
"Sudah lama aku tidak merasa seperti ini."
Natan Alexander berjalan di reruntuhan batu yang menghalangi jalan. Ia mengenakan masker yang menutupi setengah wajahnya, bukan hanya untuk menghalau debu, tepi juga menyembunyikan identitasnya.
Walaupun, ia sangat mencolok. Ada Sniper Rifle dan Lightning Spear yang menyilang di punggung. Black Dragon Sword di belakang pinggang, dan sekarang ia membawa pisau pendek di tangan kanan dengan pistol di tangan kiri.
"Hum?"
Layar interface muncul di depannya terus-menerus tanpa henti, ada pesan dari Calista yang kesal karena ditinggal begitu saja tanpa berpamitan.
Natan tersenyum tipis seraya membalas semua pesan hanya dengan satu kata saja 'Maaf'. Ia ingin mengabaikan semua masalah Armonia Guild, kecuali ada masalah penting yang sampai mempertaruhkan keberlangsungan Armonia Guild.
"Point Exp. Hanya aku yang mendapatkannya, mungkin karena aku terpisah dari tim lebih dari seratus kilometer." Natan mengamati Point Exp yang didapatnya selama ini.
"Tapi, aku tetap mendapatkan Point Exp dari yang dibunuh NPC."
Saat ini Natan berada di Tongliang District, 75 kilometer dari Kota Chongqing. Ia sengaja tidak langsung pergi ke kota untuk mendatangi shelter, ia ingin mendapatkan lebih banyak pengalaman lagi dengan membunuh monster saat dalam perjalanan.
Mungkin akan memakan waktu lama, tapi ini semua sepadan.
Natan yang sudah berdiri di atas reruntuhan, melompat turun ke jalanan yang penuh lubang dan retakan. Ia mengamati sekitar, tidak ada satu pun aura kehidupan, entah dari monster ataupun manusia dalam radius 250 meter. Tapi meski demikian, ia tidak melonggarkan kewaspadaannya, melainkan menguatkan penjagaan.
Ia tidak ingin apabila tiba-tiba ada monster yang datang dan menyerangnya diam-diam.
"Hah..." Natan mengembuskan napas panjang, merasa sangat sial. "Aku hanya asal berpikir, dan sekarang ada monster yang datang mendekat."
Kobold Lv.420 dari arah timur.
Walaupun merasa sial karena ucapannya ternyata terwujud, ia tidak melarikan diri dan memilih untuk menghampiri. Anggap saja ini sebagai latihan yang harus ia jalani untuk bertambah kuat, serta bersiap-siap untuk hal yang tidak diketahui ke depannya, mungkin belasan atau puluhan tahun.
Mungkin di kamar aku selalu kalah, tapi untuk urusan membunuh monster, tidak perlu ditanya lagi.
Natan berlari dengan kecepatan penuhnya menuju Kobold Knight yang ada di arah timur. Hanya membutuhkan belasan detik untuknya sampai, dan berhenti saat hanya belasan meter dari Kobold. Ia menunduk melihat kerikil kecil, lalu menendangnya keras.
Wush!
Kerikil kecil itu melesat bagaikan peluru yang ditembakkan dari senapan api, membelah udara mengarah pada Kobold Knight.
__ADS_1
Kobold Knight sedikit tersentak ketika kerikil kecil yang ditendang Natan, mengenai kepalanya dan meninggalkan bekas luka. Ada darah merah gelap berbau amis yang keluar dari dahinya, membuat amarahnya memuncak dan menargetkan Natan sebagai musuh.
Natan sudah tiba di depan Kobold Knight yang tidak mengenakan satu set perlengkapan. Ia sedikit membungkukkan dengan kedua lututnya yang ia tekuk, membuat tingginya hanya sejajar dengan dada Kobold Knight. Tangan kirinya tetap membawa pistol, dan tangan kanannya tetap membawa pisau pendek yang bagian tajamnya berada di bawah.
Kobold Knight mengangkat tangan kirinya hendak menyerang Natan. Ia tidak sempat mengambil pedangnya karena gerakan Natan yang sangat cepat dan sudah tiba di depannya, sehingga ia hanya menggunakan tangan.
Natan masih diam menunggu waktu yang tepat. Saat tangan Kobold Knight hampir mengenainya, ia mengangkat tangan kanannya seraya mendorong ke samping, menusukkan pisau militer ke lengan bawah Kobold Knight.
"Khakh!" Kobold Knight itu merasa kesakitan saat lengan kirinya terkena pisau. Ia sudah menarik pedangnya dari sarung yang ada di pinggang. Ia mengangkat tangan kanannya hendak menyerang Natan.
Natan melirik sekilas, mengangkat tangan kirinya dan melepaskan tembakan dari Pistol Mana.
Dorr!
Tembakan keras itu menembus bahu Kobold Knight, membuatnya kehilangan kekuatan untuk mengangkat lengannya.
Natan mendorong tangan kanannya, melukai lengan Kobold Knight sampai ke batas bahu. Tidak berhenti disitu saja, ia memutar pisaunya yang membuka luka lebih besar lagi, hingga dagingnya itu terputar karena pisau.
