Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 073 : Akhirnya?


__ADS_3

"Kakak! Ada monster!" Ayumi berteriak dari tangga kayu dan hanya terlihat kepalanya saja yang keluar ke lantai tiga.


Natan yang masih duduk di sofa itu mengangkat tangan kanannya tanpa menoleh. "Aku sedang memikirkan sesuatu, bisakah Ayumi mengurusnya dari lantai dua?"


Ayumi memiringkan kepalanya seraya menyentuh dagunya dengan jari telunjuk. "Aku tidak tahu Kakak sedang memikirkan apa. Tapi, baiklah, Ayu akan mengurusnya dengan Kak Vely." Ia kembali turun setelah setuju.


Natan mengangguk kecil dan tidak bergerak sama sekali dari tempatnya duduk, karena masih harus menenangkan tongkat yang tegak untuk kembali turun. Ini sangat tidak nyaman sekali, tongkat sudah tegak sebanyak dua kali, bukan tegak karena menahan diri untuk tidak pergi ke toilet, tapi tegak karena sengaja dibangunkan.


Itu, siksaan yang menyakitkan!


"Sialan! Kak Vely dan Olivia juga sudah melihatnya ..." Natan mengembuskan napas panjang dan bersandar pada sandaran sofa, memandangi terpal parasut di atasnya.


Beberapa menit kemudian, Natan sudah mulai tenang dan mengenakan pakaiannya kembali, meski jantungnya masih berdetak kencang. Setelah membunuh Worm, ia harus meminta pertanggungjawaban pada Calista yang meninggalkannya seperti ini sebanyak dua kali.


Wajah Natan memerah ketika mengingat kejadian barusan. Ia tidak pernah berpacaran, selalu menjaga kebersihan dan tidak pernah menyentuh tangan wanita saat di sekolah. Lalu, hari ini ia sudah memperlihatkan bagian pentingnya kepada tiga orang sekaligus.


Natan melompat dari atap rumah, bergelantungan dan mendarat di lantai dua. Ia yang sudah mendarat langsung berjalan ke arah Calista yang sudah memakai perlengkapan lengkap. "Kau sudah dua kali membuatku seperti ini, malam ini aku meminta pertanggungjawaban darimu," bisiknya.


Vely dan Olivia mendengar dengan jelas suara Natan meski sudah bersisik. Keduanya menatap satu sama lain, kemudian tertawa kecil.


Jia Meiya dan Xia Feiya ketakutan saat melihat Worm yang ukurannya dua kali bus, dengan panjang lebih dari sepuluh bus yang berbaris.


Natan melompat turun dari balkon dua seraya mengambil pedang dari sarungnya. Ia mendarat dengan posisi setengah berlutut, kemudian berlari sangat cepat sampai menciptakan badai pasir. Untungnya ada pelindung, sehingga pasirnya tidak mengotori Mammoth Castle.


Saat ini ia benar-benar sangat marah terhadap Worm yang menganggu kesenangannya, meski ia sudah menahan malu.


Worm membuka mulutnya lebar dan menjerit sangat keras, melemparkan air ludahnya yang berwarna hijau transparan. Ketika air ludah itu jatuh ke tanah, tanahnya mulai meleleh.


"Jangan ada yang membantu, aku sangat marah!"


Ayumi yang yang mengangkat tongkat sihirnya itu membatalkan dan menurunkannya. "Kenapa Kakak sangat marah?" Ia memiringkan kepalanya keheranan.


Calista menundukkan kepalanya seraya tersenyum canggung dan menggaruk pipinya. "Sepertinya aku mengetahui alasannya ..."


"Anak kecil tidak perlu tahu." Vely menambahkan.


Ayumi benar-benar bingung dan akhirnya menoleh ke kanan menatap Erina. "Apakah Erina tahu?"


Erina menggelengkan kepalanya pelan seraya mengangkat kedua bahu dan merentangkan kedua tangannya. "Entahlah."


Natan menghindari setiap serangan dari Worm yang memuntahkan racun ataupun menciptakan lubang pasir yang memiliki daya hisap tinggi.


Kemudian ia melompat sangat tinggi sampai meninggalkan lubang dengan retakannya di permukaan tanah. Ia berputar-putar di udara dan melemparkan granat tangan yang dibuat dari Alkimia ke dalam mulut Worm.

__ADS_1


Natan mendarat di tubuh Worm yang terasa lunak seperti trampolin, meski tidak memantulkannya kembali.


Duarr!


Granat yang ia lemparkan meledak, melukai mulut Worm hingga memuntahkan darah. Tapi itu tidak terlalu memberikan damage, karena bukan kemampuan asli dari Player.


Natan yang sudah mendarat itu langsung menancapkan pedangnya pada permukaan kulit Worm, kemudian berlari sampai ke bagian ujung, menimbulkan luka yang dalam dan panjang.


Worm menjerit keras mengungkapkan rasa yang sangat menyakitkan.


Kemudian Natan kembali melompat tinggi ke langit saat Worm melepaskan serangan badai pasir ke arahnya.


"Shadow Step."


Natan berpindah ke tempat awal di depan Worm, di saat ia belum melompat tadi. Ia mengeluarkan dua pisau kecil dari penyimpanannya dan di bagian gagangnya ada benang kuat yang terbuat dari laba-laba.


