
Andre mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Kali ini si gadis desa itu duduk di bagian depan samping dirinya.
"Kita ke rumah sakit dulu ya, Belle. Kau siap 'kan dengan apa yang akan dokter lakukan padamu?" ucap Andre pada pengasuh putri kecilnya yang kali ini sudah menjadi calon istrinya.
Rumanah mengangguk serta tersenyum. "Ya, Tuan. Saya sangat siap!" jawab gadis desa itu tanpa ragu.
Andre tersenyum lantas mengusap lembut puncak kepala gadis desa di samping nya itu. "Pintar! Kau harus siap dan semangat. Tanganmu tidak boleh terus-terusan seperti itu. Oh ya, apakah rasanya masih sakit?" ucap duda tampan itu seraya melirikkan manik matanya pada jari-jari Rumanah yang masih dibalut perban dan kain kasa.
"Iya, Tuan. Sedikit-sedikit masih terasa sakit sii, tapi kalau tiba-tiba kesenggol atau bergerak. Rasanya tuh ... ngenyuuuuuutt banget. Seperti ... kesetrum. He he he he," jawab Rumanah dengan ekspresi yang sangat luar biasa.
Andre tersenyum kecut. "Uuuuunch, kasihan sekali siii," rajuk duda tampan itu seraya mencubit gemas pipi calon istrinya itu.
Rumanah mengerucutkan bibirnya bertingkah manja.
"Tapi ... ada yang lebih ngenyut dari itu, Annabelle." duda tampan itu menatap usil pada gadis desa di samping nya.
"Apa itu, Tuan?" tanya Rumanah tak mengerti.
Andre tersenyum seraya menatap fokus ke depan. Sementara Rumanah menunggu dalam mode penasaran.
"Pokoknya kau akan tahu setelah kita menikah. Dengar, kutegaskan sekali lagi padamu. Persiapkan dirimu dari sekarang, karena setelah kita menikah ... kau akan merasakan sesuatu yang lebih ngenyut dan sakit dari yang kau rasajan saat ini," ucap duda tampan itu menegaskan dan sedikit menakut-nakuti pengasuh putri kecilnya itu.
Rumanah membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu bergidik ngeri. "Apa, Tuan? Memangnya setelah menikah kita mau ngapain? Mau belajar debus? Atau ... mau atraksi sulap membahayakan? Astaga," celoteh gadis desa itu.
Sontak saja Andre tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan calon istrinya itu. "Ha ha ha ha ha ha!"
"Kenapa Anda tertawa, Tuan? Ini sangat mengerikan. Hiiiiy," omel Rumanah yang tampak bergidik ngeri.
"He he he he, kau terlalu berpikir jauh, Annabelle." duda tampan itu kini nyenyenges. Sementara Rumanah hanya diam dan menatap heran.
"Maksudku ... ah, nanti kau akan tahu setelah kita menikah. Tenang, sebentar lagi!" ucap duda tampan itu yang semakin membuat Rumanah penasaran.
"Tuan, jangan membuat saya malas untuk menikah!" omel Rumanah yang tampak menekan setiap ucapannya.
"What?? Apakah ada yang salah dengan ucapanku tadi?" seloroh Andre.
Rumanah mendelikkan manik matanya dan membuang napasnya kasar. "Itu tadi, setelah menikah saya akan merasakan—" Rumanah belum selesai bicara, dengan cepat Andre menyelanya.
"Sssttttt!" Andre meletakkan telunjuknya pada bibir tipis gadis desa itu. "Tidak, aku hanya bercanda. Jangan terlalu dipikirkan." ujar duda tampan mencoba menenangkan.
Rumanah menatap intens pada duda tampan di sampingnya itu. Namun, setelah mendengar ucapan dari majikan galaknya itu, gadis desa kini bisa bernapas lega.
__ADS_1
"Masih kepikiran?" tanya Andre penuh selidik.
Rumanah menggeleng kecil seraya tersenyum manis.
"Pintar!" puji Andre seraya mengacak rambut Rumanah gemas.
"Ish!" Rumanah mendesis.
"Ada apa?"
"Ada apa? Lihat dong rambut saya!" omel gadis desa itu seraya menaikkan manik matanya.
Andre melirikkan manik matanya pada rambut Rumanah yang tadi ia acak-acak. Setelah itu, ia tersenyum kecil.
"Tidak terjadi apa-apa dengan rambutmu. Tidak usah khawatir, setelah ini aku akan mengajakmu ke salon untuk memperbaiki dirimu," ucap duda tampan itu dengan tatapannya yang lembut.
