
"Sudah?"
Ayumi menganggukkan kepalanya, dan tidak lagi berbicara.
Natan terkekeh kecil melihat Ayumi yang sedikit kesal. Dia mengusap kepalanya, dan mencubit lembut pipinya. "Pipimu sangat lembut, sama saat masih kecil dulu. Tapi sekarang lebih cantik, dulu kau tertawa saat dicubit, dan saat tidur dulu, kau selalu mengeluarkan air liur."
Ayumi memalingkan wajahnya yang merah, terutama saat ditertawakan oleh Erina yang ikut mendengarnya.
Natan ikut tertawa kecil, tapi segera tenang dengan tatapan tajam saat melihat mulut gua. Dia berkomunikasi dengan yang lain, dan Annaya memerintahkan semua pasukan untuk mendaki tebing dengan hati-hati.
Dia mengeluarkan Sako TRG Mana, mengarahkan scope untuk mengincar Hob-Goblin yang menjaga mulut gua. Tapi dia tidak langsung menarik pelatuk untuk melepaskan tembakan, melainkan menunggu.
Ayumi dan Erina juga tidak lagi bercanda, mereka bersiap-siap untuk melompat turun dan menyerbu.
...
“Kami sudah di tempat, tinggal menunggu aba-aba untuk melepaskan serangan.”
Mendengar pesan dari Annaya, Natan melihat peta dan menemukan banyak Elf yang sudah menaiki tebing. Tapi sayangnya Mapping tidak mampu menangkap dataran tinggi di dalam tebing yang menjaga markas.
Natan mengangguk dan berkata, "Komandan pertempuran ini adalah kau, tidak perlu menunggu aba-aba. Kau bisa melakukannya sendiri."
Setelah berkali-kali memanggil Annaya dengan “Yang Mulia Ratu”, dan Annaya yang berkali-kali menolak, akhirnya Natan tidak menahan diri lagi, dia berbicara seperti biasa.
Annaya di sisi lain, menganggukkan kepalanya. Dia mengangkat tangannya meski tidak perlu, kemudian melambaikannya. "Lepaskan tembakan."
Whooooosh! Whooooosh! Whooooosh!
Anak panas melesat ke langit dari segala arah, yang menuju ke satu tempat di tengah-tengah tebing.
Hob-Goblin yang menjaga mulut gua, berbalik saat merasakan ada yang salah. Tapi sebelum bisa masuk, tiba-tiba ada darah hijau kemerahan yang mengalir keluar dari dahinya yang telah berlubang.
"Khee?" Hob-Goblin yang lain terkejut melihat rekannya yang jatuh dengan dahi yang berlubang. Ketika dia mendekat untuk melihatnya, tiba-tiba pandangannya mulai gelap dan kehilangan kesadaran.
Natan melompat turun dari dahan pohon, dua menyerbu masuk ke dalam gua dengan Ayumi dan Erina yang mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Tikus yang sudah masuk lebih awal, mengeluarkan Skeleton Earth Mage untuk membangun sebuah tembok di sisi lain mulut gua. Kemudian Ayumi mengayunkan tongkat sihirnya dan berkata, "Fire Ball."
Bola api melesat membelah kegelapan di dalam gua, dan memperlihatkan Hob-Goblin yang berjaga.
Tanpa menunggu Fire Ball meledak, Ayumi memukul tongkat sihir di permukaan tanah, membuat tanah di depannya melonjak membentuk dinding yang menutup gua.
Getaran bisa terasa, dan itu bertanda bahwa serangan sebelumnya telah meledak di dalam. Sekarang, hanya tinggal menunggu waktu sampai Hob-Goblin di dalamnya mati dengan lemas.
Natan membawa ketiganya keluar, kemudian menggunakan Ksatria Lebah untuk naik ke atas tebing. Ketika sudah tiba di atas, dia melihat bahwa tebing ternyata sangat tebal dan terlihat seperti pohon besar yang ditebang.
Dia melihat sekeliling, melihat Elf yang masih menyebar seraya melepaskan anak panah. "Terlalu terburu-buru, masih ada yang belum di posisi."
"Ayah!"
Tanpa sadar, Natan melihat ke sumber suara dan melihat Annaya yang melambaikan tangannya. Tapi dia tidak pergi ke sana, melainkan membawa adik-adiknya berjalan ke tepi tebing untuk melihat markas Hob-Goblin.
Saat sudah di tepi, melihat ke bawah, dia melihat Hob-Goblin yang mengangkat perisai untuk menahan semua anak panah. Pertahanan mereka sangat rapat, tapi ada yang berdiri kokoh di tengah-tengah arena tanpa ada luka sedikit pun.
