
—Lantai 26, Dungeon Tower—
Petualangan kali ini tidak membawa istri-istrinya, hanya Ayumi dan Erina. Alasannya sederhana, istri-istrinya tidak bisa membantu banyak dalam pertarungan, dan malah menjadi beban, karena itu, mereka bertiga langsung keluar dari sini dengan sukarela.
Natan sendiri tidak masalah dengan perginya mereka, karena dengan ini, dia bisa memberikan perhatian yang lebih pada adik-adiknya, di mana waktu yang dia berikan untuk mereka berdua sangat sedikit.
Ayumi dan Erina sangat senang.
"Ayu merindukan suasana seperti ini. Dulu hanya kita bertiga, dan saat itu Kakak sangat keren. Tapi setelah Kakak mengubah Kelas menjadi Necromancer, Ayu melihat Kakak melemah."
Erina yang duduk di tangan kanan Natan, mengangguk berkali-kali. "Ya, dulu Kakak keren. Melindungi kita dari serangan, menahan naga dan sebagainya. Tapi sekarang, hanya melambaikan tangan dan duduk, itu lemah!"
Natan tertegun ketika mendengar unek-unek adik-adiknya, kemudian dia terpikirkan sesuatu. "Bagaimana hubunganku dengan Calista dan yang lain? Apa kalian menyetujuinya?"
Ayumi memiringkan kepalanya, menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk. "Ayu tidak masalah, tapi Ayu harap Kakak jangan jatuh ke sana. Aku mendengar dari Kak Xumei dan yang lain, Kakak selalu berbuat itu, padahal itu tidak baik jika terlalu sering."
"Ya ..." Erina mengangguk setuju. "Tidak masalah, tapi Kakak harus memperhatikan kesehatan Kakak. Jangan selalu di kamar, bahkan jika Kakak tidak membunuh monster, paling tidak berolahraga dan menemani kami ke kota."
Natan terdiam. Dia mulai memikirkannya kembali, dia memang harus mengakui bahwa dia telah berubah. Yang dilakukannya hanya berhubungan di kamar, bahkan selalu menantikannya dan ingin melakukannya setiap hari.
"Ya... Kalian benar, aku terlalu berlebihan. Aku harus kembali ke tujuan awal, menjadi yang terkuat dan menciptakan tempat aman untuk semua. Bahkan meski aku sudah menerima kekuatanku, aku harus tetap berjuang, tidak semuanya bisa dilakukan oleh skeleton. Mungkin, kemampuan ini akan hilang, dan pada saat itu, karena terlalu bergantung pada skeleton, aku menjadi lemah dan tidak berpengalaman."
Natan menurunkan Ayumi dan Erina. Kemudian dia bersandar di batu tinggi di depannya, bukan karena ingin beristirahat, tapi ingin mengendap-endap dan melihat apa yang ada di baliknya.
Ketika dia menoleh ke belakang melalui celah antara batu, dia melihat sekelompok Orc berkulit hijau dengan zirah yang hanya menutupi bagian bawah.
Tiba-tiba...
[Dungeon Tower 2.0 Lantai 26]
[Bunuh High Orc (0/750)]
[Reward : 10.000.000 Point Exp tambahan, mengecualikan Point Exp yang didapat dari membunuh monster]
[Hancurkan Camp High Orc Race]
[Reward: 100.000.000 Point Exp, Gulungan Skil]
Natan tercengang ketika tiba-tiba muncul misi di depannya, meski dia sendiri bisa langsung naik ke Lantai 27. Tapi karena ada misi, tentu dia akan menyelesaikannya. Adapun mengapa misi muncul setelah dia melihat High Orc, dia tidak tahu.
Natan mundur perlahan, lalu melihat adik-adiknya. "Kalian tadi bilang ingin Kakak bertarung dengan cara biasa, apakah ini saatnya?"
Ayumi dan Erina mengangguk, mereka sangat bersemangat.
__ADS_1
Melihat tatapan memohon dari adik-adiknya, dia teringat akan kenangan mereka dulu. Dari sini, dia mulai menyadari kesalahan terbesarnya, yaitu terlalu terburu-buru menjalin hubungan, sampai akhirnya jatuh pada kenikmatan yang membuatnya menjadi seorang maniak.
Natan mengusap kepala keduanya dan menatapnya dengan lembut. "Tapi kalian harus membantu."
"Iya!" Keduanya menjawab dengan semangat dan sedikit berteriak.
"Siapa?!"
Suara keras yang kasar terdengar dari balik batu besar.
Ayumi dan Erina menatap satu sama lain seraya menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Natan menepuk dahinya, dia menghela napas. Kemudian dia membawa adik-adiknya pergi ke tempat yang lebih luas untuk mereka, tapi lebih sempit untuk pihak lain.
High Orc setinggi empat meter datang di depan Natan, membawa gada besar yang terbuat dari bongkahan batu. "Manusia? Ada manusia! Manusia, makanan enak!"
"Manusia?!"
