Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 037 : Vely Anindya


__ADS_3

Satu kilometer sebelum tiba di Pangkalan Militer, Natan memutuskan untuk menyimpan semua Skeleton di bawah bayangan Ayumi dan Erina. Ia juga mengembalikan Kuro di dalam bayangannya.


Untuk perlengkapan yang mereka gunakan, mereka menyimpannya di dalam Inventory Guild dan hanya menggunakan yang tidak terlalu mencolok, seperti pedang, sniper dan tongkat sihir.


"Kalian berdua bisa melawan monster tanpa menggunakan senjata, tapi pastikan jangan bertindak gegabah."


"Baik." Ayumi dan Erina mengangkat tangan mereka yang berlawanan, karena tangan mereka yang lain digenggam Natan.


Jika dilihat, mereka bertiga seperti kakak adik pada umumnya yang berjalan-jalan. Tidak akan ada yang menyangka jika mereka adalah World's Top 3 Player.


Tujuh menit kemudian semenjak mereka berjalan kaki. Jarak yang mereka tempuh hanya 500 meter lagi untuk sampai, dan mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di trotoar yang cukup luas.


Natan membiarkan Adik-adiknya memasak, dan ia berjalan ke sekitar mencari senjata yang bisa digunakan untuk membunuh monster. Akhirnya, ia memilih untuk menggunakan pipa besi yang digunakan untuk rambu-rambu lalu lintas.


"Sudah lama aku tidak menggunakan pipa besi sebagai senjata." Natan memukulkan pipa besi dengan pelan di telapak tangan kirinya. Kemudian ia menggantungkan pipa besi itu di belakang punggungnya dengan cara mengikatnya menggunakan kain.


Setelah mendapatkan senjata yang dirasa cukup, Natan kembali menghampiri Adik-adiknya yang sedang memasak makanan yang terbilang sangat mewah. Persediaan mereka sangat banyak, bahkan menghabiskan lebih dari 850.000 Gold hanya untuk membuka lebih banyak lagi slot Inventory Guild.


Beras, mereka memiliki 1000 karung yang tiap karungnya dengan berat 50 kilogram, serta memakan 11 kotak slot Inventory Guild, dan tiap slotnya menyimpan 99 karung beras.


"Apakah kalian sudah selesai memasak?"


"Kami sudah selesai menyiapkannya dan memasak nasi. Makanan hari ini adalah Yakiniku dan Sukiyaki." Ayumi membawa lembaran daging tipis, jamur dari Dungeon Tower, mie buatan tangan, tahu, dan bahan pelengkap lainnya di atas nampan.


Erina yang membelakangi Natan terus memotong lembaran daging lebih banyak lagi.


Natan duduk di atas karpet tebal di atas trotoar, dan mulai memanggang lembaran daging di atas bara api. Sedangkan Ayumi mulai memasukkan semua bahan-bahan Sukiyaki, dan beberapa bumbu pelengkap.


"Erina, ayo makan, ini sudah lebih dari cukup." Natan menepuk lembut pundak kanan Erina.


Erina berbalik dan berjalan menggunakan kedua lututnya, duduk di samping kanan Natan untuk memanggang semua daging, yang nantinya akan diberikan pada Kuro.


"Kuro, keluar dan ubah bentuk tubuhmu menjadi seukuran anjing normal."


Bayangan di belakang Natan mulai bergerak-gerak, dan terlihat Kuro yang keluar dari sana, yang ukurannya mengecil berkali-kali dari bentuknya yang telah berevolusi.


Puluhan menit kemudian, mereka sudah selesai menyantap makanan dengan tenang dan menghabiskan semuanya tanpa sisa.


Natan tidak peduli dengan kehidupan manusia lain yang selamat, ia tidak peduli apakah mereka makan dengan baik atau tidak, ia tidak peduli jika mereka berhemat. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah kebahagiaan Adik-adiknya.


Ia juga tidak berencana memberikan persediaannya pada yang lain, karena sekali ia memberikannya, maka orang lain akan selalu bergantung padanya untuk meminta makanan tanpa bekerja dan menjadi beban.


Natan berdiri dari tempat duduknya di trotoar, dan membiarkan Adik-adiknya yang membersihkan peralatan makan. "Saat kita tiba di Pangkalan Militer, dan ditanyai beberapa pertanyaan, jawab seperlunya. Jika mereka bertanya kita makan apa, katakan saja kita makan makanan yang dijual dari NPC Shop."


Keduanya menganggukkan kepala secara bersamaan sebagai jawaban.


