
Septi membulatkan kedua bola matanya penuh dan begitu terkejut saat mendengar suara majikannya berteriak. Tentu saja ia langsung bangkit dan berlari mencari asal suara wanita yang ia panggil Bunda itu.
"Bun! Bunda!" teriak Septi memanggil Rumanah.
"Emh!" masih terdengar suara Rumanah yang sepertinya sedang berusaha melawan para pria yang menculiknya.
"Hah? Itu suara Bunda. Apa yang terjadi padanya," gumam Septi sembari berlari mencari majikannya itu.
Rumanah meronta saat kedua pria itu memaksanya masuk ke dalam mobil. Entah apa yang akan terjadi, yang jelas saat ini Rumanah yakin jika dia sedang dalam bahaya. Pasalnya, ia tak mengenal para pria yang menculiknya itu.
"Bun! Ya Tuhan! Hei, berhenti! Jangan bawa majikan sayaaaa!" teriak Septi yang tampak panik melihat Nona mudanya dibawa oleh pria berpakaian hitam yang tak dikenal.
Tak ada yang peduli, orang-orang itu pergi membawa Rumanah tanpa memberi tahu siapa mereka. Hal itu benar-benar membuat Septi sangat tegang dan panik.
"Astaga, apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa orang-orang itu membawa Bunda. Apakah mereka penculik?" gumam Septi sembari meremas jari jemarinya.
Septi begitu kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan. Sementara saat ini ia berada di sekolahan Princess Sandrina.
Sementara itu, Rumanah tampak tak henti-hentinya meronta dan memaki tiga orang pria di dalam mobil itu.
"Hei, lepaskan aku! Siapa yang menyuruh kalian menculikku?" teriak Rumanah sembari menatap tajam pada pria di sampingnya.
"Jangan banyak bertanya, Nona. Kami sungguh tidak akan menjawab apa pun pada Anda," jawab seorang pria berkacamata hitam.
Rumanah mendelikan matanya dan menatap kesal pada para pria itu, "Kalau begitu, biarkan aku menghubungi suamiku! Jika yang kalian lakukan itu hanya karena uang, maka sekarang juga aku bisa berikan pada kalian!" ujarnya yang tampak menekan setiap ucapannya.
Para pria itu hanya diam dan berekspresi datar. Tak ada yang menjawab ucapan Rumanah. Seakan mereka semua sudah memiliki komitmen masing-masing.
Rumanah begitu heran karena para pria itu hanya diam dan mematung. Sementara mobil masih terus melaju. Kali ini Rumanah benar-benar bingung menghadapi situasi yang menimpanya.
Tapi, siapa yang menculik dirinya? Siapa yang ingin melukainya? Siapa yang ingin mencelakainya? Sementara yang ia tahu sudah tak ada lagi orang yang memusuhinya. Selama ini 'kan musuhnya adalah Luna yang tak lain adalah mantan istri suaminya. Tapi, saat ini Luna sedang berada di dalam penjara. Dan lagipula, kemarin Luna sudah meminta maaf dan menyesali perbuatannya.
Mungkinkah? Mungkinkah Luna hanya berakting saja? Luna berusaha membuat Rumanah tidak semakin dendam padanya? Bersandiwara agar ia bisa mengelabui Rumanah?
"Astaga! Apa mungkin Luna? Mungkinkah wanita itu yang menyuruh para pria ini? Licik sekali!" decak Rumanah dalam hati.
Mobil itu masih melaju dengan kencang. Membawa seorang wanita yang nyaris tak tahu apa-apa.
Di tempat yang berbeda, Andre tampak sedang berada di kamar hotelnya. Pria tampan itu mendapat telepon dari Mami nya.
"Mami, ada apa dia menelponku," gumam pria tampan itu sembari memencet tombol jawab.
"Hallo, Andre!" terdengar suara Mami Purwati di seberang sana. Nada bicaranya cepat dan seperti sedang panik.
"Ya, Mam. Ada apa?" tanya Andre dengan santainya.
"Sebaiknya kau cepat pulang sekarang! Istrimu, istrimu diculik!" ujar Mami Purwati yang sepertinya begitu panik.