Ia mencabut pisau yang ia genggam, lalu menyerang Kobold Knight secara menyilang melukai dada maupun perutnya. "Mati!" Natan menusukkan pisaunya pada leher Kobold Knight, yang kemudian ia putar dan kembali mencabutnya.
Dorrr! Zrash!
Tembakannya mengenai tepat dahi monster yang ia lawan, menghancurkan kepalanya menjadi daging yang meledak dengan darah yang menyembur ke segala arah.
Tidak ada barang rampasan yang jatuh di jalanan setelah Kobold Knight berhasil dibunuh dan menghilang, karena barang yang didapat langsung tersimpan di dalam Inventory List.
Natan yang sekarang sudah tidak terlalu peduli dengan barang rampasan yang didapatnya. Ia hanya fokus pada cara bertarungnya seperti awal, saat ia masih sendirian yang sudah mendapatkan gaya bertarung. Ia sadar gaya bertarungnya sudah tidak seperti dirinya semenjak Armonia Guild terbentuk.
"Ini adalah perasaan yang memuaskan. Akhir-akhir ini aku hanya menunggu hasilnya, membiarkan NPC untuk menyerang atau Skeleton Squad."
Natan mengambil kain merah dari dalam Inventory List, kemudian membersihkan pisau penuh darah maupun tangannya.
"Jika satu jam menempuh jarak tiga kilometer, dan satu hari hanya bergerak selama delapan jam. Setidaknya akan memakan waktu tiga hari."
Natan mendongak melihat keadaan jalan yang rusak dan sepi, mobil-mobil bertebaran di jalanan, banyak yang terbalik serta bangunan yang runtuh. Melihat ini, ia menggelengkan kepalanya, merasa bahwa waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Kota Chongqing akan lebih lama, apalagi saat bertemu monster di perjalanan nanti.
"Lebih baik aku berlari." Natan melompati bongkahan batu yang menghalangi jalan di depannya.
__ADS_1
Banyak pesan pribadi yang masuk, pesan dari pasangannya yang kesal karena ditinggal, meski ia sudah meminta maaf. Kemudian, ketika ia tadi melihat Friend List, nama Mayor Arief sudah menghitam, yang artinya, sudah mati di luar sana.
Natan merasa sedikit sedih, karena Mayor Arief sudah ia anggap sebagai paman sendiri. Tapi, setelah perlakuan apa yang diterima Ayumi di Pangkalan Militer, ia membuang pikiran tentang Mayor Arief.
Ketika Matahari sudah berada di atas kepala, menyinari daratan dengan teriknya. Natan memutuskan untuk beristirahat di balik gedung yang sudah runtuh dan hanya meninggalkan dinding setinggi dua meter, cukup untuk bernaung dari teriknya matahari.
Karena tidak membawa perbekalan dan tidak memiliki keterampilan untuk memasak, Natan hanya memakan makanan ringan dan sebotol air gula untuk mengisi staminanya yang cukup terkuras karena teriknya matahari.
Natan yang duduk bersandar di dinding, sedikit berdiri seraya berbalik. Ia bisa melihat Gelombang Zombie yang menghalangi jalan utama, Zombie, Zombie Mutan, Zombie Soldier, Licker.
Natan kembali duduk bersandar, melihat berapa jumlah monster melalui Mapping.
Sial, aku memang pernah melawan Gelombang Zombie di dalam ruangan tiga kali tiga. Tapi, saat itu hanya beberapa ratus saja, dan sekarang ada lebih dari sepuluh ribu.
Jika menggunakan Skeleton Giant Crocodile dan Giant Knight, aku bisa menang dengan mudah. Tapi, tidak ada sensasinya.
Natan menoleh ke kanan saat melihat ada tikus kecil. Tanpa berbasa-basi, ia menusuk tikus kecil itu hingga mati terbunuh. Ia membangkitkan tikus itu menjadi salah satu pasukannya, tapi hanya sementara waktu saja.
Ia memasang granat tangan di tikus yang baru saja ia bangkitkan. Ia menarik pengaman granat, lalu membiarkan tikus itu pergi.
Natan berdiri memperlihatkan keberadaannya, membawa Black Dragon Sword dan Black Katana. "Kalian semua, datanglah!" Ia berteriak seraya mengarahkan pedangnya ke depan.
Teriakan Natan ini menarik perhatian semua monster yang ada, yang kemudian mulai berlari ke arahnya.
Natan tersenyum tipis seraya menghitung waktu. Hingga akhirnya, ada ledakan yang sangat keras dengan api yang menyala, api itu membumbung tinggi, membakar semua monster di barisan belakang.
"Akhirnya!" Natan kembali berteriak lantang, merasa bahagia setelah lama menunggu. "Aku naik level!"
"Tersisa sembilan ribu lima ratus tujuh puluh tiga. Masih banyak, tapi tidak masalah." Natan menyeringai dingin, lalu menekan kakinya di tanah sebagai pijakan, kemudian melesat tajam menerjang Gelombang Zombie.
Tidak ada rasa takut, hanya ada rasa bahagia dan adrenalin dirinya yang naik. Ia sangat senang setelah sekian lama tidak mendapati situasi seperti ini.
...
***
*Bersambung..
__ADS_1