
Bang! Bam! Booom!
Hari pagi yang cerah diawali dengan latihan keras yang menggetarkan tanah dan menghancurkan alam.
Natan terus berlatih dan tidak diperbolehkan untuk berburu di daerah rawa, tapi dia masih bisa mendapatkan exp karena mengirim Skeleton Squad. Anggota yang lain juga berlatih dan mendapatkan perlakuan istimewa karena satu tim bersamanya.
Kegiatannya selama tiga hari sangat sederhana, pagi berlatih dengan Brianna, siang beristirahat, sore berlatih dengan istri-istrinya, dan malam melakukannya sampai pagi. Jadi bisa dibilang, dia hanya memiliki waktu tidur di siang hari.
Tapi dia tidak mengeluh meski beristirahat sebentar maupun latihan yang berat, karena setiap malam, dia dimanjakan oleh istri-istrinya.
...
Natan berlutut dengan satu lutut, tangan kirinya bertumpu di tanah dan tangan kanannya mengusap darah di pelipisnya. Napasnya berat dan dia sangat lelah karena hampir setengah jam berlatih, sampai saat ini, dia belum berhasil melepaskan serangannya di tubuh Brianna. Sebaliknya, dia sudah babak belur dengan lebam-lebam di tubuhnya.
"Ibu, aku putramu, bagaimana Ibu bisa memukulku seperti ini."
Brianna menatap datar tanpa adanya perubahan emosi. "Jangan manja."
Natan memalingkan wajahnya menghindari tatapan Brianna. "Padahal Ibu berjanji ingin memanjakanku setiap hari, mencium, memeluk. Tapi ini sebaliknya, Ibu memukulku."
Brianna tidak tergerak sekalipun saat melihat Natan yang sedih. Dia mengangkat tangannya, lalu mengayunkannya dan memukul kepala Natan cukup keras.
Natan tidak sempat menghindar bahkan tidak berubah menjadi bayangan. Dia menghantam tanah dengan kepalanya yang jatuh terlebih dahulu, membuat tanah berlubang dan retak. Dia terbatuk dan memuntahkan darah dari mulutnya, dia lemah tanpa mampu berdiri karena rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Tidak ada yang boleh menyakiti putraku selain Ibu." Brianna berbalik tanpa membantu Natan berdiri. Dia menghampiri Ainsley yang menonton dari samping di bawah pohon, duduk di atas batu.
"Bukankah kau terlalu keras? Dia putramu, jika kau tidak menyayanginya, bagaimana jika aku membawanya?"
Brianna tertegun, dia melihat Natan dengan tatapan rumit, kemudian balik menatap Ainsley. "Aku akan membunuhmu jika mengatakan hal itu lagi. Aku tidak peduli apakah Natan memiliki banyak wanita, aku bisa menerimanya, tapi tidak denganmu!"
Ainsley menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku akan terus berusaha sampai kau mengizinkanku menikahinya."
"Jangan harap."
...***...
—Sabtu, 20 Desember 2025—
__ADS_1
Pelatihan Natan masih berlanjut sampai sekarang dan dia belum bisa menyentuh ibunya selain dari serangannya yang dihalau. Ini membuatnya sedikit tertekan, karena dia sudah pernah melawan monster kuat, tapi semuanya berhasil dia bunuh, hanya ibunya yang tidak.
Di sini, bukan karena dia ingin membunuh ibunya, dia hanya ingin menyentuhnya, setidaknya satu jari agar dia bisa menang.
Bang!
Natan berhasil menahan pukulan Brianna dengan menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya, tapi dia masih terlempar dan merasakan mati rasa di tangannya.
Kemudian sesaat setelah dia mendarat, Natan melesat kembali menuju Brianna. Dia berhenti di depan, mengangkat tangannya ke arah wajah Brianna. Tapi sebelum mengenainya, Natan berbalik ke kiri seraya membungkuk, kemudian melepaskan tendangan berputar dengan kaki kirinya.
Tapi seperti sebelumnya, sebelum sempat mengenai, Natan kembali berhenti dan bergerak cepat sampai tiba di belakang Brianna.
Brianna berbalik seraya mengayunkan tangan kirinya untuk menyerang Natan, tapi yang didapatnya hanya bayangan hitam yang terbelah. Dia tersentak dan segera berbalik lagi, tapi semua itu sudah terlambat.
"Aku menangkapmu, Ibu." Natan memeluk Brianna dari belakang dengan bangga.
Brianna tertegun sejenak, kemudian tersenyum dan mengusap tangan Natan yang memeluk perutnya. "Baik, kau sudah berhasil menyentuh Ibu. Ibu tidak akan bersikap keras lagi."
Mendengar itu, Natan melepaskan pelukannya dan duduk di tanah, dia menghela napas lega. Akhirnya, setelah banyak pengorbanan, banyak patah tulang, darah, lebam dan lain sebagainya, dia berhasil menang.
Tapi, Natan masih belum puas dengan hasilnya. Bagaimanapun, syarat untuk menang hanya menyentuh, bukan mengalahkan secara normal. Jika pertarungan asli, mana mungkin lawannya hanya akan diam di tempat tanpa menyerang balik.
