Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 012 : Meninggalkan Pangkalan Militer


__ADS_3

Natan Alexander yang berjalan sembari membawa Tanaka Ayumi itu kembali bertemu dengan kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang berdiri di bawah pohon rindang. Tanaka Ayumi yang duduk di lengan kirinya kembali bergetar, dengan wajah pucat sangat ketakutan.


Salah seorang dari kelompok mahasiswa itu datang menghampiri Natan Alexander, dan terkadang melihat Tanaka Ayumi dengan senyum menjijikan. "Kau memiliki tombak yang bagus, serahkan padaku, maka Kolonel di sini akan memperlakukanmu dengan baik."


Natan Alexander hanya diam mengabaikan pemuda di depannya, dan terfokus pada Tanaka Ayumi yang semakin bergetar ketakutan. Ia mendongak menatap tajam pemuda di depannya. "Apakah kau yang melalukan ini pada adikku?!"


Pemuda berambut hitam dengan potongan sedikit berdiri, tatapan mata mengerikan dan senyum menjijikan itu terdiam sejenak menatap Tanaka Ayumi, kemudian mengalihkan pandangannya lagi pada Natan Alexander. "Oh? Apakah dia adikmu? Dia pantas mendapatkan—"


Natan Alexander menampar keras wajah pemuda di depannya hingga tersungkur di atas tanah dan terlihat gigi putih yang terlempar keluar dari dalam mulut pemuda itu.


Tamparan Natan Alexander mengejutkan semua orang yang ada, tapi ia tidak peduli sama sekali, dan mengambil pistol dari balik Regeneration Cloak, menembak siku pemuda itu hingga terputus.


"Aarrgghh!" Pemuda itu berteriak kesakitan saat lengan bawahnya terputus karena tembakan.


Tentara yang berada di sekitar terdiam dengan mulut terbuka, mereka tidak pernah berharap akan ada yang berani menembak di kamp pengungsian, terlebih lagi menembak keponakan dari Kolonel.


Mayor Arief yang baru keluar dari bangunan besar itu tidak bisa menahan keterkejutannya saat melihat Natan Alexander yang menembak. Ia terdiam untuk beberapa saat, tidak tahu harus bertindak apa. Namun, ia tetap mengangkat senjatanya dan menembak punggung Natan Alexander.


Natan Alexander berbalik dan menembakkan peluru dari pistol. Peluru itu melesat, menabrak peluru yang ditembakkan oleh Mayor Arief.


Kemudian ia memeluk Tanaka Ayumi di dalam Regeneration Cloak, untuk melindunginya dari tembakan peluru yang membabi buta ke arahnya. Ia melompat dari satu pohon ke pohon lainnya, dan menendang kepala maupun perut tentara yang menghalangi jalannya.


Ketika tembakan semakin mengerikan dan bertambah banyak, bahkan ada yang menggunakan senjata berat, ia bersembunyi di dalam bayangan.


Tidak sampai satu menit untuknya dapat keluar dari Pangkalan Militer dari gerbang timur. Kemudian ia kembali berbalik mengambil jalan beraspal yang melengkung, untuk pergi menjauh ke arah barat.


"Kakak, aku takut." Tanaka Ayumi mencengkeram erat jari-jarinya di baju Natan yang dan membenamkan wajahnya.


Natan Alexander menunduk melihat keadaan Tanaka Ayumi. "Tunggu sebentar, kita masih setengah jalan dari Pangkalan Militer. Saat sudah pergi sejauh dua kilometer, barulah kita akan beristirahat. Dengan kecepatanku yang sekarang, kita hanya butuh dua menit." Ia mengusap punggung Tanaka Ayumi seraya terus berlari.


Dor! Dor! Dor!


Tentara yang berjaga di gerbang selatan juga melepaskan tembakan senjata api yang mengarah pada Natan Alexander.

__ADS_1


Natan Alexander mengangkat jubah hitam yang dikenakannya, dan menghalau semua peluru. Peluru yang mengenainya juga tidak terasa sama sekali.


Saat menembak monster ataupun terkena tembakan, ia sudah mendapatkan kesimpulan tentang STR dan VIT.


Satu STR dapat menimbulkan damage 100 HP, dan satu VIT dapat menahan serangan sebanyak 75 damage. Dengan statistik VIT miliknya yang sebanyak 225 Point, ia bisa menahan damage serangan 16.875 Point, atau 168 STR. Ditambah dengan pemulihan Heatlh Point dalam satu menitnya, ia bisa dikatakan tidak akan terluka.


Tapi itu semua hanya untuk senjata ringan, ia tidak tahu bagaimana jika RPG (Rocket Propelled Grenade), mungkin akan menimbulkan damage dua sampai tiga kalinya.


Natan Alexander mengangkat tangannya, menembakkan peluru dari pistol mengarah pada kedua bahu tentara dan paha. Ia tidak berniat membunuh mereka, melainkan hanya memberikan pelajaran, tapi jika bertemu lagi, ia tidak akan memberikan ampunan.


Ia terus berlari hingga sudah berjarak dua kilometer dari Pangkalan Militer, dan ia juga sudah melumpuhkan semua tentara di gerbang barat.


Saat ini ia sudah berada di atap bangunan bertingkat yang memiliki tujuh lantai. Ia menurunkan Tanaka Ayumi secara perlahan, dan memberikan Health Potion Lv. 80. "Minum ini."


