Monster Apocalypse

Monster Apocalypse
Chapter 187 : Menjadi Kecil


__ADS_3

Kelompoknya sudah tiba di Armonia Guild. Tidak ada sambutan atau apa pun, karena memang mereka tidak datang dengan cara megah, melainkan berjalan di tembok kota.


"Sayang, tempat ini terlalu luas, tapi sedikit orang. Jumlah aslinya dua puluh juta orang, tapi sekarang hanya sepuluh ribu."


Natan tersenyum tak berdayanya ketika mendengar itu. Dia juga ingin menambah jumlah penduduk, tapi manusia yang ditemuinya sangat sedikit. "Ibu, aku penasaran, apakah semua manusia dibunuh oleh monster? Mengapa hari pertama monster muncul, kota-kota sudah sepi? Kala itu, harusnya ramai, saat aku keluar dari apartemen, wilayah tempatku tinggal sangat sepi."


Brianna terdiam sejenak, kemudian menepuk dahinya. "Kau yang jelaskan."


Natan bingung dengan jawaban Brianna. Tapi tiba-tiba, ada yang melompat dari belakangnya dan memeluknya.


"Natan!"


Natan tersentak kaget, dia melihat Ainsley yang mengulurkan kepala dan bersandar di pundaknya.


Ainsley menoleh menatap Brianna dan tersenyum yang tidak bisa dijelaskan. "Istri Natan mengandung, bagaimana jika aku yang menggantikan mereka?"


Brianna menoleh dengan tatapan tajam seperti melihat musuh abadi. "Aku akan membunuhmu."


Ainsley tertawa kecil seraya turun dari tubuh Natan. Dia berdiri di antara Natan dan Brianna. "Apa kau tahu Dungeon dan Dimensional Cave berada di dimensi yang berbeda?"


Natan mengangguk kecil, dia diam untuk beberapa saat, memikirkan hubungan antara manusia yang hilang dan kemunculan Dungeon maupun Dimensional Cave.


"Maksudmu, orang-orang terjebak di dalam Dungeon? Monster muncul tiba-tiba ada kemungkinan seperti yang sudah-sudah, monster muncul karena teleportasi ruang dan manusia yang dekat dengan ruang teleportasi itu terhisap atau hancur menjadi partikel-partikel kecil?"


Ainsley menganggukkan kepalanya sebagai penegasan, kemudian menambahkan, "Bisa dibilang seperti itu. Tapi ada juga manusia yang berubah menjadi monster, seperti yang tertekan, depresi dan lain sebagainya."


"Eh?!" Natan tidak pernah mengharapkan akan ada hal semacam itu. Ini adalah berita yang mengejutkannya, dan sesuatu yang tidak pernah dipikirkannya. Manusia menjadi monster? Siapa yang pernah menduga hal itu. Meski sekarang ada manusia yang ingin menjadi monster, tapi hari pertama Kehancuran Dunia menjadi monster?


"Ainsley, kau bilang kau menguasai sihir pengubah bentuk." Brianna menyenggol lengan Ainsley seraya mengedipkan salah satu matanya.


Ainsley mengangkat sebelah alisnya, dia berpikir sejenak, lalu menoleh untuk menatap Natan. Barulah dia tahu maksud dari pertanyaan Brianna. "Kau ingin mengubah Natan kembali muda seperti usia lima tahun?"


Tidak hanya Natan yang terkejut, semua orang yang hadir bersama juga terkejut. Kemudian mereka menatap Natan dengan tatapan penasaran, mereka ingin melihat seperti apa penampilannya saat masih kecil.


Natan gemetaran karena takut. Dia menatap Brianna dengan tatapan memohon. "Ibu, Ibu, Ibu. Ibu tidak berpikir seperti itu, kan ..." Ia berhenti saat melihat senyuman yang terbentuk di bibir Brianna.


Tanpa menunda-nunda lagi, Natan langsung berlari sekuat tenaga bahkan sampai mengubah tubuhnya menjadi bayangan.


"Mau lari ke mana?" Ainsley mendengus dingin, dia mengarahkan tangannya ke arah di mana Natan berlari. Bola energi biru langsung melesat dari tangannya, pergi mengikuti ke mana pun bayangan itu pergi.


