
"Sayang!" Brianna muncul di dalam tenda, tapi kemudian diam membeku saat melihat Glenda yang sedang berbicara bersama wanita muda. Namun setelah melihat wajah wanita itu saat wanita tersebut berbalik, dia tertegun. "Putraku?"
"Ibu?" Natan terkejut, kemudian dia berdiri, langsung memeluk Brianna. "Ibu, aku merindukanmu."
Brianna tersenyum tipis, dia menepuk-nepuk kepala dan mengusap punggung Natan. "Sayang, kau sudah dewasa, masih saja seperti anak-anak."
"Bukankah di mata Ibu aku memang masih anak-anak?"
"Ya ..." Brianna tersenyum tipis, menganggukkan kepala dan mencium pipi Natan. "Kau adalah bayi kecil Ibu, dan selamanya akan tetap seperti itu."
Natan tersenyum hangat, dia memeluknya lebih erat sari sebelumnya. "Ibu, biarkan aku memelukmu lebih lama."
"Tentu."
Natan menarik napas dalam-dalam di leher Brianna, yang mana membuatnya tenang.
Brianna tertawa kecil, mengusap kepala Natan. "Dari kecil kau selalu suka mencium leher Ibu."
"Ya ..." Glenda menganggukkan kepalanya dan berkata, "Sama sepertimu yang senang menghirup ketiak Ibu saat tidur bersama."
"Ibu ..." Brianna mengeluh.
Glenda tertawa kecil, mengusap kepala Brianna dan memeluk mereka berdua. Dia sangat senang keluarga besarnya sangat akur, tidak ada pertengkaran antara saudara yang mana berebut warisan atau apa pun itu.
Tapi, Glenda juga sedih karena dua adik iparnya meninggal secara bersama puluhan tahun lalu, dan ibu mertuanya, Huanran tidak bisa lagi mengandung karena alasan tertentu.
"Ngomong-ngomong, Ibu. Ramuan yang diberi Erina, Ibu belum meminumnya? Nenek saja sudah minum, sekarang Nenek terlihat lebih muda daripada Ibu," ucap Brianna yang melihat rambut putih ibunya.
"Ibu lupa menaruhnya di mana." Glenda tertawa kecil setelah menjawabnya.
Brianna menghela napas, dia mengeluarkan ramuan dan memberikannya. "Ini, Bu."
"Ibu ..."
"Iya Sayang?" Brianna menepuk-nepuk tengkuk Natan.
"Malam ini ..." Natan menatap mata ibunya, lalu kembali bersandar di pundak ibunya. "Ayo tidur bersama."
"Tapi ..."
"Tidur di kamar yang sama, saat ini mereka berada di rumah sakit, ruangan ini luas dan bersih, kita bisa tidur di sana. Di sofa, Ibu duduk, dan aku tidur di pangkuan Ibu dengan Ibu mengusap kepalaku." Natan tahu apa yang ingin dikatakan ibunya, sehingga dia mengatakannya lebih dulu.
"Baiklah." Brianna tersenyum hangat, menepuk-nepuk kepala Natan. "Bayi kecil Ibu sangat manja, tapi Ibu akan memenuhinya."
Glenda yang di samping, meminum ramuan. Sesaat itu juga, rambut putihnya mulai berubah warna menjadi cokelat yang sama seperti Brianna, matanya yang biru semakin terang, kerutan di wajahnya menghilang dan terlihat sangat halus nan lembut.
Natan melihatnya, dia samar-samar melihat bahwa Glenda adalah Brianna. "Nenek mirip seperti Ibu."
Glenda menggelengkan kepalanya dan berkata, "Bukan Nenek yang mirip dengan ibumu, tapi ibumu yang mirip dengan Nenek."
__ADS_1
"Ya, seperti itu ..." Natan menutup matanya, karena terlalu nyaman berada di dalam pelukan ibunya, dia mulai mengantuk.
Brianna tersenyum tipis, dia melambaikan tangannya untuk membuka portal cahaya, lalu masuk membawa Natan dengan Glenda yang mengikuti.
...***...