Tanaka Ayumi menerima Health Potion berwarna merah, yang botolnya seperti botol kimia, dan meminumnya secara perlahan setelah membuka tutupnya.


Health Point Tanaka Ayumi yang sebelumnya tersisa lima poin mulai membaik dan penuh secara bertahap, dan anehnya Max HP miliknya terus bertambah hingga 2000 HP, tidak sesuai dengan levelnya yang sekarang.


"Apakah karena aku memberikan Potion level delapan puluh?" Natan Alexander bergumam.


"Aku sudah menghitung jumlah statistik yang berasal dari item yang ku kenakan, tapi banyak statistik yang berlebihan dari yang seharusnya. Mungkin ini karena setiap tindakan yang ku lakukan, bahkan Deteksi dan Shadow Step juga meningkat."


Tanaka Ayumi berdiri dari tempat duduknya, kemudian mencoba melangkah, memastikan apakah ia bisa berjalan dengan benar, meski pergelangan kakinya tidak lagi terasa sakit.


"Ayumi, kau tahu, dunia sudah berubah seperti game. Tentunya kau mengetahui caranya untuk naik level, dan mendapatkan kemampuan."


Tanaka Ayumi berbalik melihat Natan Alexander yang berjalan menghampirinya. "Tentu! Ayu sering bermain game dan sedikit banyak mengetahui tentang hal ini." Ia mengangkat tangan kanannya bersemangat.


Natan Alexander mengangkat tangan kanannya perlahan, kemudian mengusap kepala Tanaka Ayumi. "Bolehkah Kakak melihat kemampuan yang kau dapatkan, dan kau ingin menjadi apa?" Ia menyadari setelah melihat banyak orang selamat, atau bisa disebut sebagai Player. Tidak ada yang memiliki Skill Appraisal selain dirinya.


Tanaka Ayumi terdiam sejenak dengan kepala dimiringkan, mata terpejam dan kedua tangannya menyilang. Tak lama kemudian, ia membuka matanya kembali. "Penyihir! Tapi Penyembuh juga bagus, jadi Ayu bisa menyembuhkan Kakak jika terluka," jawabnya yang sangat bersemangat.


Natan Alexander menganggukkan kepalanya. Jika Tanaka Ayumi menginginkan dua kemampuan itu, maka harus mendapatkan Job Sorcerer yang memiliki kemampuan untuk mempelajari banyak atribut. Tapi, yang tidak diketahuinya adalah cara mendapatkannya.

__ADS_1


Ia yang memiliki Kuro sebagai hewan kontrak, harusnya mendapatkan Job Sage atau Tamer, namun malah mendapat Job Mage. Ia masih tidak tahu hukum dunia ini secara spesifik, dan untuk alasan apa monster ini datang ke dunia.


Natan Alexander mengalihkan pandangannya dari layar interface kepada Tanaka Ayumi. "Apakah kau pernah membunuh monster saat dunia mulai kacau, atau hewan kecil lainnya?"


"Hewan kecil? Nyamuk berukuran besar seperti ibu jari."


Natan Alexander terdiam, cara naik level yang sama sepertinya, yang mana membunuh serangga kecil.


"Baiklah." Natan Alexander mengeluarkan perlengkapan tenda yang muat untuk enam orang, dan beberapa perbekalan, termasuk kompor dengan tabung gasnya sekali. "Kau bisa makan semua ini, entah roti, biskuit, atau memasaknya sendiri."


Natan Alexander kembali berbalik, berdiri di ujung atap bangunan yang dibatasi oleh pagar beton setinggi pinggang orang dewasa. Kemudian ia mengeluarkan Sako TRG untuk membunuh monster-monster yang berjarak cukup jauh darinya.


Ia tidak ingin levelnya tertinggal, dan harus menjaga posisinya sebagai Player teratas. Karena hanya dengan menjadi yang terkuat, keselamatan hidupnya dapat terjamin.


Tanaka Ayumi yang ditinggalkan oleh Natan Alexander itu terdiam dengan air mata yang menetes, sudah satu hari ia tidak makan maupun minum, dan juga harus menahan rasa sakit. "Terimakasih, Kakak ..."


Natan Alexander tersenyum tipis, dan terus fokus pada monster yang berada di jalan utama, maupun di dalam gedung yang tidak jauh darinya.


Sesekali ia juga mengarahkan scope pada Pangkalan Militer, mencari tahu apakah ada pergerakan dari arah sana. Apakah ada tentara yang melakukan pengejaran, atau apapun yang dapat membahayakannya.


Natan Alexander berdiri di sana selama satu jam penuh, dan tidak ada tanda-tanda pengejaran. Akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri Tanaka Ayumi yang masih memasak, setelah menyelesaikan membangun tenda.


Natan Alexander duduk di sebelah Tanaka Ayumi. "Apakah kau takut?"


"Sudah tidak lagi," jawab Tanaka Ayumi yang mengiris bawang.


"Malam ini kita beristirahat di sini, besok baru kembali bergerak, dan aku akan mengajarkanmu untuk membunuh monster. Hanya dengan membunuh monster, kita bisa bertahan hidup," ucap Natan Alexander yang mengusap lembut puncak kepala Tanaka Ayumi.


Tanaka Ayumi menoleh ke kiri, memperlihatkan senyum cerah. "Baik, Kakak."


Natan Alexander tersenyum tipis membalas senyuman itu, kemudian berkeliling di atas atap untuk mengecek kembali jika di tempat mereka sekarang benar-benar aman. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, entah itu manusia maupun monster.


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2