
Ayumi memeluk Erina, mencoba untuk menenangkannya dari semua yang telah dijalani selama ini, yang sekiranya delapan hari setelah berubahnya dunia. Ia juga memberikan minuman kesukaannya yang tidak pernah sekalipun ia beri ke orang lain.
"Mereka sudah masuk ke dalam Dungeon." Natan melihat Map pada layar interface di depannya, yang merupakan salah satu Skill Pasif.
Natan mendongak menatap Erina. "Apakah kau sendirian saja? Di mana paman dan bibi?"
Ayumi terperanjat saat mendengar perkataan itu, ia tersedu-sedu dan mulai menangis kembali. "A- Ayah, dan Ibu, mereka berdua terbunuh. Mereka berdua, mencoba melindungiku dari mo- monster." Suaranya sangat pelan seperti berbisik.
Natan terdiam dan merasa bersalah karena menanyakan hal itu, yang memang sudah sepantasnya tidak perlu ditanyakan dari melihat apa yang terjadi. Meski demikian, ia masih penasaran. "Bagaimana kau bisa bergabung dengan Guild Elang Hitam?"
Erina mendongak perlahan seraya menurunkan penutup kepala dari jaket kuningnya, memperlihatkan rambut hitam sebahu yang terlihat kusam, dan ada bau amis yang berasal dari darah yang mengering. "Erina ditemukan saat sedang mengais makanan di tempat sampah, dan dibawa untuk bekerja, dengan bayaran makanan ..."
"Demi bisa bertahan hidup, Erina melakukannya. Tapi ..." Erina tidak melanjutkan perkataannya dan tetap diam dengan kedua tangan terkepal, bergetar di atas pahanya.
Natan dan Ayumi juga tidak mendorong lebih jauh Erina untuk menjawab. Keduanya memilih untuk diam, dan menunggu sampai Erina berkeinginan untuk menjawabnya sendiri. Hingga beberapa menit, akhirnya Erina membuka suaranya kembali.
"Makanan yang diberikan hanyalah satu bungkus roti berjamur, itu pun untuk satu hari. Jika pekerjaan tidak sesuai atau tidak memenuhi kouta, pukulan dan cambukan adalah hasilnya, kemudian tidak diberikan makanan maupun minuman selama satu hari," lanjut Erina yang bergetar ketakutan dengan suara bergetar.
Natan yang mendengar itu tidak bisa menahan amarahnya, ini lebih mengerikan ketimbang perlakuan yang diterima Ayumi di Pangkalan Militer. Ia berdiri dari tempat duduknya yang berada di lantai, dengan Mana berwarna biru samar-samar terpancar darinya.
[Mendapatkan Skill Intimidasi Lv.01 (Aktif)
[Dengan cara mengedarkan Mana menggunakan Mana Control hingga keluar dari tubuh. Skill ini dapat menahan gerakan dan menekan siapapun yang VIT atau INT lebih rendah dari pengguna]
Ketika mendapati bahwa dirinya mendapatkan skill baru, ia kembali tenang dan duduk kembali. Ada masalah yang lebih penting dan harus diselesaikan sesegera mungkin. "Aku sudah pernah membunuh manusia, dua orang."
Ayumi dan Erina tertegun saat mendengarnya, tidak pernah berharap jika kakak mereka yang lembut ternyata pernah membunuh manusia.
"Ke- Kenapa?—"
Natan mengangkat tangannya menghentikan Ayumi. "Kelompok sepuluh orang menyerang terlebih dahulu, dan tentunya aku melarikan diri sambil melemparkan beberapa pisau, yang kebetulan menancap di kepala mereka ..."
__ADS_1
"Lagi pula, di dunia yang kacau sekarang. Tidak ada aturan, yang kuatlah yang dapat bertahan, dan membunuh atau dibunuh. Lalu jika tadi aku terlambat bertindak, Erina sudah tidak akan bisa melihat sinar matahari lagi." Ia harus mengajarkan tentang dunia yang sekarang, tidak ada lagi kata ampun pada siapapun yang mencoba untuk mencelakai.
"Aku tidak mengajarkan kalian untuk membunuh, tapi aku akan menghabisi Guild Elang Hitam yang memasuki Dungeon!"
Ayumi dan Erina terdiam tanpa bersuara, apa yang dikatakan kakak mereka ada benarnya, dan jika tetap diam, maka mereka yang akan celaka. Tapi, tetap saja masih terlalu kejam untuk membunuh manusia lain.
Natan menatap keduanya, menunggu keputusan mereka berdua. Hingga akhirnya ia mendengar suara gemuruh yang berasal dari perut Erina, membuatnya sedikit tertawa. Ia mengeluarkan belasan roti berbagai rasa, biskuit, air mineral, buah-buahan, tumis daging, dan nasi.
"Makanlah, dua jam dari sekarang kita akan memasuki Dungeon."
Natan masih tidak tahu bagaimana Erina memiliki Job Paladin, meski salah satu statistik kekuatannya tidak ada yang mencapai 50 Point. Ini sangat tidak masuk akal, kecuali ada suatu alasan mengapa bisa mendapatkan Job itu.
Erina meneteskan air mata kebahagiaan saat melihat banyak makanan yang berada di depannya. Tanpa berlama-lama, ia mulai mengambil piring dan menyantap makanan, serta camilan yang berada di lantai.
