
Ketika yang lainnya tertidur, Natan menjaga Mammoth Castle di atap rumah seorang diri tanpa adanya penerangan sama sekali. Memang ia bisa beristirahat karena ada pelindung, tapi ia ingin menikmati malam hari di langit yang berbeda.
"Natan ..."
Natan menoleh ke belakang saat mendengar suara Calista. "Ada apa?"
Calista hanya diam dan menggelengkan kepalanya, kemudian duduk bersebelahan dengan Natan.
"Mau?" Natan menawarkan minuman kopi dalam kemasan botol pada Calista.
Calista menganggukkan kepalanya dan menerima pemberian Natan dengan senang hati. "Terimakasih."
Calista membuka tutupnya dan meneguk kopi dalam kemasan botol, lalu meletakkannya di lantai di depannya. "Apakah tidak masalah kita hanya diam di sini dan tidak menggerakkan Mammoth Castle?"
"Tidak masalah." Natan kasih mendongak melihat langit malam yang terhalang oleh dahan-dahan pohon. Ia menoleh ke kiri menatap Calista, kemudian ia memberikan selimut padanya. "Gunakan ini, kau terlihat kedinginan."
Calista menerima selimut tebal dan memakainya. Ia tertunduk mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Terimakasih."
Natan mengangguk kecil dan tetap diam. Hingga belasan menit berlalu, suasana tetap hening dalam diam tanpa ada yang berucap sama sekali. Tapi tidak lama, Natan merasakan ada yang menekan bahunya. Ia menoleh dan melihat Calista yang tertidur.
"Harum." Tanpa sengaja Natan mencium aroma harum dari rambut Calista, dan bahkan mengutarakan pendapatnya.
Sebelumnya Natan hendak turun untuk tidur, tapi karena Calista tertidur di sebelahnya, maka ia hanya bisa diam di sini menemani Calista sampai pagi. Tidak mungkin ia membawanya masuk ke dalam kamar, sehingga lebih baik berada di sini, meski sepertinya tidak ada perbedaan.
Mungkin ada yang melihat Natan sebagai seseorang yang romantis, tapi sebenarnya dia sangat bodoh jika menyangkut soal percintaan. Ia tidak mengetahuinya sama sekali, ada surat yang diselipkan di dalam tasnya, namun setelah ia baca sekilas, ia membuangnya.
Terlihat kejam, tapi Natan tidak memahami arti setiap kata-kata di dalam surat yang merepotkan untuk dipahami.
Natan melihat selimut yang dikenakan Calista terjatuh, ia membenarkan selimut itu dan terlihat seperti sedang memeluk Calista jika dari belakang. Kemudian ia mengambil bantal dari Inventory Guild, dan meletakkannya di kiri belakangnya, lalu menurunkan Calista perahan agar posisi tidurnya tidak menyakitkan.
Hingga akhirnya waktu sudah menunjukkan pagi hari, Natan masih berada di atap rumah menjaga Calista sampai bangun dari tidurnya.
Langkah kaki juga terdengar, dan terlihat semua orang yang naik ke atap rumah bersama.
"Apakah dia tidur di sini tadi malam?" Olivia datang menghampiri dan berkata dengan suara pelan.
Natan menganggukkan kepalanya, kemudian berdiri seraya meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. "Iya, kalau begitu aku akan turun untuk tidur, aku sangat mengantuk."
Ayumi memiringkan kepalanya menatap Natan, dan menyentuh bibirnya sendiri dengan jari telunjuk. "Apakah Kak Natan tidak ingin makan dulu?"
Natan mengangkat kedua tangannya, mengusap lembut kepala Adik-adiknya. "Aku akan makan saat bangun nanti. Simpan saja untukku di Inventory Guild, nanti aku akan memakannya saat bangun." Ia berjalan melewati keduanya.
__ADS_1
"Baik." Ayumi melambaikan tangan kanannya. "Mimpi indah!"
"Terimakasih." Natan juga melambaikan tangannya tanpa menoleh dan turun ke lantai dua. Kemudian ia tidur langsung di R. Keluarga bagian belakang, dan di sana ada sofa panjang yang empuk.
***
Siang Harinya
Kelopak mata Natan bergerak dan terbuka perlahan. Ia langsung duduk, kemudian mengecek berapa banyak monster yang sudah dibunuh dalam satu hari ini. Terlihat jika monster yang sudah dibunuh adalah 10.000, hanya tersisa 70.000 monster lagi.
Walaupun misi utamanya adalah bertahan hidup dan tidak membunuh monster. Tapi Natan merasa akan ada bahaya apabila tidak menyelesaikan masalah yang akan datang.
"Ngomong-ngomong, hadiah apa yang kami terima." Natan membuka Inventory List dan di sana terlihat sepatu berwarna biru muda.
[Water Shoes] [Level 100]
[Dengan memakai sepatu ini, Player dapat berjalan di atas air. Hanya berlaku di dalam Dungoen Vampire Castle. Tidak ada efek lain, tidak ada penambahan statistik]
"Benar-benar buruk."
