
Dengan bantuan semua orang, Natan berhasil menciptakan tempat duduk di atas Metafora, dengan panjang tiga meter dan lebar dua meter. Ia juga memasang atap pada bagian atas, dan dinding yang terbuat dari kayu yang diambil di Dungeon Tower.
Kayu dari Dungeon Tower sangat kuat dan tahan lama, tidak mudah lapuk, karena itulah menjadi material yang sangat berkualitas. Terlebih, pada bagian bawahnya juga dibuat rangka dari besi yang diproses oleh Alkimia Erina, dan beberapa kemampuan Ayumi.
Dalam pengerjaan ini, Vely adalah orang yang paling banyak membantu, namun anehnya tidak mendapatkan Job Pengrajin atau yang lainnya. Dari hal ini, ia menduga Player tidak bisa mendapatkan dua Sub-Job.
Rengga, atau tempat duduk di atas Metafora juga dilengkapi dengan penghangat ruangan, dan lantainya menggunakan Yeti Skin untuk memberikan kesan hangat nan lembut.
Untuk perjalanan ini, Kuro berubah menjadi kucing hitam kecil biasa, yang sama seperti kucing kecil pada umumnya.
"Kakak, kira-kira berapa lama kita akan sampai ke ujung barat Pulau Jawa?"
Natan menoleh ke kanan depan melihat Ayumi yang sedang bermain bersama Kuro. "Dengan kecepatan yang sekarang, mungkin membutuhkan waktu dua puluh hari. Namun jika aku yang berlari di saat tidak ada salju, seharusnya bisa sampai kurang dari satu jam." Ia sudah mencoba mengecek seberapa jauh jarak yang bisa ia tempuh dalam satu detik, menit, dan jam.
Natan memiliki 603 Point AGI, yang jika dikalikan dua, menjadi 1206 kilometer untuk satu jam. Tapi sayangnya, jika ia memaksimalkan potensi dari kecepatan penuh, ia hanya bisa bertahan selama sepuluh menit sebelum akhirnya kehabisan stamina.
"Dua puluh hari 'kah ..." Ayumi menghembuskan napas panjang. "Itu adalah waktu yang lama."
"Kita tidak bisa berbuat apa-apa, jalanan juga tertutupi oleh salju. Tidak mungkin kita bisa berlari di atasnya, Metafora juga tidak bisa berlari lebih cepat karena tubuh besarnya," ucap Natan yang membuka gorden jendela yang berada di belakangnya. Ia melihat Skeleton Knight yang bisa berjalan dengan bebasnya di permukaan salju yang membeku.
Metafora memiliki arti Transportasi, yang berasal dari bahasa Yunani.
Natan memalingkan wajahnya dan kembali menatap Ayumi. "Skeleton Knight menemukan adanya minimarket. Sepertinya tidak tersentuh sama sekali, dan kemungkinan besar banyak makanan yang tersimpan."
"Benarkah?!" Ayumi dan Erina sangat bersemangat saat mendengar makanan. Keduanya berdiri dan mengenakan perlengkapan mereka, kemudian berjalan ke bagian depan untuk berjalan keluar.
"Tidak perlu pergi, Skeleton bisa membawakan kita makanan. Coba kalian buka Inventory Guild."
Seketika itu juga, tiga orang lain yang bersama Natan di dalam ruang mulai membuka Inventory Guild. Terlihat banyak barang yang terus bertambah, terutama untuk makanan ringan yang semakin banyak setiap waktunya.
Untuk Natan sendiri, ia hanya mengambil air mineral untuk menjaga kualitas tubuhnya.
***
Sudah 70 hari semenjak dunia berubah menjadi kacau dan dipenuhi oleh monster-monster mengerikan. Natan serta rekan satu timnya sudah tiba di Kota Jakarta setelah menempuh perjalanan selama sepuluh hari.
Peningkatan level mereka cukup mengerikan meski hanya duduk bersantai di dalam Rengga, dan terkadang melakukan serangan dari sana.
__ADS_1
Natan sudah mencapai level 270, dengan Ayumi dan Erina yang 268. Untuk Vely sendiri, sudah mencapai level 230. Peningkatan kekuatan mereka sangat cepat bukan hanya dari monster yang dilawan, tapi juga dari konsumsi Inti Monster atau Inti Sihir.
Point Exp dari Inti Sihir bukan lagi 50%, melainkan 100% karena Kuro kembali berevolusi dan mendapatkan wujud Raja Singa Bayangan.
Natan mendapatkan tiga Mammoth lagi yang ia beri nama, Metafors, Metaforz, Metaf.
Dengan adanya empat Mammoth Tank, Natan bisa membangun sebuah rumah dengan luas 70 meter² . Dan jika ia bertemu kelompok manusia, Skeleton Knight akan melepaskan ikatan pada tubuh Mammoth Tank, kemudian menyimpannya ke dalam Inventory Guild.
"Aku benar-benar tidak menyangka kita bisa membangun sebuah rumah yang bisa berjalan. Terlebih, Mammoth Tank tetap bisa berjalan di atas permukaan salju." Vely mengungkapkan kekagumannya dengan melihat keluar melalui jendela kaca. Ia menoleh ke kanan melihat Natan yang duduk di teras rumah. "Natan, apakah kau berencana untuk memperbesar rumah?"
