Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 162 : Rencana: Meledakkan Skull Guild


__ADS_3

Cukup untuk istirahatnya, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka memasuki salah satu lorong terkecil. Hanya lorong itu saja yang sangat dalam sampai belum sepenuhnya ditelurusi, berbeda dengan yang lain yang sudah sampai bagian terdalam dan buntu.


Sekarang, Natan yang memimpin jalan agar semuanya selesai dengan cepat, mendapatkan Gulungan Pemanggilan Manusia dan cepat-cepat keluar dari sini untuk menyerang Skull Guild.


Beberapa skeleton sudah ditempatkan di Amerika, hanya perlu mencari keberadaan Skull Guild itu sendiri.


Natan tidak lagi memakai pedang dan berubah menjadi AR-15. Sebagai seorang penggila senjata api, tentunya ada kesenangan tersendiri saat membunuh monster menggunakan senjata ini, apalagi saat mengganti magazen yang kosong dengan yang baru.


"Kenapa tidak pakai pedang?" Calista yang berlari di samping Natan penasaran.


"Kau tidak tahu, pria sangat suka dengan senjata api. Saat awal Kehancuran Dunia, aku mempertaruhkan nyawa untuk mendapatkan ini saat berada di dalam mansion dikepung ribuan zombie." Natan mengusap AR-15 dengan penuh kasih seperti mengusap tangan wanita. "Karena ini, aku bisa selamat."


Calista mendengus dingin merasa kesal ketika mendengarnya. Dia membuka antarmuka sistem dan mengirimkan pesan pada Vely dan Olivia. "Setelah keluar dari sini, peras dia sampai kering!"


Vely dan Olivia tertegun ketika melihat pesan yang masuk, keduanya saling memandang dengan ekspresi rumit.


"Jika itu dulu, mungkin bisa karena Natan tidak terlalu menyukainya, bahkan selalu menolak sampai mengunci pintu. Tapi sekarang, kau harusnya tahu, Natan selalu menantikannya. Bukankah kita yang akan lemas?" Olivia membalasnya diam-diam dengan sesekali melihat punggung Natan.


Calista terdiam tanpa kata ketika melihat balasan yang memang berdasarkan fakta.


Natan tidak tahu bahwa dirinya sedang dibicarakan. Dia terus berlari memimpin jalan melewati bebatuan besar yang menghalangi, hingga tak lama kemudian berhenti secara tiba-tiba. "Berhenti."


Semua orang berhenti di belakang Natan dan bersiap-siap.


Natan melihat Mapping, menemukan titik merah, tapi tidak ada apa pun di depannya bahkan tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk bersembunyi.


Dia mengarahkan senjata api ke langit-langit gua dan melepaskan tembakan. Satu tembakan, masih tidak ada respon, dua tembakan masih tidak ada. Akhirnya, dia mengarahkannya ke bawah.


Booom!


Bahkan sebelum melepaskan tembakan, tanah sekitar dua puluhan meter di depannya meledak, menerbangkan tanah berbatu ke udara.


Tikus besar melompat dari dalam lubang dan mendarat di tanah, menimbulkan tanah di bawahnya retak cukup dalam. Ukuran tubuhnya sangat besar, jika sebelumnya sebesar sapi, sekarang besar tubuhnya seperti gajah dewasa.


Ada taring tajam seperti harimau, kaki depannya memiliki cakar seperti elang. Matanya merah, bulu putihnya tidak lagi lembut, melainkan tajam seperti duri landak.


Natan melesat langsung ke arah tikus dan saat berdiri di sampingnya, dia melepaskan tembakan.


Dengan suara benturan logam, peluru yang ditembakkan memantul ketika terkena kulitnya yang tebal seperti logam.

__ADS_1


Tikus itu mencicit marah dan menoleh ke kiri menatap Natan dengan mata merahnya. Dengan cakar kanannya yang tajam seperti pedang, ia mengayunkannya menyerang Natan.


Natan membungkukkan badannya untuk menghindar serangan, dan mendengar suara mendesing saat udara di atasnya terbelah. Dia melihat ke belakang, tembok gua yang jaraknya cukup jauh terlihat terluka dengan motif cakar.


Tikus terlihat marah ketika serangannya dihindari, dan kembali melepaskan serangan tanpa henti. Setiap kali melepaskan serangan, cakarnya akan memancarkan cahaya putih yang samar-samar dan ada tekanan di udara seperti pedang.


Natan terus menghindari setiap serangan yang mengakibatkan dinding di belakangnya hancur.


Tikus itu semakin marah karena semua serangannya dihindari dan merasa terhina. Ia mengangkat ekornya yang tebal, dan itu bergerak-gerak seolah-olah ular yang hidup sedang mengamati mangsanya.


Tikus itu mengayunkan ekornya seperti cambuk ke arah Natan, menimbulkan siulan angin; tanah di bawah yang terkena ekornya mulai terkikis.


Natan mundur selangkah dan melepaskan tembakan sederhana dengan AR-15.


