Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 176 : Menghancurkan Skull Guild dan Datangnya Earth of Eternity


__ADS_3

Jia Meiya tidak masuk ke dalam istana dan memilih untuk mundur ratusan meter bersama Xia Feiya. Tidak mungkin untuknya membiarkan putri kecilnya yang baru berusia enam tahun untuk melihat pembantaian.


Xia Feiya penasaran, tapi dia tidak membangkang dan mematuhi perintah ibunya untuk tidak masuk ke istana.


Jia Meiya sendiri tahu bahwa hal ini sudah biasa di keadaan seperti ini, tapi dia tetap tidak ingin melihat putri kesayangannya membunuh. Jadi, dia berjaga-jaga di sini dan bagian belakang di mana tangga terbentuk, sudah dijaga oleh skeleton.


Xia Feiya memegang kedua tangan ibunya yang memeluknya dari belakang, lalu mendongak menatap ibunya. "Ibu, Fei'er lapar."


"Baik. Ayo masak di sini." Jia Meiya mengusap kepala putrinya, dan mulai mengeluarkan peralatan masak. Dia juga mengeluarkan alat pertahanan untuk menghalau apabila ada serangan dari jarak jauh.


Sementara itu, Natan berhasil membelah kelompok musuh dengan mudahnya tanpa ada kendala sama sekali. Apalagi istana ini tidak ada senjata berat untuk pencegahan.


Natan memimpin di barisan depan, dia tidak membutuhkan lagi golem dan meninggalkannya di gerbang untuk menahan musuh agar tidak melarikan diri.


Istana ini hanya berlantai tiga dan terbilang kecil, harusnya mudah untuk menerobos masuk ke lantai teratas.


Natan berdiri di depan gerbang lain, dia melepaskan tembakan dari senapan mesin.


Berdiri di bawah balkon, kelompoknya hampir tidak bisa diserang karena rata-rata anggota Skull Guild berada di atas balkon maupun atap bangunan. Sedikit yang berdiri di tembok, dan bagian belakang kelompoknya sudah dijaga oleh sihir Ayumi.


Booom!


Pintu istana meledak, menimbulkan badai angin yang menerkam semua orang di dalam. Istana itu penuh debu dan banyak sampah, termasuk botol-botol alkohol, membuat aroma di dalam ruangan sangat busuk seperti di tempat pembuangan sampah.


Natan mengganti senjatanya dengan pedang dan pistol. Dia mengikuti arah di mana musuh-musuh bersembunyi melalui arahan Mapping. "Semuanya! Bunuh!"


Kuro mengangkat kedua kaki depannya, lalu menghentakkannya kembali. Dengan getaran, bayangan hitam menyebar ke segala arah, itu menelan musuh dan muncul mereka di dalam kegelapan.


Level Kuro sudah 590, dan sangat mudah untuk membunuh semua orang di sini yang hanya di bawah 550.


Ayumi sedikit kesal saat berada di dalam ruangan karena luasnya terlalu kecil, sehingga tidak bisa mengerahkan semua kekuatannya.


"Menyebar!"


Mengikuti perintah Natan, semua orang mulai menyebar menjadi tim dengan dua orang. Tidak ada yang meragukan perintah, karena semua ini sudah direncanakan sebelumnya dan mereka tidak ragu-ragu karena tahu ada skeleton yang membantu dari balik bayangan.


Natan langsung pergi ke lantai dua sendirian. Dia tidak takut. Dia memiliki keyakinan tinggi untuk menghadapi mereka semua sendirian, bukan hanya karena skeleton, tapi dia juga memiliki keahlian untuk mengubah tubuhnya menjadi kabut bayangan yang tidak bisa diserang.


Tiba di lantai dua, Natan melihat cahaya biru yang melesat ke arahnya. Dia memiringkan tubuhnya dan melihat ke belakang, dia melihat anak panah yang menancap di dinding. Tapi detik berikutnya, anak panah itu terlihat mengeluarkan tetesan hitam.


"Racun?" Natan mengerutkan keningnya.


