
"Ibu, apakah Ayah kembali hidup?"
Brianna menunduk melihat Natan, dia menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Ayah tidak kembali hidup. Dunia ini sekarang lebih monster, Ayah memilih untuk tidak kembali untuk menjaga Natan."
Natan tertegun dengan mata berkaca-kaca, tapi dia juga bingung seraya menggaruk kepalanya. "Natan tidak mengingat apa pun, setahu Natan, Natan kabur dari rumah saat paman dan bibi mengambil warisan dan ingin Natan pergi ke panti asuhan. Natan membawa sedikit uang, naik bus sampai berhenti tidak tahu di mana, kemudian menyewa kamar kecil dengan memohon ..."
"Ada tetangga yang selalu memberi Natan makan dan uang. Natan bekerja membuat kerajinan untuk uang jajan ... tapi ... Natan lupa siapa tetangga itu ..." Natan menggaruk-garuk kepalanya bingung.
"Teman-teman Natan memiliki orangtua, dan Natan tidak ... banyak yang menghina, menguncikan dan memukul Natan. Mereka bilang, orang yang tidak punya orangtua adalah salah. Karena tidak ada yang membela dan tidak ada pendukung, hari-hari Natan sangat berat ..."
Natan menangis, dia mengusap air matanya yang mengalir membasahi pipinya.
Brianna merasakan sakit di hatinya. Dia berjongkok dan kembali memeluk erat Natan. "Sekarang ada Ibu, Ibu tidak akan membiarkan itu semua terjadi lagi."
Brianna melepaskannya perlahan, mengusap air mata Natan. Dia mengecup kening, pipi, hidung dan bibir mungilnya. Jika ini adalah Natan dewasa, tidak mungkin dia melakukannya, tapi karena ini kecil, tidak ada masalah karena memang dia selalu memberi kecupan ringan.
"Ibu akan membawa Natan bertemu dengan teman Ibu." Brianna menggendong Natan dan pergi dengan enggan. Sebenarnya dia tidak ingin membawanya ke sana, tapi dia sudah berjanji ...
Natan duduk di lengan Brianna dan melingkarkan kedua tangannya di leher. "Ibu, Natan ingin melihat monster."
Brianna mencubit pipi Natan. "Setelah ini, tapi jangan menangis saat melihatnya nanti."
Natan mendengus dingin seraya memalingkan wajahnya. "Natan sudah besar, tidak mungkin Natan takut!"
Brianna tertawa kecil dan sangat bahagia melihat Natan yang seperti ini. Dia bisa lebih kekuasaan memeluk maupun menciumnya. "Baik, baik. Putra Ibu adalah yang terbaik dan pemberani."
Natan kembali memeluk leher Brianna dan sangat manja. Dia bahkan tidak peduli dengan tatapan semua orang yang melihatnya, seolah mereka semua tidak ada.
Yan Jing membuka mulutnya lebar ketika melihat Natan. Ye Xiao Yi juga sama, bahkan telur utuh bisa masuk ke dalam mulutnya.
Adapun Liu Xinmei, dia bernapas dengan terengah-engah dan bergumam dengan liar, "Natan, Natan, Natan, Natan, Natan ... Natan kecil..."
Yan Jing memukul belakang kepala Liu Xinmei. "Ingat, dia ketua kita. Jangan bertindak kurang ajar meski menjadi kecil."
Liu Xinmei mengusap kepalanya yang terasa sakit. "Kau tahu, kan, aku mencintainya. Tapi sayang, aku tidak bisa bersamanya."
__ADS_1
Ye Xiao Yi memiringkan kepalanya menatap Liu Xinmei, lalu menatap Natan sebelum kembali ke Liu Xinmei. "Tapi, bukanlah ada perkembangan? Sebelumnya kau dipandang menyebalkan, tapi dalam waktu dekat ini dia mulai berbicara denganmu, mungkin kau ada kesempatan di kemudian hari."
"Semoga ..." Liu Xinmei tertunduk lesu dan meninggalkan tempatnya.
Yan Jing dan Ye Xiao Yi saling memandang, lalu mereka berdua mengikuti Liu Xinmei.
...
Brianna sudah sampai di halaman belakang di mana ada taman dan gazebo kecil di sana. Hamparan rumput dengan bunga, pohon rindang dengan ayunan.
Natan melompat turun dan berlari ke arah ayunan dengan riang gembira. Tapi saat dia ingin menggapai ayunan, dia mendengar orang sedang bersenandung, dia melihat ke arah gazebo di mana sumber suara itu berasal. Karena penasaran, dia pergi ke sana.
Dia melihat ada wanita yang mengenakan pakaian hijau seperti daun. Ketika dia terus mendekat, dia bisa melihat penampilannya. Rambutnya yang kuning cerah, matanya yang biru seperti langit, bibirnya yang mungil berwarna merah muda. Tapi yang paling menarik perhatian, itu adalah telinganya yang runcing.
"Sangat cantik." Natan mengatakannya tanpa sadar ketika melihat Ainsley yang duduk di gazebo.
Ainsley tersenyum hangat saat melihat Natan yang masuk. Dia menepuk-nepuk bangku panjang di sampingnya. "Apakah kau bisa duduk sendiri atau perlu bantuan?"
