Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 149 : Berlatih Bersama Olivia


__ADS_3

[Daging Gurita (1000 Ton)]


[Inti Sihir Lv.600] [Batu Sihir berwarna ungu, mengandung Mana dalam jumlah berlimpah. Dapat digunakan untuk memperkuat senjata, membuat Alat Sihir atau meningkatkan Barrier Guild]


[Swallowing Hole] [Skill Aktif, setelah digunakan, akan menciptakan sebuah lubang besar di atas dengan diameter tertentu. Di dalam lubang berrongga, terdapat gigi tajam] [Persyaratan : Sorcerer, Sage, Archmage Lv.500]


[Explosion Sword Lv.600] [Atas] [Pedang yang terbuat dari gigi tajam gurita, dan dilapisi oleh inti gurita yang tersembunyi di dalam tubuhnya] [Efek : +60 STR, +60 DEX, +60% STR] [Setelah melukai musuh dengan pedang, pengguna bisa membuat ledakan di tempat luka tercipta dengan mengatakan 'Explosion' (2000 MP)]


...


[Barbed Gloves Lv.600] [Atas] [Sarung tangan yang terbuat dari lapisan terluar tentakel, dengan tambahan duri pada bagian jarinya] [Efek : +60 STR, +60 DEX, +40% STR, +20% DEX]


Natan tersenyum tipis melihat semua barang yang dijatuhkan di tanah. Dia mengambil semuanya, menyimpan mereka semua ke dalam Inventory Guild dan mengelompokkan mereka sesuai dengan kebutuhan. Barbed Gloves dia simpan di Inventory Guild khusus milik Olivia, Swallowing Hole untuk Ayumi, dan lain sebagainya.


Explosion Sword, tentu saja untuk Natan. Tapi pedang itu bermata dua dan ukurannya dua kali lebih tebal dari Black Sword. Ketika dia pulang nanti, dia akan meminta Departemen Blacksmith untuk mengubahnya sesuai dengan Black Dragon. Kemudian Katana, dia berencana memberikannya pada Calista.


Walaupun Calista hanya memakai dua pedang, tapi sering kali membawa enam sampai delapan pedang, entah digunakan untuk apa, dia tidak tahu.


Setelah mengambil semua rampasan, Natan membawa semua orang untuk naik, dan untuk monster-monster kecil, dia membiarkan Skeleton Squad untuk membasmi mereka semua.


Dia juga mengirim Fire Dragon untuk terbang rendah di Selat Inggris, mengecek apakah ada monster yang masih hidup di sana, meski dia merasa tidak mungkin ada penguasa laut di satu tempat. Tapi, setidaknya bagus untuk berwaspada.


...***...


Sabtu, 22 November 2025


Giant Castle sudah berada di Selat Inggris, berjalan di permukaan laut yang membeku. Kadang-kadang akan ada retakan di permukaannya karena di serang dari bawah oleh pasukan sebelumnya untuk menenggelamkan Giant Castle ketika Giant Knight mengambil langkah yang salah.


Namun, dengan Skeleton Ice Mage, semua retakan di permukaan itu pulih kembali dalam sekejap mata.


Bang! Bang! Bang!


Pada saat ini, Natan dan Olivia tengah berlatih bersama di lahan hamparan rumput. Banyak kehancuran yang ditimbulkan dari keduanya yang sedang berlatih, tapi tidak ada tanda-tanda akan berhenti.


Olivia mundur belasan meter ke belakang ketika Natan hendak memukul dadanya. Dia dalam posisi setengah berlutut saat mundur dengan tangan kanan mencengkeram tanah agar tidak mundur terlalu jauh.


Dengan kaki menekan tanah, Olivia melesat ke arah Natan dan menimbulkan ledakan udara seperti jet supersonik.


Olivia tiba di depan Natan dengan tubuh berada satu meter di udara. Kaki kanannya menendang ke arah kepala Natan dengan keras.

__ADS_1


Natan mengangkat tangan kirinya, menahan tendangan Olivia yang cukup keras. Itu membuatnya merasakan mati rasa.


Karena terus berlatih bersama Natan, Olivia yang awalnya menyerang asal-asalan dengan kedua tangan, sekarang sudah memahami beberapa seni bela diri.


Olivia memutar tubuhnya dengan kaki kanan yang masih menendang. Itu berputar di udara, yang awalnya menghadap ke kiri, dia berputar seperti gasing ke kiri dan kembali dengan badannya yang menghadap ke atas, serta kaki kirinya yang sudah terangkat. Dia mengayunkan kaki kirinya secara vertikal ke bawah.


Natan mendorong kaki kanan Olivia seraya menahan kaki kiri di atas kepalanya, itu membuat Olivia kehilangan keseimbangan.


Walaupun kehilangan keseimbangan, Olivia menggunakan kedua kakinya untuk menendang kepala Natan.


Natan menyilangkan kedua tangannya, melindungi kepalanya dari tendangan.


Tapi ternyata, itu sudah seperti yang diharapkan Olivia. Dia menggunakan kedua tangan Natan sebagai tumpuan, dan melalukan gerakan salto ke belakang yang kemudian mendarat dengan sempurna.


Baru mendarat, Olivia kembali melesat dengan tubuhnya yang diselimuti cahaya emas. Dia tiba di depan Natan dan membawa tinjunya yang diarahkan ke kepala Natan.