Ukurannya lebih besar dari yang lain, tubuhnya berwarna hijau dengan sisik hitam seperti ular. Sisik itulah yang menahan semua serangan anak panah. Matanya merah, menatap Elf dengan kemarahan yang tidak bisa disembunyikan.
Natan melihat Hob-Goblin dengan Level 750. Itu 147 level lebih tinggi darinya, dan tentu tidak mudah untuk membunuhnya meski dia memiliki banyak cara. Jika musuh memiliki tubuh besar, mungkin tidak butuh waktu lama, tapi karena tubuhnya hanya sedikit lebih tinggi dari manusia, pastinya kecepatannya sulit ditangkap.
Dia mengarahkan Sako TRG Mana ke Hob-Goblin yang merupakan Raja, lalu melepaskan tembakan.
King Hob-Goblin mengalihkan pandangannya dari Annaya ke arah Natan, kemudian dia memiringkan kepalanya.
Bang!
Tanah di belakang King Hob-Goblin dengan sudut 45° berlubang, itu adalah serangan yang dilepaskan Natan tadi.
Natan sedikit tercengang ketika melihat King Hob-Goblin yang mampu menghindari serangan itu, yang bahkan King High Orc tidak mampu menghindarinya.
Tapi dia tidak berhenti, terus melepaskan tembakan, namun tidak lagi King Hob-Goblin yang menjadi incaran.
Peluru Mana Api melesat dengan kecepatan tinggi yang dari waktu ke waktu akan semakin kecil, dan di sekitarnya ada sepuluh peluru lain yang menambah daya serang. Tapi itu belum berakhir, karena masing-masing peluru akan bertambah berkali-kali lipat.
__ADS_1
Hujan Peluru Mana itu menghantam semua perisai, menembus mereka dan melukai Hob-Goblin. Tapi di bawah serangan bertubi-tubi di mana tidak ada tempat bersembunyi, mereka tetap hidup.
"Bullet Explosion."
Peluru yang sudah menembus kulit Hob-Goblin, tiba-tiba mengeluarkan panas yang menyiksa, dan kemudian meledak dengan nyala api membentuk jamur raksasa. Nyala api itu sangat besar, dan asap panas menyebar memenuhi tebing yang berbentuk seperti batang pohon.
King Hob-Goblin terhempas karena ledakan tepat di depannya. Jika saja ia di tengah-tengah, bahkan meski tidak langsung mati di tempat, kerusakan yang diterima tidak sedikit, dan tidak berbeda dengan boneka yang lumpuh.
Melihat ledakan yang kuat, Annaya merasa malu. Pasukan mereka memang banyak, levelnya tinggi, tapi persenjataan mereka terbilang kuno.
"Kekuatan Level B-5 dilemparkan begitu saja oleh kekuatan Level D-1." Annaya masih tidak percaya meski melihatnya sendiri. Di surat, sering dikatakan bahwa kekuatan Natan tidak sesuai dengan level yang sebenarnya. Sering melawan musuh yang lebih kuat, awal-awal sangat berani dan sering mempertaruhkan nyawa, tapi setelah berlalunya waktu, sering menggunakan cara licik.
Annaya tahu apa yang dimaksud cara licik, tapi tidak peduli, dalam perang, semuanya diperbolehkan.
Natan tidak terkejut dengan komentar Annaya. Dia sudah tahu tentang level orang-orang ini dari Ainsley. Berbeda dengan manusia di Bumi yang menggunakan level 1 — 999, orang-orang ini akan menggunakan H-1 — S-9.
"Ayumi, turunkan hujan."
Ayumi mengangguk kecil. Mengangkat tongkat sihir yang diwarnai dengan cahaya biru, dia melambaikan tongkat.
Tiba-tiba gemuruh menggelegar di langit yang entah dari kapan sudah tertutup oleh awan hitam. Kemudian, awan itu terbelah, memuntahkan aliran air seperti air terjun. Itu mengalir deras dengan kecepatan tinggi, memadamkan nyala api.
Ketika panas api dan air bertemu, itu menimbulkan ledakan lain yang menggema dengan gelombang uap panas yang menyebar dan menghalangi pandangan semua orang.
Tapi, semua rekan sudah ditandai oleh Erina. Menggunakan Sheltron untuk menghalau semua gelombang panas agar tidak berdampak buruk bagi mereka.
Erina selalu berlatih setiap hari, dan sekarang sudah mampu meninggalkan Mana di tubuh orang lain, dan saat yang tepat, dia bisa mengaktifkan kemampuan yang sudah dilatihnya.
Cara ini juga bisa digunakan untuk membunuh diam-diam, tapi lebih sulit melatihnya daripada kemampuan pertahanan.
Melihat ini, Natan tersenyum tipis, mengusap kepala adik-adiknya dan memberikan pujian kepada mereka berdua.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...