"Apa? Diculik? Kenapa bisa, Mam?" Andre tampak terkejut mendengar kabar soal istrinya yang diculik.
"Ya, Mami juga tahu dari Septi. Pokoknya kau pulang saja, Ndre. Mami sangat khawatir pada istrimu itu," ujar Mami Purwati yang tampak benar-benar cemas.
Andre tampak mengusap wajahnya kasar dan membuang pandangannya jauh ke luar sana. Pria tampan itu seperti sedang berpikir keras.
__ADS_1
"Ini aneh sekali, Andre. Mami heran dan penasaran pada penculik itu. Maksudnya, siapa coba yang menyuruh para penculik itu menculik Rumanah, sementara saat ini istrimu itu sudah tidak punya musuh apa pun," Mami Purwati kembali berucap. Nada bicaranya benar-benar panik dan risau.
Andre meletakan tangannya di atas di atas pinggangnya. Menatap kosong pada vas bunga di hadapannya, "Andre juga tidak tahu, Mam. Tapi, sebaiknya Mami tenang saja, ya. Andre akan segera menyuruh anak buah Andre untuk mencari Rumanah. Mami jangan panik dulu, ya. Pokoknya Andre juga akan mencari istri Andre ke mana pun berada," ujarnya panjang lebar.
"Tapi Mami sangat khawatir sekali, Ndre. Apalagi si princess ini sekarang menangis tiada henti. Apa sebaiknya lapor pada polisi saja?" ucap Mami Purwati.
"Tenang, jangan buru-buru, ya. Pokoknya Mami jagain princess saja. Jangan terlalu sibuk dengan ini. Jika gegabah sedikit saja, Andre takut terjadi apa-apa pada Rumanah. Katakan pada princess, Daddy akan mencari dan menemukan Bunda, gitu!" ujar Andre penuh penekanan.
"Ya sudah, pokoknya kau harus bekerja keras, Ndre. Mami tidak mau terjadi apa-apa pada Rumanah," kata Mami Purwati penuh desakan.
Setelah Andre berhasil meyakinkan Maminya, ia pun menutup sambungan telepon.
"Tidak ada tanda-tanda keberadaan Nona Rumanah di sekitar sini, Omma. Sepertinya penculik itu membawa jauh Nona Rumanah," ucap anak buah Andre yang sudah disuruh oleh Mami Purwati dan Papi Dargono untuk mencari Rumanah.
Mami Purwati tampak menatap cemas dan begitu tegang. Ia sangat khawatir pada menantunya itu. Sementara si cantik Sandrina tampak masih menangis di dalam kamar. Septi yang menemani dan mencoba menenangkan gadis kecil itu pun sama sekali tidak mempan.
"Apa katamu? Tidak ada tanda-tandanya? Bagaimana cara kalian mencari menantuku? Masak, begitu saja tidak bisa!" cicit Mami Purwati yang begitu terbawa emosi.
Beberapa kali ia menghubungi nomor menantunya. Namun tak ada yang menjawab telepon darinya. Ia sangat berharap para penculik itu akan menghubungi balik padanya dan memberitahu sebuah titik keberadaan menantunya itu.
"Kami sungguh sudah berusaha sebisa mungkin, Omma. Tapi, Nona Rumanah benar-benar sulit ditemukan. Apalagi tidak terpasang GPS dan pendeteksi lainnya. Hal ini akan semakin membuat kami kesulitan." Anak buah Andre berkata dengan penuh penjelasan. Mungkin mereka juga tak mau di salahkan.
Mami Purwati tampak menggigit telunjuknya dan mondar-mandir seperti kehilangan harta berharganya.
"Sudahlah sayang, jangan terlalu dipikirkan. Hal seperti ini sudah biasa terjadi di kalangan pebisnis dan pengusaha seperti Andre. Jadi, jangan terlalu diambil pusing. Papi yakin nanti malam atau besok, mungkin juga lusa, penculik itu akan mengungkap di mana dan apa yang mereka inginkan. Tidak salah lagi, ini semua hanya soal uang atau popularitas semata," ucap Papi Dargono sembari memegangi bagi istrinya. Menatap dalam dan mencoba menenangkan.
