Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 044 : Pulau Sangiang


__ADS_3

Natan terus menembak semua monster yang berdatangan dan tidak ada habisnya. Ia juga memerintahkan semua Skeleton untuk berpencar mengelilingi Mammoth House untuk menghalau serangan yang akan datang.


Karena badai salju terhalang oleh Magic Barrier, Natan memutihkan untuk berdiri di atap bangunan yang sedikit tertutup salju. Lebih mudah menyerangnya dari atas karena ia bisa melihat sekitar, berbeda di dalam ruangan yang baru berjalan ke sana kemari.


Tiga orang lain yang berada di dalam Mammoth House juga keluar dan mengikuti Natan yang berada di atap, berharap bisa membantu Natan untuk membunuh monster lain.


"Kak Vely, apakah Kakak belum membeli skill baru?" Natan mencoba melihat informasi statistik Vely, dan tidak ada skill baru meski skill lama sudah mencapai level maksimum.


"Tidak ada yang menarik, semua skill hanya memberikan damage pengurangan darah tanpa ada efek visual." Vely menggeleng pelan dengan pipi menggembung.


Natan hanya bisa terdiam dan menghela napas panjang. Kemudian ia kembali fokus pada monster-monster di arah barat sampai utara searah jarum jam.


Ayumi dan Erina masih mempertahankan pelindung tanpa melakukan serangan lain, itu semua karena jarak pandang yang terbatas, tidak seperti Natan yang bisa dengan bebasnya melihat dalam kegelapan.


"Kakak, Ayu tidak bisa melihatnya. Seberapa banyak monster yang datang?" tanya Ayumi yang berdiri di tengah-tengah atap, dan sedang melihat Natan yang terus berpindah.


Natan yang menyerang ke arah barat berpindah untuk menyerang ke selatan. "Tadi hanya barat, barat laut dan utara. Namun sekarang dari selatan sampai utara, jumlah mereka terus bertambah, mungkin ada tiga ribu monster ..."


"Yang paling sulit untuk dilawan adalah Snowman dan Ice Golem, karena aku harus mengeluarkan serangan api dalam jumlah besar."


Ketiganya mengangguk secara bersamaan dan mengerti. Jumlah monster itu memang tidak terlalu banyak karena sebelumnya sudah pernah melawan yang lebih banyak, namun saat ini sangat dirugikan karena jarak pandang yang terbatas.


Kecuali Natan, mereka hanya bisa melihat sejauh Magic Barrier terbentuk, yang mana dalam radius 100 meter dari Ayumi.


Karena tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya ketiganya kembali masuk agar tidak menganggu Natan yang kerepotan karena harus berpindah-pindah menghindari ketiganya yang menghalangi.


Natan terus menembak hingga dua jam berlalu, ia sudah membunuh banyak sekali monster dan memutuskan untuk beristirahat sejenak seraya menunggu gelombang monster lainnya. Namun setelah menunggu setengah jam, tapi tidak ada gerakan lain, akhirnya ia memerintahkan Mammoth untuk kembali berjalan.


***


Sepuluh Hari Kemudian


Dalam perjalanan yang melelahkan dan selalu bertemu dengan monster, akhirnya Mammoth House sudah sampai di Pantai Paku yang berada di ujung barat Pulau Jawa.


Air laut di sana telah membeku menjadi es tebal. Sudah 24 hari berlalu semenjak salju mulai turun, dan sampai saat ini juga langit masih gelap karena cuaca yang sangat dingin. Entah sampai kapan hal ini berulang, tapi untungnya persediaan mereka cukup untuk sepuluh tahun.


Natan membuka pintu dan duduk di teras depan. Ia memandangi lautan yang telah membeku dan terlihat cukup tenang tanpa adanya tanda-tanda kehidupan monster, namun ia mengetahui jika di bawah es ada bahaya yang mengintai.


