
Natan tidak tahu bahwa Athena telah diserang, dan mungkin banyak manusia yang terbunuh karena ulahnya dalam menggali danau kering, tapi bahkan meski dia tahu hal itu, dia tidak terlalu peduli dan tidak merasa bersalah.
Bahkan sekarang dia sedang makan dengan bahagianya ketika Mammoth Castle terus berjalan menuju tempat tujuan.
Tentu saja bahagia, memiliki empat istri yang cantik-cantik, yang selalu memanjakannya saat berhubungan.
Dalam perjalanan menuju kota, mereka bertemu dengan berbagai macam monster kuat, tapi di hadapan skeleton, monster-monster kuat ini seperti tidak memiliki harga diri sama sekali, sangat mudah untuk membunuhnya.
Natan sendiri mulai bosan berburu dan berburu monster, bahkan dia merasa sedikit menyesal karena memilih Necromancer pada saat pergantian “Kelas”. Awal-awalnya sangat menyenangkan karena dapat membantunya dalam bertarung, tapi semakin dia kuat, semakin berubah fungsi skeleton. Sekarang, skeleton sering dijadikan sebagai bom berjalan, dan penggantinya untuk menyerang.
Kebosanan ini, menurutnya sangat-sangat normal. Jika awal Kehancuran Dunia di mana dia sangat bersemangat, itu karena untuk bertahan hidup, tapi sekarang, levelnya sudah tinggi, sudah memiliki tempat yang nyaman, memiliki orang-orang yang berharga, menurutnya itu sudah cukup.
Mungkin jika tidak ada imbauan dari ibunya untuk tetap teratas, mungkin dia sudah lama berhenti bertarung.
Kelompok mereka sendiri sudah cukup lama berada di Yunani, hampir satu minggu dan sudah menemukan kota bawah tanah.
Kota ini dibangun oleh pemerintah, sehingga aturan di sini lebih baik, meski tetap ada budak dan buruh, tapi setidaknya tidak terlalu parah seperti Kota Surga.
Pada saat ini, dia duduk di balkon lantai sepuluh di hotel, memandang kota bawah tanah yang selalu menyala dengan sihir cahaya.
Natan menunduk melihat tangannya sendiri, lalu mendongak memandang langit-langit. "Aku merasa tumpul, monster-monster sekarang sangat besar, satu lawan satu sangat tidak mungkin. Aku ingin menemukan lawan yang setara, entah dari segi kekuatan maupun ukuran."
Dia kembali membayangkan saat pertama kali memasuki Dungeon di Surabaya, monster-monster yang dihadapi hanya memiliki satu hingga dua meter, meski sulit, tapi menyenangkan saat melawannya.
Saat itu dia merasakan ketegangan di mana nyawanya hampir menghilang, sekarang, dia tidak pernah terluka, bahkan tidur pun bisa membunuh lawan yang kuat.
Natan menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. Dia memiringkan kepalanya, tangannya menopang pipinya. "Aku merindukan Ibu, aku ingin berlatih bersamanya untuk mengasah kembali teknik-teknik pedang, tangan kosong maupun toya."
Liu Xinmei yang berniat menghampiri, tiba-tiba berhenti di belakang Natan dengan jarak beberapa langkah. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu kembali melangkah, memeluknya dari belakang. "Merindukan Ibu?"
"Ya ..." Natan mengangguk, dia mengangkat tangannya mengusap pipi Liu Xinmei. "Walaupun aku sudah beristri, bahkan empat, tapi entah mengapa aku selalu merindukan Ibu. Mungkin karena aku pernah diubah menjadi kecil, masa-masa kecil yang harusnya dilupakan dan dibuang, tiba-tiba muncul lagi."
__ADS_1
Liu Xinmei mengecup pipi Natan dan berkata, "Itu normal, bahkan, terkadang aku merindukan orangtuaku. Aku kehilangan mereka saat awal sekolah menengah atas, aku sangat terpukul, banyak hutang yang ditinggalkan, bahkan hampir dijual untuk melunasi hutang. Tapi aku bertemu Yan Jing, generasi kedua dari keluarga kaya, dia membawaku ke rumahnya dan bekerja ..."
"Bayarannya tinggi, dan aku berhasil melunasi semua hutang. Aku bekerja bersamanya sampai dia mengambil alih perusahaan, yang artinya aku sudah bersamanya selama sebelas tahun."
"Jika diberi kesempatan, bahkan dalam mimpi, aku ingin mengatakan pada orangtuaku kalau aku saat ini baik-baik saja, dan sangat bahagia."
Liu Xinmei menolehkan kepala Natan, lalu mencium bibirnya seraya menjulurkan lidahnya.
