Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 127 : Memasuki Markas Musuh


__ADS_3

"Paman." Natan menyerahkan pistol beserta amunisi yang sudah tersusun rapi di magazen.


Adrian menerimanya dengan ekspresi rumit, karena tidak pernah melihat Natan membawa ransel, tapi tahu-tahu ada belasan magazen dengan kotak amunisi yang setidaknya ada ribuan.


Keduanya melompat turun dari Mammoth Tank setelah selesai bersiap-siap. Mereka berjalan ke markas di kaki gunung yang terhalang oleh pepohonan lebat dengan salju yang menutupi.


Dalam operasi ini, mereka berdua mengenakan jubah putih bersih yang dibeli dari NPC Shop untuk menutupi kehadiran mereka—agar tidak diketahui keberadaannya—sehingga penyerangan ini bisa berhasil.


Natan menoleh ke kiri melihat Adrian yang berada di pohon lain, sedang berlindung. Ia mengangkat tangannya, kemudian memberi tanda untuk menyerang.


Adrian menganggukkan kepalanya, lalu keluar dari tempat persembunyiannya dan melepaskan tembakan. Hanya menunggu sebentar, terdengar suara benda jatuh di salju. Bisa dilihat, beberapa penjaga yang berada di luar mulut gua, terbunuh dengan kepala yang berlubang.


Seperti yang diharapkan dari Tentara Bayaran Profesional, batin Natan.


Natan berlari di atas salju mengikuti Adrian yang memimpin jalan. Senjata yang dipakainya kali ini adalah pisau pendek dengan pistol yang memakai peredam suara. Tapi ia sudah bersiap-siap dengan Assault Rifle AR-15 yang menggantung di punggung.


Keduanya berhasil memasuki mulut gua tanpa adanya halangan. Markas ini baru dibangun beberapa bulan yang lalu setelah Kehancuran Dunia, markas awal mereka memang berada di tempat terpencil, tapi tidak seperti ini, namun karena diserang monster-monster ganas dalam jumlah besar, akhirnya berpindah.


Adrian berhenti berlari saat baru masuk, kemudian menoleh ke belakang. "Bukankah lebih mudah melemparkan api, kemudian menutup pintu guanya?"


Natan mengangkat kedua bahunya. Kemudian berkata dengan pelan, "Entahlah, aku tidak tahu medan di sini. Bisa saja gua ini memiliki pintu di kedua sisi, jika begitu, bukankah semuanya sia-sia? Mereka akan menyadari adanya serangan, kemudian melarikan diri melalui arah lain."


Adrian tertegun, kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar juga. Aku sudah dalam pelarian selama sepuluh hari, mungkin saja dalam waktu itu, mereka terus menggali tanah."


Natan terdiam tidak bisa berkata-kata lagi. Terkadang ia meragukan kemampuan Adrian, tapi melihat kemampuan pasifnya, itu sudah menjelaskan jika Adrian memang Tentara Profesional, itu jika kemampuan pasifnya tidak ditingkatkan dengan Point Skill.


Adrian menghela napas panjang, kemudian tatapan matanya terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Langkah kakinya tidak lagi bersuara, dan cara melihatnya melalui sudut tidak lagi mengeluarkan kepala, sekarang menggunakan pantulan cermin dengan ukuran genggaman tangan.


Natan bersandar di mobil yang terparkir; tidak perlu seperti Adrian yang sangat berhati-hati dalam bertindak sampai harus menggunakan cermin. Ia hanya perlu menggunakan Mapping, maka semuanya selesai, ia bisa melihat siapa-siapa saja yang berada di sekitarnya.


Ketika baru membuka Mapping, tiba-tiba ada yang berlari keluar gua dengan keributan di dalamnya. Sepertinya mereka sudah menyadari bahwa rekan-rekan mereka di luar telah terbunuh.


Natan bersiap-siap, mengarahkan pistolnya ke arah inti gua. Tidak lama kemudian, ia melihat belasan orang terus berjalan melewatinya. Pada saat itu juga, ia dan Adrian melepaskan tembakan.


Dorr! Dorr! Dorr!

__ADS_1


Satu per satu Human Chimera sudah terbunuh dan tergeletak di tanah, dan barisan belakang menyadari ada serangan.


"Belakang! Ada penyusup! Siap—"


Natan berlari dengan kecepatan penuhnya, menahan mulut pria paruh baya berambut pirang agar tidak lagi bersuara, kemudian ia menyayat lehernya sampai terbunuh perlahan.


Adrian juga mengambil tindakan dengan menembak tepat di bagian dahi hingga menembus; melemparkan pisau tepat di tenggorokan agar tidak bisa mengeluarkan suara.


Ketika semua orang sudah dibunuh dan dibiarkan di tanah, tubuh mereka mengeluarkan cairan hitam berbau busuk seperti tinta. Jika dilihat lebih teliti, bagian kaki mereka terlihat ada taji seperti yang biasanya ada di kaki ayam.


"Sepertinya, sudah semua orang diubah menjadi Human Chimera ..." Natan menghela napas panjang, merasa kesal karena manusia pun menginginkan kekuatan dengan cara yang tidak pantas. Ia menoleh ke kanan menatap Adrian. "Paman, apakah ada alasan khusus mengapa Ketua Tentara Bayaran ingin mengubah semua anggota menjadi Human Chimera?"


