Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 222 : Mengobrol dengan Paman dan Bibi


__ADS_3

Andre menghela napas dengan emosi yang tak tertahankan, dia menoleh menatap ibunya di samping kanannya.


Wanita yang terlihat muda, tapi masih memperlihatkan usia tiga puluhan itu menggelengkan kepalanya dengan ekspresi sakit.


Harry yang berada di samping istrinya, menghela napas. "Ketika monster tiba-tiba menyerang, itu saat kami sedang berada di bandara untuk kembali ke Indonesia, kemudian kekacauan terjadi saat itu juga. Banyak orang yang berdesak-desakan, terinjak-injak dan mati, kami bisa selamat karena berada di jalur berbeda di mana membayar mahal, jadi kami tidak perlu berbaris dan berdesak-desakan."


"Kemudian militer datang menyelamatkan, membawa semua orang ke kamp pengungsian. Hidup di sana cukup mengenaskan, status dan kekayaan tidak bisa membuatmu diperlakukan lebih. Keluarga kami berkali-kali hampir dirampok, terutama negara sana sangat berbahaya terhadap orang dengan warna kulit yang berbeda."


"Sampai satu bulan yang lalu, kamp penampungan diserang, orang kulit hitam dijadikan budak pekerja, dan yang lain akan dijadikan budak lain, dan keluarga kami dijadikan bahan makanan."


Natan mengerutkan keningnya. "Kalian tinggal selama satu tahun di kamp pengungsian?"


Harry menganggukkan kepalanya. "Ya, begitulah. Walaupun hidup sulit, kami memiliki kemampuan nyata dalam artian sebenarnya, bukan kemampuan Player."


Ya, Natan bisa melihatnya melalui Appraisal kalau level mereka sangat rendah, bahkan anak kecil yang bermain ketapel di Kota Armonia bisa membunuh mereka berempat tanpa perlawanan.


Natan menatap Andre di depannya. "Kau memiliki pengetahuan dalam komputer, kami di sini memiliki perangkat yang serupa, tapi menggunakan sihir. Mengapa kau tidak mempelajarinya dan membuat game sebagai hiburan? Tempat ini tidak ada hiburan untuk orang dewasa selain berburu dan berlatih pedang."


Andre merenung dengan kepala tertunduk, lalu mendongak menatap Natan. "Apa kau memintaku untuk membuat game? Meski aku biasa melakukannya saat SMP, tapi kemampuanku terbatas, aku hanya bisa membuat game 2D sederhana."


"Tidak masalah, buat apa pun." Natan memukul ringan meja di depannya. "Asalkan aku bisa mengalahkan istriku, aku sudah puas."


Calista yang mendengar itu, tidak bisa menahan tawanya. Dia sering diajak berduel dalam game yang dimainkan mereka dulu, tapi Natan tidak pernah memenangkannya sekalipun— Tidak! Natan pernah menang, ketika memenangkan hatinya.


Andre melihat Natan dan Calista secara bergantian, dia tidak tahu game apa yang dimainkan, tapi sepertinya itu adalah game online yang populer beberapa tahun lalu.


Natan kembali duduk, dia menatap Calista di sampingnya. Dia mencubit pipi Calista dengan lembut dan berkata, "Sepertinya kau senang."


Calista tertawa kecil dengan senyum yang menggemaskan. Dia mengusapkan kepalanya di bahu Natan dan menutup matanya.


Fanny, istri dari Harry, menatap Natan dan menoleh menatap putranya sendiri, Andre. "Andre, kapan kau akan mencari istri dan memberikan Ibu cucu?"


"Ibu?!" Andre terkejut ketika mendengar pertanyaan itu, dia menatap Natan dan menunjuknya. "Aku berbeda dengannya, aku masih berusia sembilan belas tahun."


"Hei!" Natan sedikit berteriak. "Kau mengatakannya seolah aku sudah sangat tua, ingat, aku lebih muda darimu."


Andre memutar matanya dan mendengus kesal. "Kau hanya lebih muda tiga hari. Berbicara tentang menikah, aku ingat kau selalu menolak saat ada yang mengungkapkan perasaan, dan bisa dibilang kau sangat bodoh dalam bidang ini. Mengapa kau bisa memiliki istri? Terlebih lagi, langsung tiga."


"Ah..." Natan membuka mulutnya dan tidak bisa berkata-kata, dia memalingkan wajahnya dengan matanya yang kosong mengungkapkan ingatan mengerikan yang tidak bisa dijelaskan.

__ADS_1


Sampai saat ini, dia masih mengingat hari di mana dia dihancurkan oleh tiga wanita bersama-sama semalaman tanpa bisa melawan sama sekali. Tapi setelah hubungan mereka jelas dan melakukannya berkali-kali tanpa adanya Light of Battlefield, dia merasa nyaman-nyaman saja dan bahkan menyenangkan saat para wanita memimpin.


Vely, Calista dan Olivia tertawa kecil saat melihat ekspresi Natan. Ketiganya memahami apa yang dipikirkan Natan, dan sampai saat ini mereka sering melakukannya meski sedang hamil, walaupun hanya dengan tangan, mulut dan dada.


Natan menghela napas, dia menatap Andre dan berkata, "Lebih baik kau tidak mengetahuinya, ini menyakitkan bagi seorang pria."


Andre diam tidak memahami.


Harry dan Fanny menatap satu sama lain, kemudian keduanya tertawa. Keduanya yang sudah menikah sangat lama, tentu tahu maksud dari perkataan Natan, dan dari sini mereka tahu bahwa Natan diserang oleh tiga wanita bersama-sama.


