
Natan berlari setelah mendapatkan banyak buff dan menguatkan tubuhnya dengan Mana Control. Ia tidak sendirian, melainkan ditemani oleh Erina, Calista dan Olivia yang juga sama-sama berada di baris depan.
Karena barisan depan musuh terkena efek tidur selama satu menit, maka ini adalah keuntungan tersendiri baginya. Natan melompat mengabaikan semuanya, dan mendarat langsung di tengah-tengah monster.
"Lightning Spear!" Natan mengayunkan tombak secara memutar, membunuh monster-monster yang mengelilinginya.
Namun karena ia berada di tengah-tengah monster, tentunya menjadi target yang mudah. "Keuk!" Natan merasakan sakit saat Lickers melesatkan lidah dan menembus pahanya.
Erina mengarahkan perisainya pada Natan. "Cover!" Tubuhnya dan Natan saling memancarkan cahaya hijau kekuningan, yang kemudian darahnya berkurang, tapi tidak dengan Natan yang bertambah.
Natan mundur selangkah seraya memotong lidah yang menembus pahanya, kemudian membasuh pahanya dengan Potion. "Aku terlalu ceroboh." Ia kembali melompat jauh ke belakang. "Skeleton jarak dekat, buka jalan!"
Skeleton Commander, Skeleton Knight dan Spearman mulai menyerang secara membabi buta. Senjata yang mereka bawa adalah senjata terbaik yang menghabiskan 100.000 Gold untuk satu set perlengkapan.
"Fire Arrow!" Ayumi melepaskan serangan panah api mengarah pada Undead yang terus membangkitkan Skeleton.
Natan juga mengarahkan tembakannya pada Undead, untuk membantu serangan Ayumi yang tidak terlalu besar.
Boom!
Tembakan Natan mengakibatkan damage yang besar, dan ada hammer yang jatuh dari langit, menambah daya hancurnya bahkan sampai mengenai monster sekitar.
Skeleton dari pihak lawan mulai hancur dan jatuh ke tanah saat Undead sudah meledak.
Erina mengangkat pedangnya dengan mata pedang mengarah ke bawah. "Sword of Thorns!" Ia menancapkan pedangnya ke tanah.
Getaran mulai terjadi di tanah dengan sedikit retakan, kemudian dari dalam tanah mencuat pedang-pedang tajam setinggi dua meter dala radius 100 meter. Pedang itu tidak asal naik, melainkan hanya mengarah pada lawan dan mengindari kawan.
Jumlah monster mulai berkurang secara signifikan dan Skeleton Squad terus menyerang.
Natan tidak ingin kalah dengan pasukannya sendiri, ia kembali maju ke depan setelah mengganti senjatanya dengan pedang hitam yang sangat tajam.
Wush! Bang!
Lickers lain kembali menyerang Natan, namun terhalang oleh Erina yang tiba-tiba berdiri di depan Natan.
Olivia yang melihat itu tidak tinggal diam, dan menarik lidah monster itu dengan sangat kuat. "Kemari!"
Olivia dalam posisi kuda-kuda yang kokoh. "Steel Body! Iron Hand!" Ia mengayunkan tangannya ke depan memukul dada Lickers.
"Dominated! Radiant Attack!" Tubuh Calista memancarkan aura merah beserta dengan dua pedangnya yang semakin tajam, serta menambahkan damage serangannya. "Continuous Slash!"
__ADS_1
Dari ayunan pedang Calista secara menyilang, mengakibatkan terjadinya badai angin dengan siluet bulan sabit berwarna merah yang melesat ke arah monster-monster. Bukan hanya satu atau dua tebasan, melainkan ratusan.
"Shadow Sword." Pedang hitam Natan mulai bergerak-gerak dan ada bayangan yang menyelimutinya. Kemudian ia mengayunkannya secara menyilang, dari kiri bawah ke kanan atas.
Dari ayunan ini, ada bayangan hitam yang melesat seperti cambuk, namun tajam seperti pedang. Bayangan hitam itu membelah semua monster yang dilewatinya tanpa terkecuali.
"Rise!" Natan berteriak lantang, membuat tanah mulai retak dan ada kerangka tulang yang mulai keluar dari dalam tanah.
Terlihat ada 7 Skeleton Fire Mage, 7 Skeleton Ice Mage, 20 Skeleton Knight, dan 6 Skeleton Acher yang langsung berubah menjadi Magic Archer.
Natan mengangkat pedangnya setinggi mungkin. "Serang!"
Semuanya mulai bergerak bersamaan, membelah lautan monster dengan Mammoth House yang juga bergerak. Ayumi dan Vely berdiri di sana, menyerang monster-monster yang berada di barisan belakang dari lautan monster.
Natan yang berada di barisan terdepan terus menerjang, kemudian ia membungkukkan badannya saat serangan panas yang mengarah padanya. Lalu ia mengayunkan pedangnya secara vertikal dari bawah ke atas, menebas monster di depannya. Untuk pemanah, sudah diselesaikan oleh Ayumi dari kejauhan.
Dalam pertarungan, Natan kembali mundur dan melihat Mapping. Ia bisa melihat jika monster yang ada di sana tersisa 60.000. Untungnya gerbang yang dilalui oleh monster tidak terlalu besar, sehingga monster yang keluar sedikit demi sedikit.