Adrian menggelengkan kepalanya. "Paman tidak tahu pasti, karena tidak pernah bertemu dengannya. Tapi, Paman tahu dari cerita, jika Ketua sangat terobsesi dengan kekuatan. Bahkan, sebelum Kehancuran Dunia, dia sangat ingin memiliki kekuatan super untuk menguasai dunia."


Natan menundukkan kepala melihat mayat yang menghilang perlahan seraya melipat kedua tangannya di depan dada. "Ini, sangat sulit untuk menghadapi lawan gila. Lebih baik melawan musuh yang kuat, ketimbang melawan musuh gila seperti dia."


"Paman ..." Natan berdiri tegak seraya menekan pinggangnya. "Setelah menghancurkan markas ini, aku akan kembali selama satu hari. Aku memiliki skill yang bisa berpindah sendirian, aku sudah dua minggu belum kembali."


"Baiklah." Adrian menganggukkan kepalanya. "Jika kau bisa kembali, maka kembalilah." Ada perasaan sedih dalam ucapannya, karena sudah lebih dari enam bulan tidak pulang.


"Siapa di sana?!"


"Bone Wall."


Tiba-tiba tanah di belakang Natan bergetar, kemudian puluhan tulang mulai mencuat keluar membentuk dinding tembok yang menghalau semua tembakan dari senjata api.


"Bangkit."


Skeleton Commander dan Knight berdiri menghalau pintu keluar, menjaga agar tidak ada bala bantuan dari luar yang mengepung mereka. Mammoth Tank juga bangkit di balik Bone Wall, menerjang Human Chimera yang terus menyerang dengan senjata api.


"Human Chimera di sini tidak memanfaatkan kekuatan bawaan mereka. Sangat disayangkan, mereka hanya membuang-buang waktu, tapi berakhir pada kematian."


Natan mengganti senjatanya dengan Assault Rifle AR-15, dan melepaskan tembakan melalui sela-sela tulang.


"Gunakan RPG! Senjata biasa tidak bisa melukainya!"

__ADS_1


"Apakah kau gila? Jika kita menggunakan RPG dan ledakannya terlalu besar, langit-langit akan runtuh kemudian mengubur kita semua!"


"Gunakan saja! Kita adalah Human Chimera! Mana mungkin kita bisa mati hanya karena terkubur—"


Human Chimera yang memiliki telinga gajah, terbunuh dengan kepala yang hancur dan dadanya yang berlubang. Kemudian terjatuh di tanah mengeluarkan darah segar yang menggenang.


Whooooosh! Whooooosh! Whooooosh!


"Apa lagi ini? Tidaaakk!"


Booom! Duarr!


Skeleton Fire Mage datang membantu dan langsung melepaskan serangan bola api yang bisa meledak setelah mengenai targetnya. Ledakan tidak berhenti setelah bola api mengenai target, karena di dalam gua banyak bahan yang mudah terbakar dan di sana terdapat beberapa mobil militer.


"Tidaaakkk!" Natan berteriak keras merasakan sakit di hatinya saat melihat mobil-mobil milter yang meledak: GAZ Tiger, Renault Sherpa, Paramount Marauder, Supacat LRV.



Natan sangat ingin memiliki mobil militer yang keren dan gagah, tapi saat melihatnya, mobil itu meledak karena kekuatan Skeleton Fire Mage terlalu tinggi.


Bayangkan saja, menaiki mobil di saat sedang bertarung melawan monster, bukankah itu sangat menyenangkan dan keren? Jika menaiki Mammoth Tank, itu tidak terlalu luar biasa karena lambat. Ia ingin sekali merasakan sensasi menginjak pedal gas, kemudian melompat dari tempat tinggi menggunakan mobil seperti di film-film.


Natan melompat, melewati Bone Wall. Ia meminta Skeleton Fire Mage untuk berhenti menyerang dan digantikan dengan Ice Mage yang membekukan nyala api. Ia terus melepaskan tembakan untuk membunuh Human Chimera, setelah pelurunya habis, ia akan mengganti dengan magazen yang baru.


"Hora-hora-hora-hora! Mati kalian semua manusia sialan!" Natan mengeluarkan Assault Rifle AR-15 yang lain dan menembaknya dengan kedua tangan.


Adrian kehabisan kata-kata melihat keponakannya yang gila. Rencana awalnya tidak seperti ini, mereka berdua sudah setuju jika penyerangan kali ini akan dipimpin olehnya dengan cara diam-diam, tidak membabi buta tak berperasaan seperti ini.


Adrian membuat gerakan tangan yang saling menggenggam seraya menengadahkan kepalanya melihat langit-langit gua. "Adikku yang di sana, lihatlah putra semata wayang mu. Dia yang awalnya polos, berubah menjadi maniak militer ..."


"Hahahaha! Aku dapat satu! Maju kalian semua Human Chimera sialan!"


Adrian tersadar dan mengalihkan perhatiannya, melihat Natan yang berdiri di atas mobil dan mengarahkan senjatanya ke atas. "Dia, benar-benar gila."


...

__ADS_1


***


*Bersambung...


__ADS_2