Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 202 : Wilayah Ras Elf


__ADS_3

Whooooosh!


Anak panah melesat membelah udara, menimbulkan siulan panjang karena gesekan antara anak panah dengan angin di sekitarnya.


Anak panah itu tidak melukai Natan, tapi menancap beberapa belas inci di tanah di depannya. Jelas, ini digunakan untuk memperingatinya agar tidak masuk lebih dalam ke Wilayah Ras Elf.


Natan tetap tenang ketika melihat anak panah, tapi tidak dengan adik-adiknya yang sudah bersiap-siap untuk membalas serangan.


Dia mengusap kepala keduanya untuk menenangkan mereka dan memintanya menurunkan senjata. "Tenang ..."


Setelah memenangkan keduanya, Natan mengeluarkan tanda yang diberikan Ainsley. "Kami datang atas perintah Ain ... Yang Mulia Ratu Ainsley Camelia."


Wajahnya sedikit memerah, menahan rasa malu karena harus memanggil Ainsley dengan rasa hormat seperti itu. Biasanya, dia bahkan tidak bersikap sopan di depan Ainsley, dan sekarang, harus seperti ini. Saat dia pulang nanti, dia harus meminta hadiah, senjata terbaik atau skil yang sangat langka.


Mendengar pengenalan Natan, terdengar suara gemerisik daun di balik pohon. Kemudian, Natan melihat ada pilihan Elf berambut kuning cerah dengan mata biru, telinga runcing, dan mengenakan pakaian hijau seperti daun.


Natan melihat mereka sangat cantik, dan bahkan kesulitan untuk membedakan antara pria dan wanita. Tapi karena ada Appraisal, dia bisa tahu siapa yang pria dan siapa yang wanita.


Pihak lain tidak menurunkan busur panah, berbaris di depan hutan. Tapi entah mengapa, tiba-tiba mereka berbaris, membelah barisan dan ekspresi mereka nampak penuh hormat.


Natan menunggu, dan akhirnya dia bisa mendengar langkah kaki.


Dia bisa melihat kaki mulus yang indah, kemudian wujud aslinya terus terlihat saat sosok yang dihormati itu keluar dari balik bayangan yang dihasilkan oleh dedaunan yang menghalangi sinar matahari.


Ketika melihat sosok yang dihormati, Natan sedikit tercengang, tapi hanya seperkian Derik, dia kembali tenang. Harus diakui, sosok itu sangat cantik, melihat melalui Appraisal, dia bisa mengetahui bahwa itu adalah Ratu Elf yang sekarang, Aniela Camelia.


Aniela Camelia melangkah dengan dan lembut, kemudian berhenti sekitar sepuluh meter di depan Natan. Dia melihatnya dari atas ke bawah, bawah ke atas dan bertanya, "Apakah kau mengatakan yang sebenarnya?"


Natan mengangguk, dia berpura-pura mengambil barang di saku celananya, dan menyerahkan amplop berwarna hijau serta Elf's Pendant. "Yang Mulia Ratu Ainsley Camelia memberikan ini, dan memintaku untuk memberikannya padamu. Aku tidak tahu isinya, aku hanya diminta menyerahkannya."


Bahkan meski dia tidak membaca isinya, dia sudah bisa menebaknya.


Aniela Camelia mengambil Elf's Pendant, tiba-tiba tercengang dengan mata terbelalak. Dia bisa merasakan sihir yang sama, dan ini memang tanda yang harus dimiliki oleh Ratu Elf.

__ADS_1


Tapi Aniela tidak mempercayainya begitu saja, dan memilih untuk melihat isi surat yang diberikan.


Ekspresinya terus berubah-ubah saat membaca surat, dan sesekali dia melihat wajah Natan dengan ekspresi rumit yang tidak bisa dijelaskan. Dia sendiri sangat yakin dengan surat ini, surat ini 100% berasal dari Ainsley Camelia.


Siapa Ainsley Camelia? Tidak hanya Ratu Pertama dari Ras Elf, tapi juga nenek Aniela. Nenek di sini bukan karena ibunya lahir langsung, tapi karena Ainsley memberikan darah ke Pohon Elf, dan menggunakan energi dari Pohon Elf itu untuk membuat keturunan.


Adapun siapa saja yang boleh memakainya, hanya Ratu Elf. Kemudian, Aniela lahir tidak sama seperti ibunya yang lahir dari Pohon Elf. Aniela dilahirkan secara normal, karena ibunya memilih cara lain, yaitu menikah.


"Kau ..." Aniela menggaruk kepalanya.


Tingkat Aniela ini menarik perhatian yang lain, dan ini sangat membingungkan. Karena bagaimanapun, biasanya Aniela sangat tenang, tidak seperti sekarang yang sedikit bingung dan panik.


"Haruskah aku memanggilmu dengan sebutan “Kakek”?"