"Mundur. Biarkan Skeleton Squad yang menyerang." Natan memerintahkan yang lain untuk beristirahat, agar saat melawan monster di dalam kastil nanti tidak kehabisan tenaga.
Ice Dragon yang terbang di langit tidak mundur, melainkan bergerak maju menggantikan yang lain. Naga itu membuka mulutnya lebar dan menjerit, yang kemudian menyemburkan napas es yang sangat dingin.
Dalam sekejap, semua monster membeku seperti patung es, dengan darah yang terus berkurang secara signifikan.
"Baik!" Ayumi menganggukkan kepalanya dan mengangkat tongkat sihir dengan kedua tangan. "Fire Tornado!"
Di tengah-tengah lautan monster mulai terlihat lingkaran sihir pada permukaan tanah. Kemudian pada lingkaran sihir merah itu mulai memperlihatkan percikan api yang tidak terlalu besar, namun dalam sekejap mata saja, percikan api itu mulai membesar dan berputar-putar, menggulung monster di dekatnya.
Skeleton, Kuro dan Kori mulai menjauh dari sana, agar tidak terkena dampak yang sama dengan para monster.
Masih berlanjut, Ayumi yang sebelumnya mengangkat tongkat sihirnya, kemudian ia mengayunkannya secara vertikal mengarah pada monster. "Fire Wave!"
Boom!
Tanah di depan mereka mulai terbelah dua dan ada nyala api yang melonjak naik, kemudian si itu jatuh ke depan seperti gelombang tsunami yang tinggi dan dapat menyapu apa pun yang di lalui.
Ayumi terus saja melepaskan serangan area luas yang mampu membunuh banyak monster sekaligus.
Dalam keadaan seperti ini, Natan hanya bisa bergantung pada Ayumi yang memiliki skill jangkauan serang yang luas. Serangannya tidak berdampak banyak dalam keadaan semacam ini, karena Job Assasin dan Marksman yang tidak sesuai.
"Cataclysm!" Erina membantu serangan dengan menambahkan badai angin beserta dedaunan, membuat nyala api semakin besar dan panas.
__ADS_1
Untungnya, Mammoth Castle memiliki perlindungan, sehingga mereka tidak terkena dampaknya.
Sehingga dalam pertarungan kali ini, hanya Ayumi dan Erina yang benar-benar banyak berkontribusi. Tapi ia tidak ingin kalah sebagai seorang Kakak, Natan mengarahkan snipernya ke langit. "Increase Shot! Bullet Raint!"
Hujan peluru mulai berjatuhan dari langit menghantam bagian tengah lautan monster.
"Bullet Explosion!"
Duarr! Duarr! Duarr!
Ledakan besar terus bersahutan, mengakibatkan terjadinya suara yang sangat keras dan menggetarkan daratan. Namun tidak berdampak sama sekali pada Vampire Castle.
Asap tebal terlihat menghalangi saat ledakan sudah berakhir, yang tidak lama kemudian asap itu menghilang, memperlihatkan tanah hitam yang kosong tanpa adanya sisa tulang-tulang monster, kecuali Vampire Castle itu sendiri.
"Natan, apakah kita akan langsung menyerangnya sekarang?" tanya Calista yang sedikit ragu.
Natan terdiam sejenak mengecek berapa level yang ia dapatkan dari membunuh gelombang monster barusan. Levelnya hampir menyentuh angka 390, dan seharusnya ini cukup untuk mengalahkan monster di dalam. Apalagi di sana ia yakin lawannya tidak terlalu banyak, meskipun banyak, mungkin tidak lebih dari 50.
"Kita akan beristirahat sebentar, pulihkan Health dan Mana." Natan menghilangkan layar interface di depannya, kemudian menoleh ke kiri melihat Ayumi yang baru saja duduk. "Ayumi, karena di dalam ruangannya sedikit kecil, pastikan gunakan serangan sederhana atau bantu menghentikan gerakan monster."
"Baik, Kakak." Ayumi mengangguk kecil seraya menghilangkan keringat yang mengalir di wajahnya.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak agar semua kekuatan kembali seperti semula. Mereka juga harus membuat persiapan, agar di dalam nanti tidak mengalami kendala atau kecelakaan.
Hingga tak lama, datang NPC Shop bernama Serah yang juga berdiri di atap rumah.
Karena ada kenaikan level, Natan membantu menjual semua perlengkapan rekan-rekannya, agar mendapatkan bonus tambahan Gold. Untuk membeli, ia bisa membeli semua senjata dari Job yang sesuai dengan rekan satu tim. Tidak seperti sebelumnya, yang hanya bisa membeli item yang sesuai dengan Job sendiri.
Erina mulai menyuling Pil Potion, Mana, Antidote, dan lain sebagainya untuk digunakan. Bahkan ia juga membuat bahan peledak atas permintaan Natan.
Natan juga mulai bekerja untuk membasuh bilah pedangnya dengan racun, dan juga membawa penawarnya apabila ia yang terkena racunnya.
"Setiap orang bawa senjata perak dan simpan, gunakan di saat yang tepat."
"Baik."
Natan tersenyum tipis, kemudian melompat turun dari Mammoth Castle. "Sekarang, ayo masuk."
...
***
__ADS_1
*Bersambung...