"Sekali seumur hidup Mami, ini belum pernah terjadi, Pap. Andre dulu baik-baik saja dan Mami pun baik-baik saja tanpa terancam sebuah penculikan." Mami Purwati berkata dengan raut wajah yang tidak tenang.
Mami Purwati menatap serius wajah suaminya, "Bagaimana pun, Mami begitu khawatir dan ingin segera menemukan Rumanah. Mami juga tidak tega pada princess yang menangis terus-terusan," ujarnya.
"Lantas, apa yang akan Omma lakukan?" tanya Septi yang baru saja menghampiri dengan Sandrina.
Mami Purwati menoleh dan langsung memeluk cucu satu-satunya itu, "Princess sayang, jangan menangis, ya. Omma akan berusaha mencari Bunda mu," ucapnya pada sang cucu, "Mungkin sebaiknya aku temui Luna saja di dalam penjara. Aku ingin tahu apakan wanita itu yang menyuruh para penculik itu?" lanjutnya yang berhasil membuat Papi Dargono terhenyak kaget.
"Hah? Menemui Luna? Jangan ceroboh, sayang. Dia mungkin tidak tahu apa-apa soal ini," protes Papi Dargono.
"Benarkah Mommy yang melakukannya? Mommy jahat sekali. Padahal sudah minta maaf sama Bunda dan juga princess," ucap si cantik Sandrina dengan wajah murung dan kecewanya.
Mami Purwati menatap sendu dan berat pada cucunya. Sementara Papi Dargono tampak menepuk jidatnya frustasi.
"Tidak, sayang. Kita semua sungguh belum tahu siapa yang melakukan ini pada Bunda mu. Tapi, Omma akan bertanya terlebih dahulu pada Mommy mu, ya! Jadi, princess mau 'kan ditinggal sebentar saja bersama Mbak Septi?" ujar Mami Purwati sembari menatap penuh harap pada cucu kesayangannya itu.
Sandrina tampak terdiam sejenak dan seperti sedang berpikir keras, "Tapi Omma janji ya akan menemukan Bunda," pintanya mendesak.
Terpaksa Mami Purwati mengangguk, tak sanggup pula ia melihat kesedihan sang cucu. Pokoknya ia ingin cucunya itu tenang dan tidak sedih lagi.
"Omma janji! Makanya sekarang princess doakan Omma, ya!" jawab wanita tua itu sembari mengusap lembut wajah cantik cucunya.
Sandrina mengangguk tanpa banyak meminta lagi. Sementara Mami Purwati bergegas menyambar tas selempangnya. Tak lupa ia membawa gawai, kartu ATM dan juga uang tunai yang banyak, khawatir nanti akan sangat diperlukan.
"Ayo, Pap!" ajak Mami Purwati pada suaminya.
Papi Dargono tampak menatap malas dan seperti tidak tertarik, "Untuk apa sih, Mam? Ini sangat lebay sekali. Jika kita ingin mencari, ya sudah cari saja. Untuk apa bertanya pada orang yang kita curigai. Seorang maling tidak akan pernah mengaku, Mam. Jadi, sangat percuma sekali kita ke sanβ" Ia menggantung ucapannya saat tiba-tiba Mami Purwati menyelanya.
__ADS_1
"Jika tidak ingin menemaniku, jangan banyak mengoceh! Diam di sini dan jangan ikuti aku!" ujarnya yang kini tampak terlihat kesal.
Papi Dargono tampak terhenyak kaget, dengan cepat ia bangun dari duduknya lalu berlari mengejar istrinya. Sementara Sandrina tampak memeluk Septi dan kembali menangis. Anak kecil memang gampang menangis dan merasa takut saat menyaksikan pertengkaran walau hanya sedikit.
Mami Purwati bergegas masuk ke dalam mobil, rupanya sang suami mengikuti. Mereka pun berangkat ke tempat Luna berada saat ini diantar oleh seorang sopir.
Sementara itu, Rumanah tampak dibuat kesal dan emosi oleh ketiga pria yang membawanya pergi entah ke mana. Kali ini kedua matanya ditutup oleh kain hitam, sementara tangannya di ikat ke belakang. Benar-benar sebuah penculikan yang sangat dramatis.