Natan sangat ketakutan saat kabur dari kejaran sihir, tapi kecepatannya lebih lambat dari sihir Ainsley sehingga dia terkena langsung.


Ketika dia terkena sihir, dia keluar dari bayangan dan hal pertama yang dilakukannya adalah mengecek tubuhnya. Pandangannya masih sama, otot-otot tubuhnya masih ada dan tangannya masih besar. Mengetahui bahwa semuanya baik-baik saja, dia menghela napas lega.


Natan berbalik dan menghampiri Brianna. "Ibu, aku baik-baik saja. Lain kali jangan menakutiku seperti ini."


Brianna tersenyum pahit, dia kecewa karena semuanya tidak sesuai keinginannya. "Padahal Ibu ingin melihat Natan kecil."

__ADS_1


"Natan kecil, seperti itu menarik. Tapi aku tidak bisa melihatnya, awalnya aku sangat antusias..." Calista mengungkapkan kekecewaan yang sama karena sihir Ainsley tidak berfungsi.


Olivia mengangguk kecil dan menambahkan, "Benar, aku sudah sering melihat tubuh telanjang Natan dewasa, aku ingin melihatnya yang kecil."


Natan tidak tahan lagi akan semua ini. Dia memutuskan untuk pergi terlebih dahulu, jika dia tetap tinggal di sini, mungkin dia akan gila. Tidak ada satu pun yang membelanya, semuanya sangat ingin melihatnya kembali seperti anak kecil. Memang terlihat lucu, tapi hal yang paling dia benci adalah masa kecilnya.


Ketika Natan sudah meninggalkan tempat, Brianna dan Ainsley pergi ke sudut. Keduanya berbisik-bisik, sampai menggunakan sihir agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka berdua.


"Bagaimana sihirnya?" Brianna melihat sekitarnya dan merasa aman, barulah dia berbicara.


Ainsley menggunakan jarinya untuk membentuk tanda “Ok”, kemudian dia menjawab, "Besok pagi dia akan menjadi kecil. Setelah dia bangun, dia masih mengingat bagaimana semuanya, tapi setelah beberapa menit, mentalnya akan kembali seperti anak kecil. Mantra ini bertahan selama satu hari, setelah itu semuanya kembali normal, termasuk ingatannya."


Brianna tersenyum bahagia. Akhirnya dia bisa memenuhi janjinya saat pertama kali bertemu Natan setelah Kehancuran Dunia, meskipun dia tahu cara ini terlalu berlebihan.


"Ngomong-ngomong, bayaran." Ainsley mengangkat salah satu sudut bibirnya, membentuk smug-face.


Senyum Brianna membeku, dia melupakan bayaran yang dijanjikan. Dia menepuk dahinya dengan kepala tertunduk. "Baiklah... Datang besok pagi."


...***...


—Keesokan Harinya—


Natan bangun seperti biasa, dia mengusap matanya, tapi tiba-tiba merasa ada yang aneh. Tangannya terlalu lembut untuk laki-laki seusianya dan pakaiannya terasa longgar. Dia melihat tangannya, tangannya yang berotot berubah menjadi tangan mungil.


Tubuhnya bergetar dengan panik. Dia melompat turun dan berdiri di depan cermin. Terlihat laki-laki kecil berdiri di pantulan cermin, matanya hitam berkilau, wajahnya halus dengan pipi berisi, tingginya antara 105 — 115 centimeter.


"Tidaaakkk!"


Vely, Calista dan Olivia yang masih tertidur, terganggu dengan suara teriakan yang melengking.


Ketiganya bangun dari tidur, duduk dan melihat ke arah sumber teriakan.


Calista membuka matanya lebar-lebar saat melihat anak kecil yang menurunkan celana dan memperlihatkan ularnya. "Sial! Anak siapa?!"


"Tunggu!" Olivia menahan Calista yang ingin mengusir anak kecil itu. "Dia terlihat seperti Natan."


Calista mengamati dengan saksama, dia mengangguk setelah memastikan bahwa itu memang Natan. "Kau benar, sihir Ainsley berhasil."