Natan menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Ia menenangkan diri dan memantapkan pemikirannya. "Kita akan berlari di saat hari sedikit cerah. Kuro sudah memiliki sepatu yang bagian bawahnya kasar dan berduri, seharusnya sangat mudah baginya untuk lari."


"Selat Sunda membentang sepanjang tiga puluh kilometer, dan kemungkinan Pulau Sangiang hanya dua belas kilometer. Dengan jarak itu, setidaknya membutuhkan waktu dua sampai tiga menit."


"Bukankah itu berbahaya?" Vely benar-benar tidak percaya dengan usul Natan.

__ADS_1


Natan menghembuskan napas panjang dan berbalik bersandar pada pagar. Ia menatap Vely yang nampaknya tidak menyetujui sarannya. "Hanya itu satu-satunya cara. Jika kita menunggu lautan mencair, maka akan lebih bahaya lagi. Dalam keadaan seperti inilah waktu yang tepat, karena es mampu menahan monster di dalan lautan."


Berbeda dengan Vely yang kurang setuju, Ayumi dan Erina sudah bersiap-siap untuk menyeberangi laut yang membeku. Bahkan Kuro juga sudah dipakaikan satu set perlengkapan yang lengkap.


Natan kembali berbalik dan melompat turun dari Mammoth House. Ia berjalan mendekati tepi pantai untuk mencari tahu apakah Mapping menangkap makhluk hidup dalam radius 400 meter darinya.


Senyum tipis terukir di wajah Natan saat mengetahui tidak ada makhluk hidup selain mereka. Ia harus mengaktifkan terus skill ini, dan memperhatikannya selalu agar tidak terlambat mengambil keputusan.


Natan mendongak dan menoleh ke belakang, melihat semua orang yang telah bersiap-siap duduk di atas punggung Kuro. Mammoth House juga telah di simpan, bersama dengan Skeleton yang mulai bergabung dengan bayangannya.


"Pastikan kalian bersiap-siap. Aku akan memberikan aba-aba saat ada monster yang mendekat, dan pastikan untuk mengaktifkan pelindung," ucap Natan menatap ketiganya dengan raut wajah serius.


Natan menghembuskan napas panjang, kemudian berlari menuju Pulau Sangiang di atas permukaan laut yang telah membeku, diikuti oleh Kuro yang membawa tiga orang di atas punggungnya.


Natan bersiap-siap dengan senjata di kedua tangannya. Ia tidak ingin sampai terlambat bereaksi dalam membunuh monster, karena terlambat sedikit saja, nyawa mereka akan melayang.


Tidak membutuhkan waktu lama dsn mereka sudah memangkas setengah jalan. Tidak ada tanda-tanda monster yang mendekati mereka, seperti memang tidak ada kehidupan di dalam lautan.


Walaupun berhasil setengah jarak ke Pulau Sangiang, tapi mereka tetap was-was apabila tiba-tiba monster datang tanpa bisa dibaca oleh radar Mapping.


"Empat ratus meter di arah kanan!" Natan berteriak saat ada monster berjenis ikan hiu yang masuk dalam jangkauan. "Sekarang!"


Ayumi mengangkat tongkat sihirnya setinggi mungkin, dan mengucapkan nama skillnya. "Magic Barrier!"


Dentuman keras terdengar saat ikan hiu mulai melompat dari dalam air, menghancurkan lantai es dan menghantam dinding pelindung. Angin kencang juga bertiup dan membuat kabut putih menghalangi pandangan.


Natan berhenti berlari dan mengarahkan snipernya pada kabut yang menghalangi, namun ia bisa melihatnya dengan jelas melalui informasi ikan hiu yang bergerak-gerak di permukaan es. "Increase Shot!"


Sebelas Peluru Mana melesat memasuki kabut tebal yang mampu membunuh monster dalam sekali serang, mengingat damage yang dihasilkan sebesar 3.533.200 Point.