Kemudian dia berbalik lagi, dia bisa melihat ada puluhan orang yang menjaga jalan. Di tangga ada penahan yang siap menyerangnya, di balkon ada knight membawa pedang besar dan lain sebagainya.


Tap... Tap... Tap...


Terdengar langkah kaki dari lantai atas dengan tepukkan tangan.


Natan melihat ke arah sumber suara dan melihat pria paruh baya berbadan besar yang merupakan Blackskull.

__ADS_1


"Kalian membunuh orang-orang kami, kau harus tahu konsekuensi dari tindakanmu. Kau akan merasakan neraka di dunia, kau akan merasakan hal yang lebih menakutkan daripada kematian."


Blackskull mengangkat tangannya, membuat semua orang mengangkat senjata mereka.


Natan menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. Dengan langkah kakinya, dia melesat seperti bayangan hitam yang pergi ke arah Blackskull.


Blackskull mendengus dingin saat melihat Natan yang berlari. "Serangan lemah. Bahkan anak kecil tahu ke arah mana kau menyerang."


Saat mengatakan itu, Blackskull langsung berbalik ke belakang seraya mengulurkan tangannya ke depan. Dia sangat percaya diri bahwa Natan berada di belakangnya karena dia sudah sering melihatnya.


Tapi yang didapatnya, kain hitam yang melayang di udara.


"Ketua!"


Blackskull sangat panik ketika mendengar teriakan anggotanya. Dia berbalik dan menunduk, melihat Natan yang sudah berada tepat di depannya.


Natan yang sedikit membungkuk di depan Blackskull, mengarahkan pistol di tangan kirinya ke paha Blackskull. "Aku akan mengembalikan apa yang kau katakan." Dengan itu, dia melepaskan tembakan.


Blackskull mengigit bibirnya, kemudian berteriak keras saat merasakan sakit di paha kanannya. Dia melihat sekeliling, menatap semua anggota yang tetap diam. "Sialan! Mengapa kalian diam?!"


"Ke- Ketua. An- Anda di sana, kami bisa membunuhmu ..." Salah seorang menjawab dengan gemetar.


"Tsk!" Blackskull berdecak. Dia mengangkat tangannya dan mengayunkannya ke arah Natan.


Natan masih dalam posisi sedikit membungkuk ketika melihat datangnya pukulan. Dia melepaskan tembakan lain di paha lain Blackskull, itu membuat Blackskull merasakan sakit saat pahanya berlubang dan mengeluarkan darah.


Blackskull terhuyung, tapi dia tetap mengayunkan tangannya.


Booom!


Debu tebal naik ke udara, menghalangi pandangan semua orang saat tangga itu jatuh. Tidak ada yang tahu apakah serangan Blackskull berhasil mengenai Natan.


"Wind..."


Angin berembus di dalam debu, membuat debu itu bertiup ke arah jendela dan kembali memperlihatkan apa yang ada di dalam debu.


Terlihat Blackskull yang sedang berlutut dan tertindih puing-puing. Kedua kakinya sudah dipastikan tidak bisa lagi digunakan apabila tidak disembuhkan, kedua kakinya terkena puing-puing dan itu patah.


Da da da! Da da da!


Terdengar suara tembakan yang keras dari lantai tiga yang langsung terhubung dengan lantai dua tanpa ada lantai.


Mendengar itu, semua orang menengadahkan kepalanya, mereka melihat Natan yang membawa senapan mesin.


"Menjauh!" Salah seorang berteriak.


Swoosh!


Tiba-tiba ada api yang membakar di sekeliling bangunan, itu terlihat jelas dari balkon seperti dinding api. Panasnya mulai menjalar ke dalam ruangan, membakar oksigen dan membuat napas mereka berat.

__ADS_1


Natan yang berada di lantai tiga, merasa sedikit kecewa saat menembak mereka semua. Awalnya, dia menganggap Skull Guild adalah guild yang sangat sulit diatasi, tapi ternyata mereka sangat lemah, tidak bisa bekerja sama. Semua anggota melakukan tugas hanya karena paksaan, dan apabila ada kesempatan untuk melarikan diri, mereka akan melarikan diri meski harus mengorbankan anggota sendiri.


