Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 200 : Elf's Pendant


__ADS_3

—Malam Harinya—


Ketiganya beristirahat di rumah yang di tanam di dalam tanah sampai tidak meninggalkan jejak sedikit pun. Oksigen? Tidak perlu khawatir, ada tanaman khusus yang diletakkan di setiap sudut rumah, yang mampu menyediakan oksigen untuk bernapas dan bisa bertahan selama tiga bulan.


Kemudian alasan mengapa mereka memilih untuk tinggal di dalam rumah, itu adalah alasan pribadi Natan yang tidak bisa dikatakan pada adik-adiknya.


Saat ini, Natan berada di dalam kamar tanpa mengenakan sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya, dia terlentang di atas kasur, dan di depannya ada layar interface yang terhubung dengan panggilan video.


Baru saja panggilan video tersambung, tiba-tiba ada suara terkejut di sana.


“Natan! Cepat berpakaian!"


Natan mengerutkan keningnya. "Ada apa?—"


Dia berhenti berbicara ketika melihat Brianna yang muncul di dalam panggilan video. Segera, dia mengambil selimut di sampingnya dan menutupi tubuhnya yang polos.


Brianna menggelengkan kepalanya seraya menepuk dahinya. “Bisa-bisanya kau seperti ini, apakah kau ingin Ibu minta tolong Liu Xinmei untuk pergi bersamamu agar kau tidak merasa kesepian?”


"Bagaimana bisa Ibu mengatakan itu?"


"Apa?" Brianna mendengus, kemudian berkata, "Kau terlihat kesal, tapi salah satu bagian tubuhmu mengatakan lain. Ibu akan percaya padamu kalau kau hanya memiliki satu istri, tapi lihat, kau sudah memiliki tiga."


Natan terdiam. Dia batuk beberapa kali, duduk bersandar dan mengarahkan kamera ke arah bagian atas tubuhnya. "Apakah ada masalah di sana? Ibu bisa menghubungiku langsung, mengapa harus melalui Calista?"


Brianna diam untuk beberapa saat dengan tatapan tajam, kemudian dia menghela napas dan berkata, "Ainsley berpesan agar kau bisa mendatangi Wilayah Elf di sana, dan kalau bisa, bawa mereka semua keluar dari sana. Ibu akan mengirimkan item yang memungkinkan kau bisa membawanya, dan Ainsley sudah meninggalkan barang. Kau bisa tunjukkan barang itu, dan Elf tidak akan menyerang."


Natan diam untuk beberapa waktu, lalu mengangguk kecil. "Oke."


Brianna menatap Natan sebentar, kemudian berbalik, menghilang dari panggilan video. "Itu saja, Ibu akan keluar kamar. Kau bisa melakukan apa pun yang kau mau."


Menunggu Brianna benar-benar keluar dari kamar, barulah Calista menghela napas. Dia menatap Natan, mata mereka bertemu meski melalui panggilan video. "Apakah kau ingin menikah lagi?"


Natan mengangkat sebelah alisnya dan balik bertanya, "Apakah aku orang yang seperti itu?"


Calista terdiam sejenak, memandang Natan untuk waktu yang lama dengan tatapan tajam. "Jika dulu, mungkin tidak, tapi sekarang, itu iya."


Natan terdiam, dia tersenyum canggung dan menggaruk pipinya. Dia paham apa yang dimaksud Calista, tapi adalah benar bahwa dia mengatakan tidak ingin menambah lagi, karena tiga saja sudah melelahkan, apalagi lebih.

__ADS_1


Kemudian, sulit untuk membagi waktunya.


Calista tidak langsung percaya, dia memberikan tatapan yang lebih tajam dari sebelumnya. Tapi tidak lama, dia kembali seperti biasa, menatap Natan dengan penuh kasih.


"Kapan pulang?"


Natan merenungkannya sebentar, memikirkan rencana tentang bagaimana penghapusan Camp Hob-Goblin. Menghancurkan Camp Hob-Goblin bisa dibilang tugas yang mudah, tapi meyakinkan Ras Elf adalah hal lain. Bahkan meski sudah memiliki tanda yang menyatakan bahwa dirinya datang karena Ainsley, pastinya ada yang tidak percaya, atau bahkan dia dianggap musuh, menjebak Ainsley dan mengambil tanda.


"Mungkin ..." Natan mendongak melihat Calista. "Satu minggu lagi. Setelah itu, mari adakan upacara pernikahan kita."


Calista mengangguk kecil, kemudian saat mendengar kalimat terakhir, dia tertegun dengan mulut terbuka lebar, lalu dia kembali mengangguk dengan senyum bahagia. Air mata kebahagiaan muncul di sudut matanya, dia sangat senang. Meski dia sudah sering mendengar Natan memanggilnya dengan sebutan “Istri”, tapi adalah hal lain ketika mereka mengadakan upacara pernikahan.


