Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 182 : Membunuh Kristoffer


__ADS_3

Ayah Reinhart, Kristoffer mencengkeram erat jari-jarinya yang terkepal. Pembuluh darah muncul di permukaan kulitnya, terutama di wajahnya dan terlihat menjijikkan. Dia meraih pakaiannya, kemudian menariknya.


Terlihat ada Batu Sihir yang tertanam di dadanya, dan ada bercak hitam yang terlihat menjijikkan.


"Aaaahh!" Kristoffer berteriak. Tubuhnya membesar perlahan di bawah sengatan listrik yang muncul di tubuhnya. Otot-otot tubuhnya membesar di saat tubuhnya terus mengembang seperti balon.


Kristoffer sudah benar-benar berubah. Tubuhnya setinggi tiga meter, lebar bahunya satu meter dan lengannya seperti paha, di sekitarnya ada aura panas yang membakar udara dan nampak seperti bayang-bayang air di aspal yang panas di siang hari.


"Mundur! Aku ingin membunuh orang yang membunuh putraku dengan tanganku sendiri!"


Mendengar itu, mereka yang berada di sekitar Kristoffer yang pada dasarnya Level 500 ke atas, memandang satu sama lain, kemudian mengangguk dan mundur perlahan, memberikan ruang bagi Kristoffer untuk membunuh Natan dengan tangannya sendiri.


Natan mundur selangkah, mengeluarkan pedang hitam yang selalu menemaninya dari level rendah.


Kristoffer menginjak kakinya di tanah, meledakkan tanah di bawahnya dengan lubang dan retakan. Angin kencang bertiup, dia melesat seperti kilatan cahaya yang pergi ke arah Natan dengan pukulan.


Natan mengangkat pedangnya dengan tangan kanan, menyilangkannya dengan bagian ujung menghadap ke bawah dan tangan kirinya menahan ujung pedang.


Bang!


Pukulan Kristoffer berhasil Natan tahan, tapi harus diakui bahwa pukulan Kristoffer membawa kekuatan berat yang sangat kuat.


Natan sedikit mundur, dan bersiap untuk menyerang. Tapi bahkan sebelum dia sempat, Kristoffer mengangkat tangan yang lain dan melepaskan pukulan. Natan hanya bisa mengikuti arah serangan, terus menahan pukulan tanpa bisa membalas.


Pertukaran mereka berdua cukup lama dan berada di jalan buntu, yang satu menyerang tanpa henti dan yang lain menahan serangan tanpa bisa menyerang balik.


Dalam radius lima meter dan seterusnya, angin bertiup kencang dengan debu yang naik seperti tornado. Tanah mulai retak karena pukulan yang terus menghantam pedang, bahkan ada percikan api ketika dua hal itu bertemu.


Brianna yang datang terlambat, ingin bergerak secara langsung, tanpa menahannya dan membiarkan Natan. Dia tahu saat ini emosi Natan sedang tidak stabil, mungkin akan lebih baik menenangkannya sekarang, tapi dia tahu tidak sesederhana itu.


Kristoffer melihat semakin banyak orang yang datang. Dengan mengangkat tangannya setinggi mungkin, dia berkata dengan nyaring, "Kalian, bunuh mereka!" Ia mengayunkan tangannya secara vertikal ke bawah.


Natan menemukan celah sekitar dua detik. Dia menghindar ke samping saat tangan bagaikan martil jatuh mengenainya.


Booom!


Pukulan itu menghantam tanah, membuat retakan yang lebih besar dengan lubang, bahkan bebatuan mulai mencuat dari dalam tanah.


Natan mengambil kesempatan dan menebas tangan Kristoffer dengan kekuatan penuhnya. Tapi, dia tercengang saat melihat hasilnya. Dia mundur beberapa meter dan menatap luka di tangan Kristoffer. Luka itu cukup dalam, tapi tidak memperlihatkan bagian tulang seperti yang biasanya, dan regenerasi tubuhnya di atas rata-rata.


Luka tebasan di tangan Kristoffer mengeluarkan asap dan ada bau terbakar, kemudian luka itu menutup kembali.

__ADS_1


Kristoffer menangkap ekspresi Natan, dan tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha! Apakah kau terkejut? Aku akan memberi tahumu apa itu keputusasaan!"


Dengan itu, Kristoffer kembali melesat seperti kilatan petir yang menyambar ke arah Natan.


Natan meningkatkan AGI dalam waktu singkat untuk meningkatkan respon, kecepatan serang dan kecepatan fisiknya. Dia bergerak lebih cepat dari Kristoffer dan muncul di belakangnya, mengayunkan pedangnya secara menyilang.


Kristoffer tersentak saat merasakan sakit di punggungnya, tapi dia segera berbalik untuk menyerang.


Natan mengarah pukulan Kristoffer, lalu kembali seperti bayangan yang bersiap untuk muncul di belakangnya.


Kristoffer menangkap ini dan langsung berbalik, melepaskan pukulan keras. Tapi yang tidak diharapkan, pukulannya tidak mengenai Natan, melainkan mengenai tanah, menciptakan lubang di depannya.


Natan yang awalnya bersiap menyelinap ke belakang Kristoffer, muncul kembali di tempat awal. Kali ini dia membawa dua pedang, yang satu berwarna merah dengan suhu panas, dan yang lain berwarna hitam dengan kabut korosif.


Natan menyerang secara membabi buta tanpa ada jeda dan tidak membiarkan Kristoffer berbalik. Dia mengayunkan pedang di tangan kanannya secara menyilang, tangan kiri menebas horizontal, kemudian pedang di tangan kanan secara vertikal atas-bawah dan pedang di tangan kiri menusuk.