—Rumah Sakit Armonia—
Vely, Calista dan Olivia sedang duduk bersandar di atas ranjang yang empuk, dengan peralatan medis di sampingnya untuk memantau denyut jantung.
Ketika mereka sedang mengobrol, tiba-tiba ada pusaran cahaya yang muncul di depan mereka. Ini membuat mereka bersiaga, tapi saat melihat Brianna yang keluar dari sana, mereka terkejut dengan mulut terbuka, namun perhatian mereka segera teralihkan pada wanita yang dipeluk oleh Brianna.
"Ibu, siapa wanita ini— Tunggu!" Calista mengerutkan keningnya. "Itu Natan?!"
"Sial!" Olivia tidak bisa menahan diri dan akhirnya mengumpat. "Ini tidak bisa diterima, bagaimana mungkin suamiku lebih cantik dariku."
Brianna memeluk Natan dari belakang, lalu Glenda memegang pipi Natan, menariknya untuk membentuk senyuman.
Vely mengeluarkan kamera, lalu mengambil gambar. "Aku akan mencetaknya nanti, ini harus disimpan baik-baik, jangan sampai Natan tahu."
Calista dan Olivia juga menggambil gambar, dan ini sudah sering mereka lakukan saat Natan tertidur, tapi tidak sampai separah ini di mana Natan berpenampilan seperti wanita.
"Ibu, buat pose Natan menusuk pipi dengan jari, lalu buat tanda “Love”, senyum manis, menggoda, menyentuh bibir."
Mendengar permintaan Olivia, Brianna tertegun sejenak, tapi kemudian menurutinya.
Brianna mengusap kepala Natan dan berkata, "Dia terlihat baik, tersenyum hangat di luar, tapi Ibu tahu dia merasa kosong di dalam. Ini bukan berarti dia tidak mencintai kalian, tapi ada yang lain, mungkin beban tersendiri karena menjadi Player teratas, yang pastinya harus terjun ke garis depan untuk menghadapi Monster Ancestors."
"Dia sudah siap, tapi dia merasa masih ada yang kurang, dan dia tidak tahu apa itu. Untuk itu, Ibu menggunakan sihir untuk membuatnya tidur, biarkan pikirannya tenang sebentar."
Liu Xinmei yang dari tadi diam, hanya mengambil gambar Natan, tiba-tiba berkata, "Mungkin, karena dia belum berhasil mengambil barang-barang di Makam Poseidon?"
Vely, Calista dan Olivia memandang Liu Xinmei, dan mereka merasa itu masuk akal. Tapi, Brianna menggelengkan kepala, namun tidak mengatakan apa-apa.
...***...
—7 Hari Kemudian—
Hari ini adalah hari di mana Calista melahirkan, sehingga di bawa ke ruang terpisah, yang kemudian masih dalam satu area.
Natan berdiri di samping Calista, mengusap kepalanya berkali-kali dan menggenggam salah satu tangan Calista. Air matanya mengalir, dia memandangi istrinya dengan rasa takut, khawatir. "Sayang ..."
Calista tersenyum tipis, dia mengusap air mata di wajah Natan. "Aku yang melahirkan, mengapa Natan yang menangis."
Natan hanya diam, tidak menjawabnya, tapi tidak bisa menghentikan tangisnya.
Calista mulai merasakan sakit di bagian perutnya, seperti sudah memasuki fase atau kala aktif. Setidaknya masih menunggu beberapa jam lagi untuk memasuki tahap akhir, di mana berusaha untuk mengeluarkan bayi.
Natan menggenggam tangan kiri Calista "Sayang, aku meminta Erina membuatkan ramuan penghilang rasa sakit, aku ingin kau meminumnya."
__ADS_1
Calista menggigit bibirnya, menggelengkan kepalanya dan berkata, "Ini anak pertama kita, sebagai seorang ibu, aku ingin merasakan bagaimana rasanya melahirkan normal."
Natan terdiam, kemudian dia memandang Xiang Yin An, Ketua dari Taiyang Guild. "Apa masih lama?"