Ketiganya melanjutkan perjalanan ke arah barat, menuju Pangkalan Militer. Natan berada di barisan depan membawa pipa besi, dengan Adik-adiknya yang bersenjatakan penggorengan dan penggaruk rumput.


Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk mereka sampai di sana. Penjagaan di Pangkalan Militer ini tidak menggunakan kontainer yang ditumpuk, melainkan tembok beton setinggi tiga meter.


"Berhenti. Angkat tangan kalian." Pria paruh baya berseragam tentara mengarahkan senjatanya pada Natan.


Ketiganya mengangkat kedua tangan, dan saat itu juga gerbang terbuka, memperlihatkan pria dan wanita yang sekiranya berusia empat puluhan tahun.

__ADS_1


Orang tua itu mulai mengecek perlengkapan yang dibawa Natan, Ayumi dan Erina. Mengecek apakah ada barang berbahaya yang dibawa.


Pria paruh baya berambut hitam pendek, ditumbuhi bulu-bulu halus di wajahnya, mengenakan kemeja merah dengan corak garis-garis hitam itu berdiri dan menatap Natan. "Dari mana kalian? Mengapa kalian bertiga terlihat sangat sehat, dan seperti makan teratur?"


"Kami berada berada di gedung berjarak dua kilometer ke arah timur. Kami mengumpulkan Gold untuk membeli roti dari NPC Shop. Bukankah kalian juga melakukan hal yang sama?" Natan sudah mempersiapkan jawaban ini dengan matang.


Pria paruh baya itu menyipitkan matanya menatap tajam Natan. "Level berapa?"


"Lima puluh."


Pria paruh baya itu masih diam dan mengamati Natan untuk beberapa saat. Kemudian ia menghembuskan napas panjang dan mempersilakan Natan untuk memasuki Pangkalan Militer. "Baiklah, dengan level setinggi itu, tidak heran kalian bertiga bisa selamat. Kalian boleh masuk, tapi harus pergi ke bagian kesehatan untuk memeriksa mental dan fisik kalian."


Natan mengangguk kecil dan berjalan mengikuti pria paruh baya itu memasuki Pangkalan Militer, bersama dengan Ayumi serta Erina di belakangnya.


Apa yang dilihatnya pertama kali saat memasuki Pangkalan Militer di sini adalah jalanan yang dipenuhi oleh manusia, mereka sedang duduk di pinggir jalan seraya memeluk kedua lutut. Ada yang terlihat sangat kurus dan kelaparan, seperti hampir mati tidak lama lagi.


Natan tidak memedulikan hal itu, ia datang ke sini karena ingin mencari Guru sekaligus orang yang ia anggap sebagai seorang kakak.


Ayumi dan Erina juga tidak terlihat merasa kasihan. Mereka seperti sudah kebal melihat hal semacam itu, mereka juga mengetahui apa yang akan terjadi jika memberikan bantuan. Kepercayaan mereka terhadap manusia lain juga berkurang setelah perlakuan apa yang diterima.


"Berapa banyak pengungsi di sini?" tanya Natan yang melihat banyak sekali pengungsi.


Pria paruh baya yang tidak mengenalkan diri itu melirik ke kanan belakang. "Sepuluh ribu orang ..."


Natan mengangguk kecil, dan kembali bertanya, "Bagaimana dengan makanan? Apakah mereka di sini hanya diam tanpa bekerja? Bukankah jika mereka pergi ke jalanan untuk membunuh monster, mereka bisa bertahan hidup lebih lama lagi?"


Pria paruh baya itu berdecak kesal mendapatkan pertanyaan yang tak ada habisnya. "Makanan kami sudah habis, sayuran dan umbi-umbian di sini juga sudah digunakan semuanya. Mereka tidak ingin pergi, mereka ketakutan saat melihat Goblin ..."


"Lalu, pergi ke jalanan dapat meningkatkan kelangsungan hidup? Omong kosong!"


Jika kau meminta keselamatan dan hidup nyaman, namun tidak berani mempertaruhkan nyawa, maka kau akan mati di tempat kau tinggal saat ini dengan cara yang lebih menyakitkan.


Cara yang menyakitkan tentunya menahan rasa lapar, penyakit yang menyerang, dan yang terparahnya adalah, kerusuhan.


"Jika seperti ini terus, Pangkalan Militer akan berakhir rusuh." Ayumi mengutarakan pemikirannya secara tidak sadar.