Ia mencoba untuk tidak serakah dan meninggalkan Item Drop yang terlihat sangat berharga, namun nyawanya lebih berharga ketimbang Item Drop yang masih bisa dicari di tempat lain.


"Pergi!"


Natan kembali memberikan aba-aba dan berlari di samping Kuro.


Perjalanan dilanjutkan dengan ketegangan yang sangat membuat mereka kewalahan, bahkan membuat Ayumi selalu melepaskan kemampuan penyembuhan, dengan Vely yang menenangkan mental semua orang untuk tidak sampai kehilangan pikiran.


Waktu terus berjalan, jarak yang mereka tempuh semakin sedikit dan sudah bisa melihat pulau yang tidak jauh dari mereka saat ini. Setiap detiknya sangat berharga dan terasa sangat lama sekali, meski kecepatan berlari mereka bisa dikatakan hampir menyamai kecepatan suara.


Ketika jarak hanya tersisa satu kilometer lagi, tiba-tiba Mapping kembali menangkap monster dengan level 200 dan ukurannya sangat besar dari hiu yang dibunuh Natan tadi.


"Terus lari! Jangan lihat ke belakang!"

__ADS_1


Natan berbalik untuk menahan sejenak monster yang sebentar lagi akan muncul, yang kecepatan berenangnya hampir menyamai kecepatan lari Natan di permukaan es.


Mapping menangkap monster itu bergerak di bawah air, namun belum muncul-muncul seperti hiu sebelumnya yang menghancurkan lantai es. Hingga detik berikutnya, monster itu sudah berada di bawah es di mana Natan berpijak.


Natan menundukkan kepalanya, melihat mulut besar yang terbuka dengan taring-taring tajam. Tanpa berbasa-basi, ia melompat setinggi mungkin untuk menghindari monster yang merupakan Megalodon.


Krang!


Lantai es itu pecah karena dihantam oleh Megalodon sepanjang dua puluhan meter dan mengejar Natan yang melompat.


Natan mengarahkan senjatanya dan menarik pelatuk sniper tanpa ada keraguan sama sekali.


Peluru Mana melesat jatuh ke arah mulut Megalodon yang terbuka sangat lebar, yang dirasa mampu menelan bus.


"Bullet Rain! Bullet Explosion!"


Belasan peluru menghujani mulut Megalodon, kemudian tercipta sebuah ledakan yang bersahutan mulai memberikan damage yang liar biasa. Namun sangat disayangkan tidak langsung membunuhnya, mengingat banyak sekali air yang berada di dalan tubuh Megalodon.


Api yang membara menciptakan sebuah bayangan yang panjang ke arah barat. Natan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sangat langka ini. "Shadow Step!"


Natan berubah menjadi bayangan tipis yang bergerak 100 meter ke arah barat. Ketika ia sudah muncul kembali, ia mengarahkan senjatanya lagi pada bagian bawah Megalodon yang merupakan salah satu kelemahannya. "Increase Shot!"


"Skeleton Mage! Bangkit! Tembakan panah api!"


Kerangka tulang mulai bangkit dari dalam bayangan Mo Lian yang tidak terlalu tebal, kemudian langsung menembakkan beberapa anak panah yang terbuat dari api.


Megalodon menjerit dengan suara yang tidak jelas, namun terdengar menyakitkan di telinga. Tapi itu tidak membuat Natan goyah, ia tetap menembak monster yang hampir memakannya tadi.


[Global : Player Pertama yang Membunuh Raja Lautan, Megalodon]


[Reward : +20 All Stat]


"Eh?" Natan tidak menyadarinya jika sudah berhasil membunuh monster, itu karena api yang menghalangi pandangan dan ia tidak menggunakan Appraisal. "Ak- Aku, berhasil?"


"Skeleton Knight, bangkit dan ambil semua Item Drop Megalodon."


Setelah memberikan perintah itu, Natan pergi ke Pulau Sangiang, menyusul rekannya yang sudah tiba di sana terlebih dahulu.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2