Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 155 : King of Wight


__ADS_3

Natan melompat dari satu atap ke atap rumah yang lain menuju ke arah selatan. Dia sudah meninggalkan beberapa skeleton untuk menjaga kamar, jadi tidak perlu merasa khawatir dengan mereka semua yang berada di penginapan.


Dia bisa melihat banyak orang yang berlari di jalan utama ataupun jalan kecil untuk pergi ke selatan. Mereka membawa senjata masing-masing dengan ukuran maupun jenis yang berbeda.


Natan, Marksman. Dia bisa memakai senapan api ataupun busur panah biasa, mengingat kemampuannya yang sebelumnya adalah Archer sebelum berevolusi menjadi Marksman.


Tidak ada yang menyadari keberadaannya, bahkan langkah kakinya tidak terdengar karena kemampuannya yang sangat baik dalam mengendap-endap.


Dengan kecepatannya, tidak butuh waktu lama, hanya beberapa menit untuk sampai di atas tembok kota setelah melompat puluhan meter dari atap rumah.


Natan mendarat dengan kedua kakinya; tatapannya tertuju pada Gelombang Wight yang sangat kuat dan mengerikan, membawa aura aneh yang membuat punggung terasa dingin. Seolah-olah sabit kematian sedang mengintai di belakang, dan nyawa sedang dipertaruhkan.


Ketika sudah tiba, dia menghilangkan kemampuannya, dan membuatnya mendapat perhatian meski hanya beberapa saat sebelum semua orang kembali melihat Gelombang Wight.


"Kau di sini?"


Pada saat ini, suara yang terdengar sedikit familiar bisa didengar. Natan menoleh ke kanan, melihat Bendetto yang sebelumnya telah membawanya dari gerbang ke Kantor Informasi dan Identitas.


Natan menganggukkan kepalanya. "Iya, aku cukup lama di sini, dan Gelombang Wight membawa Point Exp, jadi tidak ada salahnya melawan mereka ..."


Natan berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Ngomong-ngomong, aku tidak menyangka jika kau akan berada di sini."


Bendetto yang sebelumnya dan sekarang terlihat berbeda. Sekarang mengenakan zirah besi perak yang terlihat berat, tapi sebenarnya cukup ringan dan mudah untuk bergerak, serta membawa tombak dengan mata pedang bermata satu. Mata tombaknya cukup panjang, sekitar setengah meter dan panjang tombak secara total itu mencapai dua meter.


Bendetto tersenyum tipis dan berkata, "Aku berada di bawah Komandan, dan merangkap menjadi beberapa posisi di Shelter Poland. Karena itu, aku harus berada di sini saat ada monster, dan seperti yang kau bilang, mereka semua adalah Point Exp."


Natan mengangguk, lalu memalingkan wajahnya melihat Gelombang Wight. "Mereka banyak, apakah kau yakin akan menyerang langsung dengan tombak?"


"Tentu." Bendetto menganggukkan kepalanya dengan tatapan tegas penuh emosi. "Kami memiliki Paladin, jadi tidak perlu khawatir."


Natan mengikuti pandangan Bendetto, melihat Paladin yang dimaksudkan. Berbeda dengan Paladin Erina, mereka terlalu sederhana dan kemampuannya hanya pada pertahanan. Erina, sekarang mampu memberikan penyembuhan, menarik semua luka-luka dari rekan satu tim, dan bahkan membangkitkan rekan yang telah mati.


Bendetto melihat Natan dari atas sampai bawah. "Kau menyamar, tapi kehadiranmu terasa jelas. Perlengkapan yang kau miliki juga tinggi."


Natan tertegun dengan tubuh menegang; lupa bahwa dia sedang menyamar, tapi tadi malah dengan sengaja melepaskan sedikit Mana dan menghilangkan Stealth. Bahkan, dia membalas panggilan Bendetto.


Natan menghela napas dan menepuk dahinya. "Benar-benar bodoh."


"Aku menggunakan busur dan panah, aku bisa menyerangnya dari sini." Natan mengambil busur panah di punggungnya.


Saat ini masih belum ada yang melepaskan serangan karena jarak Gelombang Wight terlalu jauh dari tembok. Tapi dengan kemampuan Natan, dia bisa mencapainya dengan mudah, apalagi busur ini adalah busur buatan yang digunakan Vely.

__ADS_1


Banyak disimpan di Inventory Guild, dan dia mengambilnya dengan level tertinggi serta puluhan anak panah.


"Apakah kau bisa menggapainya?" Bendetto merasakan aura lain dari Natan, itu berbeda dari hari sebelumnya saat datang ke sini.


Natan merasakan tatapan Bendetto dan mengabaikannya. Dia mengangkat busur dengan tangan kiri, menaruh anak panah di talinya dan menariknya sampai menimbulkan suara derak.


Dia mengatur napasnya dan mengalirkan Mana pada tangan kiri maupun anak panah. Anak panah itu mulai memancarkan sinar dengan cahaya biru, dan samar-samar ada kabut yang keluar darinya.


Dengan percaya diri, Natan melepaskan anak panah. Itu melesat seperti komet yang membelah udara dengan ekor cahaya biru di malam hari. Salju yang dilaluinya tersebar ketika terkena tekanan angin kencang seperti tornado dalam posisi horizontal yang menerjang ke arah Gelombang Wight.


