
Natan membawa yang lain menuju salah satu rumah warga dengan dua lantai yang halamannya ada pohon rindang, meski hanya bagian atasnya saja yang terlihat, dan itu pun sudah membeku. Atap rumahnya berwarna biru dengan bahan Alderon yang sangat ringan, namun kuat.
Natan mengetuk jendela kaca yang bersebelahan dengan pintu utama. "Selamat siang, apakah ada orang di dalam sana?"
Tidak ada balasan dari dalam rumah, meski ia mendengar suara langkah kaki yang berpindah dari lantai satu ke lantai dua.
"Apakah kau Izora Calista?"
Tidak terdengar lagi suara langkah kaki yang berasal dari dalam ruangan. Hingga terdengar pecahan kaca yang berasal dari lantai dua.
Natan menengadahkan kepalanya melihat lantai dua, terlihat seorang wanita yang usianya sepantaran dengannya. Wanita itu membawa dua pedang merah di belakang punggung, mengenakan jirah kulit oranye.
Wanita itu berambut hitam kecokelatan nan panjang, mata hitam berkilau dengan wajah halus bagaikan sutra.
Izora Calista mendarat di permukaan salju yang jauh dari Natan, kemudian ia berlari hendak menyerang. Namun baru beberapa langkah yang ia ambil, tubuhnya terperosok masuk ke dalam tumpukan salju.
"Calista!" Suara lain terdengar dari dalam lantai dua.
Izora Calista mendongak melihat lantai dua. "Olivia, jangan turun!" Ia mencoba untuk keluar dari dalam tumpukan salju, meski tidak bisa bergerak sama sekali.
Natan menghembuskan napas panjang dan menghampiri Izora Calista. Ia sedikit membungkukkan badannya dan mengulurkan tangan kanannya memberikan bantuan. "Sepertinya aku mengenalmu. Tapi aku tidak tahu apakah kau Izora yang ku kenal atau bukan, karena itu, bagaimana jika kita mengobrol sebentar."
Izora Calista yang masih tertanam itu hanya bisa menggerakkan tangan kanannya, dan karena tidak bisa melakukan apa-apa, akhirnya ia menerima pertolongan Natan.
Natan tersenyum tipis dan mengangkat tangan kanannya, membawa naik Izora Calista.
Karena terlalu kuat menariknya, Izora Calista sampai terbawa ke depan mengarah pada Natan, dan membuat Natan kehilangan keseimbangan.
Natan yang kehilangan keseimbangan terjatuh di permukaan salju, dengan Izora Calista berada di atas badannya.
Ayumi dan Erina yang melihat itu tersentak, kemudian berlari menghampiri untuk mengangkat Izora Calista dari atas badan Natan.
Natan berdiri dengan bantuan Ayumi, kemudian membersihkan salju yang menempel di pakaiannya. "Apakah kau pernah bermain Game Sword and Magic dengan nickname Izora, Server Venus?"
"Bagaimana kau tahu? Aku memang pernah memainkannya, tapi sekarang game itu sudah tidak ada lagi." Izora Calista juga bangkit setelah dilemparkan oleh Ayumi dan Erina.
"Aku juga pernah memainkannya, kita sering bermain bersama, meski Guild kita saling bermusuhan untuk memperebutkan wilayah satu sama lain." Natan masih saja membersihkan pakaiannya yang kotor dan dibantu oleh Ayumi menggunakan sihir api.
"Kau pernah bilang tinggal di Kota Lampung, namun aku tidak menduga jika kau adalah seorang perempuan yang seumuran denganku."
Natan mengulurkan tangan kanannya kembali mengajak Izora Calista untuk bersalaman. "Bagaimana jika kita membuat tim bersama, dengan temanmu di lantai dua."
Izora Calista terdiam sejenak melihat telapak tangan Natan, kemudian ia membuka layar interface untuk berkomunikasi dengan rekan satu timnya di lantai dua. Setelah mendapatkan persetujuan, ia meraih tangan Natan.
"Baiklah, karena kita sudah saling mengenal di dalam game, jadi lebih baik mengapa kita tidak mengenal juga di dunia nyata."
Natan menganggukkan kepalanya dengan senyum tipis terukir di wajahnya.
Izora Calista memanggil temannya yang berada di lantai dua. Terlihat wanita berambut pirang dengan mata cokelat, wajah halus bagaikan sutra dan mengenakan jubah seperti penyihir, namun berwarna biru muda.
Wanita itu berlari dan berlindung di balik tubuh Izora Calista.
"Dia memang seperti ini, dia sangat takut dengan orang baru."
Natan hanya mengangguk kecil dengan penjelasan Calista.