Natan terkejut, tapi kemudian menutup mata.
Liu Xinmei menarik bibirnya, dia menatap mata Natan dengan tatapan panas. "Setelah mereka bertiga melahirkan ..." Ia menoleh ke belakang, melihat tiga lainnya yang sedang tidur siang. "Tunggu satu sampai dua tahun, pergilah, berkelana sendiri untuk mengisi kebosanan. Aku bisa membantu mengurus kebutuhan mereka, tapi, jangan terlalu lama, satu atau dua bulan seharusnya tidak masalah."
Natan merenungkannya, dia memikirkan tentang Penjaga dan Monster Ancestors, kapan dua makhluk ini bertarung dengan membawa Player di Bumi—dia sudah muak menunggu!
"Ya, mungkin ada baiknya seperti itu, sama seperti sebelumnya, dalam enam bulan terakhir, aku selalu bepergian untuk mengisi waktu bosan, meski hanya pernah bertemu satu lawan yang membuatku kewalahan. Manusia yang mengaku dari Klan Darah."
Klan Darah, sama seperti Klan Vampire yang bergerak di malam hari, tapi Klan Darah lebih ganas karena menghisap darah korban sampai benar-benar habis hingga mengering, tidak seperti Klan Vampire yang mengambil secukupnya.
Kemampuan yang paling merepotkan dari Klan Darah adalah berubah menjadi kabut darah yang melayang di udara, kabur darah ini bisa masuk melalui pernapasan dan merusak tubuh lawan dari dalam dengan rasa sakit yang sangat menyiksa.
Saat dia melawan orang dari Klan Darah, dia terluka parah, meski berhasil membunuhnya, tapi harga yang dibayarkan cukup besar:
Dia hanya memiliki 10% darah yang tersisa, darah membasahi tubuh, bahkan pakaiannya sampai mengeluarkan aroma darah yang menyengat, dia kehilangan salah satu tangan, perutnya tertembus dahan pohon, tulang rusuknya patah, kakinya patah, dan ada sayatan di lehernya.
Untungnya dia membawa High Potion yang bisa memberikan 5000 HP/s dan efektif selama satu menit.
Walaupun dia saat itu bertaruh dengan nyawanya karena satu lawan satu tanpa bantuan skeleton, tapi dia merasa sangat menyenangkan, adrenalin yang sudah lama menghilang, kembali muncul, membuatnya sangat bersemangat.
Jujur, dia merindukan saat-saat itu.
...***...
__ADS_1
—2 Bulan Kemudian— Armonia Guild—
Natan duduk di tepi danau, mengayunkan pancing untuk melemparkan kail. Dia memandang permukaan air danau dengan gugup, bahkan keringat dingin membahasi tubuhnya.
Hanya beberapa hari lagi Calista akan melahirkan apabila sesuai dengan jadwal, dia sangat gugup karena sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, dan dia juga bertanya-tanya kapan ibunya pulang untuk melihat cucu yang sebentar lagi akan lahir.
Dia menoleh ke kiri saat mendengar langkah kaki, dia melihat seorang wanita berambut putih, ada kerutan di wajahnya, tapi mengingat sekitar 11 bulan lalu, wanita tua ini terlihat lebih muda.
"Nenek?"
Glenda tersenyum tipis, dia duduk di samping Natan dan berkata, "Apa Pangeran Kecil siap menjadi Ayah?"
Natan tertunduk malu dan berkata, "Nenek, jangan panggil aku dengan sebutan itu, aku sudah besar, bukan lagi anak kecil berusia tiga tahun."
Glenda tersenyum, mengusap kepala Natan. "Tapi Nenek sudah lama tidak melihat Natan, dan Nenek masih menganggapmu baru berusia empat tahun."
Natan terdiam, tapi dia tidak marah, melainkan merasa lebih malu dan terus menunduk.
"Jangan malu, yang lain mendapat perlakuan yang sama, bahkan sampai sekarang. Sangat disayangkan Natan tidak tinggal bersama, kali tidak, Nenek ada mainan baru— maksud Nenek, ada teman baru untuk bermain golf.."
Natan tertegun, dia menoleh menatap Glenda.
Glenda tersenyum, dia memiringkan kepalanya, menatap polos Natan. "Ada apa? Tidak tahu cara bermain golf? Nenek bisa mengajarkannya."
Natan tetap diam tanpa mengatakan apa pun, tapi dia sudah memutuskan satu tujuan setelah selesai memancing, mendatangi tiga sepupunya dan bertanya pada mereka apa yang dimaksud “Mainan” oleh Glenda.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1