Natan menggelengkan kepalanya tanpa menjawab, lalu berusaha untuk duduk, tapi sebelum bisa duduk dengan usahanya sendiri, tubuhnya terasa ringan. Dia menoleh ke belakang, melihat Brianna yang mengangkat dan membuatnya duduk di atas pangkuan.
Natan memiringkan kepalanya menatap Ainsley. "Bibi Ain ... le ... Ainsley?"
"Uhuk!" Brianna tersedak saat dia hampir tidak bisa menahan tawanya. Dia menekan bibirnya membentuk garis tipis, tubuhnya gemetaran saat berusaha menahannya.
Wajah Ainsley berkedut-kedut. Memang harus diakui bahwa dia sudah tua, tapi untuk dipanggil “Bibi” oleh pria yang disukainya, itu terlalu menyakitkan. Dia mengulurkan tangannya mengusap kepala Natan. "Jangan panggil “Bibi”, panggil aku “Kakak”."
Natan memiringkan kepalanya seraya menyentuh bibirnya sendiri dengan jari telunjuk. "Tapi, Bibi adalah teman Ibu, jadi Natan harus memanggil Bibi dengan sebutan “Bibi”."
Ainsley terdiam tanpa bisa berkata-kata lagi. Dia mulai menyesali tindakannya yang menerima tawaran Brianna untuk mengembalikan Natan ke masa kecilnya meski hanya satu hari, tapi mulutnya yang terlalu pedas, membuatnya tidak tahan.
Brianna mengangkat salah satu sudut bibirnya dan mendengus dingin, seolah mengatakan bahwa “Lihat putraku, dia menganggapmu sebagai seorang bibi, bukan pasangan atau apa pun itu!”
Natan bersandar di badan Brianna seraya mengayun-ayunkan kedua kakinya. Dia mendongak menatap wajah Brianna. "Ibu, Natan ingin melihat monster."
"Baik." Brianna berdiri seraya menggendong Natan. Dia pergi ke hamparan rumput yang cukup luas, menghentakkan kaki kanannya dan membentuk lingkaran sihir di bawahnya.
__ADS_1
Lingkaran sihir itu bersinar dengan cahaya biru terang, dan ketika cahaya menghilang, terdengar jeritan elang dengan angin bertiup kencang.
Natan berbalik dan menenggelamkan wajahnya di dada Brianna untuk menghindari matanya kemasukan debu. Kemudian berbalik saat angin tidak lagi bertiup, tapi baru melihat, dia kembali berbalik dan menenggelamkan wajahnya di dada Brianna. "Ibu ..."
Brianna tertawa kecil melihat Natan yang gemetaran karena takut. "Natan bilang Natan berani, tapi melihat ini saja takut."
Natan tertegun. Dia mendongak menatap Brianna dengan kesal saat air mata membasahi wajahnya. Tapi ketika kembali melihat Elang Langit, dia takut dan memeluk erat Brianna.
Brianna tertawa kecil, dia menyukai hal ini di mana Natan tidak seperti sebelumnya yang tidak kenal takut dan membawa aura pemimpin, tapi di sini Natan sangat manja dan menggemaskan, seperti Natan kecil yang dirindukannya dulu.
"Jadi, Natan sekarang ingin pergi ke mana?"
Natan mendongak, lalu memeluk erat leher Brianna. "Ke mana pun asal bersama Ibu."
Ainsley yang berdiri di belakang Brianna, tidak berharap bisa melihat Natan yang sangat manja seperti ini. Dia mengulurkan tangannya, mengusap air mata Natan. "Jangan menangis."
Natan mengulurkan tangannya seperti ingin meraih Ainsley.
Ainsley bingung untuk beberapa saat, kemudian dia menggenggam tangan Natan dan tersenyum hangat. "Tanganmu mungil dan lembut."
Natan tertawa menggemaskan seperti bayi kecil. "Tangan Bibi juga lembut, Natan menyukainya."
Senyum Ainsley membeku ketika mendengarnya lagi, itu benar-benar membuatnya kesal, tapi dia tidak bisa memukul Natan.
Brianna menoleh ke belakang menatap Ainsley, lalu berbalik melihat Elang Langit. Dia melambaikan tangannya, membuat Elang Langit kembali masuk ke dalam lingkaran sihir. Dia meminta Ainsley melepaskan tangan Natan, kemudian dia membawanya ke tempat lain yang masih di sekitaran Istana Armonia.
Awalnya Brianna ingin membawa Natan pergi ke kota, tapi dia tahu putranya pasti akan sangat marah setelah kembali ke wujud aslinya, dan dia tidak menginginkan hal itu. Mengingat di Istana Armonia hanya ada anggota Armonia Guild, dia merasa itu adalah yang terbaik.
Bahkan jika Natan tidak marah saat dibawa keluar dari Istana Armonia, tapi pandangan semua orang yang tinggal di Longquan Mountain akan berubah dan tidak lagi memandang Natan sebagai ketua. Brianna tidak menginginkan hal itu, karena bisa merusak citra yang sudah dibangun Natan.
Walaupun Brianna tahu bahwa mereka memiliki kesetiaan mutlak, tapi tidak baik melakukannya.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...