
Tiga cahaya biru muncul di luar Dungeon Tower, dan ketika cahaya itu meredup, terlihat sosok aslinya.
Natan mengedipkan matanya berkali-kali, masih belum terbiasa dengan perpindahan seperti ini di mana cahaya akan bersinar terang di matanya.
Ketika penglihatannya sudah membaik, dia melihat langit biru dengan awan putih. Udara segar bertiup, membuatnya merasakan perasaan nyaman.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi saat kita di Dungeon Tower. Tapi harusnya, itu adalah hal baik."
"Selamat datang."
Natan terkejut sambil mengambil langkah mundur saat melihat Ainsley yang tiba-tiba muncul di depannya. Ainsley yang sekarang tidak lagi menggunakan mantel hitam yang menutupinya, sehingga memperlihatkan kecantikannya yang sempurna.
"Kau—"
Ainsley menggunakan jari telunjuknya untuk menutup bibir Natan. "Sekarang, serahkan Penyimpanan Dunia padaku. Aku ingin menggunakan Wilayah Tengah untuk Ras Elf tinggal."
"Adapun yang lain, aku akan menjelaskannya nanti malam." Ainsley mengedipkan sebelah matanya.
Natan menyerahkan Penyimpanan Dunia, dan setelah Ainsley mengambilnya, Ainsley menghilang.
Dia menghela napas sembari menggelengkan kepalanya. Dia bisa menebak apa yang diinginkan Ainsley sekarang, yaitu menaruh Wilayah Ras Elf di tengah-tengah Kota Chengdu. Dia sendiri tidak mempermasalahkan hal itu, karena bagaimanapun Ainsley bisa bertindak seperti ini, maka sudah mendapatkan izin dari ibunya.
Bahkan meski Natan adalah pemiliknya, dia akan tetap meminta nasihat dari ibunya yang benar-benar mengenal Ainsley.
Natan mengusap kepala Ayumi dan Erina. "Adik-adik manis, apakah kalian ingin langsung pulang, atau berjalan-jalan dulu?"
Ayumi dan Erina saling memandang, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Ayu ingin kembali, banyak hal yang harus dilakukan di Departemen Alat dan Sihir."
"Ya! Erina juga harus pergi ke Departemen Potion dan Obat." Meski tidak memiliki kemampuan Alkimia, tapi Erina selalu ingin belajar hal-hal baru.
"Baiklah." Natan menganggukkan kepalanya, lalu membawa mereka langsung dengan berteleportasi ke Kota Armonia.
Melihat pemandangan sekitar yang berubah, Ayumi dan Erina berpamitan, lalu pergi ke dua arah yang berlawanan.
__ADS_1
Natan berdiri sebentar melihat keduanya sampai menghilang dari pandangannya, lalu dia berubah menjadi bayangan yang bergerak dari satu bayangan ke bayangan lain agar menghindari diperhatikan.
Sampai dia tiba di Istana Armonia, tidak ada yang memperhatikannya, kecuali satu orang, Brianna yang berdiri di balkon lantai dua.
Brianna sudah tahu kedatangan Natan, tapi tidak menyapa. Dia hanya menggeleng, tersenyum hangat melihat putranya yang masuk diam-diam.
Kembali lagi ke Natan, dia sudah tiba di depan pintu kantor. Tanpa mengetuk pintu, dia langsung membukanya, dia melihat Vely yang duduk di kursi di belakang meja dengan tumpukan dokumen di atas meja dan ada laptop yang terbuka.
Vely mendongak ketika mendengar pintu yang terbuka, dan ketika melihat Natan, dia membuka matanya lebar-lebar sembari berdiri dengan kedua tangannya yang membanting meja. "Sayang!"
Natan tersenyum tipis, mengangkat tangannya dan meletakkan jarinya di bibirnya sendiri, memberi tanda pada Vely untuk tidak terlalu berisik.
Vely mengangguk kecil dan diam tanpa duduk, tapi saat Natan sudah duduk di kursi kerja, dia duduk di pangkuan Natan.
Natan memeluk paha Vely sembari mengusap lembut perutnya yang mulai membesar. "Maaf, aku menyerahkan semua tugas ini kepadamu."
Vely bersandar, menekan tubuhnya di dada Natan. Dia mengulurkan tangannya seolah merangkul leher Natan, dan membisikkan sesuatu di telinganya. "Tidak masalah, aku tidak banyak membantu saat bertarung. Paling tidak, aku bisa membantumu mengurus yang lain."
Natan mengangguk kecil, menyelinapkan tangannya memasuki baju Vely, dan mengusap perutnya lagi. "Terima kasih. Ngomong-ngomong, apa yang terjadi saat aku pergi? Langit kembali seperti semula, apakah ada peristiwa besar?"
Ekspresi Vely menjadi serius, dia menegakkan tubuhnya, tapi malah melepaskan kemeja yang dikenakannya agar mempermudah Natan mengusap perutnya. "Tentang ini, Bibi dan Ainsley pergi ke Antartika untuk menyerang Ras Iblis. Keduanya berhasil membunuh Iblis terakhir, sehingga langit kembali seperti semula. Namun ..."
