
Natan ingin menanyakan mengapa mereka berdua bisa berada di hutan tandus yang mengering ini. Namun sebelum itu, ia ingin memberikan mereka kesempatan untuk membersihkan tubuh dan makan serta beristirahat di tempat yang lebih baik.
"Bangkit."
Bayangan Natan mulai bergerak-gerak dan terlihat puluhan Skeleton Knight yang bangkit, beserta dengan Mammoth Tank.
Skeleton Knight itu mengambil bangunannya dari dalam Inventory List Natan, yang kemudian mengangkatnya setinggi mungkin untuk diikat dengan tubuh Mammoth Tank.
Jia Meiya dan Xia Feiya tidak bisa menahan ekspresi mereka saat melihat rumah besar yang dibangun di atas Mammoth Tank.
Natan melompat terlebih dahulu ke atas lantai dua, kemudian membuka salah satu pagar balkon seraya menurunkan tangga yang biasanya ada di bangunan-bangunan, yang mana menghubungkan antar lantai.
"Kalian berdua naiklah, di dalam ada kamar mandi, dan kalian juga bisa memasak. Ada toilet, dapur dan juga kebun." Natan melihat Jia Meiya dan Xia Feiya yang masih terdiam dengan mata terbuka lebar.
"Kemudian untuk kamar, masih ada dua kamar yang kosong. Kamar kosong adalah kamar yang tidak memiliki papan nama."
Jia Meiya dan Xia Feiya masih terpana saat melihat Mammoth Castle maupun mendengar perkataan Natan yang benar-benar membuat air mata mereka menetes. Selama ini mereka berdua selalu lari, dan tinggal di gubuk kecil di balik batu besar.
Keduanya mulai menaiki tangga kayu setelah dituntun oleh Ayumi, yang kemudian tangga itu dinaikkan dan pagarnya juga ditutup.
Ayumi membawa keduanya untuk pergi ke lantai bawah, menuntun ke pemandian air panas dan menjelaskan tata cara penggunaan setiap alat yang ada di sana.
Natan melepaskan mantel hitam yang ia kenakan dan menggantungnya di gantungan baju berbentuk tongkat kayu. Kemudian ia duduk bersandar pada sandaran sofa untuk beristirahat karena lelah berjalan di hari yang sangat panas.
Begitu pun dengan Calista yang juga melepaskan semua jirah besi yang ia kenakan, serta melepas pengikat rambut dan membiarkannya terurai. Lalu tanpa malu atau ragu, ia langsung bersandar di dada Natan.
"Kakak Natan tidak tahu malu." Erina menutupi wajahnya dengan kedua tangan, namun matanya tetap terlihat di antara jari-jarinya.
Natan memiringkan kepalanya karena terhalang oleh Calista. "Bukankah Erina juga pernah duduk di pangkuanku."
"Tidak ada yang aneh, karena Erina adalah Adik Kak Natan."
Natan terdiam tidak bisa menjawabnya, dan akhirnya membuka Inventory Guild untuk mengambil air mineral kemasan botol. Memang tidak ada yang aneh dengan seorang adik yang meminta untuk diperhatikan lebih oleh kakaknya, dan ia yang sebagai kakak tentunya akan memperlakukan adiknya dengan baik.
"Apakah kalian berdua sudah berhubungan?" Vely memberikan tanda serta suara untuk memperjelas pertanyaannya.
"Pffftt!" Natan menyemburkan air minum sari dalam mulutnya.
Olivia berpindah ke belakang Erina dan menutup kedua telinga serta mata, karena masih terlalu dini bagi gadis berusia 14 tahun untuk mengetahui dunia dewasa. Bahkan, ia merasa Natan dan Calista juga terlalu awal.
__ADS_1
Natan menggelengkan kepalanya pelan, kemudian menjawab, "Belum sampai sana. Calista masih belum membiarkanku bertindak lebih jauh kecuali memeluknya seperti ini." Ia memeluk Calista dari belakang.
Calista menundukkan kepalanya, kemudian mendongak ke kanan melihat wajah Natan yang sangat dekat dengannya. "Apakah Natan ingin melakukannya?"
Ada yang berdiri saat mendengar suara Calista yang sangat menggoda di telinganya. Kemudian ia mendekatkan bibirnya ke telinga Calista dan balas berbisik, "Bolehkah?"
Calista menundukkan kepalanya dan mengangguk kecil. "I- Iya ..."
"Woah..." Vely dan Olivia membuka mulutnya lebar dengan wajah yang memerah saat mendengar obrolan itu.
Calista menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menyembunyikan wajahnya yang merah merona. Begitu pun dengan Natan, ia menyembunyikan wajahnya di leher Calista.
Puluhan menit kemudian, Ayumi, Jia Meiya dan Xia Feiya sudah datang kembali seraya membawa peralatan makan.
Jia Meiya dan Xia Feiya sudah benar-benar bersih, meski tubuh mereka masih terlihat kurus. Pakaian yang mereka gunakan sudah bersih, meski masih menggunakan pakaian yang sama.
Ayumi sengaja tidak mengembalikan keadaan tubuh mereka seperti semula, karena lebih baik memulihkan kekurangan berat badan dengan makan, ketimbang dengan kemampuan Healing Lv.10.