Natan melemparkan dua pisau itu secara menyilang, melewati tubuh Worm yang besar itu. Pisau yang sudah melesat itu berbalik ke arah yang berlawanan, melilit tubuh Worm hingga menghantam tanah dan tidak bisa bergerak.


"Kau tahu, aku tadi hampir melakukannya, meski dilihat Kak Vely dan Olivia. Tapi, kau datang dan mengacaukan semuanya." Natan melipat tangan kanannya untuk mengambil Sako TRG Mana di punggung.


Natan menarik pelatuk snipernya, seraya mengaktifkan skill untuk memperbanyak jumlah peluru yang keluar. "Bullet Explosion."


Tubuh Worm melesak menjadi potongan daging yang menyebar ke segala arah dan ada hujan darah yang turun karena monster yang meledak.


Natan langsung menyimpan semua perlengkapannya, dan melihat jam tangan yang sudah ia sesuaikan dengan waktu setempat. "Pukul empat sore, sebentar lagi malam. Apakah aku harus mandi lagi?"


Natan mengembuskan napas panjang dan langsung pergi ke lantai bawah untuk mandi, menghilangkan aroma darah yang menyengat serta bau terbakar dari sinar matahari.


Xia Feiya menatap takjub Natan yang berjalan melewatinya. "Hebat!"


Calista ingin ikut bersama dengan Natan untuk mandi lagi, tapi ia mengurungkan niatnya saat teringat di mana ia pingsan tadi. Ia tidak ingin memberikan harapan palsu, yang nantinya membuat Natan tersiksa.


Vely dan Olivia bersisik satu sama lain, kemudian membawa Calista masuk ke kamar Vely untuk membicarakan sesuatu.


Natan yang belum benar-benar turun ke lantai bawah, melihat Calista yang dibawa dan kembali merasakan firasat buruk. Tapi ia membuang perasaan itu, berharap apa yang ia rasakan hanya karena kejadian di atap rumah saja.


Ketika sudah sampai di pemandian, Natan membersihkan semua tubuhnya dengan sabun dan shampo, serta membersihkan giginya agar kesehatannya tetap terjaga dengan baik.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk selesai mandi, karena ia tidak berendam di air panas. Hanya membersihkan tubuh, kemudian selesai.


"Masih ada dua puluh jam lagi untuk bisa meninggalkan hutan ini, apalagi ada gunung batu di depan sana." Natan menaiki tangga kayu yang menghubungkan antar lantai. "Bagaimana Jia Meiya bisa melewati gunung?".


***

__ADS_1


Sabtu, 26 Juli 2025. Pukul 22.30 (GMT+7)


Setelah selesai menyantap makan malam, Natan langsung memasuki kamarnya dan sudah terlewat dua jam, namun Calista belum kembali. Hingga akhirnya ia tertidur karena terlalu lama menunggu.


Natan tertidur pulas setelah tubuhnya benar-benar tenang, aliran darahnya kembali normal termasuk detak jantungnya yang tidak terlalu cepat.


Tapi, Natan terbangun dari tidurnya saat mendengar ketukan dari balik pintu. Ia membuka matanya perlahan dan melihat waktu pada jam yang berada di meja samping tempat tidurnya, menunjukkan pukul 23.49 waktu setempat.


Natan berjalan menghampiri pintu dan membukanya perlahan, dengan wajahnya yang masih nampak mengantuk. "Siapa?"


"Ini aku ..."


Natan mengusap lembut kedua matanya, dan melihat ada Calista yang hanya mengenakan dalaman tanpa tambahan lain. Ia tidak langsung semangat seperti sebelumnya, karena ia merasa ini semua hanya candaan seperti tadi.


"Apakah kali ini sungguh-sungguh? Kau tahu, itu sangat menyiksa bagi seorang pria."


Calista menganggukkan kepalanya pelan. Kemudian ia menundukkan kepala dengan tangan kanan yang terkepal di depan dada. "Tapi, aku takut karena ini adalah pertama kalinya. Karena itu, bolehkah aku membawa yang lain?"


Mata Natan terbuka lebar dan rasa kantuknya menghilang seketika. Dilihat oleh orang lain? Hei, ini sangat gila! Ia bukanlah orang semacam itu!


Vely dan Olivia mendorong Calista memasuki kamar Natan, dengan keduanya yang juga ikut masuk.


"Apa salahnya? Kami berdua sudah melihat tongkat milikmu, jadi tidak ada yang salah kan."


Natan benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Vely Anindya.


Olivia menutupi wajahnya, meski matanya masih bisa melihat tubuh Natan tanpa mengenakan baju melalui sela-sela jarinya. "Bu- Bukankah tidak masalah. Ki- Kita bisa mematikan lampunya."


Natan masih diam mematung tidak tahu harus berbuat apa-apa. Hingga akhirnya Vely dan Olivia memegangi lengan Natan, membawanya kembali ke tempat tidur, dengan Calista yang mengunci pintu.


Meskipun sudah duduk di tepi tempat tidur, ekspresi Natan masih terlihat kosong seperti tidak bisa berpikir.


Vely dan Olivia memandang satu sama lain, dan dengan cekatan menarik celana Natan sampai robek.


"Tunggu—" Natan langsung dibanting ke kasur yang empuk.


"Light of Battlefield." Olivia mengaktifkan skillnya, dan anehnya hanya Vely yang mendapatkan buff itu, tidak dengan Natan maupun Calista.


"Natan ..." Calista duduk di atas perut Natan seraya memegangi wajah Natan.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2