Natan pergi ke ruang depan, melihat yang lain sedang bermain bersama. Tapi meski begitu, penjagaan tidak ditinggalkan. Ada Vely dan Calista yang menjaga di bagian depan, untuk bagian belakang, ada Skeleton Mage di lantai dua dan Skeleton Archer di atap.
"Kita tidak bisa hanya berada di sini, kita harus menyelesaikan membunuh monster hari ini juga."
"Kita akan terus maju ke depan, jika ada pohon yang menghalangi jalan, potong semuanya. Bagian belakang biar dijaga oleh Skeleton Mage dan Skeleton Magic Archer," ucap Natan berjalan keluar.
Ya! Magic Archer, setelah diberi nama, Skeleton Archer berubah menjadi Magic Archer. Dengan adanya perubahan ini, Natan tidak perlu lagi merogoh kocek tajam untuk selalu membeli anak panah.
Erina berlari ke atap rumah dengan tergesa-gesa sesaat setelah mendengar penjelasan Natan, ia mengerti dengan jelas hal itu. "Cataclysm!" Ia mengaktifkan kemampuannya saat berada di atap.
Badai angin kencang seperti pedang mulai bergerak ke sana kemari, menebang setiap pohon yang dilalui, kemudian terjatuh di air dan menimbulkan suara yang cukup keras.
Mammoth Tank juga mengaktifkan kemampuan, dan tidak lagi tenggelam di dalam air, melainkan berjalan di permukaannya.
Natan yang berada di teras depan itu berpegangan pada pagar balkon, dan melihat jauh ke depan. Pandangannya bisa menangkap jarak dua kilometer. Ia melihat banyak Lizardman dan Lamia yang berkumpul, seperti sedang menunggu kedatangannya.
"Jauh di depan, ada kelompok monster ..." Natan mengeluarkan snipernya. "Sekarang, kita pergi ke arah barat daya. Di arah utara, timur dan tenggara juga ada monster Lamia yang bergerak di dalam air ..."
"Bersiap-siap, ambil posisi masing-masing."
Timur dan tenggara sudah dijaga oleh Skeleton, sehingga yang lain bergerak ke arah utara.
__ADS_1
Natan hanya bisa menggunakan snipernya untuk menyerang di tempat seperti ini. Ia berharap di Lantai 4 nanti, bukan sebuah rawa, melainkan tanah kering yang keras.
"Increase Shot!"
Belasan Peluru Mana melesat sangat cepat seperti kilatan cahaya, menembus semua pepohonan yang menghalangi. Peluru Mana itu sampai di tempat kelompok monster dalam sekejap mata.
"Curved Shot! Bullet Rain! Bullet Explosion!"
Belasan Peluru Mana itu melesat naik ke langit, kemudian berubah menjadi hujan peluru dengan total 110 peluru. Ketika jatuh tepat di tengah-tengah monster, ledakan keras tercipta, dengan gelombang angin yang mengeringkan air di sana dan menerbangkan pepohonan sekitar.
Ledakan ini juga mengakibatkan suara yang keras, seperti petir yang bergemuruh dan menyambar daratan.
Satuan ledakannya mampu menghilangkan wilayah dalam radius 100 meter, dan ini ada 110 peluru, tentunya dampak yang dihasilkan sangat besar. Mengecualikan air yang menguap, pohon yang menghilang, dan suara bagaikan guntur.
Ada juga fenomena lain, seperti retaknya tanah dan langit yang berubah warna, dari yang sebelumnya merah, kini menjadi hitam gelap karena asap yang mengepul.
[Kill Monster (35.349/80.000)]
Natan tersenyum ringan melihat kemajuan misi yang sedang mereka jalankan saat ini. Monster yang dibunuh juga terus bertambah tanpa henti, tapi karena ledakan tadi, monster-monster di tempat lain mulai berdatangan.
Bukannya takut atau khawatir, kelompok Natan merasa sangat bersemangat karena ada hiburan lain, setelah beberapa jam hanya bermain-main.
Ayumi dan Vely menyerang dari jarak jauh, Calista menarik perhatian monster dengan mengeluarkan aura merah, Erina dan Olivia sebagai support yang membantu rekan satu tim untuk mempercepat cooldown dan meningkatkan damage.
"Hahahaha!" Ayumi tertawa terbahak-bahak seperti iblis kecil saat menjatuhkan meteor tanpa henti. "Mati kalian dasar monster jelek!"
Natan menengadahkan kepalanya melihat Ayumi yang berdiri di atap rumah, yang berada di atasnya. "Dasar ..."
Natan melompat naik ke atas pagar balkon, kemudian mengangkat kedua tangan, memegangi atap rumah yang datar. Kemudian ia mengayunkan tubuhnya dan berputar di udara, lalu mendarat di atap rumah dengan posisi berlutut.
"Lebih nyaman menyerang dari sini."
Natan memandangi semua rekan satu timnya. "Terus pertahankan arena dalam radius lima puluh meter, jangan biarkan monster mendekat."
"Baik!" Semuanya menjawab dengan semangat membara.
Natan tersenyum tipis, kemudian kembali melepaskan tembakan.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...