Pria paruh baya itu menghentikan langkah kakinya, dan kemudian berbalik. "Jika kalian banyak bicara! Aku akan mengusir kalian ke jalanan dan membiarkan kalian terbunuh!" Ia menunjukkan jarinya pada Natan.


Natan menatap datar pria paruh baya yang sangat menyebalkan. Ingin sekali ia menghajar wajah pria di depannya agar tidak sembarangan menyembur air ludahnya ke mana-mana. "Aku akan meninggalkan Pangkalan Militer setelah membawa Vely Anindya."


"Oh?! Kau adalah kenalannya? Ambil dia dari sini! Kami tidak membutuhkan Psikolog amatir sepertinya! Dia hanya membuang-buang makanan kami!"


Natan membuka layar interface secara diam-diam dan mengamati Mapping. Ia menggunakan kemampuan Appraisal untuk mengetahui nama-nama manusia yang masuk dalam radius pencarian Mapping.


Terlihat, satu titik hijau yang memiliki nama yang sama seperti orang yang ia cari. Jaraknya hanya berkisar dua ratusan meter darinya, lebih masuk lagi ke Pangkalan Militer.


"Aku sudah mendapatkan tempatnya, kalian berdua susul aku," ujar Natan yang kemudian berlari.


Ayumi dan Erina menganggukkan kepalanya, kemudian berlari mengejar Natan.


Hanya dalam hitungan detik saja, Natan sudah sampai di tempat yang ia tandai. Ia sudah berada di jalanan yang kiri kanannya terdapat tenda-tenda hijau milik tentara.


Natan menoleh ke kiri, melihat tenda hijau yang mampu menampung 12 orang bersama. Tanpa berlama-lama, ia membuka penutup tenda dan melihat seorang wanita yang duduk di belakang meja kayu.

__ADS_1


Wanita itu mengenakan kaus hitam yang dilapisi jas putih seperti milik Dokter. Rambut hitam panjang bergaya Ponytail. Kepala wanita itu berada di atas kedua lengan yang menyilang, yang berada di atas meja dan membenamkan wajahnya.


"Kakak Vely ..."


Tubuh wanita itu bergetar saat mendengar suara yang ia rasa tidak asing. Ia membenarkan posisi duduknya dan mendongak, memperlihatkan mata hitamnya yang sayu, bibir putihnya yang pecah-pecah dan terlihat wajahnya yang putih pucat. Bahkan, pada bagian pipinya terlihat berlubang karena sangat kurus.


"Na- Natan?" Vely Anindya memiringkan kepalanya. "Natan?!" Ia berdiri seraya membanting kedua tangannya di atas meja.


Vely Anindya yang sudah mengumpulkan kesadarannya itu berlari dengan langkah tertatih.


Natan menunduk melihat pergelangan kaki Vely Anindya, terlihat pergelangan kakinya yang bengkak dan sepertinya juga bernanah. Bengkaknya sangat parah dan tidak ada salahnya jika Dokter mengambil keputusan untuk mengamputasi kakinya.


Natan berjalan dan menangkap Vely Anindya yang hampir terjatuh. "Kakak, aku datang ke sini untuk membawamu pergi. Apakah Kakak bersedia?"


"Tentu! Bawa aku dari sini! Aku tidak ingin berlama-lama lagi di sini!" Vely Anindya berteriak keras dengan suara serak, dan berjongkok seraya memegangi kepalanya.


Natan mengerutkan keningnya saat melihat ini. Apakah mental Kakak terganggu?


[Nama : Vely Anindya]


[Ras : Manusia]


[Usia : 25 Tahun]


[Level : 01 (0/200)]


[Job : Psycholog]


[HP : 1800 [50/1800]


[MP : 100 [0/600]


[STR : 5]


[VIT : 7 (+5)]


[AGI : 7]


[INT : 7 (+10)]


[DEX : 7]


[LUCK : 50]


Ayumi dan Erina yang sudah datang dan melihat Vely Anindya hanya bisa terdiam. Meski mereka tidak mengerti apa yang terjadi di Pangkalan Militer, entah mengapa mereka berdua bisa merasakan rasa sakit yang sama.


Natan menoleh ke belakang menatap Ayumi. "Ayumi, tolong sembuhkan dia. Setelah itu kita meninggalkan tempat ini."


"Baik, Kakak." Ayumi mengangguk kecil dengan tatapan tegas, kemudian berjalan menghampiri Vely Anindya.


Natan berjalan ke luar tenda bersama Erina. Keduanya menjaga keadaan sekitar, dan akan menghalangi siapa pun yang mencoba masuk.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2