"Hah?? Memangnya ada apa dengan diri saya, Tuan? Saya terlalu buruk kah?" protes Rumanah.
"What? Tentu saja tidak!" sanggah Andre. "Begini, maksudnya aku akan sedikit memberikan perawatan yang baik untukmu. Kau perlu merias rambutmu, bukan? Dan, kau juga perlu mengganti pakaianmu dengan yang lebih anggun dan...," Andre menyapu tubuh Rumanah dari atas hingga ke bawah.
"Dan apa?" gadis desa itu penasaran.
Rumanah tercengang dan membulatkan kedua bola matanya penuh. "Dasar!" desisnya.
Perjalan menuju rumah sakit itu begitu terasa cepat sekali bagi Andre dengan Rumanah. Rasanya Andre masih ingin menggodai dan bercanda ria dengan gadis desa yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
"Sudah sampai," ucap Andre saat ia memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit.
"Huft!" Rumanah menarik napas lalu membuangnya perlahan.
"Tenang, tidak akan terjadi apa-apa. Dokter hanya akan melihat jahitanmu itu. Kau tidak usah tegang dan gerogi," ucap duda tampan itu berusaha membuat calon istrinya tenang.
Rumanah tersenyum serta mengangguk. "Tentu saja, Tuan." ucapnya.
Andre tersenyum serta mengusap lembut wajah manis gadis desa itu. Tak membuang waktu lagi, mereka berdua pun bergegas turun dari mobil lalu melangkah beriringan. Andre di depan, sementara Rumanah di belakang.
***
"Bagaimana, Dek Rumanah? Apakah ada perubahan?" tanya dokter yang kemarin menangani operasi tangan gadis desa itu.
"Emh, sudah tidak terasa sakit, dok." jawab Rumanah.
__ADS_1
"Bagus, bisa di buka sebentar ya, Dek. Suster yang akan membukanya," ucap sang dokter.
"Baik, dok." Rumanah menjawab disertai anggukkannya.
Suster pun membuka balutan kain kasa dan perban di jari jemari Rumanah.
"Coba saya lihat," ucap dokter.
Rumanah mengarahkan tangannya ke hadapan sang dokter. Dan saat itu juga dokter melihat perubahan yang ada pada jari Rumanah.
"Auuuwwhhh!" Rumanah meringis. Gadis desa itu sedikit kaget dan merasa ngilu saat dokter menekuk pangkal jari manis gadis desa itu.
"Sakit? Tahan sedikit ya, Dek. Ini harus dilatih untuk terus bergerak agar bisa kembali seperti semula." sang dokter menerangkan apa yang harus dilakukan.
"Sedikit sakit kalau ditekuk begitu, dok." Rumanah merengek.
"Memang seperti itu. Tapi, Anda harus terus melatih agar cepat lentur dan tidak kaku," ujar sang dokter.
"Baiklah, dok. Ohya, apakah jahitannya sudah bisa dilepas?" tanya Rumanah.
"Belum, Dek. Ini masih basah. Mungkin beberapa hari lagi, yang penting Anda rutin meminum obat yang nanti akan saya resepkan. Terus ... Anda cek setiap tiga hari sekali. Kalau bisa, bersihkan dan ganti balutan kain kasanya," terang sang dokter.
"Baik, dok." Rumanah menjawab disertai anggukkannya.
"Ya sudah, sekarang lukanya akan dibersihkan oleh suster. Sementara saya akan mencatat resep obat yang harus Anda konsumsi," ucap sang dokter.
Rumanah mengangguk. Dan saat itu suster sudah menyiapkan alat-alat untuk membersihkan luka jahitan Rumanah.
Sementara itu di luar, Andre tampak menunggu dengan sabar. Ya, dia memang tidak masuk ke dalam. Karena sang dokter tidak menyarankan itu.
Tak berapa lama...
"Pak Andre, ini resep obat yang harus Anda tebus. Sementara putri Anda masih berada di dalam. Lukanya sedang dibersihkan," ucap seorang suster seraya menyerahkan secarik kertas pada Andre.
"Hah??? Putri saya? Astaga, salah paham!" oceh duda tampan itu seraya bangkit dari duduknya.
"Baiklah, akan saya lakukan," ucap duda tampan itu seraya meraih secarik kertas yang suster berikan.
"Ck, sebenarnya siapa yang bermasalah? Aku atau Annabelle? Sepertinya aku harus merubah Annabelle agar terlihat lebih dewasa," celoteh Andre yang tampak sedikit greget.
BERSAMBUNG...
__ADS_1