Natan tersenyum tipis. "Tidak sakit sama sekali— Aahh!" Ia berteriak saat lebam di pipinya dicubit.
Brianna tertawa kecil, lalu dia menoleh menatap Calista di sampingnya. "Bantu dia."
Calista mengangguk. Dia menggantikan Brianna untuk membersihkan luka-luka Natan dengan lemah lembut.
Natan tersenyum hangat, dia meminta Calista duduk di sampingnya agar dia bisa mengelus perut Calista. Ya! Calista sudah mengandung anaknya, Vely dan Olivia juga sama, tanda-tandanya sudah kelihatan dua hari yang lalu. Setidaknya sekitar sepuluh hari setelah mereka memutuskan untuk memiliki anak.
"Mulai hari ini, kau tidak boleh melakukan pekerjaan berat."
Calista mengangguk kecil. "Natan sudah bilang dua hari yang lalu, aku pasti mengingatnya. Ini sekian kalinya Natan mengatakan itu."
"Aku hanya khawatir, bagaimanapun ini adalah calon anak pertama kita."
Calista tersenyum tipis, tetapi tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia tahu betapa khawatirnya Natan, karena pada awalnya dia juga kaget saat tanda-tanda kehamilannya sudah datang, meski sebelumnya dia murung karena sudah melakukannya selama seminggu, tapi tidak kunjung datang.
__ADS_1
Vely dan Olivia datang membantu membersihkan luka Natan.
Natan mengusap perut mereka secara bergantian, memberikan kasih sayang yang sama.
...***...
—Senin, 22 Desember 2025—
Hari ini, Natan sudah diperbolehkan melakukan penjelajahan di rawa untuk membunuh monster dengan tangannya sendiri tanpa bantuan skeleton.
Vely, Calista dan Olivia ingin ikut berburu bersamanya, tapi mana mungkin dia mengizinkannya untuk turun tangan. Hanya orang bodoh yang membiarkan istrinya yang hamil ikut bertarung bersama, bahkan meski mereka tidak mengandung, dia harap mereka tidak turun tangan bersama membunuh monster.
Bahkan saat menelusuri rawa, dia hanya sendirian tidak tidak menginginkan bantuan dari ibunya. Dia masih bisa menjaga diri sendiri, tapi tidak dengan yang lain, jadi meminta ibunya untuk melindungi mereka semua.
Natan melihat sekeliling saat dia berdiri di atas skeleton. "Kata Ibu, awalnya di sini bukan rawa. Di sini adalah tanah lapang, tapi setelah setengah tahun, tiba-tiba hutan muncul, tanah naik di sekitarnya dan air hijau mulai keluar dari dalam tanah."
"Aku tahu tempat ini sunyi, tapi melihatnya secara langsung, benar-benar berbeda." Sebelumnya, Skeleton Squad sudah dikirim untuk menjelajahi rawa, tapi tidak sampai masuk terlalu dalam. Hanya luarnya saja untuk menghalangi monster-monster supaya tidak keluar.
Tempat yang paling sunyi tanpa suara seperti adalah tempat yang paling mengerikan meski Natan memiliki Mapping. Dia takut ada monster yang tidak bisa terbaca oleh pemindaian dari Mapping, dan malah menyerangnya dari belakang secara tiba-tiba.
Natan terus masuk lebih dalam, semakin dia masuk, semakin minim suara yang didengar. Sebelumnya, masih terdengar suara tiupan angin, tapi sekarang hanya suara langkah Mammoth Tank yang membelah aliran air.
Natan berhenti saat melihat titik-titik merah yang muncul di Mapping dari sudut pandangnya. Mereka datang dari kiri depan, depan dan kanan depan, bergegas ke sini tanpa mengeluarkan suara.
Titik-titik merah itu terus mendekat, tapi anehnya air di sekitarnya masih tetap tenang, tanpa adanya gerakan sama sekali. Ini membuat Natan semakin berhati-hati terhadap serangan yang mungkin datang tiba-tiba di saat dia lengah.
Whooooosh!
Natan menghindari sesuatu yang berwarna merah. Dia tidak tahu apa itu karena sangat cepat saat keluar dari dalam air. Ketika pandangannya menangkapnya, dia melihat bahwa itu adalah lidah panjang yang lengket dengan cairan hijau.
Kemudian terdengar suara dengkuran dari dalam air seperti suara katak. Saat air mulai naik, terlihat wujud aslinya. Itu adalah katak bermata merah besar dengan hitam di bagian tengahnya. Memiliki tubuh yang berwarna hijau dengan garis-garis biru. Kakinya berwarna jingga atau merah.
Natan melihat sekeliling, dan terlihat katak-katak lain mulai mengambang di air rawa. Dia melompat mundur, menjauh dari katak yang mengelilinginya. Dia tahu katak ini tidak beracun, tapi dia tidak bisa mengikuti akal sehat dunia sebelumnya. Setelah Kehancuran Dunia, semua hewan sangat berbahaya, bahkan siput kecil di tanah, mungkin menjadi hewan penghancur di masa saat ini.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...