Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 203 : Menyerang Wilayah Hob-Goblin


__ADS_3

Natan menganggukkan kepala melihat pelayan yang meletakkan cangkir teh di atas meja yang terbuat dari akar pohon. Kemudian setelah pelayan itu mundur menjauh, dia menatap Aniela di seberangnya. "Aku tidak tahu apakah kau sudah mengetahuinya dari surat itu, tapi aku akan mengatakannya. Ainsle— Uhuk ... Yang Mulia Ratu Ainsley Camelia memintaku untuk membawa kalian semua keluar dari tempat ini."


Aniela tersenyum tipis saat mendengar Natan mengulang kembali panggilannya terhadap Ainsley, kemudian dia tertegun ketika mendengar maksud kedatangan Natan kemari. Dia tidak bisa menahannya, dan bertanya dengan penasaran, "Tempat ini?"


Natan mengamati perusahaan ekspresi Aniela, dan dia mengerti bahwa Aniela masih tidak menyadari di mana tempat ini. "Tempat ini, apakah menurutmu aneh?"


Aniela menggelengkan kepalanya, tapi segera ekspresinya kembali berubah, otot-otot wajahnya menegang setelah menyadari sesuatu. "Ya... Saat itu cahaya bersinar terang, hanya beberapa detik, kemudian menghilang. Awalnya kami mengira itu adalah serangan, tapi ternyata tidak ada apa pun, namun setelah bertahun-tahun berlalu saat kami ingin berdagang, kami tidak menemukan kota manusia ..."


"Ini sangat aneh, kami terus menyisir sungai, tapi di sana ada monster ular. Jadi kami mencari arah lain, namun setelah semua, tidak ada apa pun selain di seberang sungai tempat Ras Hob-Goblin berada."


Setelah Aniela mengatakan ini, tiba-tiba dia gemetar, dia memeluk tubuhnya sendiri nampak ketakutan.


Natan mengangguk, kemudian kembali bertanya, "Apa kau tahu Dungeon?"


Aniela merenung, dia tidak tahu untuk apa Natan menanyakan ini. Tapi dia tetap mengangguk, hanya saja, sebelum benar-benar mengangguk, tiba-tiba dia berhenti dengan mata terbuka lebar.


Melihat ekspresi Aniela, Natan menganggukkan kepalanya. "Iya, seperti yang kau tebak. Kalian berada di Dungeon ..."


Natan mengangkat tangannya menahan Aniela yang ingin memotongnya. "Sebelumnya, Dungeon ini hanyalah Dungeon biasa, tapi karena bantuan Ainsley, Dungeon ini berubah dan ada kalian di dalamnya. Aku tidak tahu apa alasannya, mungkin saja sebelumnya kalian berada di tempat asing, dan dia sengaja memindahkan kalian ke sini agar lebih aman, kemudian memintaku datang untuk mengeluarkan kalian."


Aniela terdiam dengan keterkejutan yang tidak bisa disembunyikan.


Begitu pun dengan yang lain yang ada di ruangan ini.


Natan membuka mulutnya ingin mengatakan hal lain, tapi tiba-tiba ada pesan yang masuk. Dia melihatnya, itu pesan dari ibu tercinta yang sangat penting baginya, dia membukanya, ternyata surat tambahan yang sepertinya baru ditulis.


Dia mengeluarkan surat, melihatnya sekilas, kemudian menyerahkannya pada Aniela tanpa membukanya. "Dia menitipkan surat lain, aku tidak tahu apa yang tertulis di sana."


Aniela tersadar ketika melihat surat. Dia menerimanya, tapi tidak langsung membukanya, melainkan mengatur napasnya terlebih dahulu.


Ketika sudah kembali tenang, Aniela membuka surat, dan membacanya. Meski sudah berusaha untuk tetap tenang, tapi ekspresinya tidak bisa membohongi.


Beberapa menit kemudian, Aniela menutup surat, tapi dia masih terlihat kosong, seolah berita yang didapatnya sangat berat.


Natan tidak menanyakannya. Begitu pun Elf lain yang berada di sekitar, meski mereka tegang, tapi tidak ada yang berani bersuara.


Aniela menarik napas dalam-dalam, kemudian berkata, "Surat ini, mengatakan bahwa dunia kami sudah lama hancur. Tapi Nenek menggunakan kekuatannya untuk menahan kami di tempat lain, kemudian menyimpannya di Dungeon sekitar sembilan bulan menurut dunia luar, dan sudah sembilan tahun di sini. Kemudian, dengan kekuatannya, kami terhubung dengan Dungeon di wilayahmu."

__ADS_1


Natan terdiam. Sembilan bulan? Itu harusnya adalah hari pertama di mana Kehancuran Dunia dimulai.


"Jadi, apakah kalian ingin pergi bersama kami? Tapi kita harus menghilangkan Hob-Goblin dari tempat ini sampai bersih."


Mendengar itu, Aniela terdiam sejenak, kemudian menjawab, "Bisakah Kakek beri aku waktu? Aku harus menanyakan ini pada Ibu."


