang itu mengenai akar yang merupakan tangan Groot dan menghantamkan ke tanah.


Getaran hebat terjadi ketika tangan akar itu jatuh menghantam tanah dan lubang besar terbentuk di tanah dengan retakan membentuk jaring laba-laba.


Giant Knight (2) dengan tinggi yang sama, tiba di samping Groot saat mengangkat pedang dengan kedua tangan. Ia mengayunkannya untuk menebas tangan akar itu.


Slash!


Tangan akar itu terpotong dengan rapi saat terkena pedang.


Tapi Giant Knight (2) belum berhenti menyerang. Meninggalkan pedang menancap di tanah dalam posisi miring, ia mengangkat tangan kirinya dan mengayunkannya ke dada Groot dengan kekuatan penuh.


Dada Groot berlubang, bukan karena terkena serangan Giant Knight (2), tapi karena salah satu kemampuan yang dimilikinya. Dada yang terbuka itu menangkap tangan Giant Knight (2), mengeluarkan akar-akar pohon yang sangat kuat dan mulai meremas tangan Giant Knight.


Natan yang berada di kejauhan melihat penurunan darah Giant Knight (2) yang bisa dibilang cukup banyak hanya dalam waktu singkat seperti itu. "Kembali."


Giant Knight (2) memancarkan cahaya biru kehitaman, kemudian menghilang dalam sekejap mata, membuat Groot terlihat linglung karena lawannya yang menghilang tiba-tiba.

__ADS_1


"Crocoda, bangkit!"


Bayangan di bawah Giant Knight (1) bergerak, kemudian terlihat ada buaya yang panjangnya lebih dari 120 meter.


Giant Crocodile itu memutar tubuhnya, menggunakan ekornya yang panjang dan tajam untuk mencambuk Groot.


Bang!


Dentuman keras terdengar saat ekor buaya itu menghantam bagian kaki yang kokoh karena tertanam di tanah, tapi itu belum berakhir karena serangan itu terus berlanjut, memutar tubuhnya berkali-kali untuk menyerang kiri dan kanan kaki Groot.


Natan mengambil Sako TRG Mana, mengarahkan tembakan ke arah mata Groot untuk menghilangkan indra penglihatan.


"Gruoahhhh!" Groot meraung keras dengan getaran kuat yang memengaruhi udara sekitar.


Ketika matanya terluka, Groot masih bisa merasakan keadaan sekitar karena akar yang tertanam di tanah dan masih terhubung dengan Pohon Monster. Tapi, saat Giant Crocodile terus menyerang dan memotong kaki Groot yang tertanam di tanah, Groot itu kehilangan vitalitasnya dan jatuh menghantam tanah dengan suara keras.


Giant Knight yang sebelumnya kembali, sudah muncul lagi dengan tangan yang beregenerasi setelah mendapatkan perawatan di dalam bayangan. Ia mengangkat tangannya, kemudian menusuk dada Groot yang sudah kehilangan kemampuan bertelurnya.


Jleb! Jleb!


Tusukan pedang menancap berkali-kali pada Groot hingga akhirnya terbunuh.


Natan tidak membiarkan kesempatan yang ada terbuang sia-sia. "Gorgon! Bangkit!"


Groot yang baru saja terbunuh bahkan sebelum mayatnya menghilang, mulai bergetar dengan aura hitam yang menyelimutinya. Tidak tahu apa yang akan muncul, apakah tetap dalam wujud kayu atau tulang, tapi terasa aneh jika Groot terbuat dari tulang.


Groot yang sudah diberi nama 'Gorgon' itu berdiri. Bentuknya hampir sama, hanya saja semuanya terbuat dari tulang-tulang besar dan pada bagian bersendikan, itu dihubungkan dengan bola energi biru yang membara seperti api.


Tapi perubahan Gorgon tidak sampai disitu saja, kerangka tulangnya dilapisi oleh kulit pohon berwarna hitam dengan tekstur kasar.


Gorgon mengangkat tangannya, melepaskan serangan yang sama seperti sebelumnya, hanya saja yang melesat kini adalah tangan depannya yang berbentuk jarum raksasa, melesat seperti rudal roket.


Crack!