"Kakak. Semua orang di sini sangat lemah, Ayumi hanya pakai satu skill, dan mereka semua terbunuh." Ayumi datang dari belakang Natan.


Natan menoleh ke belakang dan melihat mayat yang tergeletak. "Kau menyusup ke lantai tiga langsung?"


Ayumi menganggukkan kepalanya. Berdiri di samping Natan dan mengangkat tongkat sihir. "Kuro membantu Ayu ke lantai atas."


Tongkat sihir itu memancarkan sinar biru muda dengan embun es. Kemudian dengan ayunan tongkat, tiba-tiba panas es muncul dan melesat ke segala arah, menembus tubuh semua anggota Skull Guild kecuali Blackskull.


"Freeze." Ayumi menghentakkan tongkat sihir, membuat panah es yang telah menembus itu meledak dan membekukan tubuh yang telah tertembus.


Natan tersenyum tipis, dan saat melihat Ayumi yang tersenyum, dia merasa bersalah. Dia menepuk wajahnya. "Sial, dia sekarang sudah berubah menjadi mesin pembunuh," gumamnya.


Natan menggelengkan kepalanya dan melompat turun. Dia berjalan menghampiri Blackskull yang masih hidup. "Hanya kau sendiri yang tersisa. Jika kami membunuhmu sekarang, itu terlalu baik. Jadi, bagaimana jika kita bermain sebentar? Aku akan meminta adikku menyembuhkanmu, kemudian kita bertarung satu lawan satu."


Ayumi yang ada di lantai tiga, langsung menggunakan skilnya untuk menyembuhkan Blackskull.


Blackskull merasakan hangat di tubuhnya dan semua lukanya langsung membaik. Tanpa mengatakan apa pun, dia berdiri dan mengayunkan tangan kanannya.


Natan mendongak melihat Blackskull yang menyerang. Dia mengganti senjata di tangan kirinya dengan belati, kemudian menghindari pukulan Blackskull.


Natan menusuk pergelangan tangan Blackskull, kemudian mendorong belatinya sepanjang lengan Blackskull sampai ke pundaknya. Dia menariknya, lalu menusuk ke dada kanannya dan menariknya ke bawah sampai ke pinggang kiri.


"Ack!" Blackskull merasakan sakit di sepanjang lengan dan dadanya. Darah mengucur deras membasahi pakaiannya.


Natan berlutut di depan Blackskull. Menggunakan dua belati di tangan, dia menebas kaki dan paha Blackskull, membuatnya kehilangan keseimbangan karena rasa sakit.


Natan berdiri, mengayunkan kakinya dan menendang dada Blackskull dengan telapak kakinya.


Whooooosh!


Blackskull terhempas, menghantam dinding sampai membuatnya berlubang.


Natan berjalan menghampiri Blackskull. "Slave-Master, Fighter, Warrior. Tapi kau tidak berpengalaman sama sekali dalam pertarungan."


Natan mengeluarkan pedangnya, menusuk paha Blackskull sampai menembus lantai.


"Aarrggh—"


Natan menendang wajah Blackskull, menghentikannya agar tidak terus berteriak.


Blackskull terengah-engah, matanya masih memancarkan niat membunuh. "Kau! Earth of Eternity tidak akan membiarkanmu hidup!"


Natan mengangkat sebelah alisnya. Dia pernah mendengar tentang Earth of Eternity, mereka mengatakan adalah Player pelindung Bumi dan mencari anggota, tapi anggota baru yang sebelumnya aktif di Forum, setelah mereka bergabung, tidak ada kabar lagi tentangnya.


Dia curiga bahwa ada Player yang sama seperti Blackskull atau bahkan lebih kejam. Seperti menggunakan darah untuk meningkatkan kekuatan, tidak dalam segi level, tapi attribute. Sama seperti Buku Terkutuk yang dikatakan oleh Adrian.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2