Natan mengangguk kecil, mempersilakan Aniela untuk pergi.


Aniela berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan bersama semua pengawal termasuk menteri, hanya meninggalkan beberapa pelayan untuk melayani Natan, Ayumi dan Erina.


Erina melompat turun dari tempat duduk yang terlalu tinggi, berjalan menuju meja. Dia mengulurkan tangannya, lalu mengambil camilan yang terbuat dari buah-buahan kering.


Merasakan rasanya, dia menganggukkan kepalanya berkali-kali dengan mata berbinar. "Ini enak!"


Ayumi mengikuti Erina ketika mendengarnya, dan mulai memakan semua camilan di atas meja.


Natan menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis saat melihat adik-adiknya. "Kalian berdua sangat manis, berbeda sekali saat membunuh monster. Aku merasa bersalah karena telah mengajarkan kalian membunuh," gumamnya seperti berbisik.


Natan bersandar di sandaran kursi, menutup matanya dan membayangkan ketika dia memiliki seorang putri nanti. Mungkin, akan sangat menyenangkan, tapi dia berharap untuk memiliki putra agar bisa menjadi penerusnya nanti.


Tapi, apa pun yang diberikan, dia tidak peduli.


Langkah kaki terdengar terburu-buru dari belakangnya. Natan menoleh ke belakang, melihat Aniela yang mengikuti dua Elf, salah satunya pria, dan yang lainnya wanita cantik, sangat mirip seperti Ainsley.


Jika bukan karena Appraisal, mungkin Natan akan menganggap Elf itu sebagai Ainsley.


"Apakah Anda suami dari Ibu?"


Natan mengangkat sebelah alisnya, tidak mengharapkan Ratu Ras Elf Kedua akan langsung menanyakan hal itu.


Dia batuk beberapa kali, dan mengubah topik pembicaraan. "Harusnya Anda sudah tahu urusan kami datang kemari dari putri Anda. Jadi, bagaimana keputusannya?"


Annaya tersenyum tipis melihat Natan yang mengabaikan pertanyaannya, tapi dia tidak marah. "Aku sudah melihat suratnya, dan itu memang surat dari Ibu. Karena Ibu yang memintanya, maka kami akan mengikutimu untuk keluar dari sini. Lagi pula, aku merindukan Ibu."


Natan mengangguk, dia masih mengamati Annaya. Memang sangat cantik, anggun seperti Ainsley, tapi Annaya terlihat lebih lembut, tidak seperti Ainsley yang tidak tahu aturan.


Natan melihat Elf pria di samping Annaya, dan harusnya itu adalah Raja. Tapi sepertinya Raja Elf tidak memegang kekuasaan tertinggi di sini, hanya Ratu yang berkuasa, mungkin ini karena pemimpin pertama adalah wanita, karena itu hanya Ratu yang benar-benar memimpin dan memiliki keputusan akhir.

__ADS_1


...


Mereka mulai membahas rencana untuk menghilangkan Hob-Goblin di Lantai 28 agar bisa keluar dari tempat ini. Rencana ini harus benar-benar matang, mereka sampai membuat simulasi kecil untuk melihat apakah rencana yang mereka buat benar-benar berdampak.


Natan merasa ini semua merepotkan, tapi dia tidak menyela, dan memilih untuk tetap diam.


Dia juga mencari informasi, dan menemukan bahwa King Hob-Goblin hampir Level 700, sedikit lebih kuat dari Annaya, Ratu Ras Elf Kedua.


...***...


—Keesokan Harinya—


Lebih dari setengah Elf dibawa untuk menyerang Camp Hob-Goblin. Mereka ingin habis-habisan menyerang dan mengakhiri semuanya.


Natan sudah meletakkan skeleton di beberapa titik di Wilayah Elf untuk berjaga-jaga apabila Hob-Goblin datang menyelinap. Adapun Giant Knight, dia akan mengeluarkannya apabila pertarungan sulit dimenangkan.


"Apakah kalian takut?" Natan mengusap kepala Ayumi dan Erina.


Keduanya mendongak, menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Ayu tidak takut karena ada Kakak yang menjaga kami."


"Erina juga."


Natan tersenyum hangat, dan kembali mengusap kepala keduanya dengan lembut penuh kasih sayang. "Tapi kalian harus tetap berhati-hati, mungkin ada musuh yang menyelinap nantinya. Namun, Kakak akan memastikan kalian tetap aman."


Annaya batuk, menarik perhatian Natan. "Apakah Ayah serius menyerahkan kepemimpinan pasukan kepadaku?"


Natan memijat keningnya, dia benar-benar tidak berdaya. Sudah berkali-kali dia mengatakan jangan memanggilnya dengan sebutan “Kakek” maupun “Ayah”, tapi ibu dan anak ini tidak peduli sama sekali.


"Iya ..." Natan mengangguk kecil. "Mereka adalah pasukanmu, tentunya kau yang harus memimpin."


Annaya membuka mulutnya, tapi saat melihat lambaian tangan Natan, dia menutupnya lagi dan menelan kata-katanya.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2