
Perasaan Natan lebih ringan setelah ia melepaskan semua beban yang ia tahan selama belasan tahun ini, dan mencoba untuk jujur, tidak menyembunyikan niat awalnya membawa tiga orang yang bersamanya saat ini.
Tapi meski sudah bisa terbuka, ia memilih untuk mengurung diri di kamar kecil yang berada di lantai dua Mammoth House.
Ada empat kamar di lantai dua Mammoth House, yang tidak terlalu luas namun cukup untuk beristirahat. Teras depan 1 × 7 meter, ruang depan atau keluarga 2 × 7 meter, dan untuk kamarnya adalah 2,75 × 3 meter.
Kamar-kamar ini baru dibangun karena masing-masing orang pastinya memiliki privasi tersendiri yang tidak ingin diketahui, karena itulah setelah berdiskusi bersama, akhirnya Mammoth House diubah dengan menambahkan kamar.
Natan yang berguling-guling di atas kasur itu berteriak seraya membenamkan wajahnya di bantal. Ia benar-benar tidak bisa menahan rasa malunya saat menangis di depan Adik-adiknya tadi.
Hingga saat perutnya bergemuruh dan ia mencium aroma daging sapi panggang, barulah ia keluar dari kamarnya perlahan. Ia berjalan menuju ruang keluarga, dan melihat tiga manusia dengan satu hewan sedang memakan daging.
"Apakah aku ditinggalkan sendirian?"
Ketiganya tertawa kecil dan mengangkat Natan makan bersama.
Natan berjalan menghampiri jendela yang tertutup gorden dan membukanya, ia ingin ada pemandangan di luar agar bisa mengetahui apa yang ada di sana. Kemudian ia duduk di sebelah kanan Ayumi.
Dalam perjalanan kali ini mereka tidak pergi terburu-buru, mereka memutuskan untuk berada beberapa hari di Pulau Sumatera, sebelum kembali pergi menyeberangi beberapa pulau dan pergi ke Negara Singapore.
"Apakah menurut kalian ruang keluarga ini terlalu sempit?" Natan mencoba memastikan, karena ia merasa terlalu sempit, sedangkan kamarnya cukup luas untuk ukuran rumah yang kecil.
"Bisa dibilang begitu, kita tidak benar-benar berpikir panjang dan langsung membuatnya." Vely menganggukkan kepalanya.
Natan mengangguk kecil dan menoleh ke kanan, melihat keluar jendela. Ia bisa melihat dua kepala Mammoth Tank. Jika bagian atas kepala Mammoth Tank ditambahkan dengan beberapa kerangka kayu, maka rumah bisa diperluas lagi.
Tapi daripada memperluas, lebih baik membuatnya dengan yang baru.
"Jika aku masih bisa membangkitkan lima Mammoth Tank lagi. Setelah ada tambahan baru, aku berencana untuk membuat Mammoth House seluas dua ratus empat puluh meter persegi."
Ketiganya tertegun dengan mulut terbuka, tidak percaya dengan apa yang diucapkan Natan. Mammoth House dengan dimensi 12 × 20 meter terlalu besar dan sangat sulit untuk mencari jalan. Kalaupun ada, tentunya harus melewati jalan utama.
"Untuk apa rumah yang sangat luas?" tanya Vely yang sangat penasaran, diikuti oleh Ayumi dan Erina yang mengangguk.
Natan terdiam sejenak dengan kepala tertunduk, kemudian mendongak dan menjawabnya, "Markas sementara? Aku berencana untuk mencari anggota baru, kebetulan aku ada kenalan di sini. Tapi tidak tahu apakah dia masih mengenalku—"
__ADS_1
"Jika ingin rekan, seharusnya kau bisa menawarkannya pada teman-teman sekelas." Vely memotong perkataan Natan yang sedikit tidak masuk akal.
Natan terdiam dan meletakkan sumpitnya di atas piring. Ia tidak terlalu banyak berbicara, dan selalu menutup diri, karena itulah tidak mungkin untuk memiliki teman, kecuali jika ada tugas kelompok. Ia yang mengerjakan tugas, mereka yang mengatasnamakan sebagai kelompok.
Ayumi dan Erina juga menghentikan makannya saat membahas tentang 'Teman' yang sangat sensitif. Entah ada alasan apa dibalik ekspresi yang terlihat kesal dan sedih secara bersamaan.
Natan mendongak menatap Ayumi dan Erina secara bergantian. "Apakah kalian berdua ada masalah di sekolah?"
Ayumi mengigit bibir bawahnya, dan menoleh ke kanan menatap Natan. "Bullying, masalah tentang Ayah yang berasal dari Jepang." Suaranya terdengar sangat pelan seperti berbisik.
Natan memalingkan wajahnya dari Ayumi dan melihat Erina yang duduk di kiri depannya. "Erina?"
Erina menoleh ke kiri depan membalas tatapan mata Natan. "Bullying, dengan alasan yang tidak jelas."
Natan terdiam saat mendengarnya, dan melihat kesedihan yang terukir jelas di wajah kedua Adiknya yang manis itu.
