
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Ayumi membangun sebuah tempat beristirahat di atas atap bangunan. Natan juga sudah membawa monster tak berdaya dengan jumlah dua kali dari Skeleton Knight, dengan level enam puluhan.
Monster yang dibawa Skeleton Knight adalah Serigala Gunung, yang harusnya tidak muncul di perkotaan, namun entah mengapa bisa ada di sini.
"Kakak, bunuh monster ini." Natan menyerahkan pisau militer yang tajam pada Vely. Ia bisa saja meminjamkan pistol, namun itu terlalu mudah, tidak akan bisa merasakan sensasi melukai dengan tangan.
Vely menerima pisau yang di tangan Natan, kemudian menatap monster-monster yang tergeletak di atap. Membunuh ayam kecil untuk makanan sudah pernah, namun tidak dengan monster bertaring tajam.
Vely menenangkan pernapasannya, kemudian berjongkok seraya menusuk kepala Serigala Gunung.
Darah memercik mengenai wajah dan tangannya saat membunuh monster. Ia hampir menangis namun ia tahan, mencoba untuk tetap di depan Ayumi dan Erina.
Natan tersenyum tipis melihat Vely yang membunuh Serigala Gunung berwarna abu-abu. "Aku akan terus membawakan monster sampai levelmu mencapai seratus."
Vely tertegun dengan mulut terbuka lebar, kemudian mengangguk pelan. Senyum tipis terlihat di wajahnya, namun hatinya berteriak dan menangis karena harus terus-menerus membunuh monster yang dibawa.
Setiap tiga menit sekali, Skeleton Knight akan datang membawa monster-monster yang kehilangan anggota tubuh untuk melarikan diri dan menyerang.
Natan ingin sekali membangkitkan dua Skeleton lagi, namun ia belum mendapatkan yang sesuai dengan keinginannya. Setidaknya ia sedang mencari Skeleton Archer dan Mage, untuk menambah daya serang Guild Armonia saat ini.
Belasan menit berlalu semenjak Vely membunuh monster. Akhirnya ia meminta untuk beristirahat karena sudah tidak sanggup lagi membunuh lebih banyak. Ia benar-benar kelelahan dan ingin beristirahat, karena saat di Pangkalan Militer, ia tidak bisa beristirahat dengan tenang.
Salah satu alasan tidak bisa tenang, adalah karena ia tidak ingin menjadi manusia yang terbunuh dan dijadikan bahan makanan.
"Baiklah, Kakak bisa istirahat. Kita akan melanjutkannya lagi, kalau begitu, aku akan mengundang Kakak untuk bergabung dengan Guild Armonia." Natan membantu Vely untuk berdiri, kemudian membuka layar interface untuk mengundang Velg ke dalam Guild.
"Hem?" Natan menaikkan sebelah alisnya saat melihat perubahan statistik Vely yang bertambah, bukan karena Point Status, melainkan karena bergabung dengan Guild Armonia.
Natan sendiri sudah bisa melihat informasi Vely lebih lengkap dari sebelumnya. Mungkin ini karena adanya kepercayaan, tapi setelah mencapai level maximal, tidak perlu kepercayaan, ia akan bisa melihat semua informasi yang ada.
Tapi Natan memilih untuk meminta Vely menunjukkannya langsung, karena ada beberapa hal yang tidak bisa dilihat, seperti jumlah Point Skill yang dibutuhkan untuk menaikkan level skill.
[Nama : Vely Anindya]
[Ras : Manusia]
[Usia : 25 Tahun]
[Level : 59 (6.600/19.250)]
[Job : White Mage/Psychilog]
[HP : 24.200 [24.200/24.200] [2840/m]
[MP : 5575 [5575/5575] [259/m]
[STR : 55 (+15)]
[VIT : 107 (+15)]
[AGI : 107 (+10)]
__ADS_1
[INT : 57 (+30)]
[DEX : 107 (+10)]
[LUCK : 100 (+10)]
[Point Status : 140]
[Point Skill : 245]
[Money : 1.484 Gold]
[Friend : 3]
[Team : 0]
[Guild : 4]
[Player List : -]
[Forum : 99+]
[Skill Pasif : [Calming the Mind Lv.05 (0/25)] — [Menusuk Lv.02 (6/15)]]
[Skill Aktif : [Raise Lv.01 (0/5) 250MP]]
White Mage? Raise?
Ayumi dan Erina datang menghampiri, melihat layar interface milik Vely.
"Baik." Vely mengangguk kecil dan mendistribusikan Point Skill untuk meningkatkan Skill Raise ke level pertengahan, dan menyisakan Point Skill untuk kemampuan yang ia dapatkan nanti.
Vely juga mendistribusikan Point Statusnya untuk meningkatkan statistik, setelah mendapat penjelasan lebih lanjut dan ingatan dari game yang pernah ia mainkan.
Ayumi mengalihkan perhatiannya dari layar interface milik Vely ke arah Natan seraya menarik-narik kain jubah. "Kakak, Ayu sudah membangun kolam air panas, dan sudah memisahkannya menjadi dua ruangan."
Natan menunduk menoleh ke kiri belakang menatap Ayumi. "Terimakasih." Ia tersenyum hangat dan mengusap lembut puncak kepala Ayumi.
Ayumi memejamkan matanya seraya terkekeh kecil menikmati usapan lembut dari tangan Natan.
"Mandi!?" Vely berteriak kaget saat mendengar kolam air panas. Sudah lama ia tidak mandi, dan sudah lupa kapan terakhir kali membersihkan diri.