Sebagai pasangan suami istri yang harmonis, mereka berdua melalukan drama saat berhubungan, bahkan cosplay. Tapi, ini adalah rahasia terdalam yang tidak boleh diketahui oleh siapa pun.


Gadis kecil yang duduk di samping Andre bernama Wanda menatap Natan. "Kak Natan, apa tidak ada teman yang seusia Wanda? Yang memiliki bahaya yang sama, orang-orang di sini menggunakan bahasa Mandarin, Wanda tidak memahaminya."


Natan tersenyum, dia menunjuk ke luar melalui jendela. "Lihat di sana, mereka berdua adik-adikku, usianya sepantaran denganmu."


Wanda menoleh dan melihat dua gadis berambut panjang yang duduk di tepi kolam air mancur, membawa kantong kertas berisikan camilan: roti kering, daging tusuk, sate lilit, sate cumi dan lain sebagainya.


"Mereka Ayumi dan Erina, mereka selalu berdua. Usianya baru lima belas tahun, harusnya kalian berdua bisa bergaul."


Ayumi dan Erina sadar, keduanya mendongak melihat ke arah jendela.


Natan yang duduk di samping jendela setelah Vely, melambaikan tangannya. "Mari kita pergi ke Eropa besok lusa!" Ia sedikit berteriak.


Andre membuka mulutnya hendak berkata, tapi didahului oleh Vely:


"Mengapa terburu-buru? Bukankah harusnya tinggal selama seminggu dulu sebelum pergi?"


Natan mengusap kepala Vely dan mengecup keningnya. "Karena aku hanya pergi satu hari kemarin, padahal aku mengatakan akan kembali setelah dua minggu pergi. Tapi, kali ini aku berniat membawa kalian bersama, aku tidak tega meninggalkan kalian, apalagi saat bangun pagi, aku merasa hampa karena tidak bisa melihat senyuman kalian."


Andre tertegun dengan mulut terbuka, kemudian dia menjulurkan lidahnya merasa mual. "Aku tidak tahan lagi ..." Ia menatap tajam Natan. "Beri aku cara cepat untuk belajar bahasa Mandarin, aku ingin mencari pacar di sini."


Natan menoleh, memutar matanya. Dia tidak banyak omong kosong, dan langsung memberikan 1.000.000 Gold pada Andre. "Pergi ke Toko System di barat kota, kau bisa menemukan bangunan besar di sana, kau bisa membeli skill yang sesuai. Harganya hanya 100.000 Gold, sisanya bisa berikan ke Paman, Bibi dan Wanda."


"Kalau begitu aku pergi." Andre mengambil paha ayam di atas meja, kemudian pergi.


Fanny tersenyum melihat putranya yang akhirnya berkeinginan untuk mencari pacar.


Natan menatap Wanda yang tertunduk, fokus pada makanannya. "Ngomong-ngomong, kau masih tetap pendek seperti dulu, Wanda."

__ADS_1


Wanda mendongak, dia menghela napas dan mengeluh. "Kakak..."


"Siapa ini?"


Tiba-tiba datang suara dari luar jendela, membuat semua orang menoleh dan terlihat Ayuni dan Erina yang muncul meski hanya kepalanya saja.


Ayumi terbang, lalu mendarat di samping meja, dia berjalan dengan hati-hati melewati Vely dan duduk di pangkuan Natan.


Natan mengusap kepala Ayumi. "Kau sudah tinggi, tidak lagi setinggi pinggangku, bisakah duduk di tempat lain?"


"Tidak ..." Ayumi menggelengkan kepalanya. "Ini adalah tempat terbaik."


Natan menghela napas, lalu dia melihat Erina yang duduk di pahanya yang lain, duduk di samping Ayumi.


Untungnya sofa yang mereka pesan cukup panjang dan nyaman, muat untuk sepuluh orang duduk bersama.


Erina mengusap perut Vely dengan lembut. "Sebentar lagi Erina akan menjadi Bibi, Erina harus mencari hadiah."


Harry tertawa kecil melihat Natan. "Kau benar-benar populer, bahkan saat kau bermain di rumah kami dulu, putri kami senang sekali duduk di pangkuanmu."


Olivia yang duduk di samping Calista, sedikit menunduk ke kiri untuk bisa menatap Natan. "Sayang, ternyata sangat populer."


Natan menutup mata. "Aku tidak ingin mendengarnya dari orang yang terus mendapatkan surat cinta setiap hari saat masih sekolah." Ia mendengus dengan sedikit kekesalan dan cemburu.


Olivia tertawa melihat Natan yang kesal.


Ayumi melihat steak daging di atas meja, dia memotongnya dan mengangkatnya dengan garpu. "Kakak."


Natan melihat daging di depannya, dia membuka mulutnya dan memakan daging itu, kemudian mengusap kepala Ayumi dengan lembut. "Terima kasih."


Kemudian dia meminta Ayumi dan Erina untuk turun dari pangkuannya; dia merasa tidak sopan seperti ini saat sedang berbicara dengan orang yang lebih tua di depannya, dan Ayumi maupun Erina pun mengerti, sehingga duduk di ujung sofa.


Pembicaraan terus berlanjut, tapi tidak lagi membahas tentang hal sedih maupun Player, melainkan hal-hal kecil seperti makanan kesukaan dan hobi, termasuk masa-masa saat Natan menginap di rumah keluarga Harry.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2