Delapan High Orc lain bergegas datang, mereka mencoba masuk ke celah antara batu yang hanya bisa dimasuki oleh manusia. Dengan ukuran tubuh mereka, sangat sulit untuk masuk, apalagi mereka berlomba-lomba masuk, sehingga saling berhimpitan.
Erina mengangkat perisai dengan tangan kirinya, kemudian mendorongnya ke depan. Perisai itu memancarkan sinar dengan cahaya putih-emas, kemudian cahaya itu keluar dari perisai, membentuk tameng besar yang melesat.
Bang!
High Orc di barisan belakang, terkena dampak yang sama, meski tidak terhempas, tapi karena tekanan dari depan, mereka kehilangan keseimbangan dan tertindih.
Ayumi belum mencapai Level 600, sehingga tidak ada skill baru, bahkan meski banyak skill dari NPC, tapi tidak ada yang menarik perhatiannya.
Ayumi mengayunkan tongkat sihirnya secar vertikal ke bawah seperti menebas pedang. Tombak es muncul di langit, melesat turun menusuk High Orc yang berada di paling atas.
Tombak es itu menusuk dada High Orc, tapi tidak langsung membunuhnya karena cukup dangkal.
Natan berlari menuju High Orc seraya menarik pedang dari sarungnya.
Ayumi mengetahui apa yang ingin dilakukan Natan. Dia mengangkat tongkat sihir, membuat tanah di bawah High Orc bergetar, kemudian dinding naik, membuat High Orc barisan terdepan berdiri dan memisahkannya dengan High Orc yang lainnya.
Natan bergegas menuju High Orc Level 610.
High Orc mengangkat tangan kanannya, mengayunkan gada besar, bermaksud untuk menghancurkan Natan.
Ayumi mengarahkan tongkat sihir ke tangan High Orc. "Fire Chain!"
Tiba-tiba rantai api muncul dari udara kosong, itu melesat langsung menangkap tangan High Orc. Asap putih terlihat keluar dari tangan orc karena panasnya, dan tercium aroma daging yang terbakar.
High Orc meraung, ia terus memaksa untuk menyerang Natan. Sampai akhirnya, rantau itu terputus dan serangannya kembali berjalan menuju Natan.
__ADS_1
Natan mengangkat tangan kirinya ingin menahan serangan dengan skillnya, tapi tiba-tiba Erina berdiri di sampingnya dan berteriak: "Light Shield!"
Bang!
Erina menggigit bibirnya dan meringis menahan sakit saat tangannya mati rasa. Dia hampir mundur, tapi dia memaksakan diri untuk melangkah lebih jauh. Kemudian dia mendorongnya sekuat tenaga. "Aaaaahh!"
High Orc kehilangan keseimbangan lagi saat gadanya dihempaskan.
Natan yang dari awal dilindungi oleh Erina, sudah mengambil tindakan. Dia dia menebas lutut, berbalik ke belakang memberikan sayatan, membuat High Orc itu tidak bisa berdiri karena otot kakinya telah dipotong.
Ayumi menggunakan sihir tanah untuk menggali tanah di balik dinding, membuat High Orc lain terperosok ke dalam lubang dan tidak bisa membantu.
Natan menebas pergelangan tangan, siku dan bahu High Orc untuk menghentikan pergerakannya. Dia juga meminta Erina untuk menyerang bersama, jangan sampai membiarkan High Orc itu menyembuhkan luka-lukanya.
Dia melompat tinggi, mendarat di punggung High Orc dan menusukkan pedangnya di tengkuk High Orc dengan sekuat tenaga.
Pedang itu menembus, membuat napas High Orc tersendat, kemudian dia menebasnya sampai kepalanya terpisah dan terbang ke udara.
Natan langsung melompat turun, dia mengambil adik-adiknya dan kembali pergi ke tempat lain.
...
Setidaknya mereka sudah berada dua kilometer dari tempat pertempuran tadi.
Natan bersandar di batu, dia mengatur napasnya yang sedikit berat. Harus diakui, ilmu pedangnya memang sedikit menurun karena selalu mengandalkan Skeleton Squad.
Dia meremas rambutnya, mengarahkan kepala melihat langit senja. "High Orc biasa sudah Level 610. Bagaimana King of High Orc?"
Natan melihat Erina yang masih memijat tangan kirinya sendiri, dan sepertinya masih belum bisa menghilangkan rasa sakit dari serangan yang diterima. Dia mengulurkan tangannya, membantu Erina yang kelelahan. "Lain kali, jangan bertindak gegabah seperti itu, aku bisa mengatasinya sendiri."
Erina mendengus dingin, nampak kesal. "Erina hanya ingin membantu."
Natan membuka mulutnya ingin menasihati, tapi dia tahu bahwa dia sendiri tidak bisa melakukan semuanya sendirian. Dia menekan semua kata-katanya kembali, dan menepuk-nepuk kepala Erina. "Baiklah, terima kasih."
"Ayu juga membantu."
"Baik, baik." Natan mengusap kepala Ayumi dengan lembut.
Natan melihat Mapping dan tidak ada bahaya yang mengancam. Tapi dia ingin memastikannya lagi dengan mengirim elang kecil yang sudah diubah menjadi kerangka.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1