Natan tersenyum, dan ketika dia hendak menanyakan tentang Vely dan Olivia, dia menghela napas, menarik kembali kata-katanya. Saat ini dia sedang melakukan panggilan video dengan Calista, tidak baik menanyakan yang lain, meski mereka berhubungan baik.


Keduanya mengobrol dengan bahagia, sampai akhirnya tengah malam dan Natan berpamitan untuk tidur. Tapi, panggilan video itu tetap menyala, itu semua atas permintaan Calista.


Calista sendiri tidak tidur, karena di luar masih siang hari.


...***...


—Keesokan Harinya—


Melihat istri-istrinya yang rukun, dia tidak bisa menyembunyikan senyumnya. "Aku ingin melompat ke sana."


Dia mengulurkan tangannya ke bawah, menyentuh ular yang bangun di pagi hari. Tapi tiba-tiba, ada pesan masuk. Dia melihatnya, pesan itu dari Brianna dengan barang yang telah dijanjikan.


Natan mengurungkan niatnya, kemudian mengambil barang yang dikirim. Barang itu berbentuk daun berwarna hijau keemasan, tapi terbuat dari kulit pohon yang keras.


[Elf's Pendant]


[Terbuat dari kulit Pohon Elf. Pohon yang disucikan oleh Ras Elf, hanya bisa dibawa oleh Ratu dari Ras Elf. Jika manusia membawanya, akan dianggap sebagai teman baik, bahkan ada kemungkinan akan dianggap sebagai Raja Ras Elf. Mengandung Mana milik Ainsley Camelia, Ratu Pertama Ras Elf]


[Rank : ???]


[Statistik : ???]


"Liontin? Ini? Liontin?" Natan bingung, melihatnya beberapa kali benda yang dipegangnya, memastikan bahwa ini benar-benar liontin.

__ADS_1


Kemudian, dia melihat pengenalannya, mengangguk beberapa kali. Tapi saat melihat ada nama Ainsley Camelia di sana, dia tidak bisa tenang, dia benar-benar tidak menyangka bahwa Ainsley yang menyebalkan, ternyata Ratu Pertama dari Ras Elf.


Tanpa sadar, dia menyentuh bibirnya sendiri. "Apa jadinya kalau aku memberi tahu kepada setiap Elf yang kutemui, kalau aku pernah mencium bibir Ainsley. Apakah mereka akan marah?"


Bibirnya melengkung membentuk senyum yang tidak bisa dijelaskan, dia mulai memikirkannya. Tapi setelah beberapa detik, dia membuang ide gila itu. Dia masih sayang dengan nyawanya, dan tidak ingin melakukan hal yang bisa membunuhnya.


"Kakak, sarapan sudah siap."


Natan mendongak, menoleh ke kiri melihat ke arah pintu. "Iya, aku datang."


Dia beranjak turun dari tempat tidur, berjalan ke depan cermin dan mengenakan pakaiannya. Setelah itu, dia langsung pergi ke ruang makan untuk menyantap sarapan.


...


Puluhan menit kemudian, ketiganya sudah selesai sarapan dan keluar dari bawah tanah.


Natan merentangkan kedua tangannya, menghirup napas panjang dan menghembusnya perlahan. Dia memandang wilayah di seberang sungai di depannya dan berkata, "Kita akan pergi ke Wilayah Ras Elf."


Ayumi dan Erina saling memandang, kemudian Erina mendongak dan bertanya, "Tapi, bukankah Kakak tidak ingin tergesa-gesa? Kakak takut pihak lain menyerang kita karena memasuki wilayahnya, apakah itu tidak apa-apa?"


Natan mengusap kepala Erina. "Tadi malam Ibu mengirim barang, barang itu milik Ainsley. Jika kita memperlihatkannya, Ras Elf akan menganggap kita sebagai teman."


"Barang?" Ayumi memiringkan kepalanya. "Ayu ingin melihatnya." Ia sangat bersemangat, melompat-lompat kecil.


Natan tersenyum tipis, tetapi dia hanya diam dan menggelengkan kepalanya.


Melihat respon yang diberikan, Ayumi mendengus kesal sambil memalingkan wajahnya dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Pelit."


Natan tertawa kecil ketika melihat Ayumi yang kesal, terutama pipinya yang bulat seperti bakpao. Dia berjongkok, memeluk keduanya dan menggendongnya bersama.


Ayumi masih memalingkan wajahnya, tapi tangannya sudah memeluk leher Natan.


Natan tersenyum, tapi masih tidak mengatakan apa-apa. Dia menarik napas dalam-dalam, kemudian berlari ke tempat semula, kali ini dia ingin membunuh River Guard. Bahkan meski sungai ini panjang dan lebar, tapi dia masih belum bisa tenang sebelum River Guard dibunuh.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2