"Walaupun sudah bersiap-siap, tapi harus menunggu beberapa waktu sampai fase ini berakhir dan salurannya benar-benar terbuka." Xiang Yin An menjawabnya seraya memakai masker, mengenakan sarung tangan medis dan semua perlengkapan lain.
Natan menggigit bibirnya, terlihat sangat panik karena tidak tahu apa yang harus diperbuat, tapi saat mendengar suara Brianna di belakangnya, dia menarik napas dalam-dalam dan mencoba untuk tetap tenang.
Waktu terus berjalan dan terasa sangat lambat sekali untuk berakhirnya fase atau kala akhir yang membuat Calista merasakan kram, sakit punggung dan pendarahan.
Ketika tiba di waktu melahirkan, kekuatan kontraksi akan meningkat pesat sehingga terasa sangat hebat, kuat, dan menyakitkan. Frekuensi kontraksi juga terasa cukup intens, yang bisa muncul setiap 30 detik hingga 4 menit sekali dan berlangsung selama 60 sampai 90 detik.
"Sudah, coba lakukan dorongan."
Calista mulai melakukan hal yang diperintahkan, dia mencoba mendorong bayinya agar bisa keluar dan rasa sakitnya seperti semua tulang patah secara bersamaan. Dia mencengkeram erat tangan Natan, dan napasnya tersengal-sengal.
Natan mencoba memeluk kepala Calista dengan lembut, sesekali juga mengecup keningnya dan mengatakan kata-kata yang membuat Calista tetap semangat. "Sayang, berjuang, kau pasti bisa, aku selalu berada di sisimu, aku akan selalu mendukungmu."
Air mata Calista mengalir deras dengan keringat yang mulai membahasi wajahnya. Rasa sakit yang dia terima benar-benar sangat menyakitkan yang terjadi setiap 20 menit sekali, dan lama waktunya adalah satu sampai dua menit untuk setiap fase sakit.
"Sayang ..." Calista bernapas terengah-engah, lalu mengatur pernapasannya dan kembali mencoba mengeluarkan bayinya.
"Aaahhh!" Calista berteriak keras, rasa sakit yang luar biasa membuat tenaga cengkeraman tangannya lebih kuat.
Natan merasa sakit di tangannya, bahkan terdengar suara retakan kasar, menandakan bahwa jari-jari tangannya patah. Tapi, dia menahannya, tidak ingin berteriak yang mana membuat Calista malah menyalahkan dirinya sendiri.
Calista mengambil napas dalam-dalam dan mendorong sekuat tenaga. Dia melakukannya berkali-kali sampai satu jam berlalu, akhirnya bayi yang dia kandung benar-benar keluar.
Natan tersenyum, dia mengecup kening Calista, mengusap kepalanya. Tapi dia tahu, ini belum berakhir karena harus mengeluarkan plasenta yang masih ada di dalam.
Xiang Yin An yang merupakan dokter itu mengambil tindakan dengan memberikan suntikan obat, agar Calista tidak mendorong atau berusaha lebih keras. Obat itu juga merangsang reaksi kontraksi, kemudian Xiang Yin An akan menariknya perlahan.
Xiang Yin An membawa bayi kecil itu sebentar untuk melakukan pemotongan plasenta dan membersihkan cairan ataupun darah yang menempel.
Dalam pemotongan plasenta, tentunya harus dilakukan dengan hati-hati dan oleh yang berpengalaman. Serta menggunakan peralatan yang benar-benar steril.
Setelah selesai membersihkan, Xiang Yin An menyerahkannya pada Calista dengan hati-hati.
Ayumi yang sudah menangis karena kagum, khawatir, takut dan lain sebagainya saat melihat ini, akhirnya mengambil tindakan dengan menggunakan sihirnya untuk menstabilkan napas Calista.
Calista memeluk bayi laki-laki yang baru dilahirkannya, mengecup keningnya.
Natan tersenyum bahagia, dia tetap diam, tidak tahu harus mengatakan apa, kebahagiaan yang dialaminya kali ini, tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
...
***
*Bersambung...
__ADS_1