"Kalian mau bawa aku ke mana? Dengar, ya! Tubuhku ini sebenarnya sangat bau dan terdapat banyak korengan bekas luka dan gatal. Apakah kalian tidak jijik? Sebaiknya sekarang kalian lepaskan aku. Kalian sungguh menculik wanita yang salah. Jika kalian ingin memperkosaku, kalian pasti akan menyesal. Aku benar-benar serius dengan ucapanku ini!"
Rumanah tak henti-hentinya berkicau dan berusaha kuat membuat para penculik itu buka suara dan membebaskannya. Tapi sepertinya usahanya belum membuahkan hasil. Para pria itu masih diam dan seakan tak peduli pada semua yang Rumanah katakan.
"Benar, kalian pasti disuruh oleh seseorang, bukan? Jadi, cepat katakan siapa orang itu!?" desak Rumanah yang begitu memaksa.
Diam dan hening. Ketiga pria itu nyaris tak bergeming. Dan hal itu benar-benar membuat Rumanah bingung menghadapi keadaan saat ini.
"Haruskah aku pasrah? Oh Tuhan. Apa lagi yang akan terjadi? Drama apa lagi di dalam keluargaku ini. Sudahkah suamiku tahu tentang penculikan yang terjadi padaku ini? Semoga saja mereka semua sudah tahu dan berusaha mencari keberadaanku. Eh, tapi kalau aku tidak menghubungi mereka dan para penculik ini juga tidak menghubungi, maka bagaimana caranya suamiku dan mereka semua tahu keberadaanku saat ini? Astaga,"
Rumanah tampak berargumentasi dengan hati dan pikirannya. Siapa pun yang sedang diculik, pasti akan panik dan ketakutan. Sama seperti yang Rumanah rasakan saat ini. Ia begitu panik dan takut, takut sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada keluarga dan orang-orang yang disayanginya.
π₯π₯π₯
Mami Purwati melangkahkan kakinya dengan cepat. Ia langsung meminta untuk bertemu dengan Luna. Beruntungnya, tak sulit ia membujuk dan memohon pada para petugas di sana.
"Silakan tunggu di sini, Bu, Pak," ucap polisi wanita pada Mami Purwati dan Papi Dargono.
"Baik," jawab Mami Purwati secara bersamaan dengan Papi Dargono.
Mereka pun menunggu untuk sesaat, tentu saja ia akan sabar menunggu Luna.
Sementara itu, Luna tampak sedikit heran dan tak mengerti saat polisi wanita itu mengajaknya keluar. Mengatakan bahwa ada dua orang tua yang ingin bertemu dengannya.
"Siapa, ya? Kalau Mami, kenapa harus ada dua? Dengan siapa Mami ke sini? Tapi, baru kemarin Mami menjengukku dengan Ferhat," gumam Luna di dalam hati.
Wanita yang memakai seragam tahanan itu pun berjalan pelan dan tiba-tiba saja kedua alisnya saling bertautan.
"Mami dan Papi. Kenapa mereka menjengukku? Ada apa dengan mereka?" gumam Luna dalam hati.
Mami Purwati tampak menatap tajam dan membuat Luna semakin heran. Pasalnya ia sudah minta maaf pada Rumanah dan Andre. Sangat tidak etis jika kedua orang tua itu mau marah lagi padanya. Begitu pikirnya.
"Mam, Pap," sapa Luna sembari mendudukkan bokongnya di kursi. Wanita itu kini semakin terlihat berbeda dari biasanya.
Mami Purwati dan Papi Dargono tersenyum untuk sesaat.
"Ada apa, Mam? Tumben sekali," tanya Luna basa-basi.
Mami Purwati menarik napasnya dalam lalu membuangnya perlahan, "Kau mungkin terkejut melihat kedatangan kami kemari, Dan mungkin kau juga sudah tahu apa maksud kami menemui dirimu," ucapnya dengan tatapan sinis.
Luna tampak mengerutkan dahi dan menatap tak mengerti. Memang benar, dia terkejut melihat kedatangan kedua orang tua mantan suaminya itu. Tapi, soal maksud tujuannya, ia sama sekali tidak mengerti.
Duh, guys. Kira-kira siapa ya yang menculik si Bunda???
BERSAMBUNG...
__ADS_1