Natan menengadahkan kepalanya, melihat suara retakan yang berada di dahan pohon. Terlihat dahan pohon yang sangat besar itu sudah retak, dan hanya tinggal sentuhan akhir untuk membuatnya terpotong.


"Ayumi, batu serang daun Pohon Monster. Gunakan serangan terkuat yang kau miliki."


Ayumi menganggukkan kepalanya, kemudian terbang ke langit yang lebih tinggi. Angin dingin berembus meski musim dingin sudah berakhir di sini, tidak tahu di tempat lain. Ia mengangkat kedua tangannya saat membawa Elements Magic Wand.


Tongkat ini adalah buatan dari Divisi Blacksmith dengan mengambil Inti Sihir dari tongkat sihir Ayumi yang didapat dari Dungeon Tower, sehingga tidak mengurangi efek awalnya.


Tingkat sihir itu memancarkan cahaya merah saat dialiri dengan Mana dalam jumlah besar, sampai membuat awan di atasnya pun memantulkan cahaya yang sama.


Suhu mulai naik dalam sekejap mata ketika Mana yang berkumpul terus bertambah.

__ADS_1


"Fire Meteor!" Ayumi mengayunkan Elements Magic Wand.


Tiba-tiba, awan di atasnya berlubang dengan jumlah lebih dari selusin. Terlihat ada bola api yang besarnya seperti truk tambangan, membuat langit berubah menjadi oranye seperti ada matahari di atas kepala.


Booom! Booom! Booom!


Bola api itu jatuh dengan kecepatan tinggi, menghantam dedaunan lebat dan menimbulkan suara keras dengan api yang membakar.


Api itu menyebar luas dalam sekejap mata dan terdengar suara raungan monster yang menyakitkan.


~Informasi~


[Nama : Monsta]


[Ras : Pohon Dunia]


[Jenis : Pencipta Monster]


[Level : 650]


[HP : 200.007.000/250.570.775]


[MP : 5.390.673/8.760.302]


[Monster Creation Lv.Max — Mana Absorber Lv.07 — Attack Reducer Lv.08 — Branch of Death Lv.09 — Gravity Area Lv.08 — Life Sucking Root Lv.09]


Natan tersenyum tipis melihat penurunan darah Pohon Monster, tapi ia tidak bisa mengendurkan kewaspadaannya. Bagaimanapun, pohon seperti Pohon Monster pasti memiliki Kartu As, mungkin saja saat darah di bawah 50%, pohon akan melepaskan gelombang monster dalam jumlah yang berkali-kali lebih banyak dari sebelumnya.


Gorgon menancapkan kakinya di dalam tanah, kemudian tanah bergetar dan terbelah. Ada tulang yang berbentuk seperti ular besar, bergerak sangat ganas menerjang Pohon Monster.


Giant Crocodile merayap dan menghasilkan getaran hebat di tanah. Setiap langkah yang diambil akan membunuh monster-monster kecil seperti semut di bawah kakinya.


Ksatria Lebah pun mengambil tindakan, melepaskan serangan hujan jarum yang jatuh tiada henti.


Giant Castle mundur beberapa langkah ketika dahan di depan mereka sudah miring, dan saat sudah mundur cukup jauh, dahan itu jatuh.


Gelombang kejut tercipta ketika dahan jatuh, menimbulkan angin deras yang menghempaskan apa pun di sekitarnya dengan debu tebal yang naik.


Melihat itu, Ayumi langsung turun dengan kecepatan penuhnya dan mendarat di belakang Natan. Ia tidak ingin berlama-lama di langit karena terlalu berbahaya.


Natan kembali mengamati Pohon Monster, entah bagian batang ataupun dahan dan daun. Bagian daun, itu hampir terbakar sepenuhnya. "Bagus, tidak lama lagi Pohon Monster akan mati."


Ainsley tidak mengatakan apa-apa saat melihat Natan. Ia tidak ingin mematahkan semangat Natan yang sudah seperti ini, dan membiarkannya saja. Biarkan Natan melihatnya sendiri dengan mata kepalanya, daripada ia yang mengatakannya. Lagi pula, tidak baik selalu memberikan informasi, karena bisa membuat perkembangannya terhenti.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2