Makanan yang mudah dimakan bersama-sama seperti saat ini tentunya Sukiyaki dan Yakiniku. Kemudian karena di dalam Mammoth Castle ada air conditioner, jadi menyantap makanan panas tidak ada salahnya.
Jia Meiya dan Xia Feiya terlihat lapar, tapi mereka tidak berani mengangkat sumpit untuk mengambil daging, seperti ada ketakutan di wajah mereka.
Jia Meiya dan Xia Feiya menatap satu sama lain, kemudian melihat semua orang satu per satu seperti memastikan apakah boleh memakannya. Ketika semua orang tersenyum, barulah mereka berdua memberanikan diri untuk menyantap.
Tangis kebahagiaan menetes dari mata keduanya saat memakan makanan ini.
Ayumi, Erina, Vely, Calista dan Olivia mengetahuinya dengan baik perasaan bisa memakan makanan hangat. Kemudian mereka berlima menatap Natan secara bersamaan, dengan senyum indah yang terukir di wajah mereka seperti mengungkapkan rasa berterimakasih.
Natan makan dengan tenang mengabaikan tatapan mata mereka semua.
Belasan menit berlalu semenjak mereka menyantap makanan, dan masih banyak makanan di atas meja bundar. Akhirnya mereka memasuki pembicaraan yang dinanti-nantikan.
Natan mendongak menatap Jia Feiya yang duduk di seberang. "Bagaimana kalian berdua bisa berada di sini?"
Jia Meiya terlihat tidak semangat saat mendengar pertanyaan itu. Tapi, ia tetap menjawabnya, "Cuaca. Ada badai salju yang mengerikan dan monster-monster besar. Tapi, yang lebih mengerikan dari itu semua adalah kelompok manusia berkekuatan."
Natan tidak menyangka jika badai salju masih berlanjut, terlebih lagi hanya sebagiannya saja dan tidak merata. Kemudian tentang kelompok manusia, itu membuatnya penasaran. "Ada apa dengan kelompok manusia?"
"Rumor mengatakan kelompok manusia ini menemukan tambang berharga, dan menangkap manusia untuk diperbudak ..."
__ADS_1
Jia Meiya terdiam sejenak dengan kepala tertunduk, kemudian mendongak dan kembali melanjutkan perkataannya, "Kelompok manusia ini sangat kuat, bahkan membuat pemerintah tidak bisa mengambil tindakan."
Natan menganggukkan kepalanya dan melihat Player List, mencari tahu daftar-daftar nama yang menggunakan bahasa atau huruf China. Namun ia tidak menemukannya dalam Top 50 Player, yang artinya level mereka tidak lebih dari 250.
"Berapa jumlah anggota mereka?" Natan tidak akan segan-segan menghabisi semuanya, jika mereka memiliki niat yang tidak baik pada anggota timnya, terlebih lagi Calista, Ayumi dan Erina.
Jia Meiya menggelengkan kepalanya mengungkapkan ketidaktahuan.
Natan mengangguk kecil, kemudian kembali makan. Detik berikutnya, ia mendongak menatap Jia Meiya. "Kami berencana untuk pergi ke Sichuan, dan membangun markas di sana."
Jia Meiya tertegun dengan keringat yang mengalir. "Jangan, di sana sangat berbahaya!"
Natan memiringkan kepalanya. Bahaya apa yang tidak pernah dilaluinya. Bahkan saat melawan Fire Dragon, ia tetap melawannya dan berhasil memenangkan pertarungan.
"Banyak mayat hidup, dan dalam perjalanan juga sangat sulit untuk pergi," ucap Jia Meiya yang mencoba meyakinkan Natan untuk tetap tidak pergi.
Natan mengembuskan napas panjang, tidak ada yang perlu ditakutkan tentang Zombie yang tidak berkekuatan, kecuali jumlahnya yang banyak. Dengan serangan area Ayumi, Zombie-zombie itu bisa dibunuh dengan mudah.
"Tidak perlu khawatir, dalam perjalanan kami, kami sudah melewati banyak monster."
Kelima orang lainnya menganggukkan kepalanya, menekankan ucapan Natan.
Puluhan menit berlalu, makanan di atas meja sudah benar-benar bersih, dan dilanjutkan dengan es serut dingin. Namun Natan tidak bergabung dan memilih untuk pergi.
Natan mengambil mantelnya dan menyimpannya di Inventory List, kemudian pergi ke kamarnya untuk menggantinya dengan jubah handuk, dengan Calista yang mengikutinya dari belakang.
"Ada apa?" Natan menoleh ke belakang melihat Calista yang menutup pintu. "Aku ingin mandi ..." Ia berjalan melewati Calista.
"Tunggu." Calista menahan pergelangan tangan Natan. Kepalanya tertunduk melihat lantai yang ia pijak. "Aku, ingin mandi bersama denganmu."
Natan tertegun mendengar suara Calista yang sangat pelan, kemudian tanpa berpikir terlalu banyak. Ia menggendong Calista dengan kedua tangannya dan membawanya turun ke lantai satu untuk mandi bersama.
"Aku akan memakanmu."
Calista hanya diam dan membenamkan wajahnya di dada Natan.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...