Mendengar itu, tidak hanya Natan, bahkan semua Elf di belakang Aniela tertegun. Kemudian saling memandang, seolah ingin memastikan apakah ada yang salah dengan pendengaran mereka.


Natan menatap Aniela dengan bingung, kemudian dia melihat surat yang digenggam. Dengan tangan gemetaran, dia menunjuk surat dan bertanya, "Ap- Apa yang tertulis di sana?"


Dengan kepala tertunduk, Aniela menjawabnya malu-malu, "Ne- Nenek mengatakan, kau adalah calon suaminya."


"Tunggu ..." Natan merasa ada sesuatu yang salah. "Nenek? Dia sudah pernah menikah?"


"Belum pernah ..." Aniela menggelengkan kepalanya, kemudian dia menjelaskan tentang bagaimana Ainsley bisa memiliki keturunan.


Natan mengangguk berkali-kali, dan entah mengapa dia menghela napas lega. Tepat saat telah menghela napas, dia menertawakan dirinya sendiri di dalam hati, dia sering mengatakan bahwa tidak ingin berhubungan dengan Ainsley, tapi sekarang, dia malah lega saat mengetahui bahwa Ainsley tidak pernah menikah.


Aniela berdiri di samping, mengarahkan tangannya ke dalam hutan. "Kakek, bagaimana kalau kita berbicara di dalam."


"Tunggu ..." Natan menahannya. "Aku dengar Ras Elf sangat membenci Ras Manusia, tapi mengapa kau sangat baik?"


Aniela tersenyum tipis dan menjawab, "Walaupun kami membenci manusia, kami juga berdagang dengan mereka untuk sumber daya. Tapi, ini tidak menjadi alasan kami menghilangkan kebencian, ada manusia yang menangkap kami untuk budak. Namun, dari surat ini ..." Ia melambaikan tangannya yang membawa surat, dan menambahkan, "Nenek mengatakan bahwa kau sangat baik, dan ... dia ingin kami menghormatimu."


Natan terdiam, dan menggaruk kepalanya. Dia ingin membaca isi surat itu, tapi dia tahu, huruf yang digunakan berbeda. Meski dia bisa memahami bahasa orang lain dengan skil, tapi tidak dengan huruf.

__ADS_1


Aniela menunduk melihat Ayumi dan Erina yang berdiri di balik tubuh Natan, hanya memperlihatkan kepalanya saja. "Siapa mereka berdua?"


Natan menunduk, mengusap kepala keduanya yang bersembunyi. "Mereka adikku."


Aniela mengangguk, kemudian sekali lagi meminta Natan pergi bersama.


Natan tidak menolaknya, berjalan mengikuti Aniela yang memimpin. Ketika sampai di permukiman, dia melihat pepohonan semakin besar, dan banyak rumah-rumah yang dibangun belasan meter dari permukaan tanah.


Di rumah pohon, banyak Elf yang menunduk untuk mengamati Natan. Tapi saat melihat Aniela, tiba-tiba mereka semua melompat turun, dan berlutut untuk memberikan salam.


Ayumi dan Erina memeluk pinggang Natan saat berjalan. Meski keduanya sangat berani, tapi ada kalanya malu-malu seperti ini, di mana menjadi pusat perhatian.


Natan tertawa kecil melihat keduanya seperti ini. Sudah lama semenjak terakhir kali mereka bersikap malu-malu, dan ini membuatnya ingin mencubit pipi mereka berdua.


...


Setelah berjalan beberapa menit, mereka sampai di tirai sulur dengan bunga berbagai warna yang menghalangi di depannya.


Dengan lambaian tangan Aniela, sulur-sulur itu terbuka seperti gorden.


Cahaya yang menyilaukan muncul, membuat Natan menutup matanya. Beberapa detik kemudian, penglihatannya kembali normal dan dia bisa melihat apa yang ada di depannya.


Dia bisa melihat pohon yang sangat besar, itu mungkin Pohon Elf yang dimaksud. Diameternya sekitar lapangan sepak bola, dan di kelilingnya ada istana yang terbuat dari akar pohon, istana itu sangat besar, dipenuhi oleh dedaunan dan bunga-bunga berbagai warna.


Meski dia tidak terlalu menyukai bunga, tapi harus diakui, pemandangan di depannya sangat indah. Tapi segera, dia tersenyum masam, dia ingin membawa istri-istrinya melihat ini, tapi dia tahu sebentar lagi semua Ras Elf di Lantai 28 akan ikut bersamanya. Dia tidak tahu apakah Pohon Elf ini bisa dibawa bersama.


"Ayo masuk."


Natan tersadar ketika mendengar suara Aniela. Dia mengangguk, mengambil langkah menaiki anak tangga di depannya yang terbuat dari akar pohon.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2