Natan tertegun sampai menghentikan gerakan tangannya. Dia menundukkan kepalanya, memikirkan bahwa masalah terus datang, bahkan meski dia tidak berkewajiban untuk melawan Raja Iblis, dia tetap terkait karena ibunya membantu Ainsley membunuh Iblis di Antartika.
Satu tahun, Natan tidak tahu level berapa yang bisa dicapainya dengan waktu yang singkat itu.
"Untuk hidup tenang, banyak hal yang harus dilakukan."
Vely mengangguk setuju, tapi dia tetap diam tanpa mengatakan apa-apa lagi.
"Sayang, aku harus melihat Ibu."
Vely berdiri, membiarkan Natan bangkit.
Natan berdiri, mengecup bibir Vely sebagai perpisahan sementara. Kemudian dia berjalan keluar dari ruangan, pergi menuju kamar ibunya di lantai atas. Dia kembali diam-diam, menyembunyikan semua kehadirannya agar tidak diketahui yang lain.
__ADS_1
Hingga sampai di depan kamar ibunya, Natan tidak perlu mengetuk pintu karena sudah terbiasa. Membuka pintu, dia melihat ibunya sedang duduk di kursi mengenakan celana pendek dan kaus putih tanpa lengan, dengan bagian leher yang lebar.
Brianna menyilangkan kaki kanannya di kaki lain, memegang gelas berisikan anggur dan menggoyangkannya. "Apakah kau datang untuk menanyakan tentang Raja Iblis?"
"Iya." Natan menjawabnya sambil menutup pintu, lalu berjalan dan duduk di tepi tempat tidur. Dia menatap ibunya dan bertanya, "Ibu, sampai kapan semua ini terjadi? Apakah Bumi tidak bisa damai?"
Brianna mendongak menatap Natan. "Apakah Natan lelah?"
Natan menunduk dan mencengkeram kedua tangannya di atas paha. "Iya, dari luar memang terlihat senang, memiliki kekuatan, tapi di dalam, aku tertekan. Aku ingin menjadi biasa-biasa saja, tapi jika begitu, aku akan ditindas. Namun jika levelku tinggi, pastinya aku akan maju ke garis depan, bahkan meski aku menolaknya, Penjaga pasti akan memaksakan kehendaknya."
Brianna terdiam sejenak, membuka mulutnya, tapi kemudian menelan kembali kata-katanya. Dia menarik napas dalam-dalam, kemudian meminum semua anggur di dalam gelas. Dia mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya, ekspresinya nampak bermasalah. Setelah ragu-ragu, dia menghela napas dan berkata, "Seribu Player teratas, akan dikirim ke garis depan."
Natan mendongak tiba-tiba dengan mata melebar. Jelas dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya berusaha. "Apa? Bisa Ibu katakan lagi?"
Brianna menganggukkan kepalanya, dan menjawab, "Hanya seribu teratas yang akan dikirim."
Sontak Natan berdiri dan berteriak, "Apakah Penjaga bodoh?! Mengirim seribu orang?! Kami manusia sangat lemah, sedangkan dia adalah Penjaga yang harus menjaga, tapi dia dikalahkan! Lalu apa artinya kami?!"
Natan berhenti dengan mulut terbuka, lalu kembali duduk. Dia sedikit membungkuk, kedua tangannya bertemu, menopang dahinya. "Ibu, aku minta maaf karena berteriak di depan Ibu."
Brianna berdiri, berjalan dan berhenti di depan Natan. "Tidak apa-apa, Ibu tahu. Ibu juga marah saat mendengarnya dari Ainsley dan Penjaga."
Natan mendongak menatap mata ibunya. "Apakah manusia lain di Bumi tahu tentang hal ini?"
Brianna menggeleng. "Ibu tidak tahu, tapi mungkin ada dari kita yang mengetahui informasi ini, dan karena kesal akibat orang yang ingin ditemui telah terbunuh. Mungkin orang yang sama seperti Ibu, yang berjuang untuk bertemu dengan keluarganya, membocorkan rahasia ini."
Brianna mengusap lembut kepala Natan. "Coba Natan periksa daftar, apakah ada perubahan pada level."
Natan mengangguk, kemudian mengecek levelnya. Dia mengerutkan keningnya, melihat perbedaan level terlalu besar. Sebelumnya, Rank 10 ke Rank 11 hanya berbeda 12 Level. Tapi sekarang, bukannya menyempit, perbedaan itu malah melebar, dan sekarang sudah dua kalinya dari perbedaan awal.
Brianna merasakan sakit yang tidak bisa dijelaskan di hatinya saat melihat Natan yang tertekan seperti ini. Dia harus datang ke Ainsley, membuat perjanjian agar lebih banyak Player yang datang ke garis depan.
Bahkan meski Ainsley dan Brianna ikut bertarung, dengan bantuan 1000 Player, itu tidak cukup untuk berbagi beban.
...
__ADS_1
***
*Bersambung...