Darah Kristoffer naik turun, tapi Mana yang dimilikinya terkuras dengan cepat dan itu mempengaruhi Batu Sihir yang tertanam di dadanya. Dia berbalik secara paksa seraya menyilangkan kedua tangan di depan dada, lalu menendang Natan dengan lututnya.


Natan terlambat bereaksi terhadap serangan Kristoffer, membuatnya terlempar cukup keras. Dia melesat naik ke udara setinggi beberapa meter, tapi itu belum berhenti, Kristoffer sudah menunggu di atas dengan kedua tangan terkatup, kemudian mengayunkannya.


Booom!


Natan melesat jatuh ke tanah dengan keras, membuat tanah retak dan dia tersentak saat sakit di punggungnya menjalar ke sekujur tubuh. Dia memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Shadow Step." Natan tenggelam di dalam bayangan Kristoffer, kemudian dia muncul lagi belasan meter darinya.


Natan menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya perlahan. Dia menenangkan dirinya, tidak lagi mencoba mengikuti emosinya dan mencoba bertarung seperti biasa.


Kristoffer berbalik dan menatap Natan. "Sampai kapan kau terus lari seperti tikus—"


Bang!


Tiba-tiba Natan sudah tiba di depan Kristoffer, tapi yang menyambut Kristoffer adalah lutut Natan. Natan menendang wajah Kristoffer seraya menahan tengkuknya.


"Kugh!" Kristoffer kehilangan keseimbangan dan mundur selangkah. Dia menyentuh hidungnya yang mengeluarkan darah.


Natan memasang kuda-kuda rendah di depan Kristoffer, kaki kirinya lurus menyentuh tanah dan kaki kanannya menekuk seperti berjongkok. Kemudian dia berdiri, menebas dada Kristoffer ke atas.


Kristoffer tidak bisa menghalau serangan dengan tepat waktu, membuatnya terluka dan Batu Sihir terkena dampaknya. Tubuhnya gemetar, Mana di tubuhnya terlihat kacau dengan pembuluh darah yang bocor.


Setelah mengayunkan pedang hitam ke atas, pedang merah yang diselimuti api ditebas tepat di Batu Sihir yang tertanam di dada Kristoffer.

__ADS_1


Crack! Craaang!


Batu Sihir itu retak, kemudian pecah seperti gelas kaca. Mana yang terkandung di dalamnya sebagai pasokan energi untuk Kristoffer, tiba-tiba terputus dan berdampak pada tubuhnya.


"Uhuk!" Kristoffer berlutut, memuntahkan darah saat memegang dadanya yang terluka.


Natan mengangkat dua pedang, kemudian mengayunkannya. Tepat saat pedang itu hendak mengenai Kristoffer, tiba-tiba datang serangan dari kanannya.


Bam!


Natan terhempas dan memantul di tanah seperti batu pipih yang dilemparkan ke permukaan air. Rasa sakit yang diterimanya menyebar ke sekujur tubuhnya, dia merasa seperti ditabrak truk besar.


Natan batuk, memegang dadanya dengan tangan kiri dan memegang pedang di tangan kanannya untuk membantunya berdiri. "Satu lawan satu? Inikah yang kalian maksud? Kalian ingin menggunakan jumlah untuk melawanku?" Ia mengusap darah di sudut bibirnya.


"Ketua yang mengatakan satu lawan satu, bukan kami."


"Benar!" Brianna sangat marah. Awalnya dia ingin membantu Natan, tapi pada akhirnya tidak membantu karena ingin membiarkannya melawan Kristoffer, tapi ternyata pihak lawan tidak mengikuti aturan.


Brianna mengarahkan tangannya ke depan. Tiba-tiba terdengar jeritan keras dari langit, terlihat Elang Langit yang menukik tajam dengan mulut terbuka. Itu langsung menelan orang yang menyerang Natan secara diam-diam, menelannya langsung dan menghancurkan tubuhnya.


Tidak berhenti, Elang Langit terus menyerang yang lain, dan Brianna mengeluarkan Ular Berkepala Empat: Api, Air, Angin, Bumi.


Ular-ular membuka mulutnya, melepaskan sihir berbeda maupun menelan musuh.


Natan berdiri, berjalan menuju Kristoffer. Dia mengangkat kaki kanannya, menendang kepala Kristoffer dengan keras.


Darah menyembur dari mulut Kristoffer, tubuhnya lemah setelah Batu Sihir hancur, dan sekarang tidak memiliki tenaga untuk berdiri. Ini adalah efek sampai setelah Batu Sihir dihancurkan, dan butuh waktu lama untuk pulih, atau harus menanamkan Batu Sihir baru.


"Kau harusnya sudah tahu efek samping menggunakan metode dari Buku Terkutuk. Apalagi metode yang kau gunakan memungkinkan Monster Ancestors untuk bangkit lebih cepat, percuma kau memiliki kekuatan apabila pada akhirnya menjadi monster tanpa pikiran, kau hanya menjadi boneka bodoh."


Natan menendang kepala Kristoffer sekali lagi. Kemudian tanpa membuang waktu lebih lama, dia menusuk pedang di leher dan dada Kristoffer.


Kristoffer batuk-batuk, darah mengalir lebih deras dari mulutnya, dan dadanya mengeluarkan darah seperti aliran air dari kran air.


Natan menoleh ke belakang, melihat pertempuran lain sudah berakhir. Kemudian melihat reruntuhan Earth of Eternity, masih banyak yang selamat, tapi semuanya tertindih oleh reruntuhan.


"Bunuh semuanya." Natan tidak berniat meninggalkan seorang pun, karena hanya akan membuat masalah di kemudian hari.


...


***

__ADS_1


*Bersambung...


__ADS_2