Saat hanya tersisa beberapa puluh meter, anak panah biru itu bercahaya lebih terang sebelum berlipat ganda.


Tidak ada yang spesial dengan kemampuan menambah anak panah, sebagian Archer bisa melakukannya. Hanya saja, mereka tidak bisa melepaskan tembakan yang lebih dari 200 meter. Setidaknya untuk saat ini.


"Kemampuanmu tidak biduk, tapi sangat sulit untuk menghadapi mereka—"


Bendetto berhenti dengan mulut terbuka, bahkan telur utuh bisa dimasukkan ke dalam mulutnya saat melihat anak panah yang meledak. Api jamur raksasa panah membakar monster-monster dalam sekejap, suhu naik dengan tajam dan gelombang panasnya menyapu salju bersama dengan badai di sekitar.


Natan tidak berhenti. Dalam keterkejutan semua orang, dia berlari di atas tembok dan terus menembakkan anak panah.


Cooldown tidak terlalu lama setelah melakukan pelatihan berulang, bahkan di bawah sepuluh detik sudah bisa melepaskan Bullet Rain atau Arrow Rain.


Ada total 66 ledakan dalam satu menit, api menyala sangat besar seperti ledakan rudal yang mampu menghanguskan desa.


Kemudian, Natan melompat turun dari tembok sambil menyimpan busur.


"Dia menghilang? Di mana dia?"


"Aku tidak tahu! Aku melihatnya tadi berdiri di sana dan melompat, bagaimana bisa langsung menghilang di hadapan kita?"


Keributan terjadi ketika melihat Natan yang tiba-tiba menghilang tepat di hadapan mata mereka saat ini.


Karena jalan yang tertutup salju telah terbuka, Natan bisa melangkah dengan bebas tanpa perlu khawatir meninggalkan jejak, meski langkah kakinya tidak akan meninggalkan jejak di permukaan salju.


Natan melompat memasuki asap tebal yang masih panas dan bahkan api masih menyala membakar Gelombang Wight.


"Graahh! Manusia sialan! Aku akan membunuh kalian semua sebagai pengorbanan bagi Monster Ancestors!"


Natan yang baru masuk, tiba-tiba berhenti. Dia melihat sekitar, tidak ada Wight yang dirasa mampu berbicara dalam bahasa manusia, bahkan bahasa Inggris.


"Tunggu!" Natan menundukkan kepalanya, kemudian melompat mundur untuk keluar dari dalam kepulan asap saat melihat tanah di bawahnya mulai retak.

__ADS_1


Wusshh...


Angin bertiup kencang, membelah asap membentuk cincin yang menyebar ke segala arah.


Kemudian, terlihat ada tangan raksasa yang menghancurkan tanah dari dalam. Itu mengakibatkan terjadinya gempa yang cukup kuat dengan bebatuan besar yang melesat ke udara.


Natan langsung berputar arah, berubah menjadi kabut hitam yang kembali naik ke atas tembok.


"Sepertinya ada musuh kuat yang datang."


"Woah!" Bendetto berteriak keras dengan keterkejutan saat mendengar suara di sampingnya, dan melihat ternyata itu Natan.


"Ka- Kau ... tadi, itu ..." Bendetto tidak bisa berkata-kata dengan benar saat tangannya menunjuk ke kanan dan kiri, tempat Natan sebelumnya berada dan sekarang.


"Bukan apa-apa, hanya sedikit tipuan." Natan mengangkat bahu, seolah-olah bukan hal yang spesial.


Bendetto terdiam sejenak, dan saat ingin membuka mulutnya, tiba-tiba raungan marah kembali terdengar.


Semua orang gemetar ketakutan ketika melihat apa yang berada di sana.


Itu adalah Wight dengan ukuran yang lebih besar, puncak kepalanya setinggi tembok, kulit berwarna biru keabu-abuan. Mengenakan zirah hitam lengkap tanpa ada tanda-tanda kerusakan, dan membawa pedang besar di tangannya.


Rambutnya putih kusam, matanya merah menyala dan memancarkan aura keras yang membuat semua orang merasakan kematian di depan mata.


Berbeda dengan yang lain, Wight itu memancarkan aura merah seperti Mana yang berkobar. Tanah di bawahnya retak dan berlubang, membentuk kolam dalam radius 50 meter.


"King of Wight..." Natan bergumam pelan ketika melihat monster yang baru muncul. Itu lebih lemah dari Pohon Monster dan Kraken, tapi dengan kemampuan membangkitkan Wight, itu cukup merepotkan.


Apalagi, dengan rekan-rekan Shelter Poland yang sangat lemah, sangat sulit untuk membunuh King Wight dengan kemampuannya yang ditahan.


"Apakah kalian tidak pernah melawan monster seperti itu?" tanya Natan penasaran.


Bendetto menggelengkan kepalanya saat tatapannya kosong. "Tidak pernah. Levelku saat ini hanya empat ratus, salah satu yang tertinggi. Dan, aku merasa bukan tandingannya."


Natan merenung, memikirkan apakah harus memanggil Giant Knight atau tidak. Jika memanggil mereka, sangat mudah untuk membunuhnya.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2