Natan tersentak, tidak mungkin dia mampu menahan serangan dengan kecepatan dan kekuatan yang bertambah karena Light of Battlefield. Dia sudah trauma, karena malam pertamanya dulu dia ditekan di tempat tidur dengan Light of Battlefield.


Natan berjongkok menghindari serangan, dan dia mendengar suara siulan angin yang dihasilkan dari pukulan Olivia. Itu membawa ketakutan tersendiri baginya.


Belum berhenti, Olivia mengangkat kaki kanannya ke belakang, kemudian menendang kepala Natan yang sedang berjongkok.


Natan tersentak, kemudian menghindari serangan dengan posisi seperti kayang, meski punggung menyentuh tanah.


"Cukup." Natan memeluk erat Olivia dari belakang.


Olivia tersentak dan diam sejenak, tapi kemudian dia memiringkan tubuhnya dan menyerang perut Natan dengan sikunya, lalu memegang tangan serta bahu Natan. Dia mengayunkan tubuhnya ke depan, membanting Natan dengan keras ke tanah.


Natan menghantam tanah dan dibiarkan diam dengan tatapan tidak percaya.


Olivia berlutut, mengayunkan tinjunya memukul tanah yang berada beberapa inci dari pipi Natan.


Natan terdiam, napasnya terengah-engah.


Olivia tersenyum, dia menyentuh kedua pipi Natan. Mata mereka bertemu satu sama lain, dan napas mereka berat karena kelelahan, keringatnya menetes mengenai wajah Natan.


Natan yang sudah sering berkeringat bersama dan bahkan pernah menjilat keringat Olivia, tidak mempermasalahkan hal itu. Tentunya bukan karena dia menyukai keringat, tapi saat mereka berhubungan, dia menjilat telinga dan leher Olivia.


"Apakah kau berniat membunuhku?"

__ADS_1


Olivia tersentak, kemudian menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Mana mungkin! Aku mencintaimu! Lagi pula, Natan sendiri yang bilang jangan menahan diri."


Natan tertegun dengan mulut sedikit terbuka, kemudian tersenyum seraya mengangkat tangannya untuk membelai rambut Olivia. "Tapi aku tidak mengatakan kau boleh menggunakan Light of Battlefield."


Olivia memalingkan wajahnya menghindari tatapan Natan, kemudian kembali saling memandang. Wajah mereka hanya terpisahkan dengan jarak sejengkal tangan.


"Aku lupa." Olivia menjawabnya dengan datar, seolah-olah tidak merasa bersalah.


Olivia mengangkat kepala Natan, kemudian meletakkannya di pahanya setelah dia duduk dengan kaki terlipat. Ia mengambil sapu tangan, membersihkan keringat Natan. "Haruskah kita mandi bersama?"


Natan yang matanya terpejam, membuka matanya kembali. "Apakah kau masih menginginkannya? Setelah kalian aku bawa ke sini, kita sudah melakukannya setiap malam. Biarkan aku beristirahat, aku sudah melanggar janjiku sendiri. Aku sudah berjanji untuk melakukannya sebulan sekali, tapi pada akhirnya, seminggu sekali, menjadi seminggu dua kali, kemudian seminggu tiga kali dan sekarang setiap hari."


Olivia tidak marah dan tersenyum. "Natan mengatakan itu, tapi saat waktunya tiba, Natan yang paling bersemangat. Kau bahkan memasukkannya sedalam mungkin saat menyemburkannya."


Natan mengerucutkan bibirnya, kemudian menekannya sampai membentuk garis tipis. Ia tidak lagi mengatakan apa-apa dan memilih untuk diam saat memejamkan matanya kembali.


Olivia berbisik di telinga Natan dengan suara yang menggoda, "Jadi, mau melakukannya lagi? Aku mau hari ini sendirian, biarkan aku mendapatkan semua kasih sayang Natan, paling tidak sampai tengah hari."


Tengah hari, itu berarti empat jam bersama Olivia. Empat jam penuh tanpa berganti-ganti.


Natan terdiam sejenak, kemudian mengangguk kecil. "Ba- Baiklah."


Olivia tersenyum, kemudian membawa Natan dengan cara menggendongnya di kedua tangan. "Lihat, kau menyukainya."


"Tu- Tunggu— Ack!" Natan meronta-ronta ingin turun, tapi bahunya dicengkeram erat agar tidak bergerak.


Merasakan itu, Natan hanya bisa menghela napas tanpa daya saat dibawa Olivia ke dalam mansion besar di tengah-tengah Giant Castle. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menghindari tatapan belasan orang yang melihatnya. Itu sangat memalukan.


Olivia tidak mengatakan apa-apa saat melihat Natan yang seperti itu. Dalam perjalanan, dia bertemu dengan Calista, dan memberikan tanda bahwa ingin melakukannya sendiri.


Calista mengangguk dan memberi tanda dengan jarinya.


Ketika sudah memasuki kamar, Natan melepaskan pakaiannya dan melemparkannya ke atas tempat tidur. "Jangan menggunakan Light of Battlefield." Ia masih trauma dan tidak bisa lupa akan hal itu.


"Tentu." Olivia menarik tangan Natan untuk membawanya ke kamar mandi.


Akhirnya, mereka berdua masuk dan pertarungan kembali dimulai.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2