Natan tersenyum hangat melihat dua adiknya yang makan dengan lahap. Jika saya paman dan bibi masih hidup, mungkin suasana di sini akan lebih meriah lagi.
Puluhan menit kemudian, Erina sudah benar-benar kenyang dan meminum beberapa botol air mineral.
Natan mengeluarkan Kuro dari bayangannya, dan membiarkan Ayumi serta Erina naik di atasnya, sedangkan dirinya memutuskan untuk berlari.
"Erina, hari ini kita akan meningkatkan levelmu di dalam Dungeon. Setelah kau berhasil mencapai level seratus, barulah kita akan membuat tim. Memang bisa membuatnya setelah kau mencapai level tiga puluhan, tapi level kita terlalu jauh," ucap Natan yang berlari di sebelah Kuro.
"Baik, Kakak!" Erina sudah kembali bersemangat. Ia tidak lagi bersedih karena dapat berkumpul lagi dengan sahabat maupun Natan yang dianggap sebagai kakaknya sendiri, meski ia baru saja kehilangan orangtuanya.
Natan tersenyum hangat saat melihat salah satu adiknya kembali bersemangat.
Beberapa menit kemudian, akhirnya kelompok tiga manusia dengan satu hewan itu sudah sampai di depan Dungeon Tower berlantai 55.
Cara untuk memasuki Dungeon Tower sendiri bukan dengan membuka pintu kembar yang terbuat dari kaca, melainkan dengan melewati Portal Cahaya berwarna biru di depan mereka.
Tanpa berlama-lama, mereka berempat memasuki Portal Cahaya yang menghubungkan antara dunia luar dengan Dungeon Tower.
__ADS_1
***
Dungeon Tower
Natan, Ayumi, Erina dan Kuro sudah berada di lantai dasar dari apartemen bertingkat. Apa yang dilihatnya di lantai dasar adalah ruangan luas, lantai berwarna hitam dengan bercak-bercak darah yang mengering. Ia tidak melihat adanya lift, melainkan hanya ada tangga spiral berlapis kain merah.
"Apakah struktur bangunan berubah setelah menjadi Dungeon? Tidak ada lift, dan malah tercipta tangga spiral yang cukup besar," ucap Natan yang menarik bilah pedang. Ia menengadahkan kepalanya melihat ke atas. "Bukankah bagian atas terbuka? Itu yang terlihat dari internet, tapi sekarang ada pembatas lantai."
Natan berjalan menaiki tangga terlebih dahulu dan diikuti oleh adik-adiknya yang menunggangi Kuro. Formasi mereka terbilang kacau, jika saja Erina sudah level 100, ia akan membiarkan Erina berjalan di belakangnya, kemudian Ayumi dan Kuro yang menjaga di barisan belakang.
Ketika sudah berada di lantai dua, ia juga tidak melihat adanya kamar-kamar yang semana mestinya apartemen harusnya ada ruangan lain. Yang dilihatnya di sini hanyalah ruang luas nan gelap, dengan pilar-pilar seperti tiang listrik beton yang di bagian tengahnya terdapat obor yang digunakan sebagai penerangan.
"Monster-monster di sini juga telah dihabisi. Tidak mungkin level monster akan meningkat satu setiap lantainya, dan tidak mungkin juga sepuluh level. Jika diambil dengan rata-rata, seharusnya satu lantainya akan menaikkan lima level ..." Natan bergumam sembari mengelus dagunya dengan kepala tertunduk.
"Level rata-rata Guild Elang Hitam adalah lima puluh, dan dengan jumlah mereka, serta waktu semenjak memasuki Dungeon Tower. Setidaknya mereka sudah berada di lantai enam atau tujuh."
Natan mendongak, dan melanjutkan perjalanan mereka untuk menaiki tangga menuju lantai berikutnya. Ia tidak terlalu tergesa-gesa untuk pergi berburu monster, karena ia yakin monster di Dungeon Tower ini akan menjadi miliknya.
Natan menoleh ke belakang. "Apakah kalian berdua takut? Mungkin saja kita akan bertemu ratusan monster."
"Tidak! Ayumi sudah kuat!"
Erina terdiam sejenak tidak menjawabnya langsung seperti Ayumi. "E- Erina masih level satu, ta- tapi, Erina akan membantu sebisa mungkin!" Ia mendengus semangat dan mengangkat kedua tangannya yang terkepal di depan dada.
Natan mengangguk kecil, kemudian memberikan keduanya susu kotak rasa stroberi maupun coklat, kesukaan masing-masing. Ia juga memberikan dua toples sosis untuk Kuro.
Jika ada yang melihat mereka bersantai di dalam Dungeon, pasti mereka akan dikira gila karena melakukan hal seperti ini di dalam tempat berbahaya. Namun tidak dengan pemikiran Natan, ia membawa gadis kecil yang merupakan adiknya, ia harus selalu memperhatikan mereka berdua untuk menjaga mental keduanya agar tidak terganggu.
Natan harus menjaga, menyemangati, mengamati, membantu, menghibur dan memperhatikan keduanya. Memang berat, tapi ini adalah tugasnya sebagai seorang kakak, dan balasan atas kebaikan orangtua keduanya.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...