Vely merasa bersalah ketika menanyakan pertanyaan yang tidak perlu. Ia lupa jika Natan dulu benar-benar tertutup saat masih di sekolah menengah pertama, dan ia juga baru mengetahui jika Natan hidup sebatang kara saat ia hampir meninggalkan sekolah untuk melanjutkan pendidikannya.
"Ay- Ayo makan, dagingnya hampir menjadi arang." Vely mengangkat lembaran daging dan meletakkannya di atas piring masing-masing.
Natan mendongak dan tersenyum tipis, kemudian mencoba menghibur kedua Adiknya, serta melanjutkan makan mereka yang sempat terhenti untuk sementara.
Natan menggeleng pelan, ia sendiri tidak tahu siapa temannya. "Entahlah, aku juga tidak tahu, kami bertemu saat bermain game bersama dan sering bermain setelahnya. Namun sudah satu tahun lebih dia tidak bermain."
Ayumi menatap heran Natan, kemudian kembali berucap, "Ayu lebih senang jika teman Kakak adalah perempuan. Ayu tidak ingin tempat kita ada laki-laki lain, Ayu takut."
"Erina juga." Erina menambahkan, menyetujui pernyataan Ayumi.
Vely hanya diam dan menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan dari pernyataan Ayumi. Ia juga tidak nyaman dengan pria lain, mengingat kejadian yang tidak menyenangkan di Pangkalan Militer.
Natan mengangguk kecil dan melanjutkan makan. Hingga puluhan menit berlalu, mereka sudah menyelesaikan makan dan memutuskan untuk berjaga-jaga di bagian depan.
"Aku berencana membangun rumah dengan balkon yang mengelilingi, jadi Skeleton Knight bisa berjaga-jaga. Tapi daripada Skeleton Knight, aku lebih memilih Archer atau Mage. Jika meletakkan di balkon yang mengelilingi rumah, Mammoth House sudah seperti benteng berjalan."
"Jika benar-benar memilikinya, itu sangat luar biasa. Tapi tidak mungkin kita bisa membuatnya untuk sekarang, mengingat Mammoth Tank yang dimiliki hanya empat." Vely yang duduk di sebelah kiri Natan itu menyahutnya.
__ADS_1
Natan menganggukkan kepalanya, Skeleton yang ia panggil sudah 22 dari 26 slot. Ada 1 Skeleton Commander, 2 Skeleton Mage, 4 Skeleton Mammoth Tank, 15 Skeleton Knight. Setidaknya Skeleton Disease II harus mencapai Lv.04 jika ingin membuat Mammoth Castle.
Tapi yang lebih penting dari itu semua, ia harus mendapatkan Player Job Perajin atau Crafsman, agar Mammoth Castle yang dibangun nanti lebih baik lagi.
***
Keesokan Harinya
Kelompok empat manusia dengan satu hewan itu tidak lagi menggunakan Mammoth House untuk bepergian, dan memilih untuk berjalan kaki saja. Itu semua karena Natan merasakan adanya tanda-tanda kehidupan dua manusia yang tidak jauh.
Sebelumnya Natan ingin menghindari manusia, namun karena teman bermain game onlinenya berada di Lampung, ia mencoba keberuntungannya apakah akan bertemu dengan temannya itu, seperti ia bertemu dengan Ayumi, Erina dan Vely.
"Kakak, apakah di sini benar-benar ada manusia lain?— Uhm." Ayumi tersandung dan terjatuh di permukaan salju dengan posisi telungkup.
Natan tidak bisa menahan tawanya saat melihat Ayumi yang terjatuh, kemudian ia berjongkok dan membantunya berdiri.
Ayumi menggembungkan pipinya seraya menyilangkan kedua lengannya di depan dada dan memalingkan wajahnya. "Huh!"
Natan mengambil susu kotak rasa stroberi kesukaan Ayumi, dan coklat kesukaan Erina. Seketika itu juga, Ayumi tidak lagi kesal dan memperlihatkan senyum cerahnya.
"Untuk pertanyaanmu tadi, aku memang merasakan adanya tanda-tanda kehidupan manusia. Sangat mudah bagi seorang Archer untuk mengetahui gerakan yang cukup jauh." Natan berasalan untuk menyembunyikan Skill Mapping.
Kemudian dengan Appraisal yang mencapai level maksimum, Natan bisa dengan mudahnya melihat informasi Player hanya dari Mapping saja. Nama dari dua manusia yang tidak jauh darinya seperti nama wanita, dan salah seorang di antaranya seperti pernah ia dengar, namun lupa di mana.
Level keduanya juga cukup tinggi, 110 dan 150. Ini merupakan level tertinggi yang pernah ia lihat dari Player lain selain yang bersamanya saat ini.
Lalu untuk Mayor Arief, levelnya memang mengalami peningkatan, namun tidak terlalu signifikan. Seperti kemajuan levelnya sangat lambat.
Biarlah, aku tidak perlu lagi memikirkannya. Kami sudah bisa dikatakan tidak memiliki hubungan lagi setelah meninggalkan Pangkalan Militer.
Walaupun kami masih saling mengenal, sudah tidak mungkin untuk bertemu lagi. Mengingat sangat sulit untuk dapat menyeberangi lautan.
...
***
__ADS_1
*Bersambung...