Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 256 : Hari Pertempuran Penentu


__ADS_3

Natan berlatih sampai berkeringat di seluruh tubuhnya, kemudian dia berjalan menuju pohon rindang di mana anak-anaknya yang dimulai dari Jiang Shuya menunggu. Adapun Xia Feiya sampai Ling Wei, mereka memasuki Dungeon Tower, dan dia tidak khawatir dengan keselamatan mereka, karena ada Xia Feiya dengan Level 1.180.


"Ayah lelah?" Xiaoai berdiri menghampiri Natan dengan membawa handuk hangat.


Natan mengambil handuk dari tangan Xiaoai, dia tersenyum dan menjawab, "Semua lelah Ayah akan terobati dengan senyuman Xiaoai."


"Kalau begitu, Xiaoai akan terus tersenyum untuk Ayah!"


"Bagaimana dengan Hannah?" Hannah datang.


Natan mengusap kepala Hannah dan menjawab, "Tentu, senyuman Hannah sangat manis, Ayah menyukainya."


Shuya, Celine dan Orla datang, mereka tersenyum.


Natan tahu apa yang diinginkan mereka, dia mengusap kepala mereka dan memberi kecupan di dahi secara bergantian.


"Suamiku dimonopoli anak-anak, aku cemburu." Calista sedikit mengeluh saat datang menghampiri Natan. "Bidadari kecil, bisa bergantian dengan Ibu?"


Xiaoai menoleh, dia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak bisa, Ibu Lista sudah bersama Ayah tadi malam."


Hannah mengangguk dan menambahkan, "Benar! Ibu Lista dan Ibu tidur bersama Ayah, kami juga ingin Ayah tidur bersama kami dan membacakan dongeng sebelum tidur!"


Celine menganggukkan kepalanya, dia juga tidak puas dengan kebijakan tidur sendiri setelah usia di atas dua tahun. "Itu benar! Ayah adalah cinta pertama anak gadis, dan kami jarang tidur bersama Ayah! Celine ingin mendengar Ayah membacakan dongeng!"


Natan tertawa terbahak-bahak melihat anak-anak yang mengomel, lalu dia melihat Verdi yang memegang pedang kayu dan mencoba mengayunkannya. "Verdi butuh bantuan?"


"Ayah." Verdi mendongak, lalu mengangguk. "Iya, Verdi ingin seperti Kakak Charles memakai dua pedang, tapi ternyata sulit."


Natan tersenyum, dia mencubit pipi Verdi dengan lembut. "Mengapa tidak seperti Ayah? Tangan kanan memakai pedang, dan tangan kiri memakai pistol. Tangan kananmu kuat, cocok dengan pedang, dan tangan kiri, memang kurang fleksibel, Verdi juga memiliki akurasi yang tinggi, jadi lebih baik menggunakan senjata yang berbeda seperti Ayah."


"Pistol?" Verdi memiringkan kepalanya tidak mengerti.


Natan mengeluarkan pistol tanpa recoil, karena tidak menggunakan amunisi konvensional, melainkan Batu Sihir. "Lihat, hanya perlu menekan bagian ini, dan serangan berbentuk cahaya keluar." Ia mencontohkannya dengan melepaskan tembakan pada boneka kayu.

__ADS_1


Boneka kayu sebagai target panahan, tiba-tiba membuat lubang di tengah dadanya karena tembakan peluru dari Mana.


Verdi memandangi pistol dengan mata berbinar. Dia mengulurkan kedua tangannya. "Ayah ..."


"Sayang, jangan bermain dengan pistol di depan anak-anak." Vely menarik telinga Natan dengan lembut.


Verdi menarik ujung baju Vely. "Ibu, jangan menyakiti Ayah."


Vely menarik tangannya, lalu menepuk-nepuk kepala Verdi. "Ibu tidak menyakiti Ayah, Ibu hanya membelainya. Tapi, senjata yang dipegang Ayah sangat berbahaya, dan Verdi masih kecil, Ibu tidak ingin Verdi terluka."


Verdi melihat boneka kayu yang berlubang di tengah-tengah dada, dan dia menyadari bahwa itu sangat berbahaya, tapi, dia sangat menginginkannya.


Natan mengeluarkan pistol lain dan menaruhnya di tangan Verdi. "Ayah punya yang lain, pelurunya adalah peluru karet, dan daya tembaknya hanya 1 dari 1.000 serangan tadi. Walaupun kena tubuh, ini tidak terlalu sakit, tapi, Ayah tidak ingin Verdi menyerang orang."


Verdi menggenggam pistol, melihatnya sekilas dan tidak ada perbedaan dengan pistol yang tadi, kecuali warna bagian depannya berwarna biru langit. "Verdi janji tidak akan menyerang orang, tapi kalau orang menyerang Verdi lebih dulu, seperti kata Kakak Fefei, Verdi harus membalasnya!"


Natan terdiam dengan sedikit kejutan, tapi dia tidak mengatakan apa-apa, dia hanya tersenyum dan mengusap kepala Verdi.