Natan memakai celananya lagi, saat dia ingin berbicara, tiba-tiba kepalanya terasa sangat menyakitkan sampai-sampai dia bersujud seraya memegangi kepalanya.


"Natan!" Calista melompat turun dengan tatapan khawatir saat menatap Natan. Dia memeluknya erat, mengusap kepalanya dengan lembut.


Natan berteriak keras dan menggenggam erat tangan Calista.


Calista menggigit bibirnya saat merasakan tangannya yang terkilir atau mungkin retak karena cengkeraman Natan.


Natan membuka matanya perlahan setelah tidak lagi merasakan sakit di kepalanya. Dia mendongak menatap Calista dengan mata polos, kemudian dia terlihat takut dan mendorong Calista. "Si- Siapa kalian?!"

__ADS_1


Calista berdiri perlahan, mengusap tangannya yang masih sakit meski sudah disembuhkan oleh Olivia. "Apakah Natan tidak mengenali kami? Kami istrimu..."


"Omong kosong!" Natan berdiri di sudut ruangan, dia menatap ketiganya dengan tatapan marah penuh kebencian, seperti melihat paman dan bibinya yang meninggalkannya saat membawa semua warisan orangtuanya. "Aku baru berusia lima tahun, bagaimana mungkin aku sudah beristri!"


"Terutama kau! Kau terlihat sudah sangat tua!" Natan menunjuk Vely.


Vely tertegun ketika mendengar kata “Tua”, dia tertunduk lesu dan kembali duduk di tepi tempat tidur.


Natan melihat sekeliling, dia terlihat panik karena tidak tahu di mana dia berada sekarang. "Apa kalian menculikku?"


Bang!


Pintu terbuka cukup keras sampai mengeluarkan suara benturan, bahkan angin berembus memasuki ruangan.


Natan menoleh ke arah pintu keluar, dia membuka matanya saat melihat wanita yang familiar baginya. "I- Ibu? Tidak! Ibuku sudah mati. Siapa kau?!"


Brianna tersenyum tipis, dia berjongkok dan memeluk Natan. "Ibu hidup lagi dan datang ke sini untuk menemani Natan."


Natan ingin berteriak, tapi dia merasakan perasaan yang familiar sedang membungkus tubuhnya. Dia merasakan air matanya mulai basah, lalu menangis sesenggukan dan memeluk erat Brianna. "Ibu, ibu, ibu! Ini Ibu! Ibu hidup! Jangan tinggalkan Natan lagi..."


Brianna mengusap kepala mungil Natan dan tersebut yang tidak bisa dijelaskan. Dia melepaskan pelukannya, kemudian membawa Natan ke depan Vely. "Apakah Natan lupa? Natan meminta tidur bersama mereka tadi malam, Natan harus meminta maaf karena sudah membentak mereka."


Natan menggaruk kepalanya bingung. "Tapi mereka bilang mereka istri Natan. Apakah Natan sudah beristri?"


Brianna tertegun sejenak, lalu tersenyum seraya mengusap kepala Natan. "Bukankah Natan yang ingin menikahi mereka bertiga? Jadi mereka bilang begitu."


Natan masih bingung, tapi dia tetap mengangguk kecil.


"Sekarang, minta maaf."


Natan melangkah dan meraih tangan Vely, lalu menciumnya. "Natan minta maaf." Ia melanjutkannya dengan Calista dan Olivia.


Setelah itu, Brianna menggendong Natan. Dia membawanya keluar dari kamar.


Natan yang berada di pelukan Brianna, melihat ke belakang menatap Vely, Calista dan Olivia. "Istri-istriku, jangan lupa mandi."


Vely menatap Calista dan tetap diam untuk beberapa saat sebelum berkata, "Jadi, Natan waktu kecil memiliki mulut yang pedas. Aku masih merasakan sakit di dadaku."


Olivia melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku jadi penasaran, hidup seperti apa yang dijalani Natan kecil. Aku harus bertanya pada Ibu." Ia melompat turun dari tempat tidur, berlari menyusul Brianna.


Vely dan Calista saling memandang, kemudian bergegas mengikutinya.


...


***


*Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2