Natan tersenyum tipis dan memasuki ruangan berbeda untuk berendam air panas. Ia tidak perlu khawatir tentang penjagaan, karena memiliki Kuro dan 14 Skeleton Knight.
***
Keesokan Harinya
Natan terbangun dari tidurnya dan membuka matanya perlahan. Dengan kedua tangan menyentuh kasur, ia menopang badannya untuk duduk seraya merenggangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Tidurnya sangat nyenyak sekali, meski Mapping menangkap ratusan monster yang mengepung rumah di mana mereka beristirahat saat ini.
__ADS_1
Natan berdiri dari tempat tidurnya dan menyimpannya ke dalam Inventory Guild, kemudian berjalan keluar dari rumah minimalis. Ia melihat banyak sekali monster di bawah rumah, yang merupakan Zombie Soldier.
"Skeleton, putuskan kaki dan tangan mereka, serta lepaskan lidah yang menganggu. Kemudian bawa mereka naik."
Skeleton Knight kembali berlutut sebelum melakukan tugasnya.
Vely yang terlambat bangun karena tidur sangat nyenyak, terkejut saat ia keluar melihat sudah banyak sekali monster yang tergeletak. Terlebih lagi monster itu adalah Zombie yang sangat mengerikan dan menjijikkan.
Walaupun sangat menjijikkan dan Vely tidak menyukainya, ia tetap harus membunuh untuk tidak menjadi beban. Apalagi ia adalah Player dengan level terendah di Guild Armonia, ia juga sudah diberi tahu untuk tidak memberitahukan level kepada orang lain, agar tidak diburu oleh Player Killer.
"Kakak, monster di sini tidak terlalu banyak. Sebelumnya kami melawan belasan ribu monster." Natan menghampiri Vely yang terduduk lemah dan kedua tangannya menggantung tak bertenaga. "Selamat, karena sudah berhasil mencapai level sembilan puluh." Ia mengusap lembut puncak kepala Vely.
Vely mendongak menatap Natan. "Jangan perlakukan Guru dan Kakakmu seperti anak kecil," ucapnya kesal dengan pipi menggembung.
Natan tertawa kecil saat melihat Vely yang kesal, dan tidak menghentikan gerakan tangannya yang memainkan rambut Vely.
Setelah cukup puas, Natan berganti dengan memainkan puncak kepala Ayumi dan Erina. Kedua Adiknya sangat senang saat kepala mereka diusap, terlebih lagi saat sedang tertidur.
Vely merapikan rambutnya yang berantakan seraya melihat Ayumi dan Erina yang tidur di paha Natan. "Aku sudah memikirkannya dari kemarin, apakah mereka berdua adalah adik perempuan yang kau ceritakan dulu? Yang sudah lama terpisah?"
"Iya, aku menaikkan level setinggi mungkin karena mereka berdua. Aku ingin melindungi keduanya, karena mereka termasuk salah satu alasan mengapa aku berjuang," jawab Natan tersenyum hangat melihat Ayumi dan Erina.
Natan mulai menceritakan tentang pertemuannya kembali dengan Ayumi dan Erina sebulan yang lalu, di mana keadaan mereka berdua sangat mengenaskan. Hampir terbunuh dengan penyakit yang menyerang.
Ketika Vely mendengarnya, ia mulai meneteskan air mata. Sebagai Psikolog, tentunya ia mengerti betul tentang rasa sakit yang dijalani kedua gadis kecil. Bagaimanapun, ia yang sudah dewasa saja hampir gila karena tersiksanya di Pangkalan Militer.
"Tiga jam lagi kita akan melanjutkan perjalanan, dan saat pukul enam sore, kita akan beristirahat. Karena pada saat malam hari, monster akan lebih sensitif dan kuat. Sangat tidak dianjurkan untuk melawannya, meski level kita cukup tinggi," ujar Natan yang masih memberikan Ayumi dan Erina tidur di pahanya.
Vely menganggukkan kepalanya, dan membuka layar interface untuk mendistribusikan Point Status yang ia dapat, serta Point Skill untuk meningkatkan kemampuan yang baru saja ia beli dari NPC Shop.
Waktu terus berjalan dan sinar matahari tepat mengenai mereka, menandakan sudah memasuki pertengahan hari.
Natan menepuk-nepuk ringan punggung Adik-adiknya untuk membangunkan mereka berdua. "Kalian berdua, bangun, kita akan berangkat sekarang."
"Fue?" Ayumi membuka matanya perlahan dan terlihat air mengalir dari sudut bibirnya, yang membahasi celana Natan.
"Ayo berangkat." Natan mengeluarkan dua sapu tangan bersih dan membersihkan wajah mereka berdua.
Natan berdiri dan menghancurkan bangunan yang digunakan sebagai tempat beristirahat, setelah membersihkan wajah Ayumi dan Erina. Alasan mengapa ia menghancurkan tempat tinggal adalah untuk menghilangkan jejak, mereka tidak ingin hal ini diketahui, apalagi fakta tentang mereka yang memiliki banyak sekali persediaan makanan.
"Kalian bertiga naik ke atas punggung Kuro."
Tubuh Kuro yang sekarang sudah mampu membawa empat orang dewasa, namun Natan memilih untuk berjalan kaki. Setidaknya saat Kuro semakin besar lagi, barulah ia akan bergabung di sana.
Untungnya struktur tulang Kuro sangat cocok untuk ditunggangi, tidak seperti gajah yang tidak cocok dan sangat berbahaya bagi gajah itu sendiri.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1