—30 Hari Kemudian—


Keluarga Alexander berkumpul di halaman dari Kediaman Keluarga Alexander. Pesta yang diadakan di halaman terlihat sangat mewah, semua orang penuh tawa, tapi itu hanya di permukaan, bagi mereka yang tahu atau yang levelnya masuk dalam Top 1.000 Player, ada kekhawatiran dan keengganan.


Natan duduk di kursi dengan kepala menengadah melihat langit malam dengan bintang yang bersinar. Dia menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan.


Dia hendak berdiri, tapi tiba-tiba menundukkan kepalanya karena ada yang menyentuh pahanya. Dia melihat Xiaoai yang berusaha naik untuk duduk di pangkuannya. Dia tersenyum, dia mengangkat Xiaoai dan memeganginya agar tidak terjatuh dari pangkuannya.


"Xiaoai sudah lebih tinggi, tidak terasa sudah berusia hampir lima tahun. Ayah ingin Xiaoai tetap kecil selamanya, dan lucu saat berbicara."


Xiaoai mendongak menatap wajah ayahnya dan berkata, "Xiaoai juga mau seperti itu, mau kecil selamanya supaya tidak perlu bekerja seperti Kakak Fefei dan Kakak Charles. Xiaoai ingin terus bermain!" Ia mengangkat tangan kanannya setinggi mungkin yang memegang ice cream.


Natan mengusap kepala Xiaoai dengan lembut dan berkata, "Bahkan saat Xiaoai besar, Xiaoai tidak perlu bekerja. Ayah bisa memenuhi semua pengeluaran Xiaoai, Xiaoai bisa bermain, asalkan masih sampai batas wajar."


Natan terus mengusap kepala Xiaoai, tapi dia tidak mendapatkan balasan dari Xiaoai, bahkan tidak ada gerakan sama sekali.

__ADS_1


"Sayang."


Natan menoleh, dia melihat Calista yang menatapnya dengan ekspresi khawatir. Dia melihat sekitar, sebagian orang berhenti bergerak, bahkan api yang menyala di tengah-tengah halaman berhenti, seolah waktu telah dibekukan.


"Hari ini benar-benar datang." Natan mengangkat Xiaoai dari pangkuannya, lalu mendudukkannya lagi di kursi dengan lembut. Dia memandang wajah Xiaoai yang masih tersenyum, tapi samar-samar dia bisa melihat ada kesedihan di matanya.


"Saat waktu berhenti, mungkin Xiaoai sadar bahwa kita akan pergi meninggalkannya untuk sementara." Natan mengusap pipi Xiaoai, lalu dia menunduk. "Kalian tahu, aku benar-benar tidak ingin pergi, aku ingin bersama anak-anak, aku tidak ingin lagi bertarung. Aku sudah muak, aku hanya ingin bersantai, melihat perkembangan anak-anak, melihat mereka menangis, tertawa, senang, bahagia dan lainnya."


Natan menarik napas dalam-dalam, dia kembali mendongak, memperlihatkan matanya yang merah dan berkaca-kaca. "Ayah pergi dulu." Ia mengecup pipi dan kening Xiaoai.


Kemudian, Natan melakukan hal yang sama untuk semua anaknya kecuali Xia Feiya.


Glenda menghela napas penuh emosi saat melihat cucunya yang seperti ini. Dia sendiri juga tidak berharap bahwa dia akan ikut bertarung melawan Monster Ancestors.


Natan mengambil air, dia membasuh wajahnya untuk menutupi tangisnya. "Waktu berhenti, artinya pertempuran ini akan sangat lama, beberapa hari, minggu, bulan, atau bahkan tahun. Menghentikan waktu, ini memang tidak masuk akal, tapi logika tidak lagi berguna ..."


"Harus diakui, menghentikan waktu adalah langkah yang tepat. Jika pertempuran berlangsung bertahun-tahun dan waktu tetap berjalan, aku tidak tahu bagaimana anak-anak hidup seorang diri. Biar aku yang mengalaminya, aku tidak ingin mereka mengalami hal yang sama seperti yang pernah aku alami."


Dalam waktu dua tahun terakhir, Natan menggunakan seluruh waktunya untuk anak-anak, dia bahkan mengurangi waktu bersama istri-istrinya. Terutama dua bulan terakhir, dia sangat jarang tidur bersama istrinya, dia selalu tidur di ruang yang luas, tidur di lantai bersama anak-anak dan membacakan dongeng sebelum tidur.


Sing!


Ketika Natan masih merenung, tiba-tiba terdengar suara desing yang datang dari beberapa tempat. Dia mendongak, dia melihat cahaya putih yang muncul di depannya membentuk pusaran. Cahaya ini tidak hanya muncul di depannya, tapi juga di semua orang yang tidak terpengaruh oleh berhentinya waktu.


Natan terdiam untuk beberapa saat, dia berbalik, memandangi anak-anaknya yang duduk maupun berdiri bersebelahan tanpa bergerak seperti patung di sana. "Ayah pergi dulu."


Natan menghela napas, kemudian dia berbalik dan memasuki portal cahaya di depannya.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2