__ADS_1
[Nama : Izora Calista]
[Ras : Manusia]
[Usia : 18 Tahun]
[Level : 150]
[Job : Blademaster/Crafsman]
[HP : 61.000 [61.000/61.000] [6500/m]
[MP : 11.050] [11.050/11.050]] [670/m]
[STR : 655 (+20+42+65)]
[VIT : 207 (+10+70+20)]
[AGI : 255 (+12+14+25)]
[INT : 157 (+15+70)]
[DEX : 159 (+15+70)]
[LUCK : 170 (+10+14+17)]
____________________________________________
[Nama : Olivia Edrea]
[Ras : Manusia]
[Usia : 18 Tahun]
[Job : Monk/Saint]
[HP : 62.800 [62.800/62.800] [7580/m]
[MP : 12.750] [12.750]] [795/m]
[STR : 303 (+20+30)]
[VIT : 255 (+12+50+20)]
[AGI : 154 (+10+20+25)]
[INT : 189 (+17+60+36)]
[DEX : 156 (+5+40)]
[LUCK : 170 (+5+10+17)]
Saint? Natan menolehkan kepalanya menatap Olivia dan Ayumi secara bergantian. Saint dan Healer memang sedikit berhubungan, namun skill milik Olivia tidak ada hubungannya dengan penyembuhan, lebih seperti meningkatkan buff dan ada salah satu Skill Pasif yang sangat membuatnya penasaran.
Experience Luck Lv.Max
__ADS_1
Tapi sepertinya skill itu mengharuskan memenuhi persyaratan untuk dapat aktif, meski itu adalah Passive Skill.
Natan mengalihkan perhatiannya pada Calista. "Ngomong-ngomong, sebenarnya kalian ingin pergi ke mana?"
Calista terdiam sejenak dengan kepala tertunduk dan mengusap dagunya. Kemudian ia memiringkan kepalanya seraya menyilangkan kedua lengannya di depan dada. "Entahlah, sebelumnya kami pergi ke Pangkalan Militer. Tapi di sana terlalu banyak orang yang menjadi beban, jadi kami berdua berkelana sesuka hati, asalkan bisa bertahan hidup."
"Kalian?" Calista bertanya balik.
"Kami ingin pergi ke China." Meski baru bertemu di dunia nyata, Natan merasa tidak perlu menyembunyikan niatnya. Vely juga tidak mengatakan hal-hal aneh tenang Calista dan Olivia.
Calista dan Olivia tertegun saat mendengar pernyataan Natan.
"Kami berasal dari Jawa Timur. Kami pergi ke Sumatera karena ingin pergi ke China. Jadi, apakah kalian tetap akan mengikuti kami, atau memilih tinggal di sini?"
Calista dan Olivia masih terdiam untuk beberapa saat. Keduanya saling menatap satu sama lain, kemudian menganggukkan kepala secara bersamaan seperti memiliki pemikiran yang sama.
"Daripada di sini tidak melakukan apa-apa, lebih baik kami juga pergi ke China," jawab Calista sebagai perwakilan.
Natan tersenyum tipis, kemudian berucap, "Bagaimana jika kalian masuk ke dalam tim kami. Aku tidak tahu mengapa, sepertinya maksimal satu tim adalah sepuluh anggota."
Keduanya menganggukkan kepala, kemudian bergabung dengan tim Natan.
Natan juga mengundang keduanya untuk masuk ke dalam Guild Armonia. Meski belum ia berikan hak khusus untuk membuka Inventory Guild.
[Syarat telah Terpenuhi]
[Experience Luck telah Aktif]
[Point Exp yang didapatkan dari membunuh monster, tidak lagi dibagi menjadi jumlah Player dalam satu tim, melainkan 70% dari pendapatan Point Exp dari membunuh monster]
Pemberitahuan ini bisa dilihat oleh mereka semua yang tiba-tiba muncul di depan mata.
Natan yang melihat ini tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut dan bahagianya. Selama ini, Point Exp mereka dibagi menjadi lima, yang artinya satu Player hanya mendapatkan 20% Point Exp dari membunuh monster.
Jika dengan tambahan Inti Sihir yang dimakan Kuro nanti, maka satu monsternya akan mendapatkan 140%, itu apabila Inti Sihir juga mendapatkan efek dari Experience Luck. Namun jika tidak, maka hanya mendapatkan 84%.
Calista dan Olivia juga tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat level yang tertera di Guild Armonia. Bahkan kucing kecil yang ada di pelukan Vely juga berada dilevel 269.
Natan memanggil Mammoth Tank dan Skeleton Knight, kemudian memerintahkannya untuk meletakkan Mammoth House di atas Mammoth Tank.
Calista yang melihat itu membelalakkan matanya, tapi tidak lama kemudian ia sedikit kecewa saat melihatnya. "Sebagai pemilik Job Crafsman dan pernah membantu Ayah sebagai tukang kayu, pengerjaan rumah ini terbilang sangat jelek."
Natan tidak bisa berkata-kata lagi. Mammoth House memang jelek, karena itulah ia bersusah payah untuk mencari Job Crafsman, dan keberuntungan mendatanginya dengan mendatangkan Calista.
Natan berjalan ke bagian depan Mammoth House, dan melompat ke lantai dua, diikuti oleh yang lainnya secara bergantian. "Setelah aku mendapatkan lima Mammoth Tank, aku akan membangun Mammoth Castle dan sudah memiliki desainnya ..."
Natan menoleh ke belakang menatap Calista yang berjalan masuk. "Karena kau merupakan pemilik Job Crafsman, aku ingin meminta bantuanmu untuk membangunnya."
"Tentu, serahkan padaku!" Calista mendengus semangat dan membusungkan dadanya.
Natan tersenyum tipis dan mengajak semua orang untuk makan siang, seraya melanjutkan perjalanan dengan Mammoth House.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...