Sama seperti yang diharapkan olehnya, tembakan AR-15 sudah tidak efisien seperti dulu. Semua peluru itu memantul dengan suara seperti logam yang berbenturan.


Natan membuang AR-15. Dengan mengepalkan tangannya, dia memukul ekor tebal yang menyerangnya.


Booom!


Benturan antara dua serangan itu menimbulkan suara keras seperti ledakan.


"Sayang! Sudah selesai!" Vely berteriak.


"Bagus!" Natan membalasnya dengan suara keras. Dia berubah menjadi bayangan hitam yang membingungkan tikus.


Natan tiba di depan tikus dan memasukkan moncong Sako TRG Mana yang sudah digantinya ke dalam mulut tikus. "Sekarang, matilah."


Bang!


Tembakan dilepaskan, langsung menghancurkan kepala tikus menjadi daging giling yang menyebar sebelum menghilang.


Alasan mengapa Natan tidak tergesa-gesa dalam membunuh karena ingin mengumpulkan data setiap monster, dari serangan dan kelemahannya. Walaupun, dia bisa membunuhnya langsung apabila melakukannya dengan serius.


Tapi ini belum selesai, mereka harus mencari monster yang sama tapi dengan level yang lebih tinggi, dan tempatnya berada di ruangan bos. Hanya saja, di mana ruangan itu, tidak ada yang tahu.


Banyak monster tikus yang mereka temui saat terus memasuki gua bagian terdalam, dan terkadang menemui jalan bercabang. Tapi, semua itu tidak menghentikan langkah mereka untuk terus memasukinya.


Jika itu orang lain, yang tidak memiliki Mapping atau alat sihir seperti yang dibawa Vely, pastinya orang itu akan tersesat di dalam Dimensional Cave dan bahkan tidak bisa keluar.

__ADS_1


...


Tidak tahu sudah berapa lama mereka di dalam Dimensional Cave, dan tidak tahu seberapa banyak monster yang dibunuh. Tapi yang pasti, mereka mengalami kenaikan level yang sangat memuaskan.


Natan Alexander Level 587; Tanaka Ayumi, Erina Adriani, Vely Anindya, Izora Calista, Olivia Edrea Level 572; Jia Meiya dan Xia Feiya Level 558.


Natan duduk bersandar di dinding gua seraya membersihkan pedang. "Sudah berapa lama kita di sini?"


"Dua puluh jam." Vely menghampiri Natan dan duduk di sampingnya.


Natan sedikit kaget, tapi dengan cepat langsung kembali tenang. "Dua puluh jam, dan kita belum sampai ke ruang bos. Jika kita kembali, itu akan memakan waktu lebih lama."


Natan membuka antarmuka sistem untuk melihat pandangan dari skeleton yang berada di luar. "Salju di atas tembok benar-benar meleleh, dan sinar matahari hampir terbit."


"Apakah kita berangkat sekarang?" tanya Vely.


Natan menggelengkan kepalanya dan langsung menjawab, "Tidak, Xia Feiya butuh istirahat, dia baru berusia delapan tahun. Ayumi dan Erina juga. Aku sudah terbiasa tidak tidur selama tiga hari, kalian semua beristirahat, biar aku yang berjaga-jaga."


Tidak ada yang membantahnya dan semuanya langsung beristirahat. Bahkan Calista yang awalnya ingin menunggu bersama, tapi mengurungkan niatnya setelah melihat ekspresi Natan. Calista tahu kapan harus keras kepala dan kapan harus menyerah.


Ketika semuanya sedang beristirahat, Natan membuka banyak antarmuka yang mengungkapkan pemandangan di Amerika. Dia membuat banyak titik yang terbesar di mana-mana untuk mencari markas dari Skull Guild.


Jika memungkinkan, dia akan mengirimkan salah satu skeleton dan meledakkan diri di dalam markas mereka sebagai salam pembuka.


Gedung-gedung di Amerika masih terlihat kokoh, tapi lebih banyak hancurnya daripada yang masih berdiri. Manusia-manusia di sana masih banyak yang hidup, bahkan berkeliaran, dan suhu di sana normal, tidak panas maupun dingin. Ini sangat berbanding terbalik dengan China yang sangat dingin dan sangat panas.


"Jika suhu tetap normal, manusia lebih mudah bertahan. Sumber daya makanan masih mudah ditemukan, berbeda dengan di sini, hanya zombie dan monster-monster yang tidak bisa dimakan."


Natan merasa sangat marah dan kesal. Dia harus berusaha keras untuk bertahan hidup, sampai pergi dari Indonesia ke China melewati lautan yang membeku, dan sekarang, Amerika terlihat normal-normal saja kecuali gedung yang hancur dan manusia yang terbunuh.


"Haruskah aku ..." Natan menggelengkan kepalanya, membuang pikiran untuk menghancurkan Amerika. Dia tidak bodoh untuk melepaskan amarah hanya karena perbedaan suhu.


Niatnya datang ke sana bukan karena itu, tapi yang lain.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2