"Itu adalah ide yang bagus, dan meski kecepatan Mammoth Tank tidak berkurang seberapa besar bawaannya. Tapi tetap saja merugikan kita, sangat sulit untuk mencari jalan yang dapat dilalui," jawab Natan.
Vely mengangguk kecil, kemudian berjalan menuju tangga yang menghubungkan ke lantai bawah.
Lantai bawah adalah lantai yang bagian dasarnya sejajar dengan lutut Mammoth, dan lantai dua berada di punggung. Karena itulah, lantai satu memiliki ruangan yang lebih kecil, sekitar 30 meter².
Natan berdiri dari kursinya, dan berbalik memasuki ruangan seraya menutup pintu. Ia juga tidak lupa untuk menutup gorden jendela dan menyalakan lampu yang terbuat dari Inti Sihir buatan Ayumi. "Ayumi, Erina. Jangan selalu bermain, cepat mandi."
"Baik, Kakak." Keduanya menghentikan permainan kartu mereka, dan berjalan menuju tangga ke lantai bawah untuk membersihkan tubuh.
"Sialan! Jika hujan salju terlalu deras, perjalan kami akan terhambat—"
Natan menoleh ke kanan, ke arah utara saat merasakan adanya tanda-tanda kehidupan monster yang tiba-tiba muncul. Kemudian ia memalingkan wajahnya lagi dan melihat lurus ke depan ke arah barat.
Natan membuka Mapping dan Appraisal secara bersamaan. Ia melihat banyak monster yang berasal dari barat, barat laut dan utara. Monster-monster itu adalah Yeti, Snowman, Rusa Kutub, Mammoth dan Ice Golem.
Level mereka memang tidak terlalu tinggi, hanya 180. Namun karena jumlah dan jarak pandang yang terbatas, saat ini kelompok Natan sangat tidak diuntungkan.
Natan mematikan lampu ruangan agar posisi mereka tidak benar-benar terlihat jelas, meski sepertinya itu percuma karena Skeleton mengeluarkan api biru.
Kemudian ia bergerak ke arah jendela kanan bagian kanan yang mengarah ke utara. Ia membuka jendela itu perlahan dan mengeluarkan tangan kirinya, untuk mengecek seberapa cepat gerak angin. "Tiga puluh meter per detik dari arah utara, ini sedikit mempengaruhi tembakan. Apa lagi arah angin dan monsternya berlawanan dengan tempatku berada."
Natan mengeluarkan Sako TRG dan meletakkannya di jendela yang sedikit terbuka. Ia mengarahkan moncongnya pada monster yang berjalan menghampiri karena tertarik pada api dari Skeleton.
Natan menoleh ke kiri dan mengoperasikan layar interface, lalu ia mengirimkan pesan ke Guild Chat untuk meminta dibuatkan pelindung.
Senyum tipis terlihat terukir di wajah Natan saat pelindung berlapis-lapis telah terpasang mengelilingi Mammoth House.
__ADS_1
Akhirnya, Natan kembali fokus pada puluhan monster di arah utara yang berjalan lebih cepat dari yang lain. Ia mengunci puluhan monster yang masuk dalam jangkauan pandangnya, kemudian menarik pelatuk sniper. "Increase Shot!"
Sebelas Peluru Mana melesat di hujan salju yang sangat lebat, tapi untungnya Peluru Mana terus melaju meski sedikit melambat dari kecepatan yang seharusnya.
Peluru Mana itu berpencar mengikuti target yang sudah dikunci, menembus kepala mereka dalam sekali tembakan dan membunuhnya. Peluru Mana yang telah membunuh masih terlihat dan melesat jauh.
"Curved Shot!"
Peluru Mana yang tersisa itu berbelok dan menargetkan monster lain yang masih berdekatan, sebagiannya lagi diarahkan ke atas.
"Bullet Rain!"
Peluru Mana bertambah lebih banyak lagi dari sebelumnya, dan pendapatan Point Exp terus mengalir meski masih jauh untuk menaikkan level.
"Bullet Explosion!"
Duarr! Duarr! Duarr!
Ledakan yang bersahutan terdengar dari kejauhan dan terlihat api yang membumbung tinggi di badai salju yang gelap. Api yang membara itu membunuh Snowman dan Ice Golem.
Pada bagian utara sudah habis. Ia memerintahkan salah satu Skeleton Knight untuk mengambil Item Drop di sana, dan ia yang berpindah ke teras depan untuk membunuh monster di arah barat.
Dengan adanya pelindung, badai salju tidak bisa masuk ke dalam dan membuatnya bisa bebas berkeliaran di luar Mammoth House.
"Kakak, apa yang terjadi?"
Natan menoleh ke belakang melihat Ayumi yang menyalakan lampu. "Monster mendatangi kita, dan di luar sedang hujan salju. Malam ini kita akan beristirahat di sini, dan pastikan pelindung terus aktif agar kita tidak terkubur salju!" Ia sedikit berteriak.
Ayumi menganggukkan kepala, dan mengeluarkan Dragon Magic Wand dari penyimpanan. Ia meletakkan tongkat sihirnya di lantai dalam posisi vertikal, dan membiarkan tongkat sihir itu menyerap Mana miliknya untuk mempertahankan Magic Barrier.
Natan memalingkan wajahnya dan kembali fokus pada monster-monster yang terus bertambah. Dengan melihat monster yang berdatangan, kemungkinan ia tidak akan tidur lagi sampai pagi untuk menjaga sekitarnya.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1